Sinopsis White Cat Legend Episode 10

Hari ini Chen Shi memulai pekerjaan barunya sebagai petugas Aula Mingjing yang baru. Dia bangun pagi-pagi sekali dan bergegas ke dapur untuk mengambil beberapa bakpao untuk dia berikan pada Wang Qi sebagai bekal pulang.


Wang Qi awalnya baik-baik saja, bahkan cukup senang dengan kebaikan Chen Shi padanya. Namun dengan cepat dia teringat harus pergi dan itu sontak membuatnya mulai menangis sedih dengan mulut penuh bakpao (Pfft! Antara sedih tapi lucu juga).
 
 
Wang Qi pun pergi sambil mewek yang jelas saja membuat Chen Shi jadi ikutan sedih. Eh, Sun Bao dan Alibaba malah baru bilang tak lama kemudian kalau Wang Qi cuma akan tinggal di rumahnya Alibaba yang ada seberang jalan. Pfft!

Padahal Chen Shi mengira kalau Wang Qi bakalan pulang kampung yang jauh, makanya dia menghabiskan semua uangnya untuk membeli daging untuk isian bakpao khusus buat Wang Qi. Rugi dong! Jelas saja Chen Shi seketika heboh menyesali kebodohannya, untungnya Alibaba cukup kaya dan dengan entengnya memberinya satu keping uang perak.


Di tempat lain, Cui Bei membawakan banyak sekali dokumen untuk Li Bing dan mendapati Li Bing sedang menulis surat pemecatannya Wang Qi. Maka dia langsung saja pura-pura tak sengaja menumpahkan air sehingga membuat surat pemecatan itu robek kena air. Pfft! Tapi dia benar-benar memohon pada Li Bing untuk mempertimbangkan keputusannya sekali lagi.

Wang Qi memang salah kali ini, tapi dia meyakinkan bahwa Wang Qi biasanya selalu melakukan segala hal dengan sepenuh hati, adil dan tanpa memihak. Sayangnya, Li Bing menegaskan bahwa dia memiliki keputusannya sendiri yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.

Malam itu, penjaga penjara MA didatangi dan dihipnotis oleh Setangkai Bunga dengan menggunakan kekuatan mata hijaunya (Ah, jadi dia siluman kucing). Dia menyamar jadi orang baru MA dan bilang ke si penjaga penjara bahwa namanya adalah Hua Zhi Yi. Penjaga Penjara yang sudah terhipnotis percaya-percaya saja dan dengan linglung pergi keluar setelah menyerahkan kunci penjara padanya.


Jelas tujuannya adalah untuk membunuh si tukang padahal si tukang bahkan tidak mengenalnya. Wah! Wah! Wah! Sepertinya si tukang tanpa sadar terlibat dalam konspirasi gelap. 

Di Aula Mingjing, Chen Shi diterima dengan baik oleh para seniornya. Dia memberitahu Li Bing bahwa para rekannya begitu baik mengajarinya baca-tulis dari awal.  Percakapan mereka dengan cepat menjurus ke kasus pembunuhan Pejabat Luar yang sebenarnya belum sepenuhnya selesai. Motif pembunuhannya tidak jelas, dan apa pula yang sebenarnya si tukang cari di rumah korban?

Li Bing mengaku kalau dia masih galau. Seharusnya dia membawa tim Aula Mingjing untuk menyelidiki kasus ini lebih dalam, mencari tahu apa yang sebenarnya dicari si tukang di rumah Pejabat Luar. Li Bing menduga kalau mungkin yang dia cari adalah sebuah dokumen. Pejabat Luar kan biasanya rutin membawa pulang pekerjaannya. 

Mengingat atap di atas meja kerjanya Pejabat Luar sering bocor, kemungkinan dokumen yang si tukang cari adalah dokumen yang basah terkena air. Tapi Cui Bei sama sekali tidak menemukan dokumen semacam itu di rumah korban waktu menggeledah rumah korban.

Namun di salah satu lembar puisi yang sebenarnya adalah hadiah upacara kedewasaan untuk si adik, Li Bing mendapati di bagian belakangnya ada bekas tinta dengan tulisan 'Setangkai Bunga' yang sepertinya secara tak sengaja tercap di situ dari dokumen lain yang basah. 

Makanya Li Bing yakin bahwa dokumen yang dicari si tukang adalah dokumen tentang Setangkai Bunga. Dia yakin kalau si tukang melakukan itu atas suruhan seseorang yang mungkin mau menghancurkan dokumen itu, seseorang yang berniat mau menghilangkan jejak Setangkai Bunga.

Li Bing pertama kali mendapatkan jejak Setangkai Bunga dari kediaman Menteri Ritus, jadi kemungkinan Setangkai Bunga juga ada hubungannya dengan kasus pembunuhan siluman kucing tiga tahun yang lalu.

Mungkin pula, kasus ini ada hubungannya dengan rahasianya Li Bing. Makanya dia ragu untuk membiarkan tim Aula Mingjing berpartisipasi dalam penyelidikan kasus ini.

Tepat saat itu juga, mendadak muncul bayangan yang melesat dengan cepat dengan disertai tawa seram. Begitu mereka keluar, mereka menemukan sepotong kertas yang ditinggalkan di lantai. Tulisan di kertas itu pakai bahasa Persia dengan disertai dua buah gigi yang masih berdarah yang jelas ditinggalkan Setangkai Bunga.

Tepat saat itu juga, mendadak Shangguan Qin muncul bersama Jenderal Qiu yang lagi-lagi mau menuntut MA untuk menyerahkan tahanan MA kepada pihak mereka. Pastinya tahanan yang dia maksud adalah si tukang yang entah mau dia ambil alih untuk apa.

Tapi bahkan sebelum mereka selesai membicarakan masalah ini, mendadak seorang petugas terburu-buru datang mengabarkan bahwa si tukang sudah mati terbunuh dengan belasan luka tusuk (sepertinya luka tusukan cakar, tapi lukanya sangat dalam seperti tusukan senjata) dan dua gigi si tukang tercabut.

Si penjaga penjara sekarang sudah sadar, dan dari keterangannya tentang Hua Zhi Yi, Li Bing langsung sadar kalau nama itu adalah kebalikan dari Yi Zhi Hua (Setangkai Bunga). 

Anehnya, Jenderal Qiu diam-diam tertarik mendengar nama itu. (Hmm, apakah Jenderal Qiu mengenalinya?). Namun pastinya, kejadian ini langsung membuatnya sinis menyindir MA yang tidak becus menjaga tahananannya sendiri.

Padahal sebelumnya korban sudah diperiksa oleh koroner, tapi anehnya, Jenderal Qiu-lah yang dengan cepat menemukan potongan kertas di dalam baju korban. Kertas dengan tulisan bahasa Persia juga, jelas kalau potongan surat itu adalah bagian kedua dari potongan surat yang diterima Li Bing tadi.

Chen Shi sepertinya familier dengan tulisan persia yang ditulis dengan tinta merah itu (atau mungkin, pakai darah?), tapi dia tidak bisa mengingatnya. Alibaba kemudian dipanggil untuk menerjemahkan kalimat itu.


Menurut Alibaba, itu memang bahasa Persia, tapi agak beda juga dari yang digunakan di negaranya, tapi dia masih bisa membacanya, tulisan itu berbunyi 'Aku menunggumu di kamp budak'.

Jenderal Qiu langsung sinis tak mempercayainya, dan sontak saja sikapnya itu membuat Shangguan Qin langsung kesal dan balas menyindirnya dengan sengit. Jenderal Qiu pun akhirnya mendadak berubah pikiran dan menyerah terhadap kasus ini.

Dengan mempertimbangkan bahwa kasus ini sejak awal memang berhubungan dengan kasus kematian pejabat luar, ditambah dengan sikap Jenderal Qiu yang mendadak menyerah begitu saja, Shangguan Qin menduga kalau kasus ini mungkin bakalan sulit ditangani. Makanya saat Li Bing meminta agar kasus ini diserahkan pada Aula Mingjing, Shangguan Qin pun langsung setuju.

Li Bing yang sedari tadi terus memperhatikan keanehan Jenderal Qiu, langsung menggunakan kekuatan kucingnya untuk melacak Jenderal Qiu hingga dia berakhir di sebuah kamp budak. Li Bing pun langsung mengonfrontasi Jenderal Qiu terkait surat dari pelaku yang katanya dia temukan di dalam baju korban. 

Dada korban penuh dengan darah, akan tetapi kertas surat ini justru tidak ternoda darah sama sekali. Makanya Li Bing yakin kalau kertas surat itu sebenarnya berasal dari Jenderal Qiu sendiri yang diam-diam memasukkan surat itu ke baju korban lalu berpura-pura seolah dia menemukannya di dalam baju korban.

Dari percakapan mereka, ternyata Jenderal Qiu dulunya adalah budak di kamp ini. Dia kemudian berhasil kabur dan bersembunyi di rumah Keluarga Li. Begitulah dulu awal mula mereka bertemu saat usia mereka remaja, Jenderal Qiu remaja disambut di rumah mereka sehingga kedua pemuda itu pada akhirnya tumbuh bersama. 

Namun sekarang, hubungan mereka berubah jadi musuh karena Jenderal Qiu ada dendam pada mereka.
Dulu, Li Bing dan ayahnya pernah berjanji bahwa mereka akan mengembalikan kebebasannya dan menghilangkan status budaknya setelah dia kembali dari medan perang. Tapi mereka malah mengingkari janji mereka.

"Setelah kembali dari medan perang, kau sendiri yang berpura-pura tidak mengenal kami," protes Li Bing, "selain itu, waktu itu kau diangkat menjadi jenderal kiri..."

"Apa pun alasannya, kalian ayah dan anak yang gagal melakukannya."


Tiba-tiba Jenderal Qiu melihat sesuatu. Dia langsung lari duluan, tapi mendadak saja gerbang di belakangnya terkunci.

Langit mulai gelap saat itu dan si Setangkai Bunga mendadak muncul dan memancing Li Bing untuk mengejarnya dan bertarung dengannya. Sontak saja keduanya mulai bertarung sengit, namun jelas kekuatan Setangkai Bunga jauh lebih tinggi daripada Li Bing.

Dari interaksi mereka inilah, Li Bing sadar kalau Setangkai Bunga ternyata mengenalnya, bahkan mengetahui rahasianya. Dan sekarang dengan gilanya Setangkai Bunga memaksa Li Bing untuk berubah ke wujud lainnya dan mengerahkan seluruh kekuatan supernya untuk melawannya. 

Hanya jika Li Bing bisa mengalahkannya, dia akan memberitahu Li Bing rahasianya dan segala hal yang dia ketahui. Dia mengetahui rahasia banyak orang, dialah pemain utama dalam permainan ini, dan dia juga telah menyiapkan segala petunjuk untuk orang-orang yang perlu mengetahuinya. Li Bing langsung sadar kalau dia sudah memberi petunjuk tentang rahasianya pada orang-orang Aula Mingjing. 

Dia sontak panik mau pergi, tapi Setangkai Bunga langsung menyerangnya dengan ganas, menyakitinya dengan kuat, hingga akhirnya dia berhasil memancing Li Bing untuk menggunakan kekuatan supernya sehingga pertarungan mereka pun menjadi lebih ganas.

Namun saat Li Bing hampir kalah, mendadak Jenderal Qiu muncul melemparkan anak panah berapi yang membakar sekitar, dan jelas target utamanya adalah Setangkai Bunga. Biarpun Setangkai Bunga sepertinya tidak mengenali namanya, tapi jelas dia mengenali wajah Jenderal Qiu dan jelas punya dendam padanya. 

Dari kilasan flashback, ternyata Jenderal Qiu dulu pernah mencabut dua gigi taringnya Setangkai Bunga. (Ah, jadi karena itu Setangkai Bunga jadi terobsesi mencabuti gigi orang, berarti... apakah Jenderal Qiu mengetahui rahasianya Setangkai Bunga?). 

Li Bing berusaha meminta Jenderal Qiu untuk tidak membunuh Setangkai Bunga karena mereka butuh saksi hidup. Namun Jenderal Qiu sama sekali tidak mendengarkannya dan terus saja menembakkan panah padanya hingga Setangkai Bunga terdesak ke kobaran api. Err, sudah matikah? 

Jelas saja Li Bing langsung kesal membentak Jenderal Qiu. (Aku agak bingung sebenarnya sama Jenderal Qiu ini. Yang dia lakukan ini, bisa dibilang, menyelamatkan Li Bing. Namun di sisi lain, dia membunuh Setangkai Bunga, mungkin dengan tujuan untuk membungkamnya. Entah rahasia masa lalu apa yang ada di antara mereka sebenarnya?)


Tim Aula Mingjing kebingungan melihat beberapa huruf Persia yang ada di sepotong kertas, lebih tepatnya, itu huruf-huruf Arab gundul yang susah dibaca. Namun kemudian Cui Bei ingat kalau kemarin Chen Shi belajar menulis beberapa huruf dan di bagian bawah kertasnya ada beberapa titik-titik dan goresan yang sebenarnya tidak sinkron dengan tulisan lain.

Namun sekarang Cui Bei seketika paham kalau titik-titik dan goresan itu jika digabungkan dengan tulisan Persia ini, maka itu akan menjadi tanda baca tulisan Persia itu. Akhirnya tulisan itu bisa terbaca juga, 'Matahari, bulan, kayu, belakang, kucing'.

Namun bahkan sebelum mereka benar-benar memahami maksud kata-kata itu, Cui Bei mendadak bersin sehingga membuat kertas-kertas itu pun terbakar api lilin. Pfft!

Bersambung ke episode 11

Post a Comment

0 Comments