Sinopsis My Dear Guardian Episode 10

Dokter Zhang langsung paham kalau Mi Gu menyukai Zhou Ran tapi Zhou Ran hanya menyukai Xia Chu. Karena itulah, Dokter Zhang menasehati Mi Gu untuk tidak usah menyenangkan pria yang tidak menyukainya.

Mantannya teman sendiri itu bagaikan sebuah mobil bekas yang pernah dikendarai temannya yang sebaiknya jangan dia sentuh. Hanya akan merepotkan saja.

Tapi... Jika Mi Gu memang ingin menyentuhnya. Maka sebaiknya dia membicaraksn segalanya dengan jelas supaya kelak tidak akan canggung. Dokter Zhang sudah pernah mengalaminya soalnya.

Tepat setelah Mi Gu pergi, Dokter Li mendadak muncul merebut HP-nya dan mendapati Dokter Zhang menyimpan kontaknya Mi Gu dengan nama 'Pasangan yang boleh dipertahankan'. Wah! Dokter Li cemburu, Dokter Zhang bernafsu sekali.

"Aku single. Nggak boleh bernafsu? Aku lebih baik dari pada orang yang berselingkuh." Sindir Dokter Zhang.

Dia mau pergi, tapi Dokter Li belum selesai bicara. Dia mencari Dokter Zhang sebenarnya untuk menyerahkan kartu pos yang dikirim pada Xiao Jun. Selain itu... Dokter Li ingin sekali terlibat dalam proyek mereka itu. Bantulah dia untuk bicara pada atasan mereka. 

Dokter Zhang mau menolak, tapi Dokter Li mendadak merengek heboh yang kontan saja membuat Dokter Zhang tak enak hingga akhirnya dia mau juga membantu Dokter Li untuk bicara pada atasan mereka nanti.

Zhou Ran mendatangi Xiao Chu yang masih sibuk. Bahkan saking fokusnya, dia sampai tidak sadar kalau yang berdiri di sampingnya adalah Zhou Ran. Dan baru sadar saat Zhou Ran buka suara.

Xia Chu sampai kaget. Dia jadi canggung dan langsung menjauh dengan alasan mengambil air. Tapi dia tidak sadar kalau itu malah membuat Zhou Ran jadi punya kesempatan untuk memasang virus ke dalam komputernya Xia Chu.

Dia ingin mengajak Xia Chu makan malam, tapi Xia Chu refleks menolak dengan alasan sudah ada janji dengan Mi Gu. Tapi Zhou Ran jelas tak percaya soalnya Mi Gu tadi bilang sendiri sama dia kalau dia justru ada janji sama Dokter Zhang. Masa Mi Gu tidak bilang ke Xia Chu?

Canggung, Xia Chu terus berusaha menghindar dengan cari-cari alasan lain, tapi malah kaget melihat komputernya mendadak kena virus. Saat itulah Zhou Ran pura-pura menawarkan bantuan untuk menangani masalah itu.


Xia Chu saking paniknya, sama sekali tidak memperhatikan adanya USB asing yang terpasang di komputernya dan langsung pergi mencari teknisi. Saat itulah Zhou Ran baru melepaskan USB-nya.

Teknisi sama sekali tidak curiga apa pun dan berpikir kalau komputernya Xia Chu jadi hang hanya karena masalah teknis. Xia Chu masih mau lanjut kerja setelah komputernya diperbaiki, sekalian biar ada alasan untuk menolak Zhou Ran.

Tapi Zhou Ran pantang menyerah dan terus membujuk Xia Chu untuk makan malam bersamanya sampai akhirnya Xia Chu menyerah dan mau juga pergi makan malam bersamanya.

Zhou Ran bertanya-tanya kenapa Xia Chu tidak bekerja di rumah sakit militer di kampung halamannya saja, malah bertugas di kota ini. Xia Chu beralasan kalau itu karena dia memang ditugaskan di kota ini. Tapi Zhou Ran tak percaya dan berpikir kalau Xia Chu datang ke sini karena kota ini adalah kampung halamannya.

Xia Chu menyangkal, mengklaim kalau dia sudah lupa. Tapi Zhou Ran tak percaya. Hal-hal yang indah, biasanya sulit dilupakan. Dia sendiri masih ingat segala hal indah tentang mereka berdua, seperti misalnya, belut bakar kesukaan Xia Chu.

Xia Chu kontan terdiam canggung teringat segala kenangan indah mereka semasa SMA dulu. Dulu, mereka pertama kali bertemu saat Zhou Ran pindah ke sekolahnya dan mereka langsung jadi teman sebangku.

Zhou Ran selalu perhatian dan baik padanya, membuatnya semakin lama semakin terpesona dan jatuh cinta padanya. Hubungan mereka pun berkembang dengan cepat... Hingga suatu hari, Xia Chu menunggu Zhou Ran di restoran, tapi ternyata Zhou Ran tak pernah datang.

"Kelak tidak akan lagi, Xia Chu."

"Kenapa kau merasa yakin akan ada 'kelak' bagi kita?"

Karena Zhou Ran yakin kalau Xia Chu masih belum melepaskannya. Xia Chu menyangkal dan menegaskan kalau dia sudah melepaskan Zhou Ran. Tapi Zhou Ran ngotot menolak mempercayainya.


MI Gu sedang melakukan siaran langsung saat seorang pria me~~m mendadak muncul dari belakangnya, menatapnya dengan penuh nafsu, bahkan menyatakan cinta padanya dan menyerangnya.

Untung saja Xia Chu muncul saat itu dan sontak saja kedua sahabat itu langsung bekerja sama menyerang pria itu dengan ganas sampai pria itu ketakutan dan langsung kabur.

Mi Gu langsung melepaskan frustasinya dengan minum-minum. Xia Chu penasaran, Zhou Ran tadi bilang kalau Mi Gu makan malam sama Dokter Zhang. Jadi... bagaimana kencan mereka?

Mi Gu meralat, dia dan Dokter Zhang cuma makan dan membicarakan pekerjaan, bukan kencan. Lalu bagaimana dengan Xia Chu? Dia tadi makan malam bersama Zhou Ran yah? Apakah Xia Chu... masih punya perasaan terhadap Zhou Ran.

Xia Chu memberitahu bahwa Zhou Ran masih ingat betul tentang makanan dan minuman kesukaannya dan dia sangat memperhatikan masalah itu dengan detil. Akan tetapi, perasaan tidak bisa diukur dengan hanya memperhatikan makan 3 kali sehari saja kan.

Hujan masih terus turun dengan derasnya. Hari itu, Xia Chu melihat pengumuman perekrutan relawan untuk bencana banjir. Saat dia tiba di rumah sakit, rekan-rekannya sedang heboh karena mereka mendapat kiriman kue-kue manis dari Zhou Ran.

Mereka semua jadi penasaran siapa itu Zhou Ran dan bagaimana bisa Zhou Ran mengetahui selera mereka semua, apa Xia Chu yang memberitahu si Zhou Ran ini? Xia Chu cuek saja mengabaikan pertanyaan mereka semua. 

Tapi kemudian dia menelepon Zhou Ran hanya untuk mengucap terima kasih. Zhou Ran sendiri tahu tentang semua rekan-rekannya Xia Chu berkat peretasan yang dia lakukan dari komputernya Xia Chu kemarin.


Saat Xiao Xiao protes karena dia tidak mau dikirim pergi ke daerah bencana, Xia Chu justru mengajukan diri untuk menjadi relawan medis ke daerah bencana. Dia meyakinkan Dokter Zhang bahwa kakinya sudah sembuh sepenuhnya. 

Xiao Xiao hampir saja senang, mengira dirinya bakalan terbebas digantikan Xia Chu. Tapi yang tak disangkanya, Dokter Zhang justru menunjuk mereka berdua untuk pergi ke daerah bencana.

Malam harinya, Xia Chu mulai berkemas sambil video call dengan Mi Gu. Karena dia mungkin akan lama di sana, jadi dia akan menitipkan Er Miao-nya ke Mi Gu dan berencana untuk membawakan obat tidur buat Mu Ze. Dia tidak sadar kalau Zhou Ran bisa mendengar segala yang dia ucapkan, tapi yang paling menarik perhatiannya adalah masalah obat penenang untuk Mu Ze.

 

Hujan turun deras saat Xia Chu dan rekan-rekannya berangkat ke lokasi bencana. Xiao Xiao mabuk darat, apalagi jalannya juga tidak rata, jauh lagi.

Tiba-tiba ban kendaraan mereka meletus. Xiao Xiao refleks memeluk Xia Chu sakit takutnya sambil heboh menyatakan dirinya belum siap mati karena belum pernah melakukan operasi. Insiden it menyebabkan dada si supir terbentur ke setir dan sepertinya dia sangat kesakitan karena itu. Tapi dia masih bisa bertahan dan langsung keluar untuk mengecek ban.

Xiao Xiao baru sadar beberapa detik kemudian dan langsung menjauh dari Xia Chu dengan sok jaim. Tapi sedetik kemudian, dia malah muntah ke bajunya Xia Chu.

Tapi sikap Xiao Xiao masih saja ketus seperti biasanya. Saat para pria sibuk mengurusi ban mobil, Xiao Xiao dengan ketus memberitahu Xia Chu bahwa dia sudah membersihkan bajunya Xia Chu.

Dia mencoba menawarkan sebotol air, tapi Xia Chu menolak dengan sopan. Xiao Xiao jadi berpikir kalau Xia Chu marah padanya, seharusnya Xia Chu terus terang saja kalau memang marah, jangan pura-pura berlapang dada.

"Kau juga tidak usah pura-pura kesal padaku." Balas Xia Chu. "Tadi di antara hidup dan mati, aku mendengarmu menjerit tidak ingin mati karena kau belum pernah melakukan operasi. Saat itu aku memutuskan untuk memaafkan segala keanehanmu, keegoisanmu dan dirimu yang penuh perhitungan yang sebelumnya. Karena aku tahu kau sama seperti aku, ingin menjadi dokter yang baik."

Canggung, Xiao Xiao dengan penuh harga diri protes tidak terima dengan segala tuduhan Xia Chu itu. Pak supir kesulitan mengganti ban karena kurangnya peralatan yang memadai. Untungnya ada beberapa mobil tentara yang tak sengaja lewat saat itu.


Xia Chu langsung menghadang mereka dan yang tak disangkanya, ternyata itu Mu Ze dan timnya. Mu Ze langsung memberi instruksi pada para anak buahnya untuk membantu pak supir. Tapi tiba-tiba saja pak supir ambruk dan pingsan.

Kondisinya benar-benar kritis. Dan parahnya lagi, tidak ada dokter spesialis jantung di sana. Xia Chu dan Xiao Xiao memang dokter spesialis jantung, tapi mereka masih dokter residen yang belum pernah melakukan operasi secara langsung. Dan terang saja situasi ini memang mereka jadi kebingungan.

Tapi kondisi pasien terus menurun. Xia Chu ingat insiden tadi menyebabkan dada si supir terbentur ke setir, dia jadi menduga kalau pasien mungkin menderita pneumotoraks. Xia Chu usul agar mereka membawa pasien ke pos dulu. 

Tapi nakes yang lain tidak setuju karena kondisi pasien terlalu kritis untuk dipindahkan. Dia harus dioperasi di sini, sekarang juga. Xiao Xiao galau banget, dia benar-benar tak tahu harus bagaimana.

Xia Chu juga sama bingungnya. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang saat dia mulai menghapal kembali segala teori operasi jantung yang pernah dipelajarinya. Melihat Xia Chu yang lebih mungkin melakukan operasi dengan ilmu dan ketenangan sikapnya, nakes yang lain pun langsung menyeret Xia Chu untuk melakukan operasinya.

Jadilah Xia Chu yang memimpin operasi itu, sementara Mu Ze dan para tentara berjaga di luar dan mengarahkan mobil-mobil ke arah lain. Tapi saat akhirnya Xia Chu menemukan sumber luka, dia malah gemetar hebat, terlalu takut untuk menjahitnya.

Nakes yang lain terus menyemangatinya. Berusaha menguasai dirinya, Xia Chu pun berusaha tetap tenang untuk meneruskan operasinya... hingga akhirnya dia berhasil menyelesaikan operasi itu dengan baik.


Xia Chu tiba di pos militer tak lama kemudian dengan hanya mengenakan kaos militer. Jaket militernya dan kopernya ketinggalan di bis yang mogok tadi. Xia Chu lalu menyerahkan obat penenang yang dibawanya untuk Mu Ze. 

Tapi Mu Ze lebih peduli dengan kondisi Xia Chu dan langsung melepaskan jaketnya untuk dipakaikan ke Xia Chu. Mereka begitu terpana oleh kedekatan mereka... saat tiba-tiba saja Tian Yong muncul sambil teriak heboh untuk melaporkan tentang para korban yang terluka.

Mu Ze pun pamit pada Xia Chu. Mereka saling memberi salam hormat pada satu sama lain sebelum kemudian Mu Ze pergi melaksanakan tugasnya. 

 

Hujan turun sangat deras malam itu. Para tentara berjuang bergotong royong membuat penahan banjir di bendungan, sementara para dokter merawat para korban di kamp. 

Xia Chu yang paling giat bekerja, dia bahkan baru kembali ke tendanya tengah malam saat para dokter lain sudah tidur. Mu Ze masih insomnia seperti biasanya. Dia bahkan berniat mau minum obat penenang pemberian Xia Chu tadi, tapi ada akhirnya dia mengurungkan niatnya.

Dia baru membuka ponselnya saat itu dan baru membaca pesan dari Xia Chu yang menanyakan keberadaan pos-nya. Tak lama kemudian, Xia Chu mendapat pesan balasan dari Mu Ze yang dengan manisnya mengingatkannya untuk jaga diri.

"Jangan sampai masuk angin. Tunggu aku pulang." Ujar Mu Ze dalam pesannya.

 

Berusaha mempercepat misinya, Zhou Ran memutuskan mendatangi rumah orang tuanya Xia Chu, mengklaim kalau dia datang atas permintaan Xia Chu yang mengkhawatirkan keadaan kedua orang tuanya. Dia memberitahu kalau Xia Chu sekarang sedang pergi ke lokasi bencana sebagai relawan medis. 

Ibu tampak jelas tak senang saat Zhou Ran menyebutkan namanya. Tapi ia tetap menyilahkannya masuk dan menyambutnya ramah. Tapi Ibu penasaran mendengar Zhou Ran mengetahui kegiatan Xia Chu. Apa dia dan Xia Chu sering berhubungan?

Zhou Ran dengan canggung membenarkannya. Saat Ibu menanyakan tentang kepergiannya dulu, Zhou Ran beralasan bahwa dulu dia pergi karena ada masalah dengan kesehatan ibunya. Dia dan ibunya pergi dengan buru-buru untuk berobat ke luar negeri, makanya tidak sempat pamitan sama Xia Chu dulu.

Ibu tidak curiga apa pun, malah prihatin mendengar cerita tentang ibunya itu. Sudah berhasil mendapatkan kepercayaan Ibunya Xia Chu, Zhou Ran pun mulai berbasa-basi menanyakan tentang Ayahnya Xia Chu dan penelitian obat baru yang tengah dikembangkannya. Zhou Ran mengaku mengetahuinya dari berita di internet.

Dan tepat saat itu juga, Ayahnya Xia Chu baru keluar dari kamarnya dan langsung bercanda mesra menggodai Ibu. Tapi raut mukanya langsung berubah tak senang saat Zhou Ran menyapanya. 

Bagaimana bisa dia senang sama Zhou Ran mengingat betapa sedihnya putrinya dulu saat Zhou Ran mendadak pergi meninggalkannya. Ia berterima kasih atas kunjungan Zhou Ran, tapi sebaiknya Zhou Ran pergi saja.

Zhou Ran tampak sedih dan merasa bersalah di hadapan kedua orang tua Xia Chu. Tapi mukanya langsung berubah kesal saat dia pergi. Tapi saat dia melihat surat izin parkir Universitas Dong'an yang tertempel di mobilnya Ayahnya Xia Chu dan anak-anak kecil yang sedang bermain-main di seberang, sepertinya dia punya ide lain untuk mendekati Ayahnya Xia Chu.

Saat Tuan Xia keluar tak lama kemudian untuk kembali ke universitas, dia malah mendapati ban mobilnya bocor. Itu memang memang kerjaannya Zhou Ran. Dia menunggu beberapa saat di balik tembok sebelum kemudian keluar sambil pura-pura seolah dia belum pergi karena baru selesai menjawab telepon.

Dengan muka tanpa dosa dia menyalahkan anak-anak kecil yang bermain di sekitar sini tadi, mengklaim kalau tadi dia melihat mereka bermain-main di sekitar sini sambil bawa gunting.

Dia lalu menawarkan tumpangan untuk Tuan Xia dengan alasan bahwa mereka searah, dia mau ke bandara, jadi sekalian saja dia mengantarkan Tuan Xia ke tempat penelitiannya.


Tuan Xia sebenarnya masih gengsi. Tapi dia sama sekali tidak curiga apa pun dan akhirnya mau juga menumpang mobilnya Zhou Ran. Dalam perjalanan, dia penasaran menanyakan apa pekerjaan Zhou Ran sekarang.

Zhou Ran langsung membanggakan bisnis percetakan 3D-nya dan proyek kerja samanya dengan rumah sakitnya Xia Chu. Dia bahkan menawarkan kartu nama bisnisnya pada Tuan Xia. 

Tuan Xia awalnya ragu untuk menerimanya, lagi pula ia tak yakin mereka akan memiliki kerja sama bisnis. Tapi Zhou Ran bersikeras meminta Tuan Xia untuk menerima kartu namanya hingga akhirnya Tuan Xia mau juga bertukar kartu nama. 

Tugas Xia Chu dan rekan-rekannya akan segera selesai dan akan digantikan tim medis lain. Tiba-tiba ada seorang tentara yang datang untuk mengambil sekotak obat flu buat para tentara yang nge-drop. 

Selama berhari-hari, para tentara mereka, termasuk Mu Ze, sangat sibuk luar biasa untuk membuat penahan banjir sampai tidak makan dan istirahat. Dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan Mu Ze, makanya dia membujuk Xia Chu untuk mencoba bicara dengan Mu Ze.

Bersambung ke episode 11

Post a Comment

0 Comments