Sinopsis Maiden Holmes Episode 32 - 2 [END]

Ru Shuang terus berusaha mengajak Bei Ming ngobrol. Dia bahkan dengan penuh semangat memberitahu Bei Ming tentang segala macam cara yang dipelajarinya untuk membuat orang cepat sadar.


Dia berusaha melakukan segala macam cara menurut buku yang dipelajarinya. Mulai dari mengakupuntur Bei Ming, memijatnya, bahkan sampai melakukan pengasapan obat yang membuat seluruh kamar jadi penuh asap dan membuatnya jadi batuk-batuk. Tapi tidak ada satupun yang berhasil.


Hari itu, Ru Shuang dandan menor sambil memberitahu Bei Ming bahwa dia mendapatkan semua itu dari Song Yao yang sekarang memutuskan untuk menutup toko kosmetiknya dan mau kembali ke kampung halamannya. Namun Ru Shuang seketika membeku saat tiba-tiba saja terdengar suara serak dari belakangnya...

"Dulu, yang kuselamatkan adalah seorang gadis dengan dandanan yang menor."

Syukurlah Bei Ming sudah sadar. Ru Shuang begitu terharu sampai berlinang air mata.


Tak lama kemudian, semua orang berkumpul di paviliun untuk makan-makan dan bersulang seperti dulu. Setelah berbagai rintangan yang mereka hadapi, syukurlah mereka semua baik-baik saja sekarang.

Hari ini mereka berkumpul bukan cuma untuk merayakan Bei Ming yang lolos dari kematian, namun juga untuk Su Ci yang sekarang jadi orang terkenal di ibu kota.

Seluruh ibu kota sekarang sudah mengetahui pemecahan kasusnya Su Ci. Bahkan para pendongeng pun menjadikannya sebuah cerita. Fei Yuan bahkan langsung menirukan bagaimana para pendongeng itu menceritakan kisah Su Ci yang menyelamatkan Pangeran Qi saat dia difitnah di istana.

Su Ci tersipu malu mendengarnya. "Sudahlah. Kalian jangan menertawakanku lagi."

"Saudara Pei, Saudara Su sekarang banyak dipuji orang. Bagaimana perasaanmu?" Goda Bei Ming.

"Seperti kata pepatah, pahlawan terlahir dari laki-laki... ah bukan, dari gadis muda. Kurasa itu hal yang bagus. Lagipula, Su memang layak."

"Sudahlah." Su Ci malu.

Pei Zhao pun berhenti menggodanya dan mengajak semua orang untuk bersulang. Mereka semua makan-makan sampai puas hingga petang tiba.


Pei Zhao lalu mengajak Su Ci naik perahu di danau untuk menikmati keindahan pemandangan malam. Pei Zhao tiba-tiba memberikan hadiah untuk Su Ci... sebuah borgol yang dulu mengikat mereka sehingga sekarang mereka bisa bersama.

Su Ci senang. Tapi bukan cuma itu saja hadiah dari Pei Zhao. Dia lalu menyuruh Su Ci untuk duduk di sampingnya dan menutup matanya. Tunggu hitungan ketiga darinya, baru Su Ci boleh membuka mata.

Begitu Su Ci menurut, Pei Zhao langsung memberikan isyarat pada Fei Yuan yang langsung menyalakan sumbu kembang api. Pei Zhao mulai menghitung, 1-2-3... Su Ci pun membuka mata dan seketika itu pula kembang api yang bersinar memeriahkan langit malam sesuai bentuk yang dipesan Pei Zhao waktu itu.

"Kembang api ini dibuat khusus untukmu. Hari itu kau tidak sempat melihatnya, hari ini kuperlihatkan untukmu."


Su Ci senang. "Eh, lihat. Bentuknya seperti butiran-butiran kacang merah. Indah sekali. Apa nama kembang api ini?"

"Mabuk cinta. Ini adalah hadiah balasan untuk saputanganmu. Apa kau menyukainya?"

Su Ci tersipu malu mendengarnya. "Suka."


Mendengar itu, Pei Zhao langsung menggenggam tangan Su Ci dan mengingatkan Su Ci akan janjinya dulu. Bahwa Su Ci akan menyetujui tiga permintaannya. Sekarang masih ada satu permintaannya Pei Zhao yang belum Su Ci penuhi.

"Aku masih ingat. Kalau begitu, kau ingin aku melakukan apa?"

"Aku ingin kau menjadi Putri Qi Dinasti Liang, menjadi istri dari Pei Zhao."

Su Ci tercengang mendengarnya sampai tidak tahu harus menjawab apa. "Saudara Pei..."

"Jangan panggil aku Saudara Pei lagi. Aku ingin kau mengubahnya. Kelak, panggil aku 'Suamiku'."

Su Ci tersipu malu mendengarnya. "Aku kan belum menyetujuinya."

"Kau tidak boleh menolak. Apa Tuan Su mau mengingkari janji?"


"7 tahun yang lalu, kau menyelamatkanku, menjadi motivasiku satu-satunya dalam hari-hariku yang sulit."

Pei Zhao-lah yang memberinya kekuatan, membuatnya memiliki keberanian untuk terus bertahan hidup. Dia tidak pernah menyangka akan bisa bertemu dengan penyelamatnya lagi. Lebih tidak menyangka lagi bahwa dia bisa menemani Pei Zhao, bahu-membahu bersamanya. 

"Apa kau tahu, ini pertama kalinya aku merasa memiliki sandaran lagi di dunia ini. Dan orang itu adalah kau. Xiao Yan Zhi, aku bersedia menjadi istrimu. Bersama denganmu selamanya."

Pei Zhao terharu mendengarnya dan langsung menciumnya mesra, tak peduli biarpun mereka sedang dilihat sama Ru Shuang dan Bei Ming di kejauhan.


Ru Shuang jadi iri sama mereka dan langsung mencoba membujuk Bei Ming untuk melakukan 'sesuatu' bersamanya. Bei Ming malah sengaja pura-pura bodoh seolah tak mengerti apa maksud Ru Shuang.

Ru Shuang kesal, sepertinya harus dia lagi yang mengambil inisiatif duluan. Tapi saat dia hendak mencium Bei Ming, Bei Ming tiba-tiba saja mencegahnya.

"Ada beberapa hal yang seharusnya diinsiatif oleh pria." Ujar Bei Ming lalu mencium mesra Ru Shuang. 


Fei Yuan yang masih remaja cuma bisa tersipu malu menyaksikan kemesraan para orang dewasa itu yang tidak tahu malu itu.


Satu tahun kemudian, Su Ci sedang sibuk mengajari ilmu penyelidikan kasus pada para detektif junior saat tiba-tiba dia melihat Pei Zhao muncul, berniat menjemputnya untuk makan siang bersama.

Tapi karena dia masih sibuk kerja, Su Ci sengaja mengabaikannya dan meneruskan pekerjaannya. Pei Zhao lama-lama jadi tidak sabaran dan kesal, apalagi para detektif junior itu pria semua. Pei Zhao cemburu dan langsung saja membopong Su Ci pergi. Sudah waktunya pulang.

"Aku sedang mengajar, ada banyak orang melihat." Protes Su Ci.

"Aku tidak tahan melihat mereka menatapmu dengan tatapan kagum. Aku memang ingin mereka melihat bahwa kau... adalah milikku!"


Fei Yuan sudah menunggu setibanya mereka di rumah. Dia santai saja memanggil mereka dengan sebutan yang biasanya 'Tuan Muda' dan 'Kakak Su', tapi Pei Zhao sontak protes tak suka. Dia langsung merangkul Su Ci dan menuntut Fei Yuan untuk meralat panggilannya.

"Ah! Pangeran, Putri, ayo kita makan."


Tiba-tiba ada dua ekor merpati pos datang, membawakan surat dari Bei Ming dan Ru Shuang yang sekarang ini tengah berkelana. Dalam surat itu, Bei Ming menceritakan pemandangan indah yang dilihatnya di sepanjang jalan perjalanannya dan juga kasus seorang nenek yang setelah diobati oleh Ru Shang, kupingnya malah jadi sering mendengar suara-suara aneh.

Awalnya mereka mengira kalau si nenek itu cuma berhalusinasi. Tapi lama-lama mereka juga mendengar suara-suara aneh itu. Seperti ada orang yang sedang memukul dinding. Tapi tak ada orang yang tinggal di samping rumah nenek. Aneh dan menakutkan sekali.


Hmm... kasus baru dan menarik nih. Jelas ada orang yang menggunakan tipu muslihat untuk menakut-nakuti orang. Fei Yuan langsung usul agar mereka menyusul Ru Shuang dan Bei Ming saja, menyelidiki kasus bersama-sama seperti dulu.

Su Ci dan Pei Zhao setuju. Maka jadilah geng mereka berkumpul kembali dan berkelana bersama-sama seperti dulu. 

Terima kasih semuanya yang sudah meluangkan waktu untuk mampir dan membaca sinopsis drama ini sampai akhir. Xie xie... Zai jian ^^

~THE END~

Post a Comment

0 Comments