Sinopsis My Secret Bride Episode 1 - 4

Sinopsis My Secret Bride Episode 1 - 4

Tapi yang tak disangka-sangka, ternyata Padet datang juga, bahkan makan dengan lahap tanpa sungkan sedikitpun. Rut sinis, sungguh tak disangka kalau Padet berani datang juga. Apa dia belum makan seharian ini?


"Aku bisa makan banyak sepertimu. Makanan adalah sesuatu yang sangat berharga. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Dan aku juga tidak takut padamu. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak berani datang kemari."

Padet bahkan terang-terangan menyatakan kalau dia ingin sering-sering datang kemari untuk makan masakannya Teerak.

Rut sontak melempar tatapan kesal padanya, dan Padet santai balas menatapnya dengan tatapan menantang sambil meneruskan makannya.


Rut jadi tidak selera makan dan memutuskan mau makan nasi rebus saja di warung depan jalan. Tapi setibanya di sana, dia malah mendapati Aik ada di depan warung.

Aik sontak gugup dan canggung karenanya. Dia bahkan sampai kebingungan mencari-cari alasan keberadaannya di sini. Rut tanya apakah dia mau makan nasi rebus dan Aik langsung mengiyakannya saja lalu buru-buru ganti topik membahas Rut yang katanya sudah pindah rumah. Dia pindah ke daerah ini?

Aik membenarkannya lalu mengajaknya makan bersama, tapi Aik dengan panik menolak dengan alasan sudah makan lalu bergegas pamit dan pergi. Sikap anehnya jelas mengherankan bagi Rut.


Saat dia mulai pesan makanan, dia malah mendengar si pemilik warung memanggil Suam dan seketika itu pula Suam muncul dengan membawa sekeranjang sendok bersih. Seketika itu pula Rut langsung paham segalanya. Nama selingkuhannya Aik adalah Suam, dia selingkuhannya Aik dan Aik pasti datang kemari untuk menemui Suam.

Maka Rut dengan sengaja menunggu sampai Suam pulang lalu menghadangnya dan dengan sinis memberitahunya bahwa orang yang dia tunggu, sudah pulang duluan. Suam bingung, siapa yang dia maksud.

"Khun Aikasit, kan?"

"Kau mengenal Khun Aik juga?"

"Berarti kau benar-benar menunggunya, yah? Dia sudah pulang! Dan dia mungkin terkejut melihatku di sini."

Suam tambah bingung. "Memangnya kau hantu?"

"Aku lebih menakutkan daripada hantu. Aku adalah kakak dari orang yang akan dia nikahi."


Oh, Suam mengerti. Pantesan dia pulang. Rut heran melihat reaksinya. Aik akan menikahi adiknya, jadi berhentilah menggoda Aik. Dia melihat Suam belajar dan bekerja keras, seharusnya dia mengurus dirinya sendiri saja dan bukannya...

"Apa? Bukannya menjadi simpanannya, begitu?"

"Jadi kau mengakuinya? Berarti Khun Aik benar-benar mengurusmu?"

Suam menyangkal, tapi dia sengaja memakai kalimat ambigu yang artinya bisa ya atau tidak, dan jelas saja ucapannya itu membingungkan Rut.

"Orang sepertiku tidak punya banyak pilihan. Begini saja. Jika kau ingin Khun Aik putus denganku, bagaimana kalau kau menggantikannya mengurusku? Mengurusku tidak mahal kok. Kamarku juga cuma sebesar lubang tikus. Aku bekerja keras melakukan segala hal. Hargaku tidak mahal. Dan karena kita sudah saling mengenal satu sama lain, aku akan memberikan diskon untukmu. Bagaimana? Mau? Kalau tidak, silahkan pergi! Apa kau tertarik, Pak Deputi?" Tantang Suam.

Rut jelas tidak mau dan langsung pergi tanpa mengucap sepatah kata. Dibalik keberaniannya, Suam sebenarnya sangat sedih dengan segala tuduhan Rut padanya.


Berusaha menghibur dirinya sendiri, Suam membuka sebuah kotak yang didalamnya berisi saputangan berinisial DS. Saputangan itu adalah milik pria yang pernah menyelamatkannya dulu. Hmm, mungkin pria itulah suami khayalannya Suam.

Flashback 8 tahun silam.


Suatu hari, Suam remaja dituduh seorang nyonya kaya sebagai pencuri. Lalu pria itu pun muncul membelanya... yang tak lain tak bukan adalah Rut. (Ah! Jadi DS itu singkatan dari Danurut Shangkapat. Mungkin sekarang mereka sudah lupa wajah masing-masing, makanya tidak saling mengenali)

Seketika itu pula Suam remaja langsung terpesona pada Rut. Karena Rut ngotot mengklaim dirinya tidak bersalah, Rut pun langsung mengambil alih kasus ini dan menanganinya dengan lebih bijak.

Memperhatikan baju compang-campingnya Suam, dia tanya kenapa bajunya Suam robek. Si nyonya langsung mengakui kalau itu perbuatannya, dia menarik bajunya Suam karena Suam mau melarikan diri. Tasnya tidak robek waktu dia keluar rumah, tapi setelah anak ini menabraknya, tasnya malah berlubang, jelas anak ini mau mencuri darinya.


Rut tanya pada rekannya tentang apakah dia menemukan bukti apapun di TKP, sebuah alat yang bisa digunakan untuk merobek tas nyonya ini. Si polisimenjawab tidak ada, hanya ada dompet yang terjatuh.

"Bagaimana mungkin kalian menemukannya, sudah kubilang aku tidak melakukannya."

Rut memperhatikan tas itu dengan cermat dan mendapati tas itu robek di tepat di bagian jahitannya. Yang jelas artinya tas itu robek dengan sendirinya karena jahitannya lepas.

Tapi alih-alih mengakui kesalahannya dan meminta maaf, si nyonya terus saja merutuki Suam, bahkan mengatainya akan menjadi pencuri di masa depan nanti. Rut benar-benar prihatian melihatnya.


Lebih sialnya lagi, hujan mendadak turun deras saat Suam baru keluar dari kantor polisi itu sehingga terpaksa dia harus berteduh. Tepat saat itu juga, dua orang preman juga berteduh di sana.

Melihat anak gadis sendirian malam-malam, langsung membuat mereka punya pikiran jahat. Tapi untunglah sebelum mereka sempat melakukan apapun, Rut mendadak muncul menghalangi mereka. Kedua preman ketakutan dan langsung kabur.

Rut dengan ramah mengajaknya berteduh di dalam saja, tapi Suam malah mengira kalau Rut mau menangkapnya. Rut menyangkal, dia tidak melakukan kesalahan apapun, jadi tidak ada alasan untuk menangkapnya.


Suam masih sulit percaya awalnya. Tapi tak lama kemudian, akhirnya dia mengikuti Rut masuk ke dalam kantornya. Melihatnya basah kuyup, Rut langsung memberinya saputangannya yang ada inisial namanya, DS. Suam setulus hati berterima kasih padanya karena dia tidak mendengarkan cerita dari satu sisi saja.

Flashback end.


Sejak saat itulah saputangan itu menjadi benda berharga bagi Suam dan membuatnya begitu bahagia setiap kali dia mengingat masa lalunya itu.


Rut menggerutu kesal mengingat ucapan Suam tadi. Dia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa Suam memintanya untuk mengurusnya. Wanita macam apa dia itu? Tapi... tiba-tiba dia merasa ada yang aneh. Kalau Suam simpanannya Aik, lalu kenapa dia masih menjadi tukang cuci piring?


Ayahnya Suam yang brengsek itu ternyata memanfaatkan cucunya, Nat, untuk pura-pura jadi pengemis di jembatan penyeberangan. Dia menyewakan Nat pada seorang preman yang memberinya imbalan sedikit uang. Sedangkan uang hasil ngemisnya Nat diambil semuanya oleh si preman. Tak ada seorang pun yang tahu dan Nat juga diam saja.


Salah satu mbak pemilik warung, melihat Suam duduk sendirian. Suam mengaku kalau dia mau mengumpulkan tiket lotre. Si Mbak heran kenapa Suam mengumpulkan lotre padahal dia kuliahnya bagus.

"Apa boleh buat. Kalau aku sudah lulus dan bekerja, aku tidak akan melakukan ini lagi."

Thuan datang lagi saat itu. Suam langsung menyapanya akrab. Tapi Ibu mendadak muncul dan langsung tak senang melihat kedekatan Suam dengan pemulung sampah.

Bahkan dengan lantang dia menasehati Suam untuk cari suami baik yang jauh dari daerah kumuh ini, jangan cari suami yang miskin. Kenapa juga Suam memercayai pria itu. Dia bukan mata-mata polisi kan?

"Aduh, Ibu. Paman Thuan mata-mata polisi? Tolong bicaralah dengan hormat pada Paman! Dia lebih mirip mata-mata pencuri. Iya kan, Paman?"


Karena Suam disuruh Ibu mengecek nomor-nomor lotre, Thuan lalu mengajak Suam pergi bersamanya. Tiba-tiba beberapa ibu mendatangi ibunya Suam sambil teriak-teriak heboh tentang nomor lotre tanpa menyadari ada dua polisi yang baru saja datang.

Teriakan mereka sontak menarik perhatian kedua polisi itu. Suam langsung panik, tapi juga tidak bisa melarikan diri dengan cepat gara-gara motornya Thuan susah dinyalakan.

Saat akhirnya Suam berhasil dibawa kabur, kedua polisi mendadak curiga padanya dan langsung pergi mengejar mereka. Panik, Suam berniat mau membuang tiket-tiket itu saja. Tapi Thuan melarang, jangan dibuang karena itu artinya dia meninggalkan jejak... makan saja tiket-tiket itu! Hah?

Bersambung ke part 5

2 komentar: