Sinopsis Find Me in Your Memory Episode 11 - 2

Sinopsis Find Me in Your Memory Episode 11 - 2

Ha Kyung sudah siap keluar dan langsung tercengang melihat Ha Jin keluar dengan dandanan serba wah plus pakai gaun malam. Dia mau ke mana? Acara award?


"Aku ingin dandan karena ini kencan pertama kami."

"Kencan? Ini bukan kencan. Bukankah dia cuma akan membantumu dengan dialogmu?"

"Itu sama saja. Aku akan profesional sambil menghabiskan waktu bersamanya seperti wanita dewasa. Aku akan mendapatkan yang terbaik dari keduanya."

"Aku ragu Pewarta Lee akan setuju denganmu."

"Apa aku harus ganti?"

"Tentu saja. Kau terlihat seperti campuran apel dan stroberi."

Oke deh. Ha Jin pun memutuskan ganti baju dan langsung lari dengan penuh semangat sampai hampir terjatuh. Ha Kyung sampai gregetan dibuatnya, hati-hati dong, jangan sampai dia terluka pada kencan pertamanya.


PD Kim mendapati kantor Direktur Choi kosong. Dia jadi cemas, apalagi si pengarah suara berkata bahwa tadi dia melihat Direktur Choi ke rooftop.

Mereka langsung bergegas ke rooftop dan mendapati Direktur Choi sedang menunduk dengan badan berguncang gemetaran. OMO, sepertinya dia sedang menangis. Prihatin, PD Kim langsung duduk di sampingnya dan berusaha menghiburnya.

"Sayang, kenapa kau menangis di sini? Selama ini kau selalu tegar, jadi aku bisa santai. Tapi kali ini, aku akan memikul bebanmu. Astaga, ini pasti sangat berat bagimu. Kasihan sekali kau. Aish! Jika para petinggi menyulitkanmu karena insiden ini, sebaiknya kau mengundurkan diri saja. Aku bisa menafkahimu. Kau sudah bekerja keras untuk kita, jadi sekarang aku akan memikul bebanmu. Jangan bairkan ini merusak suasana hatimu dan berhentilah menangis."


Tapi Direktur Chou seperti tidak mendengarkannya dan terus saja berguncang dan gemetaran. PD Kim jadi semakin khawatir dan langsung berusaha menyentuhnya. Tapi tiba-tiba saja Direktur Choi bereaksi keras menabokinya dengan kesal. Pfft! Dia tidak menangis ternyata.

"Kapan kau datang, seharusnya bilang-bilang."

"Aku bilang kok. Aku bicara denganmu sedari tadi."

"Oh yah? Ah, aku mungkin tidak mendengarkanmu karena lagi pakai headphone."

Pfft! Ternyata dia berguncang dan gemetaran bukan karena menangis melainkan tertawa karena lagi nonton variety show. Jadi, PD Kim kemari untuk mencarinya? PD Kim mendadak emosi. Bagaimana bisa dia menonton variety show di saat seperti ini?

"Terus apa yang bisa kulakukan? Aku tidak punya kegiatan. Waktu berjalan sangat lambat, aku harus menghibur diri."

"Baiklah, silahkan. Tontonlah semua acara yang selama ini kau lewatkan. Baguslah, semuanya baik-baik saja." Sinis PD Kim lalu pergi sambil menendang si pengarah suara yang menertawainya.

Direktur Choi merasa tersentuh juga dengan suaminya. "Suamiku benar-benar membuatku merasa tenang."


Jeong Hoon benar-benar jadi guru yang keras dan terus-menerus menyuruh Ha Jin untuk mengulang-ulang kalimat-kalimatnya. Tapi tak peduli berapa kali Ha Jin mengulangnya, Jeong Hoon terus merasa nada suaranya terlalu melengking.

Ha Jin lama-lama jadi bosan dan langsung mengeluh. Pepatah mengatakan bahwa kita tidak seharusnya belajar menyetir atau jadi pewarta dari pacar, seharusnya dia mendengarkan pepatah itu.

Seandainya dia tahu akan jadi begini, mending dia minta bantuan orang lain saja. Jeong Hoon seperti guru yang tegas dan menakutkan alih-alih pacar.

"Hari ini aku memang gurumu, bukan pacarmu."

"Kalau tahu hari ini cuma baca dialog, tidak seharusnya aku dandan. Sia-sia saja aku bersemangat."


Mendengar itu, Jeong Hoon akhirnya mengajak Ha Jin ke studio siaran berita yang sedang kosong dan menyuruhnya duduk di kursi pembaca berita biar mereka bisa latihan seperti sungguhan.

Jeong Hoon bahkan membantu memperbaiki postur duduknya. Ha Jin senang banget dan langsung cari-cari alasan biar Jeong Hoon membantunya memperbaiki postur duduknya. Biarpun tahu Ha Jin cuma cari-cari alasan, Jeong Hoon dengan senang hati menurutinya.

Karena sekarang mereka berada di lingkungan baru, Ha Jin merasa bisa jadi lebih fokus. Karena itulah, dia menuntut Jeong Hoon untuk membantunya berlatihh adegan lain.


Tapi adegan yang dimaksudnya bukan adegan baca berita. Dia mengklaim kalau ini adalah adegan penting dan meminta Jeong Hoon untuk membaca sebuah dialog untuknya.

Jeong Hoon menurutinya, tapi dia membaca dengan nada datar tanpa emosi. Dan saat itulah Ha Jin mulai balas dendam dengan mengomentari cara bacanya yang kayak robot dan terus menyuruh Jeong Hoon membaca dialognya berulang kali.

Lama-lama Jeong Hoon sadar apa yang Ha Jin lakukan dan meminta maaf. Kalau begitu, mereka sudahi saja sesi latihan hari ini.

Ha Jin senang dirinya bukan pewarta dan Jeong Hoon tidak berakting, soalnya Jeong Hoon aktor yang payah. Jeong Hoon setuju.


"Menurutmu bagaimana dramanya nanti? Apa akan sukses besar?"

"Entahlah. Aku tidak banyak tahu tentang drama. Tapi ini agak..."

"Agak apa?"

"Agak berlebihan."

Banyak hal dalam drama ini yang menurut Jeong Hoon lebay. Seperti adegan saat pria dan wanita bersatu kembali. Mereka berpapasan tiga kali dalam satu hari di tempat yang sama, lalu mereka saling melewatkan satu sama lain, lalu mereka mengalami kecelakaan konyol di jalan. Bukankah semua itu terlalu banyak kebetulan?

"Karena itulah mereka berjodoh. Mereka ditakdirkan untuk bertemu dan jatuh cinta. Aku yakin ada lebih banyak hal dramatis dalam kehidupan kita. Lihatlah kita berdua, tak disangka kan kita akan berakhir seperti ini."

"Kau benar."


Tapi sekarang sudah larut, sebaiknya mereka akhiri saja, Ha Jin bilang besok dia ada pekerjaan. Ha Jin kecewa, ternyata kencan pertama mereka cuma bekerja. Tapi Jeong Hoon tidak menganggap ini kencan pertama mereka.

"Pertemuan singkat ini tidak bisa dianggap kencan. Kencan pertama kita harus menyenangkan. Mari kita berkencan resmi akhir pekan ini."

"Oke. Ah, kau juga harus mengabulkan permintaanku. Tadi kau bilang maaf waktu baca naskah."

"Oh yah? Aku tidak ingat."

"Kau tidak boleh melakukan ini padaku."

"Baiklah. Apa permintaanmu?"

"Nanti kau akan tahu."

"Kau tiba-tiba membuatku gelisah."


Ha Kyung membawa Il Kwon ke tempat biasa dia latihan bela diri, hari ini dia akan mengajari Il Kwon Jujitsu. Il Kwon dengan pedenya mengklaim kalau Ha Kyung itu bukan tandingannya, tinggi badan Ha Kyung saja tidak setara dengannya.

Hmm, meremehkan! Justru dengan badannya yang pendek, Ha Kyung bisa dengan mudahnya menjegal Il Kwon dari bawah dan memitingnya dengan mudah sampai dia menjerit kesakitan padahal ini baru jurus dasar.

Dia beneran lemah banget jadi cowok. Bahkan saat gantian dia yang mencoba memiting Ha Kyung sekuat tenaga, Ha Kyung malah tidak merasa kesakitan sedikit pun.

Tiba-tiba Ha Kyung bergerak mendorongnya dan menindihnya, dan itu kontan membuat Il Kwon gugup dan terpesona. Saking gugupnya dia sampai pusing, padahal Ha Kyung cuma sedang mempraktekkan jurusnya.


Mereka lalu lanjut minum-minum di warung kaki lima. Ha Jin menelepon, mengabarkan kalau dia pulang diantarkan Pewarta Lee. Ha Kyung jadi bisa lebih tenang dan langsung memesan lebih banyak makanan dan soju. Apa Il Kwon mau pesan soda?

Il Kwon tersinggung, dia kuat minum. Dia bahkan membuktikannya dengan menuang segelas besar soju untuk dirinya sendiri. Padahal begitu meminumnya, dia langsung bergidik. Tapi dia tetap ngotot kalau dia kuat minum dan langsung minum segelas besar lagi.

Dia penasaran apakah Ha Kyung tidak ingin menjadi atlet saja. Ha Kyung mengaku dulu dia atlet judo semasa SMA. Tapi dia berhenti karena cidera awalnya. Tapi sekarang, dia berhenti karena unnie-nya. Dia harus berada di sisi unnie-nya.

"Jadi, kau melepaskan impianmu karena Ha Jin-ssi? Kalian berdua sangat akur."

Ha Kyung menegaskan bahwa hidup bahagia bersama keluarganya juga impiannya. Mereka tinggal jauh dari orang tua mereka, tapi rasanya menyenangkan tinggal bersama unnie-nya. Kadang unnie-nya tidak menurut dan terlibat masalah yang membuatnya marah dan kesal.

"Tapi kami masih bisa tertawa dan membuat kenangan indah bersama setiap hari..."


BRAK! Kepala Il Kwon mendadak terjatuh dengan keras ke meja dan pingsan seketika. (Pfft! Kuat minum apanya?) Ha Kyung tak memeprcayainya awalnya dan mencoba membangunkannya, tapi Il Kwon pingsan beneran.

Terpaksa akhirnya dia harus menggendong Il Kwon pulang sambil menggerutu kesal sepanjang jalan. Saat akhirnya sampai rumah, dia langsung membanting mereka berdua ke kasur dengan kelelahan.


Tapi saat dia hendak beranjak bangkit, Il Kwon tiba-tiba saja berguling memeluk erat yang jelas saja membuat Ha Kyung terkejut dan gugup. Hehe.

"Kau sangat manis dan mungil." Gumam Il Kwon.

Bersambung ke part 3

1 komentar: