Sinopsis Long For You Episode 1

Sinopsis Long For You Episode 1

"Apa kau tahu, burung gagak akan mengingat wajah-wajah yang dia lihat. Seribu tahun, setiap hari adalah hari-hari yang sangat panjang. Aku mencari wajah itu. Kota, pedesaan, di alam liar, di laut, pemakaman. Aku melihat banyak wajah sebelumnya, tapi tak ada satupun yang sesuai dengan wajah di dalam ingatanku. Entah apakah aku akan bertemu lagi denganmu."


Itulah narasi Xue Ji, seorang wanita muda yang kelihatannya wanita muda biasa, tapi dari narasinya sepertinya dia sangat misterius. Apa maksudnya seribu tahun? Apa dia sudah hidup selama seribu tahun? Terus dia apa dong? Manusia abadi atau vampir? Dan wajah siapakah yang dia cari-cari itu?


Sekarang kita beralih dulu ke sebuah mansion mewah di Perancis, mansion milik  seorang pria tua bernama Li Shi Zhong yang sekarang tengah berjuang di ambang maut.

Dengan kekuatannya yang semakin melemah, dia tanya pada asistennya. "Apa dia (wanita) akan datang?"

"Dia bilang dia tidak mau. Apa perlu dia datang?"

Hmm... dari pembicarakan mereka sepertinya Tuan Li berniat menyerahkan harta warisannya pada wanita itu. Tao De - si asisten, agak cemas dengan keputusan ini karena memberikan warisan pada wanita itu pasti akan menimbulkan masalah besar di antara anggota keluarga Li.

Tapi keputusan Tuan Li sudah bulat, "ini adalah janjiku padanya. Beritahu dia, aku merindukannya."


Itulah kata-kata terakhir Tuan Li sebelum kemudian ia menghembuskan napas terakhirnya. Hanya beberapa anggota keluarganya yang menghadiri pemakamannya, tapi tak tampak kesedihan sedikitpun di wajah mereka.

Malah begitu pemakaman usai, istri ketiga Tuan Li langsung kesal membahas masalah warisannya Tuan Li yang sebagian besar malah diberikan pada putri rahasianya yang selama ini tak pernah mereka kenal.

Tapi putra Istri Ketiga, Li Zhe (dia anak adopsi), santai saja menanggapi masalah ini. Toh dia sendiri sudah bisa membuat uangnya sendiri dan sukses dengan usahanya sendiri.

Tapi Istri Ketiga menolak melepaskan masalah ini begitu saja. Parahnya lagi, mereka mendapat kabar bahwa si putri rahasia itu sebenarnya sudah tiba tapi dia langsung jalan-jalan. Istri Ketiga sinis mendengarnya, si putri rahasia itu pasti lagi senang banget sekarang setelah mendapat harta warisan melimpah.

 

Si putri rahasia itu tak lain tak bukan adalah Xue Ji yang sama seperti yang lain, dia juga sama sekali tidak tampak sedih atas kematian Tuan Li. Malah dia sedang asyik keliling pulau pakai helikopter.

Tao De sudah menunggunya begitu dia mendarat. Dia meminta Xue Ji untuk ikut dengannya untuk mengurus warisan dari ayahnya. Baiklah, Xue Ji setuju. Tapi dia tidak mau lagi kembali ke pulau ini.

"Kau mungkin tidak mengerti. Bagi seseorang yang menghabiskan waktu 18 tahun di pulau terpencil, dunia luar sangatlah menarik."


Begitu mendengar Xue Ji datang, istri mudanya Tuan Li - Qin Shi, sontak marah-marah pada Tao De karena tidak memberitahunya sejak awal. Dia curiga sama anak itu, apa Tao De yakin tidak akan menyelidikinya?

Tao De santai meyakinkan bahwa itu tidak perlu. Xue Ji putri kandung atau tidak itu sama sekali tidak penting, toh Li Zhe juga mendapat warisan kan. Dan biarpun Tuan Li sudah meninggal dunia, Tao De memperingatkan Qin Shi untuk tetap berhati-hati dalam bersikap karena semua orang akan memperhatikannya.


Kesal, Qin Shi langsung pergi menemui seorang pemuda Perancis yang ternyata selingkuhannya. Dia tidak terima kalau tidak mendapat apa-apa setelah sepuluh tahun lamanya dia menikahi si pria tua itu, sementara si putri rahasia itu malah mendapatkan bagian besar bahkan biarpun dia tidak melakukan apapun. Bahkan Tao De pun tidak memperlakukannya dengan hormat sekarang.

Kekasihnya Qin Shi curiga kalau Tao De sebenarnya sudah mengetahui hubungan mereka, makanya Tao De bersikap begitu pada Qin Shi. Dia sebenarnya sudah cukup lama merasa seperti dibuntuti oleh seseorang.

Mengalihkan topik kembali ke masalah si putri rahasia. Qin Shi mendadak punya ide jahat. Karena anak itu selama ini tinggal di pulau, dia pasti tidak mengerti apa-apa. Dia bisa menyingkirkannya dengan mudah dengan cara membunuhnya dan menutupinya sebagai kecelakaan mobil.

"Jika dia mati sekarang, timingnya terlalu mencurigakan." Ujar si pria Perancis.

"Tentu saja kita harus menunggu saat yang tepat."


Tao De menemani Xue Ji jalan-jalan keliling kota Perancis dan memberitahunya bahwa hidup Xue Ji mulai sekarang akan sangat berbeda. Dia akan segera mentransfer warisan dari Tuan Li pada Xue Ji sesuai instruksi almarhum. Tuan Li juga membeli sebuah rumah khusus untuk Xue Ji.

"Sekarang, berapa banyak uang yang kudapatkan?"

Maka Tao De pun menyerahkan dokumennya yang menyatakan Xue Ji mewarisi uang sebesar 2 milyar dolar. Wow! Xue Ji antusias mendengarnya, jadi sekarang... dia bisa dibilang orang kaya?

"Tentu saja."

"Kalau begitu, apa aku bisa beli mobil?"

"Tipe mobil apa yang ingin anda beli?"


Tak lama kemudian, Tao De menemani Xue Ji ke showroom mobil di mana Xue Ji antusias banget melihat sebuah mobil warna kuning dan langsung memutuskan untuk membeli mobil itu cuma karena dia pernah melihat mobil semacam itu di sebuah drama, dikendarai oleh pemeran utama drama itu dan si pemeran utama kelihatan cakep banget waktu mengendarai mobil itu.


Usai beli mobil, mereka makan siang bersama. Tapi Xue Ji malah sibuk sendiri main game. Tao De memperingatkannya untuk lebih berhati-hati mengingat sekarang dia kaya raya. Tao De akan mencarikan pengawal untuknya. Dan Tuan Li dulu terlibat dalam beberapa program amal, jadi nantinya, Xue Ji yang harus menggantikannya.

Xue Ji tidak mau, lebih baik Tao De saja yang mengurus semua itu untuknya. Dia bahkan memutuskan untuk menyerahkan semua urusan warisannya pada Tao De. Dia pasti akan membayar Tao De dengan mahal.

"Aku percaya pada seleranya (Tuan Li) dalam merekrut orang. Karena itulah aku percaya padamu."

"Nona, tentang kematian ayah anda, apa anda tidak merasa sedih sama sekali?"

"Dia sudah 81 tahun, dia sudah hidup cukup lama, bukan?" Santai Xue Ji. "Lagipula, sudah lebih dari 10 tahun aku tidak bertemu dengannya. Selama 10 tahun itu, aku hidup di pulau terpencil. Hanya setelah dia mati, aku bisa keluar dari pulau itu. Aku berterima kasih padanya, dia juga memenuhi janjinya pada ibuku."

Mengalihkan topik, Tao De memberitahu bahwa sekarang Xue Ji jadi topik yang paling menarik di masyarakat. Bahkan ada media yang ingin mewawancarai Xue Ji.

Xue Ji menolak, dia tidak akan hadir di acara-acara semacam itu. Setelah menyelesaikan masalah warisannya, dia ingin kembali ke negaranya sendiri dan menetap di sana.


Malam itu, Xue Ji memimpikan sosok seseorang yang memakai pakaian jaman kuno bertopi jerami, tengah menelusuri hutan di malam hari dan terdengar suara. "Maafkan aku... maafkan aku."

Xue Ji tersentak bangun dari mimpi dan jadi gelisah karenanya.


Keesokan harinya, dia bertemu dengan seluruh anggota keluarga Li. Hanya Li Zhe yang belum datang. Saat mereka memperkenalkan diri masing-masing, mereka memberitahu Xue Ji bahwa Li Zhe bukanlah anak kandung Tuan Li.

Mereka memang tampak menyambutnya dengan ramah, tapi jelas mereka hanya menginginkan warisannya dan mencoba membodohinya dengan cara menawarkan bantuan mereka untuk mengurus warisannya dengan alasan bahwa dia masih muda dan belum terbiasa dengan keadaan di sini.

Qin Shi meyakinkan bahwa walaupun Tao De menjaga wasiatnya Tuan Li selama lebih dari 20 tahun, tapi dia tetaplah orang luar. Entah apa yang akan dilakukan Tao De pada warisan itu nantinya.

Sayangnya Xue Ji tidak gampang diperdaya. Dia dengan tegas menolak, ini adalah warisannya, hadiah dari ayahnya. Salah satu anak Tuan Li tanya apakah dia benar-benar anak kandung ayahnya?

"Aku juga tidak tahu. Aku muncul setelah dia meninggal dunia. Oh, kudengar kue di sini enak. Apa masih ada sisa?"

 

Qin Shi berbaik hati mengantarkannya ke dapur dan memberinya sepotong kue. Xue Ji penasaran, terakhir kali dia bertemu ayahnya adalah sepuluh tahun yang lalu. Selama sepuluh tahun terakhir ini, apa ayahnya hidup bahagia?

"Tentu saja. Dengan seorang istri muda sepertiku, apa kau tidak berpikir kalau dia menghabiskan masa tuanya dengan sangat bahagia?" Ujar Qin Shi dengan angkuhnya.

Dia ingin sekali bertemu dengan ibunya XUe Ji seandainya dia masih hidup. Dia pernah melihat foto ibunya Xue Ji sebelumnya, Xue Ji benar-benar sangat mirip dengan ibunya. Tak nyaman dengan pembicaraan ini, Xue Ji buru-buru pamit.

"Biar kuantarkan pulang," ujar Li Zhe yang baru datang.


Xue Ji diam saja. Tapi saat Li Zhe membukakan pintu mobil untuknya, Xue Ji mendadak menolaknya dengan alasan Tao De sudah menunggunya sedari tadi.

Tao De heran, kenapa Xue Ji menolak Li Zhe untuk mengantarkannya pulang. Xue Ji mengaku bahwa dia merasa Li Zhe adalah orang yang sulit ditebak. Dia yakin Li Zhe tidak akan langsung membawanya pulang.

Sekarang ini, Xue Ji ingin belajar menyetir biar nanti bisa keliling kota sendirian. Pokoknya dia ingin melakukan segala hal sendirian dan mencoba berbagai hal yang biasanya dilakukan orang-orang biasa. Tao De cemas dan mencoba menyarankannya untuk bawa pengawal, tapi Xue Ji ngotot menolak.


Xue Ji akhirnya jalan-jalan mengelilingi kota dan menikmati berbagai suasana seorang diri. Beberapa waktu kemudian, Li Zhe meneleponnya. Karena dia menolak keluar rumah, Li Zhe akhirnya datang sendiri ke rumahnya dengan membawakan kue untuknya.

Xue Ji saat itu sedang membuka beberapa paketan barang. Semua itu adalah barang-barang yang selalu ingin dia beli selama dia tinggal di pulau, baru kali ini dia bisa membelinya soalnya dulu pengantarannya tidak sampai ke pulau.

"Kenapa kau membeli semua ini? Seharusnya kau menyewa seorang manager."

"Aku bukan artis, kenapa juga aku menyewa manager? Lagipula aku tidak akan menghadiri aktivitas apapun juga."


Duduk bersama di luar, Li Zhe mengaku bahwa waktu dia kecil, dia pernah hampir bertemu dengan Xue Ji. Waktu dia kecil, Tuan Li pernah membawanya ke pulau satu kali. Dia melihat sosok punggung ibunya Xue Ji waktu itu.

"Aku ingat waktu itu, beliau duduk sendirian di tepi laut saat matahari hampir terbenam. Aku memandangnya sangat lama."

Biarpun waktu itu Li Zhe masih sangat kecil, tapi hanya dari melihat sosok punggungnya, dia bisa merasakan ibunya Xue Ji sangat kesepian.

"Kau masih mengingat hal-hal seperti itu? Aku saja sudah lupa."

"Karena itulah, waktu aku dengar kau datang, aku ingin sekali bertemu denganmu. Kalian berdua benar-benar sangat mirip."


Canggung, Xue Ji menolak membahas masalah ibunya. Baiklah, tapi menurut Li Zhe, berhubung sekarang Xue Ji sudah kaya, maka seharusnya dia belajar mempercantik dirinya sendiri. Apalagi bajunya Xue Ji tuh, dia benar-benar tidak punya selera fashion.

Malu dan canggung, Xue Ji mengingatkan kalau dia baru keluar dari pulau. Semua ini masih baru baginya. Lagipula dia merasa semua itu terlalu merepotkan. Tapi... mulai sekarang, dia akan berpakaian dengan baik.

"Yang paling penting..." Li Zhe tiba-tiba mendekat. "Kau satu-satunya gadis yang pernah kutemui tanpa pakai lipstik di bibirmu. Aku tidak bisa memaafkanmu."

"Kau tidak perlu mengingatkanku, aku pasti akan belajar make up! Kau coba saja hidup di pulau selama 20 tahun! Apa kau datang kemari cuma untuk menertawaiku?"

Li Zhe geli mendengarnya. "Ayo pergi, aku akan membawamu ke suatu tempat."

"Nggak mau. Aku tidak ingin orang-orang mengenaliku."

"Jangan khawatir. Tak ada seorang pun yang mengenali tempat itu."


Li Zhe langsung menyeretnya pergi bersamanya ke sebuah pantai yang letaknya cukup terpencil. Sembari menikmakti alam indah itu, Xue Ji tiba-tiba tanya apakah Li Zhe percaya bahwa mimpi bisa menjadi nyata?

"Tidak. Aku percaya bahwa setelah kita terbangun dari mimpi, mimpi itu akan berakhir."

"Tapi aku ingin mempercayainya. Jika tidak, kita akan menyesal."

"Apa yang perlu disesali saat kita terbangun dari mimpi-mimpi kita?"

"Jika mimpi itu tidak ada, maka aku tidak akan bisa bertemu orang dalam mimpiku." Gumam Xue Ji sendu.

"Hah? Kau bilang apa?"

Xue Ji buru-buru menyangkalnya dan mengalihkan topik dan mengomentari betapa indahnya tempat itu. Apa dia boleh pinjam mobilnya Li Zhe nanti? Soalnya dia mau latihan menyetir sendiri.

Li Zhe tidak setuju dan ingin menemaninya, tapi Xue Ji ngotot mau sendirian. Dia akan suruh orang untuk menjemput Li Zhe. Masih agak ragu sebenarnya, tapi akhirnya Li Zhe setuju lalu menyerahkan kunci mobilnya.


Tapi di tengah jalan yang sepi itu, sebuah mobil lain mendadak muncul mencegat Xue Ji. Dua orang bule sangar keluar dari dalamnya lalu DOR! Menembak Xue Ji.

Bersambung ke episode 2

Post a Comment

0 Comments