Sinopsis The Love by Hypnotic Episode 9 - 1

 Sinopsis The Love by Hypnotic Episode 9 - 1

Ming Yue sebal menggerutui Li Qian. Biasanya juga dia menghipnotis Li Qian, tapi kenapa sekarang Li Qian begitu marah. Nyebelin.


"Apa Putri merindukan Pangeran?" Goda Tan Li.

"Omong kosong!" Tukas Ming Yue. Dia beralasan kalau dia cuma takut Li Qian menceraikannya karena itu akan mempengaruhi hubungan kedua kerajaan.

Baru juga dibicarakan, Li Qian mendadak muncul. Ming Yue buru-buru menyembunyikan jajanannya sebelum menyambut Li Qian dengan manis.

Tapi Li Qian tetap dingin padanya dan to the point memberitahu Ming Yue bahwa tanggal 15 nanti, dia akan pergi berburu bersama Kaisar dan Ming Yue harus ikut.

Ming Yue sontak antusias mendengarnya, kalau Li Qian mengajaknya ikut berburu, apa itu artinya Li Qian sudah tidak marah padanya lagi?

"Ini perintah Ayahanda, bukan keinginanku sendiri."

Ming Yue kecewa. Kalau cuma begitu, seharusnya dia suruh Cheng saja untuk menyampaikan hal ini padanya, untuk apa dia repot-repot datang sendiri kemari?

"Aku datang untuk memberitahumu bahwa ada banyak orang di arena berburu. Bahkan sekalipun hanya pura-pura, kau harus bersikap selayaknya seorang istri pangeran. Jika Ayahanda menyadari sesuatu yang tidak wajar, maka kau akan berada dalam masalah besar."

 
Ming Yue langsung pasang senyum manis sambil meyakinkan Li Qian untuk tidak cemas. Dia bukan hanya akan berakting jadi istri pangeran yang baik, tapi dia juga akan menunjukkan kemampuan menunggang kudanya dan keahlian panahannya, dan mendapatkan kehormatan untuk Pangeran.

Dia lalu menunjukkan baju dan peralatan berburunya pada Li Qian, tapi Li Qian dengan dinginnya menyuruh Cheng untuk membawa semua benda itu keluar. Ming Yue tidak terima, apa maksudnya itu?!

Li Qian menegaskan bahwa Ming Yue harus berakting selayaknya istri pangeran. Jadi dia tidak boleh pergi berburu dengan memakai baju Xiyue itu.

"Kalau begitu, aku tidak akan pergi!" Kesal Ming Yue.

"Ikut berburu atau kembali ke Xiyue, kau pilih sendiri." Ancam Li Qian lalu pergi. "Oh yah... tinggalkan Zhu Xin Ling di rumah. Kalau kau membawanya, maka kau tidak perlu memilih lagi."

Kesal dan tak punya pilihan, Ming Yue sontak membanting gelang itu.


Melihat kekecewaan Ming Yue tadi, Cheng cemas kalau Ming Yue mungkin salah paham dengan maksud baik Li Qian. Semua yang Li Qian katakan tadi, bukankah itu demi kebaikan Ming Yue. Li Qian pasti cemas kalau Li Xun mungkin merencanakan sesuatu di arena berburu.

Li Qian sontak menatapnya tajam. Tapi walaupun awalnya ngotot menyangkal, pada kahirnya dia mengakui bahwa jika Ming Yue membawa peralatan berburunya sendiri, dia takut kalau Li Xun akan cari masalah dengan itu. Jika sampai terjadi sesuatu atau seseorang terluka, maka dialah yang harus bertanggung jawab.

"Lalu kenapa Pangeran tidak mengizinkan Putri memakai baju berkudanya?"

"Sekarang dia adalah Istri Pangeran Beixuan dan bukannya Putri Xiyue. Jika dia tidak bisa memahami ini, bagaimana Ayahanda akan bisa tenang?"

Cheng mengerti. Li Qian takut Ming Yue dijebak dan juga takut Kaisar akan mencurigai Ming Yue. Canggung, Li Qian ngotot beralasan kalau dia melakukan ini demi dirinya sendiri.

Cheng mengerti. Tapi, biarpun Li Qian melakukan ini demi dirinya sendiri, tapi dia juga bisa membuat Putri bahagia. Jika tidak, takutnya Ming Yue bersedih selama di arena berburu dan Kaisar mungkin saja memperhatikannya. Jika itu terjadi, bukankah itu berlawanan dengan tujuan Li Qian.


Di arena berburu, Ming Yue sebal karena dipaksa pakai baju yang cantik tapi tidak berguna ini. Dia kan jadi tidak bisa menunjukkan kemampuan berburunya kalau begini.

Li Qian baru kembali tak lama kemudian, dan langsung menegur Ming Yue karena berkeliaran di luar dan bukannya duduk manis di tenda.

"Kenapa memelototiku? Kau sendiri memakai baju sebagus itu , jelas-jelas kau takut aku akan mencuri perhatian. Pakaian ini tidak akan bisa menghalangi darah Xiyue-ku." Kesal Ming Yue.

"Sudah kubilang, bersikaplah yang sopan. Itu tendaku, kau masuk duluan dan jangan berkeliaran."


Hui Xin yang baru datang, cemburu melihat mereka dari kejauhan. Li Xun datang menyambutnya dengan riang dan menanyakan bagaimana perjalanannya, apa baik-baik saja.

Tapi Hui Xin dingin menegaskan bahwa dia datang hanya karena perintah, dia tidak suka berkuda apalagi memanah. Jadi dia tidak baik-baik saja.

"Aku hanya ingin kau keluar dan menenangkan hati."

"Jika Pangeran memerintah saya untuk menenangkan hati, saya akan patuh." Dingin Hui Xin.

"Ini salahku, aku tidak menanyakan pendapatmu dulu. Istirahatlah, aku tidak akan mengganggumu."


Ming Yue masuk tenda sambil menggerutu kesal mengutuki Li Qian. Setiap kali melihatnya, Li Qian selalu saja melarangnya melakukan ini dan itu, tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Menyebalkan!

Tapi emosinya mendadak sirna saat matanya melihat sebuah busur dan anak-anak panah berwarna putih yang sontak membuatnya terkagum-kagum. Apalagi kemudian dia melihat sebuah baju berburu warna merah yang cantik. Apa Li Qian yang menyiapkan semua ini?

"Tapi biarpun benar, itu hanya demi dirinya sendiri. Tapi jika dia benar-benar menyiapkannya untukku... tidak mungkin. Bahkan kalaupun iya, dia sudah terhipnotis sampai otaknya rusak."


Baru diomongin, Li Qian mendadak masuk dan berkata bahwa dia menyiapkan semua itu untuk Ming Yue, dia kan ingin berburu.

"Aku tidak berani. Aku ingat perintah Pangeran untuk bersikap baik dan tidak membuat masalah."

"Aku menyuruhmu memakainya, maka pakailah."

"Apa Pangeran tidak takut aku membuat masalah?"

"Aku akan mengawasimu."

Ming Yue sontak antusias mendengarnya. "Kalau begitu terima kasih."

Li Qian santai saja berbalik, tapi malah shock mendapati Ming Yue sedang mengganti bajunya saat itu juga. Li Qian refleks balik badan, tapi Ming Yue menyarankannya untuk tidak keluar. Karena jika Li Qian keluar, takutnya orang-orang akan curiga.

"Seperti yang Pangeran bilang, awasi aku baik-baik."

"Jangan khawatir, aku tidak akan mengintip."

Mendengar itu, Ming Yue malah tambah getol menggodanya dengan sengaja melempar baju-bajunya... termasuk dalemannya yang berwarna merah tepat di kakinya Li Qian.


Li Qian berniat mau mengambili baju-baju yang berserakan itu tapi malah tak sengaja melihat bayangan Ming Yue di cermin. Li Qian jadi terpesona dan ujung-ujungnya malah jadi ngintip melalui cermin itu... sampai saat Ming Yue berbalik dan Li Qian sontak berpaling menyadari perbuatannya.

Dengan canggung dia pamit keluar dengan alasan mau menyuruh orang menyiapkan kuda. Tapi mendadak dia baru sadar kalau dia masih memegangi dalemannya Ming Yue. Pfft!

Tapi alih-alih mengembalikannya ke lantai, Li Qian malah diam-diam menyampirkan benda itu di atas papan sekat lalu kabur. Jelas saja Ming Yue jadi geli menyadari Li Qian memegangi benda itu tadi.


Ming Yue keluar tak lama kemudian dan Li Qian tampak terpesona padanya. Tapi Li Qian sontak mengalihkan pandangannya dengan gugup.

"Pangeran apa aku cantik? Apa kau menyesal karena keluar terlalu terburu-buru tadi?"

"Aku... hanya ingin memastikan apakah bajunya pas."

"Oooh, kalau begitu Pangeran lihatlah baik-baik." Ming Yue dengan senang hati menyodorkan dirinya. "Kalau tidak pas, Pangeran bantu aku pakaikan ulang."

"Tidak perlu!" Li Qian buru-buru menjauh dan naik ke atas kuda duluan. "Cepatlah naik dan ikuti aku. Jangan biarkan Ayahanda menunggu lama."

Ming Yue senang banget melihat reaksinya. Tak ada satupun dari mereka yang menyadari Hui Xin tengah memperhatikan mereka dari kejauhan dengan sedih.


Sebelum berangkat, Kaisar menginstruksikan bahwa mereka semua harus mengeluarkan kemampuan terbaik mereka untuk menunjukkan kehebatan Beixuan.

"Li Ming Yue, kau harus harus menunjukkan kemampuanmu. Kita lihat bagaimana keahlian berkuda dan memanahnya Beixuan dibandingkan dengan Xiyue."

"Baik!"

"Dengarkan baik-baik semuanya. Siapa saja yang mendapat mangsa lebih banyak, akan mendapat hadiah. Jangan mengalah padaku dan jangan merusak reputasi keluarga kerajaan Beixuan."

"Aku pasti akan mendapatkan hadiah itu!" Ujar Ming Yue dengan penuh percaya diri.

Gendang ditabuh, semua orang pun berangkat ke hutan tapi tak ada seorang pun yang memperhatikan Li Xun yang diam-diam melirik pengawalnya dengan penuh arti. Entah apa rencana licik mereka kali ini.

Bersambung ke part 2

1 komentar: