Sinopsis Akkanee's Heart Episode 1 - 2

Sinopsis Akkanee's Heart Episode 1 - 2

Para penghibur yang meramaikan acara arak-arakan itu dibayar dengan cukup mahal oleh Sila. Dan ternyata, tangannya sebenarnya tidak cidera. Dia sengaja berbohong karena tidak ingin ikut dalam kompetisi itu. (Bah! Pecundang yang sok jagoan)


"Ooooh, aku mengerti. Kau takut kalah dari Fai lagi yah?" Tanya salah satu anak buahnya dengan santainya dan sontak mendapat jitakan di kepala. Sila dengan penuh harga diri menyatakan kalau dia tidak pernah kalah dari Fai dan tidak akan pernah kalah darinya.


Fai berkuda mengelilingi peternakannya hingga tiba di pagar panjang yang membatasi area peternakan keluarganya dengan peternakan Posawat, dan berhenti di sana gara-gara melihat piala-nya Jeed yang diletakkan di atas pagar itu.

Fai gregetan banget melihatnya. "Jeed! Dasar biang onar!"

Kesal, dia langsung menyodok-nyodok piala itu... hingga terjatuh dan menabrak sebuah batu. Hmm, sengaja nggak sengaja sih, bodo amat. Mumpung tidak ada orang, Fai berniat mau pergi.


Tapi Jeed mendadak muncul dari semak dan langsung melabraknya. Apa Fai mau melarikan diri dari perbuatan buruk melempar pialanya ke tanah? Tuh lihat, pialanya sampai tergores.

Fai tidak terima tuduhannya, jadi biarkan dia mengoreksi. Pertama, dia tidak melempar piala itu. Dia cuma menggunakan jarinya untuk menyentil piala itu dari pagar yang berada di area peternakannya.

Kedua, masalah pialanya jatuh ke tanah itu, Jeed harusnya menyalahkan gravitasi alam, jadi jangan menyalahkannya. Dan yang ketiga, batu itulah yang bersalah membuat pialanya Jeed tergores. Dan batu itu kan tidak berada di wilayahnya, melainkan ada di wilayahnya Jeed.

"Karena itulah, kau tidak boleh asal menuduhku. Mengerti?" Ujar Fai dengan senyum manisnya. "Aku pergi."


Emosi, Jeed langsung melompati pagar itu dan BUG! Menonjok keras Fai. Orang semacam Fai, kalau tidak dipergoki, dia tidak akan pernah mau mengakui kesalahannya.

"Memangnya aku salah apa? Apa bukti yang kau miliki untuk menuduhku?"

Oh, bukti. Tentu saja Jeed punya. Sini, mendekatlah. Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan video yang diambilnya secara diam-diam saat Fai menyodok pialanya tadi. Fai malah santai bernarsis ria memuji-muji ketampanan dirinya. Eh, jangan-jangan... Jeed naksir dia yah? Makanya Jeed membuntutinya dan diam-diam merekam dirinya?

"Hei! Jangan kepedean. Lihatlah dengan mata kepalamu sendiri! Kau lihat itu? Kau sengaja mendorong pialaku terjatuh ke tanah!"

Fai pura-pura bodoh, "yang mana?"

"Lihatlah baik-baik!"


Mereka terus saja otot-ototan tanpa menyadari jarak mereka yang jadi semakin dekat... hingga tak sengaja keduanya saling berhadapan dan langsung terpesona menatap satu sama lain dalam jarak sedekat itu... sampai saat terdengar suara seorang wanita yang teriak-teriak memanggil Fai dengan suara manja menggoda.

Tersadar, Jeed sontak menjauh dan melihat seorang wanita berpenampilan s~~si yang sedang teriak-teriak heboh memanggil Fai dengan panggilan sayang - Fai kha~~~~.

"Tuh, kekasih d~~a besarmu sudah datang." Nyinyir Jeed.

Jeed bahkan langsung mengusap bibir Fai dengan kasar, menuduh Fai ngiler melihat si cewek d~~a besar itu. Fai kesal, apa Jeed iri sama dia? Tuhan memang tidak adil.

"Yang satu dilahirkan dengan body yang aduhai. Sementara yang yang satunya terlahir RATA dan pucat!" Ejek Fai.

Kesal, Jeed sontak memukuli Fai dengan ganas lalu menginjak kakinya keras-keras sebelum kemudian melompat kembali ke tanah peternakannya.

 

Tapi sekarang Fai jadi panik sendiri ingin menyembunyikan dirinya dari Milk - si wanita berd~~a montok itu, tapi gagal. Milk langsung memeluknya dengan antusias dan Fai berusaha tetap sopan dengan menepuk-nepuk punggungnya saja. (Btw, dulu waktu pertama kali nonton drama ini aku nggak tahu, sekarang baru sadar kalau yang jadi Milk ini istrinya Bie Thassapak Hsu, yang jadi Fang Leng)

Milk bawa hadiah untuk Fai, sebuah piala lomba ATV yang dia buat khusus untuk Fai, menyatakan Fai sebagai pemenang tahun ini dan selama-lamanya.

"Biarpun orang lain tidak bisa melihat aspek paling penting dirimu, tapi aku bisa. Tidak masalah biarpun mereka tidak memberimu piala kemenangan, aku yang akan memberimu. Karena kau adalah pemenang di hatiku, sekarang dan selamanya. Muah! Muah! Muah!"


Dengan pedenya dia memeluk Fai lagi tanpa menyadari ketidaknyaman Fai terhadapnya... lalu mendadak menjerit heboh saat melihat pipi Fai yang sekarang memerah. Kenapa wajah Fai jadi merah begini? Siapa yang melakukan ini padanya?!

"Katakan saja padaku dan akan kukirim ayahku untuk mengurus orang itu!"

Tapi Fai dengan manisnya melindungi Jeed dengan berbohong bahwa ini cuma gara-gara dia ceroboh menabrak tiang gara-gara tidak fokus waktu jalan.

Milk malah menjerit makin heboh sambil mencubit gemas pipi Fai. "Duh! Imutnya! Imut banget. Macho tapi ceroboh, idamanku banget! Imut banget! IMut! Imut! Imut!"

Fai risih banget sebenarnya, tapi dia tak tega menolaknya dan akhirnya membiarkan Milk tetap menggelandotinya. Jeed nyinyir menyaksikan pemandangan itu dari balik pohon.


Padahal jelas-jelas dia iri dengan Milk, dia bahkan membayangkan dirinya perang besar-besaran d~~a sama Milk. Dia bahagia banget dengan khayalannya itu sampai saat seorang pelayan memanggilnya karena dia kedatangan tamu seorang pria bernama Yai.

Temannya itu datang untuk meminta Jeed membantunya menyiapkan sebuah pesta pernikahannya. Jeed malas sebenarnya, dia tidak cocok dengan acara begituan. Apalagi pekerjaannya di peternakan sibuk banget. Tapi Yai pantang menyerah, dia bahkan berlutut di hadapan Jeed dengan wajah melasnya sampai akhirnya Jeed menyerah dan setuju.


Pada saat yang bersamaan, Fai juga kedatangan tamu seorang teman wanitanya yang bernama Pemai yang datang untuk mengundang Fai jadi groomsman di acara pernikahannya. (Hmm, apa mungkin itu pernikahan yang sama?)

Fai menolak. Tapi Pemai langsung mengancamnya untuk membuat pilihan. Fai mau jadi groomsman atau jadi pengantin prianya saja?

"Jangan ngimpi!"

"Kalau begitu, pilih salah satu." Tuntut Pemai. Fai galau.
 

Tapi malam harinya, dia memberitahu kedua orang tuanya bahwa hari senin nanti, dia harus pergi ke daerah selatan untuk menghadiri acara pernikahannya Pemai. Montree penasaran, Fai sendiri kapan akan menikah?

Fai tidak bisa menjawab, malah Lom yang menggodanya dan mengklaim bahwa sebentar lagi Fai pasti akan menyusul jadi pengantin pria. Calon pengantinnya Fai bahkan sudah memberinya lebam merah di pipinya tuh. Satu pukulan saja dia langsung KO.

"Tidak mungkin. Dia bukan tipeku. Aku mending hidup sama sapi daripada menikah dengan Jeed!"


HACIH! Jeed mendadak bersin saat itu juga, siapa sih yang lagi nggosipin dia? Gara-gara Yai, sekarang dia harus mengobrak-abrik lemarinya untuk mencari sebuah gaun.

Tapi di sisi lain, sebenarnya dia antusias juga. Dia bahkan membayangkan dirinya jadi anggun nan memesona dalam balutan gaun... lalu sengaja lewat di hadapan Fai dan main mata dengannya biar Fai klepek-klepek oleh pesonanya sampai mimisan.

Sungguh khayalan yang indah... sampai saat dia sadar dan langsung mengomeli dirinya sendiri. Ngapain dia mikirin si me~~m itu? Nyia-nyiain kapasitas otak aja.


Keesokan harinya, Jeed dan Fai secara bersamaan tiba di sebuah area pertokoan dan hampir saja mobil-mobil mereka bertubrukan saat mereka secara bersamaan saling berebut tempat parkir, dan jadilah mereka bertengkar heboh lagi gara-gara itu.

Tak ada yang mau mengalah. Tapi Milk mendadak muncul lalu mengklaim tempat parkir itu sebagai parkiran salonnya. Jadi hanya Fai yang boleh memakai tempat parkir itu karena Fai datang kemari untuk mengunjunginya, mengunjungi pacarnya.

"Aku pernah melihatmu beberapa kali mengomeli cowokku. Jangan-jangan... kau diam-diam naksir cowokku, yah?!" Tuduh Milk.

Sinis, Jeed dengan sengaja memprovokasi Milk dengan merangkul Fai. "Kalau aku tidak suka dia, ngapain juga aku mengomelinya? Pegang pacarmu erat-erat. Aku akan menggantikanmu kalau kau lengah. Kau sudah kuperingatkan loh yah. Muah!" Ucap Jeed lalu pergi.


Milk sontak menjerit heboh mengutuki Jeed sambil mengadu manja ke Fai. "Fai kha, lihatlah itu! Dia baru saja mengumumkan kalau dia ingin merebutmu dariku! Aku tidak akan membiarkannya! Aku tidak akan membiarkannya! Aaaaarrgh!!!"

Milk sontak menjerit makin heboh saat dia berpaling dan baru menyadari kalau yang dia pegang sedari tadi bukan Fai, melainkan Sak - anak buahnya Fai. Ke mana Fai pergi? Iiiih! Apa Sak bahkan sudah mandi? Jijik! Fai kha~~~~~!

Sak sakit hati diperlakukan seperti itu. "Suatu hari aku akan membuatnya ganti dari 'Fai kha' ke 'Sak kha~~~'"

Bersambung ke part 3

0 komentar

Post a Comment