Sinopsis Wait My Youth Episode 2 - 1

 Sinopsis Wait My Youth Episode 2 - 1

Guru wali kelas baru datang menyapa mereka dan memperkenalkan dirinya adalah Huang Shan Shan. Guru Huang lalu menunjuk Jia Ze sebagai ketua kelas.


Di tahun ajaran baru ini, Guru Huang berharap mereka akan memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dengan siswa berprestasi. Pelajaran sangat penting, jadi ia berharap mereka bisa menghapal dengan baik.

Pada jam istirahat, Mei Li berbisik mengomentari nama Guru Huang yang hampir mirip dengan namanya Can Can. Huang Shan Shan dan Su Can Can, mirip kan? Can Can tidak terima, apanya yang mirip, jelas nama Can Can jauh lebih bagus.

Tapi tepat setelah dia mengucap itu, Guru Huang tiba-tiba saja memanggil Can Can lalu menyuruhnya ikut ke ruang guru. Waduh, Guru Huang dengar omongannya kah? Wajah Guru Huang tampak menakutkan lagi.


Tapi di ruang guru, Guru Huang ternyata cuma membahas tentang kemampuan menulisnya Can Can yang katanya sangat bagus. Karena itulah, Guru Huang ingin Can Can menjadi perwakilan dalam kelas literatur.

Can Can jelas setuju tanpa ragu. Tapi kemudian dia melihat Guru Huang sedang membuat daftar seat plan. Guru Huang mengaku kalau ia mau mengatur ulang tempat duduk para siswa, soalnya pengaturan tempat duduk mereka sangat kacau, jadi perlu diatur ulang.

"Lalu apakah tempat duduk kami ditentukan menurut absen atau berdasarkan ranking?"

"Itu, aku akan mempertimbangkannya dengan teliti."

 

Can Can jadi cemas, takutnya dia dan Mei Li akan terpisah. Tapi Mei Li santai saja. Justru bagus kan, siapa tahu Can Can akan sebangku dengan Jia Ze.

Can Can tak yakin kalau dia bakalan sebangku dengan Jia Ze. Guru Huang tadi bilang kalau dia akan menilainya berdasarkan nomor urut absen dan ranking. Jadi mana mungkin Jia Ze bakalan satu bangku dengan murid gagal seperti dirinya.


Mendengar itu, Mei Li mendadak punya ide licik. Mumpung rung guru sedang sepi, dia menyuruh Can Can berjaga di pintu sementara Mei Li mencari kertas seat plan itu.

Tepat saat itu juga, Tian Ye tiba-tiba lewat dan Can Can refleks nyengir, tapi Tian Ye malah cuma membalasnya dengan muka datar yang jelas saja membuat Can Can kesal. Tian Ye tidak mengatakan apapun dan langsung pergi.

Saat akhirnya Mei Li menemukan seat plan-nya, dia langsung mengganti nama orang yang tertulis di sebelah namanya Jia Ze dengan nama Can Can.


Tepat saat itu juga, mereka mendengar suara Guru Huang mendekat. Untung saja Mei Li sudah selesai menulis dan tepat saat dia beranjak bangkit, Guru Huang masuk.

Guru Huang jelas heran melihat mereka berada di mejanya, sedang apa mereka di sini? Can Can beralasan kalau dia cuma mau mengambil tugas sastra.

Mereka mau cepat-cepat pergi, tapi Guru Huang tiba-tiba menghentikan mereka sambil menatap mereka dengan curiga. Waduh! Ketahuankah? Oh, tidak ternyata. Guru Huang ternyata cuma melempar selembar file dan berkata. "Kalian lupa copy-annya."

Lega, Mei Li cepat-cepat mengambil file itu lalu pergi.

 

Di kelas, Can Can terpesona memandangi Jia Ze yang tampak sedang ngobrol dengan Tian Ye. Dia bahkan sampai membayangkan dirinya duduk sebangku dengan Jia Ze dan belajar bersama Jia Ze.

Tapi bayangan indahnya mendadak rusak gara-gara Tian Ye yang mendadak berpaling padanya. Can Can langsung memalingkan muka dengan kesal.


Guru Huang kembali tak lama kemudian dan langsung to the point untuk menukar pengaturan bangku. Mereka semua disuruh keluar dulu lalu dipanggil satu per satu. Can Can antusias banget amenantikan dirinya duduk sebangku dengan Jia Ze.

Can Can dipanggil tak lama kemudian dan disuruh duduk di bangku urutan keempat dekat jendela. Tian Ye dipanggil setelahnya... lalu disuruh duduk sebangku dengan Can Can. (Pfft! Kok nggak sama Jia Ze padahal udah diganti namanya?)

Can Can jelas kaget, bingung, dan kecewa. "Kenapa dia lagi? Kenapa si iblis ini menyabotaseku dan Jia Ze lagi?"


Can Can akhirnya cuma bisa merana memandangi Jia Ze yang duduk di bangku depan. Tiba-tiba Jia Ze menghampiri meja mereka, memang sih yang dia datangi adalah Tian Ye yang lagi asyik molor, tapi tetap saja Can Can langsung pasang pose seolah dia lagi serius belajar. Jia Ze memberitahu Tian Ye bahwa ada pertunjukkan di gedung seni.

"Baiklah, kalau begitu, aku akan pergi main basket biar kau bisa memiliki seluruh ruangan seorang diri." Ujar Tian Ye.

"Basket lebih penting daripada aku, yah?"

"Berhentilah bertingkah menjijikkan. Pergi sana!"


Tapi setelah Jia Ze pergi, Tian Ye malah melihat Can Can lagi mesam-mesem gaje. Tapi dia sama sekali tidak berpikir kalau Can Can mesam-mesem pada Jia Ze. Dia malah langsung kesal melabrak Can Can, Can Can pasti sengaja kan menukar bangku mereka.

Tapi dia mikirkan Can Can menukar bangku biar Can Can bisa duduk bersamanya. Dia sungguh tidak mengerti kenapa Can Can ngotot ingin duduk bersamanya. Dia kan sudah bilang kalau dia tidak tertarik sama Can Can.

Karena itulah, mulai sekarang, dia akan menerapkan 3 aturan di antara mereka. Aturan pertama, Can Can dilarang bicara padanya. Aturan kedua, jangan menguping percakapannya. Aturan ketiga...

"Apa aturan ketiganya?"

"Hentikan senyum bodohmu itu. Jangan bicara padaku."

"Kau yang bicara duluan!" (Pfft!)


Di luar, Can Can kesal merutuki Tian Ye. gara-gara Tian Ji, Jia Ze jadi salah paham padanya. Bagaimana dia bisa menghadapi Jia Ze sekarang?

Mei Li santai menasehatinya untuk memandang segalanya dari sisi positif. Tian Ye dan Jia Ze kan sahabatan, manfaatin aja dia. Karena Jia Ze salah paham terhadap hubungan mereka, maka Can Can bisa memanfaatkan reputasinya Tian Ye.

"Nasehat apaan tuh? Situsinya sekarang sudah sangat buruk."

"Kalau begitu, pergilah jelaskan padanya dan bilang kalau kau tidak suka sama Lan Tian Ye jadi dia jangan salah paham."

"Bagaimana kalau dia tidak percaya padaku?"

"Dia pasti percaya. Kalaupun tidak, kau masih punya alasan untuk bicar dengan Lin Jia Ze, bodoh!"


Tepat saat itu juga, mereka melihat Jia Ze lagi jalan sama Tian Ye. Mei Li sontak meminjamkan jepit rambutnya pada Can Can biar dia kelihatan cantik sebelum menyapa Jia Ze.

Jia Ze cuma menanggapinya dengan senyum ramah lalu pergi. Can Can tetap memandanginya dengan penuh harap, tapi kemudian yang berbalik menatapnya malah Tian Ye.


Di depan kelas tak lama kemudian, Can Can latihan tentang apa yang akan dikatakannya pada Jia Ze nanti, soalnya dia ingin menjelaskan pada Jia Ze biar Jia Ze tidak salah paham padanya.

Tapi saat Jia Ze keluar tak lama kemudian, Can Can malah gugup hingga akhirnya dia malah melewatkan kesempatan dan gagal menjelaskan kesalahpahaman itu. Can Can kecewa.


Can Can akhirnya mengembalikan jepit rambutnya Mei Li sambil curhat tentang kegagalannya barusan. Jia Ze bahkan tidak memandangnya. Mei Li rasa itu wajar saja. Jia Ze bahkan tidak pernah memperhatikan cewek paling cantik di sekolah.

 

Ya Ting sepertinya benar-benar tampak kesepian tak punya teman. Dia bahkan tampak begitu bahagia saat dua orang teman sekelasnya bicara padanya dan berbagi makan siang dengannya. Dia pun dengan senang hati berbagi bekal makanan yang dimasak ayahnya untuk mereka.


Bu Guru datang tak lama kemudian dan memberitahu Ya Ting bahwa barusan ayahnya menelepon sekolah dan memberitahu kalau Ya Ting berbakat dalam musik.

Karena itulah, Bu Guru membuka ruang multimedia yang ada di gedung sebelah, khusus untuk Ya Ting. Jadi Ya Ting bisa latihan main celo di sana. Ya Ting berterima kasih padanya dengan sopan, tapi sepertinya dia tidak terlalu senang mendapat perlakukan khusus seperti ini.


Guru Huang memanggil Can Can karena ia ingin papan buletin kelas mereka diubah. Karena itulah, ia menyuruh Can Can untuk menulis kata-kata yang bagus di sana.

Can Can sebenarnya agak ragu karena tak ada teman yang bisa membantunya. Tapi akhirnya dia mau juga menerima tugas itu.

Tapi saat dia mengumumkan masalah ini di kelas dan meminta siapa saja yang bersedia membantunya, sontak teman-teman sekelasnya langsung kabur dan pulang.


Mei Li pun tak bisa membantu karena lagi tugas piket. Terpaksalah Can Can harus melakukannya seorang diri. Saat dia mengarang tulisan sendirian di kelas, Jia Ze dan Tian Ye baru kembali. Jia Ze langsung penasran dia lagi nulis apa?

"Ini untuk papan buletin kelas."

"Tapi kenapa kau sendirian?"

Can Can menyangakal, Mei Li cuma lagi tugas piket. Nanti dia pasti akan datang setelah selesai. Jia Ze tiba-tiba berinisiatif mau membantunya dan langsung mengajak Tian Ye juga.

Tapi Tian Ye menolak, dia bisa membantu siapapun, tapi dia tidak mau kalau harus membantu Can Can. Can Can kesal, siapa juga yang mau minta bantuannya Tian Ye?!

Bersambung ke part 2

1 komentar: