Sinopsis Once Upon a Time... In My Heart Episode 2 - 3

 Sinopsis Once Upon a Time... In My Heart Episode 2 - 3


Bukan cuma Fah yang menyimpan barang milik Daniel, Daniel pun menyimpan peta lokasi penyimpanan uang ayahnya. Ibunya datang saat itu dengan cemas, takut kalau-kalau Daniel akan balas dendam.


Tapi Daniel meyakinkan kalau dia tidak akan melakukan itu. Balas dendam hanya akan berakhir dengan kerugian. "Aku tidak ingin siapapun kehilangan apapun lagi."

Ibu senang mendengar pemikirannya itu. Tapi daniel mengaku kalau ini bukanlah buah pemikirannya sendiri, ada seseorang yang membantunya untuk berpikir.

"Siapa?... Orang yang menggambar gambar ini?"

"Iya, Bu. Dia menyelamatkan nyawaku saat aku di Jepang. Dia wanita yang mungil seperti anak kecil. Tapi hatinya jauh lebih besar daripada fisiknya."

"Lalu di mana dia sekarang? Kenapa kau tidak memperkenalkannya pada ibu?"

"Lebih baik membiarkannya menjalani hidupnya dengan bahagia, Bu. Aku tidak ingin dia berakhir seperti Botan."


Ibu lalu mengajak Ayah untuk menemui Chen Xiao Yao. Ayah sebenarnya kurang suka, tapi Ibu menegaskan bahwa dia mengunjungi Xiao Yao demi rasa kemanusiaan.

"Terkadang jika kita baik pada mereka duluan, maka amarah dan dendam yang kita miliki pada satu sama lain akan berkurang atau bahkan hilang. Aku bosan, bosan melihat kalian saling bertarung melawan satu sama lain sampai mati."


Mereka lalu diantarkan masuk ke kamar Xiao Yao yang remang-remang. Penjaga tempat itu menjelaskan bahwa Xiao Yao tidak menyukai cahaya semenjak insiden itu.

Ibu benar-benar prihatin melihat Xiao Yao cuma terbengong linglung. Si penjaga berkata bahwa Xiao Yao terkena pukulan sangat keras di bagian kepala hingga dia menderita gegar otak.

Kalau saja Chen Ming tidak menyelamatkannya tepat waktu, Xiao Yao pasti sudah mati tergantung waktu itu.

Ibu dengan lembut menggenggam tangan Xiao Yao dan mencoba mengajaknya bicara. Tapi saat Xiao Tao melihat kilatan dari anting berlian Ibu, hal itu kontan membuatnya kembali teringat pada kilatan samurai milik pelaku yang membunuh keluarganya dulu.

Dan sontak saja Xiao Yao menjerit-jerit ketakutan hingga para penjaga harus segera menanganinya. Ayah pun langsung menyeret Ibu menjauh sambil diam-diam tersenyum licik.


Fah sedang jalan saat tiba-tiaba saja dia merasa ada seseorang yang membuntutinya. Tapi saat dia menoleh, tak tampak ada seorangpun di sekitarnya.

Dia tak sempat memikirkannya lebih jauh karena tepat saat itu juga, Fai meneleponnya dan mengabarkan kabar buruk, kantor mereka kebakaran. Fai sontak bergegas pergi tanpa menyadari sebenarnya memang benar-benar ada orang yang sedang membuntutinya.


Api sudah berhasil dipadamkan saat dia tiba di kantor, Fai dan Nuch sedang berusaha menenangkan Ramet yang sedang menangis meratapi musibah ini.

"Apa sebenarnya yang terjadi, P'Fai?"

Fai memberitahu bahwa majalah yang seharusnya mereka kirim ke agen, terbakar semua. Untungnya Ramet melihatnya dan berhasil menghentikan kebakaran tepat waktu sebelum api menghanguskan seluruh gedung ini.

Nuch berusaha menasehati Ramet untuk mengikhlaskan yang sudah terbakar, tapi Ramet terus menangis tiada henti.


Setelah keadaan kembali tenang, Fah tanya apakah mereka sudah melaporkan masalah ini ke polisi. Fai mengaku kalau polisi tadi sudah datang lalu pergi. Tapi... masih ada satu orang lagi sih.

Tepat saat itu juga, seorang polisi keluar dari toilet dengan mulut belepotan busa pasta gigi. Tapi begitu si polisi melihat Fah, dia sontak panik dan bergegas masuk ke toilet lagi... dan keluar sedetik kemudian dalam keadaan mulut bersih. (Pfft! Kayaknya dia naksir Fah)

Dia mengaku kalau dia cuci muka dan sikat gigi di sini karena dia tidak sempat pulang ke rumah gara-gara Nuch meneleponnya untuk datang kemari dan mengecek keadaan.

Nanti kalau Ramet sudah berhenti bersedih, tolong suruh Ramet menemuinya di kantor polisi dan membuat laporan. Fah penasaran, apa yang sebenarnya menyebabkan kebakaran?

"Aku menduga kalau ini mungkin karena arus pendek. Tapi akita belum bisa menarik kesimpulan yang pasti." Ujar polisi bernama Thep itu.


Nuch tampak jelas naksir sama Thep, dia senang banget waktu dia ngasih jelly ke Thep dan Thep menerimanya dengan senang hati.

Tapi sayangnya, Thep bahkan tidak perhatian dengan perasaan Nuch padanya, malah lebih perhatian sama Fah. Dia dengar kalau Fah sudah putus dengan pacarnya? Fah membenarkan, sudah cukup lama.

"Sudah putus tapi mau punya yang baru, P'Thep." Goda Fai.

Thep kaget, beneran? Tapi begitu Fai mengklaim kalau dia cuma bercanda, Thep langsung lega. Dia lalu pamit pergi.

Fai langsung menggoda Nuch, Nuch memanggil Thep kemari cuma untuk bertemu dengannya, yah? Nuch gengsi menyangkal lalu buru-buru pergi dengan alasan mau melihat keadaan Ramet.


Fah lagi-lagi merasa ada seseorang yang membuntutinya. Tapi saat dia menoleh, tetap saja tak terlihat ada siapapun di belakangnya.

Malam harinya, Fah pulang jalan kaki melewati area yang sangat sepi... saat tiba-tiba saja dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya yang sontak membuatnya ketakutan.

Dia langsung lari, tapi orang itu juga langsung lari mengejarnya. Fah awalnya berhasil menyembunyikan diri di balik semak. Tapi tiba-tiba ada ular hijau yang merambat di tangannya.


Fah sontak menjerit ketakutan dan langsung lari membabi buta dan hampir saja bertabrakan dengan seorang pengendara sepeda yang melaju ke arahnya.

Fah sontak mundur menghindar dan hampir saja terjatuh kalau saja si penguntit tadi tidak segega muncul dan menangkapnya... dan ternyata dia Chen Ming.

Fah langsung familier dengannya, mereka pernah bertemu, kan? Alih-alih ngoamong baik-baik, Chen Ming tiba-tiba saja membopongnya sok romantis dan berkata kalau dia akan membopong Fah sampai rumah.


Terang saja Fah langsung menyerangnya dengan ganas. Tapi saat dia hendak kabur, dia malah dihadang mobil anak-anak buahnya Chen Ming. Fah langsung ingat wajah Tian Kong.

"Kau kenal dengan orang ini?" Heran Fah.

"Tian Kong adalah tangan kananku. Jika anak buahku melakukan sesuatu yang membuatmu ketakutan, aku minta maaf." Ujar Chen Ming.

Dia bahkan memerintahkan Tian Kong untuk minta maaf pada Fah. Saat Tian Kong tak segera melakukan perintahnya, Chen Ming sontak membentaknya. Tian Kong akhirnya menurutinya dan meminta maaf pada Fah walaupun jelas tidak terdengar tulus.

"Aku memaafkanmu. Tapi tolong jangan ganggu aku lagi. Kita jalan sendiri-sendiri saja, kita tidak saling berhutang apapun pada satu sama lain."


Dia ingin pergi, tapi Chen Ming dengan cepat mencegahnya lalu menunjukkan niat baiknya dengan mengembalikan tasnya Fah yang jatuh di Jepang waktu itu. Dia juga meminta maaf karena sudah membuka buku diary-nya Fah.

"Tapi itu membuatku jadi semakin ingin mengenalmu... Fahsai."
Ketakutan, Fah langsung merebut tasnya dan bergegas melarikan diri masuk rumah, mengunci pagarnya, lalu mengecek buku diary-nya... tapi malah mendapati ada gambar dua orang di gantung.


Dari percakapan mereka, jelas Chen Ming mendekati Fah bukan karena tertarik pada kemiripan Fah dengan Botan, tapi karena ketertarikan Daniel pada Fah.

Menilai dari kekhawatiran Daniel yang begitu besar pada Fah saat mereka di pelabuhan waktu itu, Chen Ming yakin kalau Fah sudah menggantikan Botan di hati Daniel.

"Karena itulah, aku akan menggunakan Fahsai untuk menghancurkannya seperti bagaimana dia menghancurkan semua orang yang kucintai!"

"Tapi Tuan Muda, kau harus yakin juga bahwa wanita ini tidak akan menggantikan Khun Botan."

"Tak ada seorangpun yang bisa menggantikan Botan!"

"Lalu kenapa kita harus menghabiskan waktu kita untuk memata-matai gadis itu?"

"Kalau aku ingin menangkap ikan yang sulit ditangkap, maka aku harus mengenal ikan itu agar aku tahu umpan apa yang harus kugunakan. Hanya dengan cara itulah aku bisa menangkap ikannya."

Dia lalu memberikan seamplop uang pada Tian Kong. Itu bayaran untuk orangnya Tian Kong yang sudah membakar kantornya Fah.


Tian Kong lalu pergi menemui orang itu di tempat duel, dia sedang bertarung melawan seorang bule. Dari cara bertarungnya, kita bisa melihat kalau orang itu kejam dan bengis.

Awalnya, si bule berhasil mengalahkannya. Tapi saat si bule lengah, orang itu langsung menyerangnya dan menggigitnya dengan ganas sampai si bule tumbang.

Dia bahkan terang-terangan memberitahu Tian Kong kalau dia sebenarnya tidak terlalu suka dengan pembakaran yang dilakukannya di kantor majalah itu, karena dia tidak diperbolehkan membakar sampai ludes. Biasanya dia kalau kerja nggak setengah-setengah.

Kalau dia harus membunuh, dia akan membunuh sampai korbannya mati. Dan jika dia harus membakar, maka dia harus membakarnya sampai luluh lantak jadi abu.

Tapi kali ini dia mau-mau saja melakukan pekerjaan itu hanya demi pertemanannya dengan Tian Kong.

"Baguslah kalau kau mau melakukan perintah Tuan Muda. Tuan Muda akan tinggal di Thailand selama beberapa waktu. Kami punya banyak pekerjaan untukmu. Mulai sekarang, kau bukan lagi gangster rendahan. Kau akan menjadi gangster yang lebih hebat."

Bersambung ke part 4

2 komentar: