Sinopsis Likit Ruk (The Crown Princess) Episode 1 - 2

 Sinopsis Likit Ruk (The Crown Princess) Episode 1 - 2


Terlepas dari segala badai yang menghadang, upacara penobatan Alice tetap berlangsung dengan khidmat.

Alice berjalan anggun menuju Raja Henry yang tengah menunggu di singgasananya. Alice berlutut saat Raja Henry memakaikan mahkota di kepalanya lalu beliau menyerahkan tongkat dan bola salib kristal di tangannya. Alice pun resmi menjadi putri mahkota kerajaan Hyrsos dengan diiringi tatapan benci keluarga pamannya. 

 

Davin menghabiskan waktu liburnya di Hyrsos. Tapi liburannya sepertinya bukan cuma sekedar liburan karena kemudian dia pergi ke sebuah makam.

Pada saat yang bersamaan, Alice memakai samaran saat dia pergi ke makam yang sama. Mereka mengunjungi dua kuburan yang berbeda.

Alice mengunjungi makam ibunya, sedangkan Davin mengunjungi makam ayahnya yang letaknya tak jauh dari makam ibunya Alice.


Dalam kilasan flashback, kita melihat Ayah Davin dulunya seorang prajurit dan Davin kecil tampak begitu bangga pada sang ayah tercinta.

Davin mengakui bahwa ayahnya adalah inspirasinya untui menjadi prajurit seperti yang sekarang dilakoninya. "Aku bahagia terlahir sebagai putra ayah."


Tak jauh darinya, Alice pun tengah bicara pada pusara ibunya. Sekarang dia mengerti kenapa ibunya selalu ingin kembali menjadi orang biasa, bahkan meminta dikuburkan selayaknya orang biasa.

"Bu, haruskah aku hidup dalam kesepian dan kesendirian? Tapi biarpun tak ada siapapun di sisiku, tapi aku tahu ayah dan ibu tak pernah jauh dariku. Aku mencintaimu, Ibu."


Secara bersamaan, mereka berjalan keluar dari sana. Saat Davin tengah jalan-jalan dan menikmati pemandangan, tiba-tiba saja orang asing yang duduk di belakangnya berujar. "Tak ada apapun yang bisa mengubah rencana Tuhan untuk hidupmu."

Dan wanita asing itu mengaku kalau kata-katanya itu memang dia tujukan untuk Davin. Hmm, sepertinya wanita itu cenayang. Dia bahkan memberitahu Davin bahwa sebentar lagi, dia akan bertemu dengan apa yang selama ini dia cari.

"Aku tidak pernah mencari apapun, maaf, terima kasih." Tukas Davin.

"Dan pertanyaan tentang kematian orang yang melahirkanmu. Dan pertanyaan kenapa kalian harus saling terpisah jauh. Apa kau yakin bahwa jauh di dalam dirimu, kau tidak mencari-cari?"


(Wih, ini cenayang hebat bener yah bisa tahu segitunya tentang Davin). Si cenayang meyakinkan Davin bahwa dia akan mendapatkan jawaban akan semua pertanyaannya sebentar lagi.

Tapi jawaban itu membawa sebuah tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab yang harus mengorbankan hidup Davin. Tanggung jawab yang melibatkan dua nyawa yang ditakdirkan untuk saling bertemu. Satu nyawa berada di tempat yang sangat tinggi. Sedangkan nyawa satunya sekuat gunung.

Davin jelas tidak mengerti maksudnya. Si cenayang menegaskan bahwa tidak akan ada yang bisa melawan nasib dan takdir. Dia lalu pergi setelah itu, meninggalkan sebuah kartu tarot yang kemudian terbang tertiup angin.


Pada saat yang bersamaan, Alice dan Davin kebetulan berjalan di jalan yang sama. Mereka tengah menunggu di stasiun saat tiba-tiba saja muncul seorang pria mencurigakan dari belakang mereka.

Tiba-tiba saja pria itu mengeluarkan pisau hendak menusuk Alice dari belakang. Tapi untunglah Davin melihat itu dan langsung sigap memiting tangan si penyerang dan menghajarnya.


Pria itu tidak sendirian, tapi Davin menangani mereka dengan mudah sebelum kemudian membawa Alice lari bersamanya. Dia membawa Alice masuk ke salah satu kereta, tapi para penjahat itu terus mengejar mereka dengan ketat.

Maka Davin dengan sengaja mengecoh mereka dengan cara mendorong Alice ke salah satu sudut seolah mereka sepasang kekasih yang lagi kencan. Sukses mengecoh para penjahat itu, Davin membawanya lari ke gerbong lain dan lari secepatnya begitu turun dari kereta.


Mereka berhenti setelah cukup jauh dan Davin yakin mereka aman. Dia jelas penasaran dan tanya apakah Alice mengenal para penjahat itu, tapi Alice dengan entengnya cuma bilang makasih lalu pergi begitu saja, meninggalkan Davin yang cuma bisa melongo melihat sikap wanita yang baru saja diselamatkannya itu.


Setibanya di Thailand, Alice dikawal ketat oleh para bodyguard menuju sebuah hotel. Dia menjelaskan pada si kepala bodyguard, Komandan Chatchai, bahwa kedatangannya kemari adalah melakukan kunjungan kenegaraan sebagai putri mahkota dan juga membangun hubungan bisnis emas antara Hyrsos dengan Thailand.

Maka dengan alasan bahwa dia butuh berkonsentrasi dalam mempelajari segala informasi, Alice meminta Chatchai untuk menarik kembali semua pasukannya. Keberadaan mereka di sini hanya membuatnya merasa terkungkung. Chatchai jelas keberatan, tapi Alice maksa bahkan meminta Chatchai untuk tidak memberitahu kakeknya.


Chatchai tak bisa menolak, tapi juga tak bisa kalau harus menarik semua pasukannya karena ini adalah perintah Raja Henry. Maka pada Petra, ia berkata bahwa ia akan menugaskan sebuah tim kecil saja untuk mengawal sang putri. Tim itu kecil, cuma terdiri dari 5 petugas, tapi dia jamin skill mereka sangat bagus.

Tapi setibanya kembali di markas, ia malah diberitahu bahwa ketua tim mereka yaitu Davin sedang tidak ada di tempat dan tidak bisa dihubungi juga. Dan mungkin baru akan kembali dalam 2-3 hari.


Davin sendiri tengah menikmati liburannya di sebuah pulau terpencil. Tapi liburan yang dimaksudnya bukan cuma tidur-tiduran di pantai, melainkan latihan dan olahraga.


Alice tengah bersiap untuk menghadiri acara malam itu. Tapi saat dia dan rombongan pelayan wanitanya hendak keluar, tiba-tiba saja lampu kamar itu mati lalu tampak ada gas yang menguar dari lubang ventilasi.

Gas itu dengan cepat melumpuhkan semua pelayan. Tinggal Petra dan Alice yang masih bertahan. Tapi tiba-tiba saja muncul sekumpulan pria bermasker yang menyerang mereka.

Petra berusaha melawan mereka seorang diri, tapi pada akhirnya dia tak berdaya dan pingsan. Alice berusaha bertahan seorang diri, tapi penjahat itu memiting tangannya dengan mudah dan Alice pun pingsan karena pengaruh gas itu.


Semua orang sudah berkumpul di depan tempat acara. Chatchai sudah mulai cemas karena Alice yang masih belum muncul juga sampai sekarang padahal sekarang ini sudah lewat 20 menit dari jadwal acara.

Anehnya lagi, bukannya Alice yang datang, dia malah melihat Andre dan Mona muncul di sana padahal aslinya mereka tidak ada dalam daftar undangan.

Dia tetap menyapa mereka dengan sopan. Tapi kemudian Mona berkomentar bahwa undangan ini sangat mendadak sekali, dan Andre tanya kenapa Alice belum datang juga.

Chatchai semakin keheranan mendengar ucapan mereka. Apa ada seseorang yang melaporkan pada mereka bahwa Alice tidak bisa menghadiri acara?

Mona nyinyir. "Jangan bilang kau tidak tahu. Jangan coba-coba menutupi berita. Semua orang juga tahu kalau anak nakal itu tidak punya tata krama dan suka melanggar aturan. Apa dia melarikan diri seperti biasanya? Melarikan diri kali ini... kuharap dia bisa kembali."

Jelas saja ucapannya itu membuat Chatchai semakin cemas dan buru-buru pergi mencari Alice.


Petra lah yang pertama kali tersadar dan langsung panik saat tak melihat Alice di sana. Dia buru-buru membangunkan yang lain dan mencoba mencari jejak para penjahat itu, tapi gagal.

"Aku akan mencoba mengecek rekaman CCTV. Tapi sekarang ini, kita perlu menyelesaikan masalah yang ada di depan mata kita dulu."

Parahnya lagi, seorang pelayan kemudian melapor bahwa Chatchai ingin bertemu Alice. Panik, Petra menyuruh JC untuk melakukan rencana darurat yang telah disiapkan Alice sebagai persiapan kalau-kalau terjadi sesuatu padanya.

Sementara JC mempersiapkan rencana mereka, Petra keluar menemui Chatchai dan meyakinkannya bahwa segalanya baik-baik saja.


Rencana darurat yang dimaksud itu adalah mendadani seseorang dan dibuat semirip mungkin dengan Alice. Sementara itu, Petra mengecek rekaman CCTV hingga akhirnya dia menemukan sebuah rekaman saat para penjahat itu melewati lorong kamar hotel.

Kebetulan ada salah satu penjahat yang melepas maskernya sehingga Petra bisa melihat wajahnya dan dia langsung memotretnya. Dia memastikan si Alice palsu sudah oke sebelum kemudian keluar sendirian untuk menelusuri jejak penjahat itu.


Semua orang menunduk hormat saat Alice palsu melangkah di red carpet, tak ada seorang pun yang mengenalinya. Mona dan Andre sepertinya juga tidak, tapi mereka jelas kesal dan heran melihatnya datang. Bagaimana bisa dia datang kemari?

Chatchai tidak mengatakan apapun, tapi dia terus memicingkan mata curiga ke Alice palsu. Hmm, entah apakah dia menyadarinya atau tidak.

 

Petra menemukan kereta dorong yang dibawa para penjahat tadi, sekarang teronggok begitu saja di belakang hotel. Tapi yang lebih membuatnya cemas, dia juga menemukan sebuah benda kecil yang mungkin milik Alice yang terjatuh.

Bersambung ke part 3

9 komentar: