Sinopsis Leh Nangfah Episode 16 - 1

Sinopsis Leh Nangfah Episode 16 - 1


Seenuan sekeluarga akhirnya tiba di rumah Beauty dan langsung ribut mengagumi rumah besar bak istana itu. Bibi Jan dan Pon langsung tak suka pada mereka.

Beauty turun tak lama kemudian dan menyambut mereka dengan hangat dan meminta Bibi Jan untuk mengantarkan mereka ke kamar. Bibi Jan tak senang, berapa kamar yang harus dia buka?

"Sebanyak yang bibi mau. Kita kan punya banyak kamar."

"Berapa hari mereka akan tinggal di sini?"

"Berapa hari? Bagaimana kalau sampai A-ngoon dewasa?"

A-ngoon dan Farang sontak jejeritan saking senangnya. Kesal, Bibi Jan sontak membentak mereka untuk diam. Tapi Beauty sama sekali tidak mempermasalahkan keberisikan mereka.


Tee datang tak lama kemudian untuk menjemput Beauty. Farang langsung menawarkan diri untuk mengantarkan Beauty. Bibi Jan sontak membentak tak setuju. Beauty dengan ramah memberitahu Farang kalau dia bisa bekerja jadi supirnya mulai besok. 


Setelah mereka pergi, Seenuan memperkenalkan dirinya dan anak-anaknya pada Bibi Jan dan meminta maaf atas keributan mereka. Bibi Jan kesal menyuruh Seenuan untuk memperingatkan anak-anaknya agar tidak berisik dan berkeliaran sembarangan di rumah ini.


Tee memperkenalkan Beauty pada tim departemen design. Kratua dan para designer g*y langsung heboh bertepuk tangan menyambutnya sambil sok memuji-mujinya.

Beauty langsung nyinyir berterima kasih atas sambutan mereka, tapi dia tidak suka dengan orang yang cuma pura-pura baik padanya. Semua orang sontak canggung mendengarnya.

Tee memberitahu mereka untuk memperlakukan Beauty sebagai pekerja magang dan meminta mereka untuk saling membantu satu sama lain.

"Betul. Aku datang untuk bekerja, bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Yang lalu biarkan berlalu. Jangan sampai terjadi sesuatu yang baru."


Pat dan Piwara datang tak lama kemudian dan rapat pun dimulai. Tapi Beauty tentu saja tidak mau diam dan langsung menyindir Pat orang kuno dan makanya tak ada yang menarik dari produk-produk mereka dan pada akhirnya membuat pelanggan mereka cuma om-om dan tante-tante.

Kesal dan malu, Pat menantang Beauty untuk menunjukkan design-nya agar mereka bisa memodifikasi produk-produk mereka sesuai keinginan Beauty.

Pelanggan mereka dari hotel di Samui menginginkan mereka untuk membuat seragam pegawai. Mereka ingin yang nyaman, simple tapi elegant. Mereka ingin seragam yang sesuai dengan alam dan tradisi, tapi tetap terlihat internasional. Akan tetapi, budget yang mereka tetapkan cuma 3.000 baht.


"Apa? Budget cuma 3.000 baht, tapi syaratnya sebanyak ini? Jangan diterima!" Kesal Beauty

Tee tak setuju. Mereka selalu menerima pesanan dari hotel ini sejak perusahaan ini didirikan. Pokoknya designer harus menuruti kemauan pelanggan mereka itu.

"Aku yakin kalau Khun Lallalit pasti bisa memenuhi setiap syarat pelanggan kita tanpa cela dengan budget segitu. Kami menanti karyamu." Sindir Pat.

"Baik! Perhatikan aku membuatnya."

"Tapi kami membutuhkannya sebelum hari Jumat. Itu yang pelanggan bilang."

"Hanya 3 hari?"

"Iya, 3 hari."


Lalita cemas mendengar waktunya sesingkat itu. Dewi santai saja. Jika Lallalit benar-benar memiliki kemampuan, dia pasti bisa.


Kratua heboh mengagumi Pat begitu mereka balik ke kantor. Pat memerintahkan Kratua untuk segera menyuruh para designer bekerja dan buat sample yang terbaik. Pokoknya mereka tidak boleh kalah dari Beauty.

Biar Beauty itu tahu seperti apa para profesional bekerja. Lagian selain memenangkan kontes designer itu, Pat tidak pernah melihat Beauty men-design baju apapun.


Seenuan sekeluarga makan siang bersama dengan ribut seperti biasanya. Bibi Jan dan Pon datang menemui mereka untuk memberikan setelan seragamnya Farang.

Farang sontak antusias mencobai setelan jasnya itu sambil nyerocos ribut yang jelas membuat Bibi Jan dan Pon semakin tak suka sama mereka. Seenuan mengundang mereka untuk makan siang bersama, tapi mereka menolak.

"Bibi, apa Khun Beauty merasa kesepian tinggal sendirian? Apa perlu aku menemaninya?" Tanya Somcheng 

"Tidak perlu. Nona memerintahkan tidak boleh ada seorangpun yang mengganggunya di lantai atas." Ketus Bibi Jan lalu mengajak Pon pergi.

A-ngoon heran, kenapa Bibi Jan ketus sekali. Kesal, Farang dengan sengaja berseru keras-keras. "Kurasa dia takut kalau kita akan merebut pekerjaannya!"

Somcheng sontak membungkam mulut adiknya yang satu itu dan Seenuan pun langsung ngomel-ngomel memperingatkan Farang untuk tidak ngomong buruk tentang orang lain.


Begitu jadi burung malam harinya, Beauty bercuit-cuit galau tak tahu bagaimana dia bisa melakukannya hanya dalam waktu 3 hari. Saat jadi manusia saja sudah susah, sekarang dia malah harus jadi burung. Pusing, deh!

Tee juga, dia sudah tahu kalau Pat cuma mengoloknya, tapi dia malah diam saja. Penasaran dengan apa yang dipikirkan Tee, Beauty memutuskan untuk terbang ke rumah Tee.


Tee sedang berkumpul bersama kedua orang tuanya saat Beauty datang. Tee yakin kalau Beauty pasti tidak datang selama beberapa hari ini karena dia sakit gara-gara kehujanan waktu itu.

"Kau punya nama yang sama dengan Beauty dan kau juga sakit."

"Kaulah yang membuatku sakit."

Nee cemas menyarankan Tee untuk mengganti namanya. Beauty mungkin akan marah kalau tahu namanya digunakan untuk nama burung.


Ngomong-ngomong tentang Beauty, Thana penasaran, bagaimana perkembangan Beauty? Pasti susah untuk bekerja di bagian sewing bagi seseorang yang baru sembuh.

"Aku lupa memberitahu ayah, dia sudah pindah ke departemen design."

"Itu lebih baik. Pasti akan lebih mudah baginya untuk bekerja di sana."

"Tidak benar sama sekali, bibi. Pat dan putra bibi selalu membuliku."

"Burung kecil. Kenapa kau ribut sekali? Apa kau mau makan buah?"

"Ini baru hari pertamanya bekerja, tapi dia sudah harus menghadapi masalah yang sulit. Nara Laguna Hotel."


Nee cemas, kenapa mereka memberikan pekerjaan sesulit itu pada Beauty sebagai pekerjaan pertamanya? Bagaimana kalau Beauty sampai menyerah?

Thana tidak sependapat. Dia rasa, Beauty itu orang yang suka tantangan. Dia tidak akan bangga jika mencapai sesuatu dengan mudah. Tee setuju, dia juga berpikir seperti itu.

"Sungguh? Kau pikir aku bisa melakukannya?"

Tapi Tee mencemaskan satu hal. "Beauty itu gampang bosan dan tidak bisa menanggung sesuatu cukup lama."

"Itu tidak benar!" Kesal Beauty lalu mematuki jari-jari Tee dengan ganas 

"Augh! Augh! Augh! Aku bahkan tidak bisa membicarakan Beauty sama sekali."

"Menurutku, Beauty itu sama seperti ayahnya. Dia menyukai hal-hal sulit dan penuh tantangan."

"Betul, paman. Aku akan berusaha keras seperti ayahku!"


Keesokan harinya, Tee mendatangi Beauty di kantor dengan wajah kesal karena tadi dia datang menjemput Beauty, tapi Beauty malah sudah pergi duluan.

"Kenapa kau tidak bilang-bilang kalau kau sudah pergi sendiri? Kau buang-buang waktuku."

Beauty cuek. "Aku kan sudah bilang kalau aku akan mempekerjakan Putranya Bibi Seenuan jadi supirku."

"Kau kan punya ponsel. Kenapa kau tidak meneleponku untuk memberitahuku?"

"Kau kan punya ponsel. Kenapa kau tidak menelepon untuk tanya? Sudah jelas? Aku lagi kerja sekarang."

Lalu apa Beauty akan pulang bersamanya nanti sore? Tanya Tee. Tidak, karena dia harus keluar untuk mencari informasi dan akan pulang sendiri. Puas?

"Yah, terserah kau saja. Pokoknya selesaikan saja dan jangan lupa serahkan buku catatanmu."

Beauty mengklaim kalau dia tidak punya waktu untuk menulis buku catatannya. Tapi dia meyakinkan kalau pekerjaan ini pasti akan selesai tepat waktu.

Tee akhirnya pergi dan para designer cowok gemulai itu langsung jelalatan menatap kepergiannya sampai Kratua harus membentak mereka untuk fokus kerja. Dia lalu memberitahukan masalah kedatangan Tee barusan pada Pat yang jelas membuat Pat jadi cemburu.


Beauty masih terus sibuk di rumah. Dia mencoba membrowsing berbagai jenis kain, tapi tak ada satupun yang disukainya. Dia berusaha menggambar berbagai model baju, tapi tak ada satupun yang benar sampai lantainya penuh dengan sampah kertas.

Bibi Jan dan Pon muncul tak lama kemudian untuk menawarkannya makan malam soalnya sekarang sudah hampir jam 6. Beauty sontak kaget menyadari dirinya lupa waktu.

Dia menolak tawaran mereka dan cepat-cepat mengusir mereka dari kamarnya dengan alasan kalau dia harus konsen kerja, jadi jangan ganggu dia. Begitu mereka berdua pergi, dia mulai kesakitan.

"Sudah satu hari berlalu dan aku bahkan belum menyelesaikan apapun. Tidak bisakah kau menghapus kutukan ini minimal 3 hari saja, penyihir jahat?"


Lalita berusaha membela putrinya dan memohon agar Dewi berbaik hati padanya. Apalagi waktu yang dimiliki Beauty sangat sedikit. Takutnya dia akan menyerah jika dia tidak berhasil.

Waktu dia masih hidup sebagai manusia dulu, dia juga bekerja di bidang ini. Karena itulah, dia tahu betul betapa sulitnya mengerjakan pekerjaan ini dalam waktu singkat. Apalagi waktu yang dimiliki Beauty hanya setengah dari waktu manusia normal lainnya.

"Bahkan kau yang ibunya, juga tidak mempercayainya?"

"Aku ingin mempercayainya, tapi rasanya sulit."

"Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Jika dia berhasil, maka amal baiknya akan meningkat."

"Tidak bisakah aku mempersingkat waktunya saat dia berubah jadi burung?"

"Bisakah kau melarang matahari untuk terbenam atau membuat bumi berhenti berputar?"

"Tidak."

"Kalau begitu. Segalanya harus terus berlanjut. Kita tidak bisa ikut campur."


Beauty galau. Bagaimana dia bisa menggambar saat jadi burung seperti ini? Dia mencoba mengambil pensil dengan paruhnya. Tapi tentu saja dia kesulitan.

Beauty akhirnya baru bisa melanjutkan pekerjaannya keesokan harinya. Tapi dia tidak mau masuk kantor hari ini dan meminta Bibi Jan untuk menyuruh Somcheng menelepon kantor dan bilang kalau dia akan bekerja dari rumah.

Saking ingin fokusnya, Beauty bahkan menolak sarapan. Melihat Beauty stres, Bibi Jan menyarankannya untuk bekerja di kebun saja. Dulu, jika ibunya Beauty lagi buntu ide, biasanya beliau akan jalan-jalan di kebun.

Mendiang ibunya Beauty bilang bahwa melihat pepohonan dan bunga-bunga, membuatnya merasa relax dan senang. Hmm, ide yang bagus. Beauty suka ide itu.


Pat dan Kratua sedang berdebat memilih sketsa model seragam. Pat suka yang kedua, tapi Kratua lebih memilih yang pertama. Bingung, Pat akhirnya menyuruh Kratua untuk membuat kedua sample sketsa itu.

Lalu bagaimana dengan Beauty? Piwara melapor kalau tadi Beauty menelepon dan memberitahu kalau dia akan bekerja di rumah hari ini. Pat langsung nyinyir. Bagaimana caranya dia bisa menyelesaikan pekerjaan itu di rumah?

"Dia itu suka berdelusi. Dia kira membuat sample itu gampang apa? Men-design dua seragam ini saja, kami hampir mati."

"Benarkah? kalau begitu, bilang pada para designer untuk men-design satu seragam lagi dan membuat semua sample-nya"

Kratua bingung, kebanyakan kalau semuanya dibuat sample-nya. Pat bersikeras dengan alasan agar pelanggan mereka punya banyak pilihan. Siapa tahu pelanggan mereka lebih suka sample ketiga. Kratua mengerti maksudnya. Dengan begitu, design-nya Beauty tidak akan punya kesempatan untuk terpilih.


Di tengah kegalauannya, Beauty melihat Seenuan menyelipkan bunga ke belakang telinga A-ngoon. Pemandangan itu membuat Beauty teringat akan masa kecilnya saat dia memberikan setangkai bunga untuk ibunya yang waktu itu sedang sibuk men-design. Bunganya Beauty kecil itu sontak membuat Lalita jadi punya ide untuk design-nya.

Dan seketika itu pula, Beauty mendadak mendapat ide bagus untuk design-nya. "Alam, cinta dan kehangatan."

Bersambung ke part 2

1 komentar: