Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 7 - 1

 Sinopsis Bupphae Saniwaat Episode 7 - 1


Kade langsung bersedekap sambil menatap Phaulkon dengan sengit, tak takut sedikitpun padanya.

"Wanita berani." Sinis Phaulkon.

Por Date langsung menggenggam tangan Kade dan berniat menariknya menjauh. Tapi Phaulkon langsung menghalangi langkahnya.

Suasana benar-benar tegang. Tapi baik Kade maupun Por Date tak gentar sedikitpun menghadapi tatapan tajam Phaulkon... hingga akhirnya, Phaulkon sendiri yang memutuskan untuk mundur. (Halah! Kukira bakal ada baku hantam atau apa gitu 😆)

Begitu dia pergi, Kade langsung menatap tangan Por Date yang menggenggam tangannya dengan senyum geli. Malu, Por Date cepat-cepat melepaskannya dan menyuruh Kade untuk pergi ke Maria saja.


Kade langsung lari dengan antusias ke toko kainnya Maria. Kedua wanita itu benar-benar senang bertemu satu sama lain. Tapi senyum Maria kelihatan beda saat melihat Por Date dan Kade memperhatikan hal itu. Por Date juga tersenyum manis padanya sebelum kemudian mengalihkan pandangannya.

"Astaga. Dia benar-benar mempesona bagi para wanita." Batin Kade.

Dia lalu memberitahu Maria bahwa Por Date sekarang sudah bukan 'Meun' lagi, melainkan 'Khun'. Dia mengaku kalau barusan dia bertemu Phaulkon, apa Phaulkon masih sering datang ke tokonya Maria? Apa dia mengganggu Maria?

"Dia datang setiap hari, kebanyakan untuk membeli barang-barang." Aku Maria.

Tapi kemudian dia lagi-lagi terpana menatap Por Date. Berusaha mengalihkan perhatian Maria dari Por Date, Kade tanya apakah Phaulkon sedang mendekati Maria? Mendengar itu, Por Date sontak menegur ucapan Kade yang tidak sopan itu.

"Apa yang kau katakan? Sepertinya (sikap) Maria jauh lebih patut daripada kau."


Kesal, Kade langsung mengacuhkannya dan kembali menuntut jawaban dari Maria. Lalu apa yang Maria lakukan? Dia mengusirnya, kan?

"Aku ini penjual. Mana mungkin aku melakukan itu, Mae Karakade?"

"Memangnya kenapa? Kalau dia sombong dan memuakkan, usir saja dia. Usir saja dia 'look diel' (tanpa memberinya pilihan - bahasa gaul). Mengerti?"

"Look diel? Apa itu?"

"Oh, Mae Maria. Pokoknya, usir saja dia. Itu saja."

Por Date pun meyakinkan Maria untuk tidak takut jika Phaulkon mengusik Maria. Karena Phraya Visut Sakon yang mengurus dermaga pasar ini adalah teman ayahnya. Ia pasti akan membantu Maria memberi peringatan untuk Phaulkon.

Maria jadi semakin terpesona padanya. Por Date pun tersenyum manis padanya sebelum kemudian memutuskan pergi. Saking kesengsemnya, Maria sampai tidak dengar saat Kade memanggilnya.

Dan begitu Maria sadar dari lamunannya sedetik kemudian, Kade langsung nyerocos panjang lebar, entah cerita apa saja ke Maria.


Tak berapa lama kemudian, Kade akhirnya keluar dari tokonya Maria. Tapi tiba-tiba dia baru ingat kalau dia masih punya satu hal lagi yang belum dia katakan pada Maria. Tapi belum sempat mengatakan apapun, Por Date keburu datang duluan.

"Sekarang sudah sore, ayo pulang sekarang. Kau sudah bicara banyak, apa tenggorokanmu tidak kering?" (Pfft!)

Por Date lalu pamit dengan ramah pada Maria dan berjanji mereka akan datang lagi lain kali. Maria berterima kasih pada Por Date karena telah membawa Kade datang kemari menemuinya.

"Aku bersedia, dan akan membawanya lagi lain kali." Janji Por Date dengan senyum manis... yang pastinya, membuat Maria terpesona dan lagi-lagi hal itu tak luput dari perhatian Kade.

Tapi saat Por Date mengalihkan perhatiannya ke Kade, dia langsung balik ketus lagi dan menyuruhnya pulang sekarang juga lalu berjalan pulang mendahuluinya. Kade terpaksa pamit sekarang, dia janji akan datang lagi lain kali. Dia memeluk Maria erat sebelum kemudian pergi menyusul Por Date.


Senyum Maria seketika menghilang setelah mereka semua pergi. "Dia pemberani. Mereka sangat cocok seperti..."

"Garis keturunan adalah hal yang paling penting." Ujar Ayahnya. Karena itulah, Ayah yakin kalau Por Date tidak akan tertarik pada Maria.

Tidak. Maria tidak sependapat. Por Date memang tidak menyukainya. Jika Por Date menyukainya, maka masalah garis keturunan tidak akan menjadi masalah.

Ayah meminta Maria untuk membuat keputusan sekarang, Phaulkon menunggu jawabannya. Walaupun Maria tidak mencintainya sekarang, tapi Ayah yakin kalau Maria pasti akan jatuh cinta padanya dengan mudah setelah mereka menikah nantinya.

Phaulkon kan meyakinkan Maria bahwa dia akan menjadikan Maria sebagai istri utama. Tak bisa mendebat lagi, Maria hanya menjawab Ayah dengan senyum. Tapi begitu Ayah pergi, Maria langsung terduduk lemas dengan berlinang air mata.

 

Setibanya di rumah, Kade memerintahkan para pelayan untuk menyimpan hotpot-nya di dalam rumah saja. Tapi kemudian perhatiannya terpana menatap bulan yang indah di atas langit.

"Khun P', lihatlah. Bulannya sangat besar. Hari ini, bulannya berada di arah ini. Kenapa bulan di sini sangat besar?"

"Mungkin bulannya beda."

"Cuma ada satu bulan di dunia ini."

"Kau bilang apa?"


Tidak ada. Buru-buru mengalihkan topik, Kade tanya apakah hari ini Por Date tidak bertemu Reung? Por Date langsung cemberut seketika. Kenapa juga dia harus bertemu Reung? Atau Kade yang ingin bertemu Reung?

"Bertemu untuk minum-minum." Kade menegaskan maksudnya.

"Tidak perlu minum-minum setiap hari."

Mendengar itu, Kade tiba-tiba menggoda Por Date dengan membacakan sebuah puisi cinta...

Kau tidak mabuk karena minuman, tapi kau mabuk karena cinta. Sulit menahan hati dan pikiranmu dari memikirkannya. Bahkan sekalipun kau mabuk dengan minuman, pagi berikutnya kau akan sadar dan (mabuknya) akan hilang. Tapi mabuk akan cinta itu kekal, setiap malam.

"Kenapa kau membaca puisi itu?"

"Aku tidak tahu (puisi itu) untuk siapa. Ada Mae Ying Janward dan Mae Maria."

Por Date sontak geli mendengarnya. Begitu, yah? Tapi sepertinya Kade melupakan satu orang lagi. Hah? Kade kaget, masih ada wanita lain? Wanita mana lagi yang diam-diam Por Date miliki?


Por Date langsung mendekatkan wajahnya ke Kade, menatapnya dengan penuh cinta dan berkata. "Lihatlah di cermin." Ujarnya sebelum kemudian melangkah pergi.

Kade kontan tercengang dan malu mendengarnya. "Dia kelihatan pendiam, tapi ternyata dia tidak gampangan."

Kade jadi tidak bisa tidur gara-gara ucapan Por Date tadi itu terus terngiang dalam benaknya. "Dasar gila! Kenapa kau bicara gila?!"

Pada saat yang bersamaan, Por Date juga tidak bisa tidur, gelisah memikirkan sosok wanita lain yang dia lihat dalam diri Karakade waktu itu.

"Wanita yang ada dalam dirimu, siapa dia, Mae Karakade?"

Kesal, Kade berusaha menyuruh dirinya sendiri untuk tidur sekarang juga. Perintahnya pada dirinya sendiri ternyata ampuh juga, seketika itu pula dia langsung ngantuk lalu tidur. Sementara Por Date masih mesam-mesem gaje memikirkan sosok wanita lain dalam diri Karakade.


Subuh-subuh, para pelayan sudah sibuk dengan berbagai kegiatannya masing-masing. Juang sedang sibuk melipat kelopak bunga lotus, tapi malah mendengar beberapa pelayan lain di belakangnya sibuk menggosip dan bukannya kerja.

Kesal, dia langsung menegur mereka untuk diam dan kerja saja. Tapi salah satu pelayan bernama Jit, penasaran akan satu hal. Kenapa Juang memukul Joi keras banget?

"Aku bahkan tidak menggunakan setengah dari kekuatanku. Joi tahu kalau Mae Prik yang melakukannya, maka punggungnya pasti akan..."

"Lancang! Punggungnya akan apa, Nang Juang?!" Omel Prik yang mendadak muncul.

"Punggungnya akan patah."

"Tentu saja. Siapapun yang kucambuk, punggungnya pasti akan patah. Jika tidak, kenapa juga aku melakukannya? Bukan cuma aku, kau juga begitu."


Jit kurang setuju dengan kekejaman Prik. Mereka kan sama-sama pelayan, tidak seharusnya Prik mencambuk dengan seluruh kekuatannya. Kalau misalnya dia harus dicambuk, apa mereka juga akan mencambuknya dengan sekuat tenaga?

Jangan khawatir, Juang tidak akan mencambuk Jit sekeras itu. Begitupun jika dia harus mencambuk Buong. 

Tapi jika suatu hari nanti Khun Ying menyuruhnya untuk mencambuk Kade, Prik bersumpah akan mencambuknya dengan segenap kekuatannya.

Menurut Jit, Karakade yang sekarang tidak sama dengan Karakade yang dulu. Juang juga sependapat dengannya. Tapi Prik ragu. Jika Karakade sungguh-sungguh berubah, maka tidak akan sulit bagi Prik untuk menerima Karakade sebagai tuannya.

Sebagai pelayan di rumah ini, pastinya mereka menginginkan tuan yang baik hati dan murah hati. Juang setuju, mereka pelayan yang akan melayani tuan-tuan mereka seumur hidup.

"Saat Mae Ying jahat, P'Pin dan P'Yam tetap rela melayaninya sampai mereka mati juga." Ujar Jit.

Prik rasa itu wajar saja. Karena pelayan seperti mereka, diajarkan dan dibesarkan untuk setia pada tuan mereka. Pelayan harus setia pada majikan. Jika dia setia, maka majikan mereka akan menyokong hidup mereka seumur hidup.

Bersambung ke part 2

2 komentar: