Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 1 - 1

Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 1 - 1


Han Chen mendapat info dari badan narkotika kalau mereka sudah mendapatkan bukti bahwa manager pabrik diam-diam mencuri dan menjual asam phenylacetic pada kriminal. Lao Dao berpendapat kalau si R mirip T, seorang hacker yang berpikir kalau dia bisa menghukum orang lain.

Tapi dalam file kasus 5 tahun yang lalu, tidak ada informasi apapun tentang R. Orang ini tahu banyak tentang komputer. Seperti apa dia 5 tahun yang lalu, ataukah dia bergabung dengan mereka secara diam-diam?

"Aku ingat dalam kasus 5 tahun yang lalu, disebutkan bahwa ada masalah dengan sumber listrik di sekitar area. Mungkin itu ulahnya R." Duga Han Chen.


Mengingat Xiao Zhuan pernah beradu dengan si R, Jin Xi pun meminta pendapatnya akan R. Xiao Zhuan bertanya kenapa, apakah Jin Xi akan mem-profile si R ini?

"Sekarang ini, informasi yang kita miliki tentangnya sangat sedikit dan dia juga membunuh sebagai hacker. Orang asli bersembunyi dengan baik. Tapi aku tetap mau mencobanya."

Xiao Zhuan berkata bahwa setiap hacker itu pada dasarnya memiliki DNA digital. Seorang hacker yag ahli biasanya akan memiliki DNA digital khusus. DNA digital itulah yang bisa digunakan untuk menyerang si hacker itu.


Tapi saat dia bertarung melawan R tadi, dia benar-benar tak berdaya melawannya. Bukan berarti dia tidak punya cela, hanya saja sulit dilacak.

"Melihat dari pergerakannya, aku bisa merasakan dia memang bermaksud untuk membunuh."

Si R ini tampaknya tahu betul setiap langkah yang dia ambil dan menghancurkan semua usahanya untuk melacaknya.

Dan yang paling aneh, entah mengapa begitu si R meretas sistem pabrik, seluruh sistem me-reset kembali dengan sendirinya dan memperbaiki semua cela di versi program aslinya dan membuatnya jadi versi yang paling kuat.

Itu terjadi karena virus komputer yang berbeda-beda yang hanya bisa bertahan di sistem khusus. Jika tidak, maka virus itu tidak akan bisa mereplikasi dirinya sendiri. Xiao Zhuan merasa si R ini sedang mengenang masa lalu.

"Dia bukan mengenang masa lalu, tapi siap siaga." Koreksi Jin Xi "Ini kewaspadaan yang tidak normal."


Menurut Jin Xi, si R ini tipe orang yang... semisal dia bekerja di dunia entertainment, tapi jika ada orang mau berprofesi sama dengannya, maka dia akan bilang ke orang itu untuk tidak terjun ke industri ini.

Dia adalah hacker yang handal yang bisa melakukan apapun yang dia sukai di internet. Dia tahu betul kemajuan dunia biner yang tanpa batas, sekaligus bahaya yang menyertainya.

Sama seperti si manager pabrik itu, dia menanamkan virus di dalam sistem untuk mencuri asam phenylacetic dan phenylacetone untuk membuat sabu-sabu. Sementara R menganggap dirinya sebagai saksi yang berharap bisa menyaksikan kemajuan sekaligus kehancuran manusia.


Intinya dia berakting sebagai peramal masa depan sambil memperhatikan manusia lainnya dengan tamak dan menunggu sampai situasi jadi semakin tak terkendali. Apapun akhirnya, dia akan terus memberi dorongan.

"Dia orang yang sangat menyukai dunia virtual, jadi dia pasti orang yang menyukai kesunyian. Tapi di dunia nyata, tak banyak hal yang bisa dia lakukan. Kurasa, orang ini benci keluar rumah, tidak suka pindah rumah ataupun memasak makanannya sendiri."

Jadi si R ini pasti memiliki sebuah tempat untuk menetap yang relatif aman dan bisa dia tinggali cukup lama. Dan lokasinya pastilah di kota di mana bisa dijangkau pesan-antar barang-barang.


Xiao Zhuan cemas kalau mereka tidak akan bisa menangkapnya jika si R terus menyembunyikan dirinya dengan baik, apalagi mereka tidak punya info apapun tentangnya. Jin Xi santai, mudah saja menangkap R.

Mereka hanya perlu menemukan bukti perbuatannya, maka mereka pasti akan bisa menangkapnya. Tak peduli sehebat apapun mereka dan sebesar apapun kejahatan yang mereka lakukan, tapi menangkap mereka sama saja seperti menangkap penjahat lainnya.

Han Chen setuju dengannya. Para anggota sindikat itu mulai menampakkan diri mereka satu demi satu, selicik apapun mereka, bukti tidak akan bohong.

"Tidak ada kejahatan sempurna, hanya bukti-buktinya saja yang belum ditemukan. Lao Dao, Xiao Zhuan, cepat cari tahu identitas korban di taman kota itu."


Di rumah sakit, para suster menggodai Suster Xia yang kabarnya lagi pdkt sama si polisi poker face itu. Suster Xia malu-malu menyangkalnya.

"Jangan malu, kurasa pak polisi itu orang baik. Walaupun wajahnya tanpa ekspresi, tapi pria gagah itu bisa memberikan perlindungan. Kalau aku, dia pasti sudah jadi milikku sejak dulu."

"Tapi dia seorang polisi, dia mungkin tidak punya banyak waktu untuk pacarnya. Dan dia juga harus pergi setiap kali ada panggilan kerja dan (pekerjaannya) itu berbahaya. Jika aku jadi pacarnya, bukankah aku akan cemas setiap hari. Kurasa tidak ada keamanan di situ."

"Kau berpikir terlalu berlebihan. Yang penting kau bahagia, kan?"


Baru dibicarakan, Cold Face datang dengan membawa sebuket bunga. Tepat saat dia baru tiba di lobi, beberapa polisi lain, turun sambil membawa seorang tahanan.

Tapi tiba-tiba si penjahat itu memberontak dari polisi dan melarikan diri. Melihat itu, Cold Face pun langsung ikutan mengejarnya.

Kebetulan dia berlari tepat ke arah Suster Xia dan langsung menjadikannya sandera. Cemas, Cold Face mencoba bicara baik-baik dengan si penjahat dan memintanya untuk melepaskan Suster Xia.

Si penjahat meminta mereka menurunkan senjata, Cold Face pun langsung menyuruh para polisi lainnya untuk menurunkan senjata mereka. Polisi pun meletakkan semua pistol mereka di lantai, dan seketika itu pula Cold Face memperhatikan si penjahat mulai lengah.


Dia sontak bergerak secepat kilat melempar buket bunganya, melepaskan tangan si penjahat dari Suster Xia dan menghajarnya. Sesaat si penjahat lebih unggul dan hampir saja menusuk Cold Face, tapi Cold Face bertahan sekuat tenaga dan akhirnya sukses memelintir tangannya.

Si penjahat pun akhirnya berhasil dibekuk kembali dan Cold Face langsung beralih ke Suster Xia lalu membantunya berdiri. Melihat Suster Xia masih gemetaran, Cold Face berusaha menenangkannya dan meyakinkannya bahwa segalanya sudah baik-baik saja sekarang.


Yang lain sedang makan siang bersama di restoran. Tapi saat Xiao Zhuan melihat daftar menunya, dia langsung cemas. Soalnya makanannya mahal banget. Harga satu sup saja sama dengan biaya makan siangnya seminggu.

Lao Dao langsung protes mengkritiknya, dasar bodoh, masa Xiao Zhuan tidak mengerti kalau Han Chen hari ini mau mentraktir mereka. Han Chen membenarkan, hari ini dia akan mentraktir mereka, makan saja apapun yang mereka inginkan.

"Kita punya banyak peperangan setelah ini. Jadi kita harus makan dan minum sampai kenyang sebelum perang, iya kan?"

Han Chen lalu memanggil pelayan dan memesan banyak sekali menu-menu mahal plus wine. Jin Xi sampai melongo mendengar pesanannya dan langsung protes, dia pikir mereka ini hantu kelaparan apa? Bagaimana bisa mereka makan sebanyak itu? Dia langsung meralat beberapa pesanan, dan kali ini Han Chen yang protes.


"Kau belum jadi istriku, tapi sudah menghemat uang untukku."

"Kau memesan kebanyakan. Itu hampir sama dengan gajiku sebulan!"

Xiao Zhuan senyam-senyum melihat mereka sampai Lao Dao musti memprotesnya biar tidak melihat mereka terus.


Pesanan mereka datang tak lama kemudian dan semua orang makan dengan lahap. Tapi, di mana Cold Face? Tanya Jin Xi.

"Dia sedang sibuk mengantarkan gadis kecilnya pulang," ujar Lao Dao.


Di rumah sakit, Cold Face memberikan buket bunganya untuk Suster Xia. Mereka jalan-jalan di taman dan Suster Xia berterima kasih atas kejadian barusan.

"Tidak masalah, itu memang pekerjaannya polisi."

"Lalu, jika kau bukan polisi, apa kau masih akan melakukannya?"

Saat Cold Face tak segera menjawabnya, Suster Xia kecewa dan langsung berjalan pergi. Cold Face buru-buru menghentikannya. Dia menenangkan dirinya sejenak sebelum kemudian mengaku bahwa hari ini sebenarnya dia ada acara makan siang bersama, tapi dia tidak datang.

"Kenapa kau tidak datang?"

"Karena aku bilang pada mereka kalau... aku harus mengantarkan pacarku pulang. Bunga ini sangat cantik waktu aku datang, tapi sekarang sudah layu. Ziqi, sebenarnya aku bukan orang yang pintar mengekpresikan diriku. Aku tidak banyak bicara. Tapi setiap kali bersamamu, aku jadi suka bicara."


Bukankah Suster Xia bilang bahwa di mata beberapa orang, dia bukan cuma sekedar polisi dan apakah dia peduli dengan perasaan orang-orang itu. Sebelum dia menjawab pertanyaan itu, dia ingin bertanya dulu pada Suster Xia.

"Bagimu, aku ini apa?"

"Pasienku."

Cold Face kecewa. "Cu-cuma pasien?"

Tapi kemudian Suster Xia melanjutkan. "Seseorang yang membuat suster cemas dan tidak patuh. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya aku memilih untuk diam di sisinya untuk mendukung ambisi dan karirnya. Jika dia terluka, aku bersedia jadi suster pribadinya."


Bahagia, Cold Face langsung menarik Suster Xia ke dalam plukannya dan mendekapnya erat-erat. "Ziqi, tanggung jawab polisi adalah menggunakan hidup mereka untuk melindungi warga, dan kau juga warga. Aku janji aku akan menggunakan hidupku untuk melindungimu sampai mati."

Sementara Cold Face membopong Suster Xia dan memutar-mutarnya di udara dengan penuh kebahagiaan, tim Black Shield lainnya sedang bercanda tawa di restoran.


Jin Xi dan Han Chen tiba di rumah malam harinya. Jin Xi bertanya-tanya apakah sebelumnya Han Chen selalu seperti ini? Membayari makan dan minum saat dia bersama teman-temannya? Han Chen membenarkan, tapi sekarang sudah tidak lagi.

"Kenapa?"

"Karena kupikir cinta lebih penting daripada teman. Aku menggunakan seluruh waktuku untuk mencarimu."

Han Chen lalu menekan tombol dan sebuah alarm infra merah yang terpasang di jendela dan pintu langsung menyala. Jin Xi tidak menyangka kalau Han Chen akan waspada seperti ini.

"Tentu saja. Sekarang aku punya kau, jadi aku harus menjaga hidupku dengan lebih baik."


Han Chen mengcup Jin Xi, tapi Jin Xi langsung protes duluan gara-gara 2 hari ini Han Chen selalu berada di kantor polisi sampai kumisnya mulai tumbuh. Cukuran sana!

"Nggak mau. Kecuali kau membantuku cukuran."

"Aku tidak tahu caranya."

"Kau bisa belajar."

"Oke. Kau sendiri yang bilang. Ayo, kubantu cukuran."


Jadilah Jin Xi membantu Han Chen cukuran sambil bercanda tawa mesra.


Setelah selesai, Han Chen mendapat telepon dari bengkel yang memberitahu kalau mobilnya sudah selesai diperbaiki. Han Chen pun pamit pergi untuk mengambil mobilnya dan menyerahkan remote control alarm itu pada Jin Xi. Jin Xi tampak agak cemas dan karenanya dia meminta Han Chen untuk pulang cepat.

"Mengkhawatirkanku?"

"Xin Jia bilang masih ada 4 orang tersisa. Xu Nan Bo sudah mati. R adalah pelaku insiden di pabrik. L yang menempatkan mayat di taman kota. Berarti masih ada satu orang lagi, si penggila ledakan yang seperti anak kecil itu."

Han Chen jadi ikut cemas. "Kau benar. Sindikat Alfabet bersembunyi dalam kegelapan tapi kita tidak. Sulit melindungi diri kita sendiri."


"Aku merasa kasusnya Xu Nan Bo berakhir terlalu mudah. Setiap orang dalam sindikat itu menyembunyikan diri mereka dengan sangat baik. Xin Jia mengekspos dirinya sendiri karena perasaannya padamu. Tapi Xu Nan Bo berbeda. Dia jauh lebih licik daripada Xin Jia dan T."

Memang, Nan Bo jatuh dalam perangkapnya. Tapi dia tidak banyak melawan sebelum bunuh diri. Rasanya, itu sangat tidak sesuai dengan gayanya Nan Bo. Jika dia mati sungguhan, maka Sindikat Alfabet pasti akan balas dendam untuknya.


Berusaha menenangkan Jin Xi, Han Chen langsung menarik Jin Xi ke dalam plukannya. "Tidak apa-apa. Aku ada di sini. Istirahatlah. Aku akan segera kembali." 

Han Chen meng>cup lembut keningnya sebelum kemudian keluar dan Jin Xi menyalakan alarmnya.


Tak lama kemudian, Jin Xi sedang tidur saat tiba-tiba saja dia mendengar barang terjatuh. Dia mencoba memanggil Han Chen, tapi tak terdengar jawaban.

Bingung, Jin Xi memutuskan keluar dari kamar dan memencet tombol alarm, tapi malah mendapati alarmnya sudah tidak berfungsi. Jin Xi sontak waspada.

Dia hendak menelepon saat tiba-tiba saja dia melihat bayangan melintas. Perlahan dia masuk ke dapur dan bergerak cepat mengambil pisau.


Tapi si penyusup tiba-tiba mengejutkannya dengan melempar api di depan mukanya dan secepat kilat merebut pisau itu lalu menempelkannya ke leher Jin Xi.


Han Chen sedang dalam perjalanan pulang dan mencoba menelepon Jin Xi, tapi tidak diangkat. Dia mencoba lagi tapi tetap saja tidak diangkat. Han Chen jadi cemas dan langsung tancap gas.

Bersambung ke part 2

0 komentar

Post a Comment