Sinopsis Leh Nangfah Episode 5 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 5 - 2


Beauty datang ke pabrik, pakai seragam tapi dandanannya mewah banget mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seenuan jelas marah dan langsung memerintahkannya untuk ganti baju.

Seenuan cemas kalau Beauty seenaknya pakai baju seperti itu. Bisa-bisa yang lain juga bakalan ikutan. Beauty malah santai mengumumkan bahwa mereka boleh memakai apapun yang mereka mau karena itu adalah privasi mereka.

Tiba-tiba seorang karyawan datang dengan heboh dan mengumumkan kalau presiden menyuruh si pegawai baru untuk menghadapnya sekarang juga. Beauty berusaha menghindar, tapi Seenuan langsung menyeretnya ke kantor tanpa mempedulikan protesnya Beauty.


Tee juga langsung ngamuk-ngamuk saat melihat dandanannya Beauty. Berapa kali dia harus memberitahu Beauty untuk tidak melanggar aturan perusahaan?!

Beauty menyangkal, dia tidak melanggar aturan kok. Dia memakai apapun yang dia butuhkan biar aman dan cantik. Dia tidak mengubah seragamnya, dia cuma membuatnya kelihatan lebih cantik.

"Apa kau tidak memikirkan ketidaksamaan? Kalau kau berpakaian seperti ini, maka orang lain juga pasti ingin memakainya. Tapi para karyawan tidak akan bisa membeli barang-barang branded itu."

Atau Beauty ingin semua orang tahu siapa dia yang sebenarnya biar mereka memanjakannya bak nyonya konglomerat? Kalau itu yang Beauty pikirkan, maka sebaiknya dia tidak usah latihan lagi. Karena dia tidak akan pernah tahu bagaimana segala sesuatunya bekerja.

Beauty menyangkal. Dia tidak berpikir seperti itu, dia pasti akan bekerja keras. Tapi tidak bisakah dia berdandan cantik?


"Belajarlah untuk berpikir. Jika kau masih melakukan sesuatu yang melanggar aturan, maka sebaiknya kau berhenti. Kau tidak akan pernah bisa menjadi eksekutif yang baik."

"Itu tidak benar. Aku pasti bisa, dan aku pasti akan menjadi eksektutif yang baik."

Tee sinis. "Kalau begitu, cobalah untuk datang tepat waktu dan ikuti aturan selama 7 hari pertama."

"Kalau aku bisa melakukannya, apa yang akan kau berikan padaku?"

"Apa saja yang kau inginkan, katakan saja."

"Sungguh?"

"Sungguh!"


Para karyawan lagi heboh mengintip di luar. Mereka curiga, jangan-jangan Beauty ada sesuatu dengan presiden mereka. Dilihat dari pakaiannya Beauty, jelas-jelas dia berniat merayu presiden mereka yang tampan.

Seenuan tiba-tiba datang menegur mereka. Tapi mereka terus saja menggosipkan Beauty. Mereka sebel banget sama dia. Datangnya telat, dandanannya berlebihan dan bahkan setelah memecahkan produk mereka, dia masih saja belum dipecat. Jangan-jangan dia gundiknya seseorang.

"Diam! Apa urusannya dengan kalian? Kembali bekerja dan jangan berkeliaran di sini!"


Tee memberikan dua buah buku catatan pada Beauty. Dia harus menulis segala yang dia kerjakan setiap hari, tidak boleh terlewat satu haripun. Beauty senang, berarti Tee masih akan lanjut melatihnya, kan?

Tapi dia menolak buku itu, dia akan mencatatnya di tablet saja. Tapi Tee malah memaksa Beauty untuk menyerahkan tablet dan ponselnya. Karena jika Beauty masih menggunakan semua itu, pegawai lainnya pasti akan mengira kalau dia bukan karyawan biasa. Beauty kesal banget mendengarnya, tapi terpaksalah dia menyerahkannya ke Tee.

Tee menyuruh Beauty untuk menulis segala hal yang dia kerjakan setiap hari di salah satu buku dan serahkan padanya setiap hari. Sementara buku yang satunya harus dia gunakan untuk menulis berbagai saran untuk perusahaan agar mereka bisa berkembang.


Beauty langsung semangat mau menulis saran tentang berbagai hal yang harus diperbaiki oleh perusahaan mereka. Tapi Tee menegaskan tidak boleh sekarang. Dia hanya boleh menulisnya setelah shift kerjanya selesai.

"Tidak bisa. Aku tidak punya waktu. Aku harus pulang sebelum..."

Bingung bagaimana harus menjelaskannya, Beauty akhirnya hanya beralasan kalau dia punya aturan. Aturannya, dia tidak boleh keluar rumah setelah matahari terbenam dan sebelum matahari terbit.

Tee tak percaya. Dia yakin kalau Beauty cuma ingin menghadiri pesta malam. Kurangilah pesta-pestanya. Jika dia sungguh-sungguh ingin belajar di perusahaan lebih cepat, maka sebaiknya dia menghabiskan waktunya untuk mempelajari perusahaan.

"Terserah kau percaya padaku atau tidak. Pokoknya aku sudah harus berada di rumah sebelum jam 6 petang. Aku sangat serius!"

Tee menuntut kenapa? Apa kereta kudanya akan berubah jadi labu dan pakaiannya akan berubah jadi jelek seperti Cinderella?

"Nggak lucu! Pokoknya aku punya alasanku sendiri, oke?"

Dia mau pergi dan mengambil tabletnya kembali. Tapi Tee belum selesai. Dia penasaran. "Kenapa kau tidak membiarkan pamanmu melatihmu?"


Korn sedang menelepon Jade dan mendiskusikan suatu event entah apa. Tapi Jade berkata bahwa jika mereka menang, maka mereka sama-sama untung. Korn mengaku tidak bisa menghadirinya dan menyarankan Jade untuk mendiskusikanya langsung dengan Tee saja.

"Tapi bagaimana kalau dia tidak setuju?"

"Kita diskusikan lagi jika itu terjadi."


Setelah itu, Jade kembali mendatangi toko bunganya Orn dan langsung berusaha merayu Orn, bahkan memutuskan mau menunggu di sana dengan alasan kalau dia ada janji dengan Papanya Orn.

Orn kesal banget sama dia. Kalau dia ada janji dengan papanya, dia tunggu saja di hotel. Ini toko pribadinya dan toko ini sudah tutup sekarang. Silahkan keluar!

Jade santai, papan di luar itu bilang kalau toko ini masih buka kok. Kesal, Orn membalik papan itu jadi 'tutup' dan mempersilahkan Jade keluar sekarang juga. Baik, Jade pergi. Kalau begitu, sampai jumpa besok. Dadah!


Kratua melapor ke Pat. Menurut laporan mata-matanya, karyawan pabrik yang aneh itu muncul di gudang. Masalahnya, wanita itu tidak seperti karyawan biasa. Yang paling aneh, pak presiden juga mendatanginya di pabrik dan bicara dengannya di kantor yang terkunci.

Piwara juga merasa kalau itu aneh. Biasanya presiden mereka tidak pernah tertarik pada siapapun. Penasaran, Pat menyuruh Piwara untuk tetap di kantor sementara Kratua dia bawa bersamanya ke pabrik untuk melihat si wanita itu.


Di pabrik, Beauty memang mulai serius bekerja. Tapi tasnya tak pernah terlepas dari tangannya dan tiap ada waktu, dia pasti akan memperbaiki dandanannya.


Pat dan Kratua sudah menunggu di luar bersama para mata-mata mereka. Saat jam kerja selesai, Beauty buru-buru keluar tapi malah mendapati Pat sudah menunggunya.

Dia berusaha menghindar dengan panik, tapi terlambat. Pat sudah terlanjur melihatnya dan jelas heran melihatnya di sana. Kratua kaget mendengar Pat memanggilnya Beauty, si nona ningrat itu?

Beauty membenarkannya dan meminta mereka untuk merahasiakan tentang dirinya. Lalu dengan lantang dia beralasan kalau ayahnya bangkrut, makanya dia bekerja untuk membantu keluarganya.

Pat nyinyir. "Nona muda ningrat yang malang. Tuan Puteri yang jatuh dari bangku. Menyedihkan!"

Pat mau bicara dengannya di kantor. Tapi Beauty menolak, dia tidak ada waktu sekarang dan langsung cepat-cepat pergi mengacuhkan Pat.


Tidak terima, Pat langsung menghadangnya dan menuntut apa yang sebenarnya sedang Beauty lakukan di sini. Beauty malas banget menjelaskannya. Itu bukan urusan Pat.

"Aku sebenarnya tidak mau terlibat dalam urusanmu, tapi aku yang mengurus semua departemen di sini. Jadi aku harus tahu."

Baiklah. Tapi Beauty tidak mau mengatakannya di sini. Dia tidak mau ada yang dengar. Mereka pun langsung pindah ke tempat lain. Para karyawan jadi makin heboh mengira Beauty itu gundik suaminya Pat.

"Hei, Pat itu masih single!"

"Kalau begitu, apa dia gundiknya Khun Korn, Ayahnya Khun Pat! Atau mungkin gundiknya presiden?"

"Hentikan! Kalian malah berubah jadi penggosip! Seharusnya kalian cek dulu kebenarannya sebelum menggosip!" Kesal Kratua.

Tepat saat itu juga, dia baru menyadari kehadiran Piwara. Dia jelas mendengarkan setengah pembicaraan mereka dan penasaran karenanya.

 

Begitu berduaan di kantor kosong, Pat kembali menuntut penjelasan Beauty. Tentu saja Beauty sedang berlatih untuk menjadi seorang eksekutif perusahaan ini. Memangnya Pat tidak pernah dilatih apa? Pat sinis, tentu saja tidak. Dia kan lulusan magister bisnis, dia tidak perlu dilatih.

"Oh, yah. Aku lupa, maaf. Latihanku ini untuk calon eksekutif, pegawai biasa sepertimu tidak perlu dilatih."

"Aku menjadi manager cabang berkat bakatku. Aku tidak mendapatkannya dengan mudah karena aku bukan putri presiden sepertimu."

"Aku juga tidak mendapatkannya dengan mudah. Aku harus bertahan bekerja di pabrik. Melelahkan, panas dan penuh debu lagi."


Pat penasaran, berapa hari Beauty bisa bertahan. Dia yakin kalau Beauty pasti akan cepat bosan lalu pergi dengan meninggalkan masalah yang harus diselesaikan orang lain seperti yang biasanya Beauty lakukan selama ini.

"Kali ini aku serius. Akan kusingkirkan para penipu dan pengkhianat dari perusahaan ini."

"Itu tidak akan mudah. Seseorang sepertimu lebih baik kembali jadi model. Kurasa orang-orang sudah mulai melupakan image-mu saat tersungkur ke tanah. Atau... kurasa lebih baik kau tinggal saja di rumah dan tunggu kiriman uang."

Beauty menolak. "Lihat saja nanti, saat aku menjadi presiden perusahaan, akan kuubah segala hal di perusahaan ini. Mulai dari seragam karyawan, aku akan membuatnya jadi lebih cantik dan bukan sesuatu yang jelek seperti ini. Dan eksekutif perusahaan kita juga harus berdandan yang cantik demi image perusahaan kita."


Kesal, Pat mengancam akan bilang ke ayahnya kalau Beauty sudah gila. Beauty sinis. Dia punya hak untuk memecat Paman Korn jika Paman Korn melakukan sesuatu pada perusahaan mereka ini.

Tapi Beauty tak punya banyak waktu lagi sekarang dan langsung pergi. Pat kesal setengah mati diabaikan seperti itu, teringat betapa jahatnya Beauty padanya sejak mereka masih kecil.

Flashback.


Suatu hari, Tee kecil membantu Pat merangkai istana mainan. Pat senang dan memutuskan untuk menamai istana itu sebagai 'Istana Malaikat'. Tapi Beauty mendadak muncul dan mengklaim itu adalah istananya karena dialah malaikat.

Pat tidak terima. Ini bukan punyanya Beauty, Tee yang membuat istana itu. Beauty ngotot mengklaim itu sebagai miliknya lalu mendorong Pat sampai jatuh sambil mengatainya kuno.

Pat tidak terima dan berusaha merebut istana mainan itu dari Beauty. Jadilah kedua gadis kecil itu rebutan sampai akhirnya istana mainan itu terjatuh dan rusak.

Flashback end.

 

Pat tidak terima dengan ancaman Beauty. Dia, ayahnya dan Tee sudah berusaha keras mengurus perusahaan ini. Dia tidak akan membiarkan perusahaan ini hancur gara-gara kelakuan buruknya Beauty.

"Aku tidak akan membiarkanmu mengambil apapun dariku lagi!"


Matahari sudah hampir terbenam. Beauty sudah tak punya waktu lagi untuk berubah di rumah. Bisa-bisa dia bakalan berubah di mobil nanti. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Ah, toilet!

Tapi setibanya di sana, para karyawan sudah antri duluan. Beauty panik berusaha meminta mereka untuk mengizinkannya pakai toilet duluan, tapi tentu saja para karyawan protes tidak terima.

Beauty mulai kesakitan saat matahari sudah semakin terbenam. Kasihan, salah satu karyawan akhirnya mengizinkannya masuk duluan.

Para karyawan heran mendengar rintihan Beauty. Dia terdengar seperti orang yang mau melahirkan. Oh, jangan-jangan Beauty lagi aborsi. (Pfft! Pikiran para penggosip ini kreatif banget deh)

Mereka penasaran ingin ngintip, tapi Seenuan muncul saat itu juga menegur mereka dan menyuruh mereka untuk pulang sekarang juga. Tepat setelah semua karyawan keluar dari toilet, matahari tenggelam dan Beauty pun berubah menjadi burung.

 

Pat marah-marah di kantornya, sama sekali tidak mengerti kenapa Beauty mendadak ingin bekerja di perusahaan. Perusahaan bisa hancur karena dia.

Piwara setuju. dia sudah banyak melihat perusahaan besar bangkrut karena eksekutifnya yag kurang pengalaman. Pat harus mencegah Beauty. Kratua semangat mendukungnya. Perusahaan ini dibesarkan oleh Pat dan ayahnya, mereka tidak boleh membiarkan siapapun menghancurkannya.

Tentu saja, Pat tidak akan membiarkan Beauty menyombongkan diri dan menjadi bosnya. Perusahaan ini adalah miliknya dan ayahnya. Pat bersumpah akan melakukan apapun untuk menghalangi Beauty bekerja di sini lagi.

Bersambung ke episode 6

1 komentar:

  1. Lanjut...jgn lama2 ya? +serru soalnya,semangat!!!!!

    ReplyDelete