Sinopsis Kleun Cheewit Episode 5 - 3

Sinopsis Kleun Cheewit Episode 5 - 3

 

Pim terburu-buru ingin menemui seorang tetua lakorn terbaru Ayahnya Piak dengan membawa sekeranjang buah, pastinya untuk suap. 

Managernya santai meyakinkan kalau si tetua masih belum datang, dia masih ada waktu menawarkan dirinya untuk membintangi sebuah lakorn baru.

Pim langsung kesal menyangkalnya. Dia datang bukan mau menawarkan dirinya, melainkan untuk menunjukkan bahwa lakorn yang berkualitas butuh seorang aktris yang berkualitas dan bukannya aktris murahan.


Tepat saat itu juga, Suki baru keluar dan langsung nyinyir setelah mendengar ucapan Pim barusan. Bagaimana bisa satpam membiarkan aktris gagal dengan rating yang terus menurun, masuk ke gedung ini? Apa dia lari kemari gara-gara mencium bau makanan?

"Dan bagaimana denganmu, P'Suki? Siapa yang memanggilmu sampai kau datang kemari dengan menggoyang ekormu?"

"Aku bukan anj*ng sepertimu!"

"Oh, aku lupa kalau kau bukan anj*ng, tapi kutu penghisap uang dari anak-anak."

"Hei! Berhenti sekarang juga! Tanpa aku, kau tidak mungkin berdiri di sini hari ini!"

"Tidak benar! Aku ada di sini hari ini adalah berkat kemampuanku sendiri."


Suki sinis. Buktinya sejak mereka berpisah, hidup Pim langsung hancur, lakorn-nya gagal dan semua iklannya juga menghilang. Dan sekarang dia sampai harus membawa suap untuk para tetua. Tapi para tetua itu pintar. Mereka tahu siapa yang harus mereka pilih dan siapa yang harus mereka buang.

Pim tidak yakin. Jee kan punya banyak berita skandal, para tetua pasti tidak akan sebutan itu untuk memilih Jee sebagai nang'ek-nya.

"Tapi kebetulan sekali mereka memilih Nong Jee! Orang yang tidak tahu terima kasih sepertimu, tidak akan pernah maju!"


Suki langsung pergi dengan senyum puas. Pim jelas kesal setengah mati dibuatnya. Tapi baru berjalan beberapa langkah, Managernya Pim berusaha menenangkan Pim dan mengingatkannya bahwa jika Jee membintangi lakorn Ayahnya Piak lagi, maka pastinya dia harus bertemu Piak lagi. Jee kan bermasalah dengan Piak.

Suki kontan cemas mendengarnya. Tapi dia berusaha tetap tenang dan pergi dari sana.


Pim lalu mendatangi spa langganan Piak sambil pura-pura tak sengaja bertemu Piak di sana. Yang tidak disangka, Piak ternyata tahu kebohongan mereka soalnya dia tahu kalau mereka tadi menghubungi sekretarisnya.

Tapi okelah, anggap saja ini kebetulan. Jadi, apa yang ingin Pim bicarakan padanya secara kebetulan ini?

Belum sempat Pim ngomong apapun, Managernya langsung saja menyela dan nyerocos panjang lebar melaporkan masalah Jee yang akan membintangi lakorn terbaru perusahaannya Piak. Piak jelas terkejut mendengarnya.


Pada saat yang bersamaan, Chaiyan juga baru diberitahu Ayah tentang masalah ini. Ayah sengaja belum memberitahu Piak. Jika Piak tahu kalau Jee akan bekerja sama lagi dengan Chaiyan, entah berapa banyak bom yang akan meledak kali ini.

"Tapi aku da Piak sudah menjernihkan masalah terkait Jee. Kurasa tidak akan ada masalah." Ujar Chaiyan, walaupun dia tampak tak terlalu yakin juga.


Pim dan Managernya masih getol mengompori Piak. Pim yakin kalau Jee pasti meminta para tetua untuk tidak memberitahu Piak sampai press coference diselenggarakan. Pim yakin sekarang ini masih ada waktu untuk mengganti nang'ek-nya *wink-wink*.

Tapi yang tidak mereka sangka, Piak malah menolak saran mereka. Loh, apa Piak tidak takut kalau Jee akan terlibat dengan Chaiyan?

"Aku siapa? Dan Jeerawat itu siapa? Kenapa aku harus takut?"

"Aku tahu kalau Jee tidak akan bisa melakukan apapun padamu. Tapi apa pantas menodai dirimu sendiri?"

"Jangan khawatir. Di masalah, aku sudah belajar apa yang harus kulakukan. Terima kasih banyak karena sudah membawakan berita ini secara kebetulan sampai ke sini. Aku yakin kebetulan ini akan sangat menguntungkan bagi kita."


Jee dan Dao keasyikan main game tenis tanpa mempedulikan Suki yang lagi berusaha keras untuk menyela mereka dan mengingatkan Jee untuk mengundurkan diri dari lakorn ini saja daripada bermasalah dengan Piak lagi. Tapi Jee sama sekali tidak mendengarkannya saking asyiknya main sampai Suki stres dibuatnya.

"Pukul saja! Khun Piak memukulmu dan kau balas memukulnya!"

"Hei, P'Suki. Jangan terlalu memikirkannya, jangan stres dan jangan menarikku (dari lakorn baru itu). Ada pekerjaan itu lebih baik daripada tidak ada. Lagian aku sudah menjernihkan masalah menyangkut Chaiyan dengan Khun Piak kok. Ayo, Dao. Main lagi."

"Jee, kurasa kau harus mendengarkan peringatannya P'Suki."

"Betul! Dao benar banget. Bagaimana kalau ada masalah?"

"Kalau ada masalah, kita lihat saja dia acara penutupan nanti." Santai Jee


Suki tak percaya mendengarnya. Tapi Jee malas membahas masalah itu lebih jauh dan bergegas menghindari dengan alasan mau BAB, padahal sebenarnya dia menelepon si pengacara misteriusnya.

Thit menerima teleponnya dengan senyum sinis, tapi tidak mengatakan apapun karena pastinya Jee bakalan bisa mengenali suaranya. Dia langsung menutup teleponnya lalu mengirim sms dan beralasan kalau dia sedang ada meeting sekarang ini.

Karena itulah, Thit ingin bertemu langsung dengan Jee untuk mendiskusikan masalah kasus ini. Jee setuju saja tanpa pikir panjang.

Melihat sebuah gedung bernama W District di depan coffee shop, Thit punya ide mengajak Jee ketemuan di W District jam 6 sore nanti. Tapi Jee tak yakin akan bisa datang tepat waktu, jadi dia meminta Thit untuk mengubah jamnya.

"Tidak masalah. Kau santai saja, aku akan menunggu." Ujar Thit dalam sms-nya.


Pada jam yang ditentukan, Jee pun bergegas pergi. Dao cemas melihatnya mau pergi sekarang, soalnya jam segini kan biasanya macet. Jee santai, orang yang mau dia temui bersedia menunggunya kok.

Dao penasaran siapa yang mau dia temui dan ada urusan apa dengan orang itu, tapi Jee langsung pergi tanpa mengatakan apapun.

Benar saja, Jee terjebak macet parah di tengah jalan. Thit masih sabar menunggunya di coffee shop. Saat Jee mengirim sms kalau dia terjebak macet, Thit sengaja menggodanya dengan mengklaim kalau dia ada urusan mendesak, jadi dia memaksa Jee untuk datang dalam waktu 30 menit.


Jee langsung panik tak tahu harus bagaimana dengan kondisi macet separah ini. Tapi kemudian dia melihat ada ojek di depan. Si tukang ojek langsung antusias melihat penumpangnya ternyata Jee dan ingin minta tanda tangan. Jee setuju, tapi dia minta diantarkan dulu secepatnya.

"Oke. Nggak masalah. Naiklah! Naiklah!"

Si tukang ojek pun langsung ngebut, berkelok-kelok menembus kemacetan sampai mereka tiba di W District. Saking buru-burunya, Jee hampir saja lupa dengan janji tanda tangannya, dan si tukang ojek langsung minta tanda tangan di dadanya.


Jee lalu mengsms si pengacara misterius kalau dia sudah sampai... tanpa mengetahui kalau Thit sedang mengawasinya tak jauh dari sana.

"Kau ternyata lebih gigih daripada yang kukira." Komentar Thit

Thit mengklaim kalau dia sedang berada di gedung D yang letaknya cukup jauh. Jee langsung pergi ke gedung yang dimaksud dan Thit baru menyusul setelah memastikan Jee sudah pergi.


Dia berlari terburu-buru hingga tak sengaja bertubrukan dengan sepasang kekasih. Mereka mengenalinya dan jelas saja langsung minta foto bareng. Tapi Jee buru-buru dan menolak mereka.

Mereka jelas kesal dan langsung merutukinya, tapi Jee tak ada waktu mengurusi mereka dan langsung pergi. Dia tiba di gedung itu tak lama kemudian, tapi tak melihat si pengacara di mana-mana.


Tentu saja, karena Thit sengaja menyembunyikan dirinya lalu mengsms Jee dan sekali lagi menegaskan kalau dia ada urusan mendesak. Jee sampai harus memohon agar si pengacara mau bertemu dengannya sebentar saja, dia sudah tiba di gedung D kok.

Tapi Thit sengaja tidak membalas sms-nya dan tidak mengangkat teleponnya Jee juga. Sengaja dia lakukan karena dia mau lihat bagaimana reaksi kemarahan Jee.

Tapi saat Jee meng-sms-nya lagi, dia tidak marah sama sekali. Dia setuju untuk membatalkan pertemuan mereka hari ini jika si pengacara memang sibuk. Dia malah cemas apakah si pengacara baik-baik saja? Apa dia butuh bantuannya? Thit malah sinis membaca sms itu, mengira Jee bersikap manis hanya saat dia sedang membutuhkan sesuatu.


Tidak mendapat balasan juga, Jee akhirnya menyerah dan pergi. Dia hampir saja mau naik taksi saat Thit meng-sms-nya lagi dan mengklaim kalau urusannya sudah ditangani orang lain dan sekarang dia ada waktu untuk bertemu Jee. Dasar Thit!


Jee langsung balik ke sana dan bergegas naik ke rooftop, tapi malah tak ada siapapun di sana. Dia berjalan hampir ke tepi dan hendak menghubungi si pengacara lagi saat Thit mendadak muncul dari belakang dan mengagetkannya.

Dia hampir saja oleng ke belakang saking kagetnya. Untung saja dia cekatan berpegangan ke bajunya Thit.

"Kalau kau terjatuh dari ketinggian ini, kau bisa mencapai neraka." Sinis Thit


Kesal, Jee langsung mendorongnya dan hendak menghubungi pengacaranya lagi. Tapi Thit langsung merebut ponselnya Jee untuk menghubungi ponselnya sendiri dan menunjukkan pada Jee kalau dialah si pengacara itu.

Jee jelas bingung. "Kenapa...?"

"Entah ini takdir... atau mungkin karma burukmu."

"Jadi maksudnya, kaulah pengacara yang direkomendasikan Jade untukku?"

"Temanmu tidak tahu apa-apa. Dia ingin membantu tapi malah mengirimimu bom waktu."


"Apa menyenangkan bagimu? Kemacetan dan naik motor! Kau bahkan bilang kalau kau tidak bisa datang! Apa memprovokasiku sangat menyenangkan?"

Thit mengiyakannya dengan senyum. Jee kesal, seharusnya dia tahu pengacara macam apa yang sangat kasar pada kliennya sendiri.

"Tidak seburuk beberapa artis yang menipu publik." Balas Thit

"Apa kau sudah puas bersenang-senang? Kalau begitu, aku permisi."


Tapi Thit langsung mencengkeram lengannya dan memberitahu kalau dia sudah mengatur pertemuan dengan pemilik tanah itu besok untuk membicarakan masalah tanah itu. 

Jee cemas kalau-kalau Thit akan menggunakan kasus ini untuk balas dendam padanya. Kalau Thit membencinya, benci saja dia seorang, jangan melibatkan Nenek Jan dan para warga kampung.

"Bahkan sekalipun tanah itu bukan milik mereka, tapi mereka mencintai tempat itu seperti rumah mereka sendiri. Jangan memanfaatkan cinta dan harapan mereka sebagai senjata bagi kebencianmu, Khun Sathit!"

"Kau mengkhawatirkan orang lain? Bagus! Jadi mulai sekarang kau akan tahu bagaimana rasanya saat cintamu tidak mendapatkan keadilan."

"Jadi apa yang kau inginkan dariku agar kau berhenti melakukan hal-hal gila semacam ini, Khun Sathit?!"

"Kau bertanya padaku, Jeerawat? Apa seseorang sepertimu siap bertanggung jawab? Aku tak pernah menginginkan apapun darimu. Tapi jika ada satu hal..."

"Apa?"

"Kebenaran, Jeerawat. Kebenaran akan apa yang sebenarnya terjadi pada Tiw."


Jika Jee tidak ingin melihat orang-orang yang dia cintai menderita, maka katakan kebenarannya. Jee langsung tegang mendengarnya. Tapi dengan cepat dia menguasai diri dan mengingatkan bahwa pengadilan sudah memberikan putusannya.

"Sudah kuduga. Karena kau hanya mencintai dirimu sendiri. Egois!"

"Kalau kau menyakiti nenekku, berarti kau bukan pengacara. Seorang pengacara membantu dan memberikan keadilan bagi orang lain."

"Jangan ucapkan kata-kata itu padaku. Seseorang yang merampas keadilan dari orang lain, tidak punya hak untuk mengucapkan kata-kata itu."

Apa yang terjadi pada Nenek Jan dan warga kampung adalah karena Jee. Karena keegoisan Jee untuk melindungi dirinya sendiri. Thit mau lihat apakah reputasi dan image yang selama ini Jee bangun, bisa membantu dirinya.

"Jika pada akhirnya orang-orang yang kau cintai menderita, mereka akan menghilang darimu satu demi satu. Orang egois sepertimu, aku yakin aku akan bisa melihatmu dalam kondisi seperti itu."


Thit langsung pergi meninggalkannya. Tepat saat dia turun, seorang pegawai lewat mau mengunci pintu rooftop. Dia tanya ke Thit apakah di sana masih ada orang, tapi Thit malah tersenyum licik. Wah! Kayaknya dia mau ngunci Jee di sana.

Bersambung ke part 4

1 komentar:

  1. Lanjuutt min makin seru...jngan lama lama ya...semangaatt😚😚😚

    ReplyDelete