Sinopsis Accidentally in Love Episode 10 - 1

 Sinopsis Accidentally in Love Episode 10 - 1

Suasana benar-benar sangat canggung. Feng dan Qing Qing saling menatap sinis. Nan Xi yang akhirnya buka suara duluan, mengomentari pertemuan mereka yang sangat kebetulan ini.


"Benar, kebetulan sekali. Kenapa kalian berdua bersama?" Sinis Feng.

Xin Ya dengan angkuhnya memberitahu Qing Qing bahwa Qing Qing hari ini sangat beruntung bertemu dengannya, karena dia bisa membantu Qing Qing mendapatkan pengetahuan tentang hidangan mewah. Dia langsung memanggil pelayan untuk memesan wine mahal.

Berusaha menahan kesabarannya, Qing Qing memberitahu mereka bahwa dialah yang mengundang Nan Xi makan di sini sebagai ungkapan terima kasih.

"Berkat dia, aku tidak dirugikan oleh orang-orang yang berpikiran sempit. Xin Ya, kau juga harus berterima kasih."

Pesanan mereka datang saat itu dan Xin Ya langsung nyerocos membangga-banggakan wine pesanannya, mengira Qing Qing tidak tahu menahu tentang minuman mahal semacam ini.

Qing Qing tentu saja langsung balas nyerocos panjang kali lebar tentang pengetahuannya wine-nya dan menentang pendapat Xin Ya tentang wine pilihan Xin Ya ini.
Nan Xi sampai heran, dari mana Qing Qing mengetahui hal-hal seperti itu? Qing Qing berbohong kalau dia cuma menebak. Dia sebenarnya tidak tahu cara minum wine kok.

Xin Ya sinis. Lumayan juga pengetahuan dari sekedar menghapal buku. Kalau dia memang tahu banyak hal tentang wine, maka dia harus minum lebih banyak.


Qing Qing baru saja mencicipinya seteguk. Tapi Feng yang cemas setelah mendengar Qing Qing tidak tahu cara minum wine, langsung membentak Qing Qing untuk berhenti minum. Kalau begitu, Nan Xi berinisiatif untuk menjadi black knight-nya Qing Qing dan menggantikannya meminum wine itu.


Kontan apa yang dilakukannya itu membuat Feng makin cemburu. Saat Xin Ya memintanya untuk melakukan hal yang sama untuknya, Feng langsung menghabiskan wine itu sambil memelototi Qing Qing.

Xin Ya terus menerus mengisi ulang gelas-gelas mereka dan jadilah kedua pria itu lomba minum wine. Qing Qing jadi makin cemas melihat mereka, tapi kedua pria itu terus minum tanpa henti.


Saat akhirnya mereka selesai makan tak lama kemudian, Feng sudah teler duluan. Nan Xi merasa sebaiknya mereka pulang saja sekarang. Xin Ya ingin mengantarkan mereka, tapi Nan Xi menolak. Mereka kan tidak searah, Xin Ya pulang saja duluan, dia sendiri yang akan mengurus Feng.


Xin Ya pun pergi. Qing Qing juga pamit, tapi Nan Xi menahannya untuk mengatakan apa yang tadi tertunda. Dia mengaku kalau sebenarnya rekaman CCTV itu, dia dapatkan dari Feng.

Terkejut, kemarahan Qing Qing pada Feng menghilang seketika. Berhubung sudah malam, Nan Xi menyuruhnya pulang duluan ke asrama.

"Gu Nan Xi, Terima kasih sudah memberitahuku." Qing Qing pun pergi.


Feng mandadak bangun sampai mengagetkan Nan Xi dan langsung mencari Qing Qing. Di mana dia?

"Dia sudah kembali ke sekolah."

Kalau begitu, Feng memutuskan mau balik ke sekolah juga dan langsung sempoyongan ke lapangan basket. Nan Xi bingung, untuk apa dia datang kemari?


Feng tiba-tiba memungut bola lalu melemparkannya ke Nan Xi dan memaksa Nan Xi untuk bertanding dengannya sekarang juga. Baiklah, Nan Xi meladeninya dengan senang hati. Ayo, bertanding!

Yang tak disangka-sangka, dengan mudahnya dia merebut bola dari tangan Nan Xi lalu melemparnya ke ring dengan gaya asal-asalan dan... masuk! Wah, sepertinya Feng jadi jago main basket kalau lagi mabok. Wkwkwk!

Nan Xi sampai melongo dibuatnya. Mereka terus bertanding dan Feng terus menerus berhasil memasukkan bola dengan berbagai gaya ngasal... sampai akhirnya Nan Xi kecapekan dan menyerah.


"Ada apa sebenarnya denganmu hari ini? Hiper banget!" Heran Nan Xi.

Dia terus nyerocos, tapi anehnya, tidak ada jawaban dari Feng. Apa dia tidur? Tapi saat Nan Xi menoleh, dia malah mendapati tempat itu sudah kosong. Di mana Feng?


Ternyata dia mendatangi asrama cewek lalu membuat keributan dengan menggedor setiap pintu sambil teriak-teriak memanggil Qing Qing. Jelas saja dia langsung jadi pusat perhatian para penghuni asrama.

Qing Qing dan Fang Fang juga mendengar keributan itu dan langsung keluar untuk melihat situasi, tapi malah mendapati Feng sedang pegang speaker lalu menggunakannya untuk jejeritan memanggil Qing Qing yang jelas saja membuat Qing Qing jadi malu.

Dia bahkan melihat Qing Qing saat itu dan langsung berteriak menyuruh Qing Qing datang padanya. Jelas saja Qing Qing jadi kesal, dia mau mati apa? Kenapa dia malah datang kemari dan membuat keributan?


"Ssst! Chen Qing Qing. Kuberitahu kau, pelankan suaramu. Jangan biarkan orang lain tahu kalau SI TU FENG ADA DI SINI!!!"

Qing Qing kontan panik membekap mulutnya. Apa sebenarnya yang ingin Feng katakan? Kalau Feng tidak mau bicara, dia pergi saja.

"Chen Qing Qing, tunggu! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

 

"Chen Qing Qing, apa hubunganmu dengan orang-orang itu?!" Tuntut Feng bak seorang pria yang cemburu pacarnya dekat dengan pria lain.

"Siapa 'orang-orang itu'?"

"Yang satunya Hua Mu Nian, satunya lagi Gu Nan Xi."

Qing Qing heran, apa Feng jadi seperti ini karena bisnis layanan pesan-antarnya? Para pria itu hanya membantu bisnisnya, membantunya mendapatkan uang.

"Uang? Aku punya banyak uang!"

Feng bahkan dengan senang hati memberikan dompetnya pada Qing Qing, termasuk semua recehan dan uang koin yang ada di dalam kantong-kantong bajunya.

"Si Tu Feng, apa kau sudah selesai?" Qing Qing benar-benar merasa risih dengan situasi ini.

"Chen Qing Qing, bisakah kau berhenti menggoda mereka mulai sekarang. Kau adalah milikku."


Feng mendadak mendekatkan wajahnya ke wajah Qing Qing yang kontan saja membuat para penonton mereka heboh menanti momen itu. Tapi Feng mendadak ambruk dalam plukan Qing Qing. Fiuh, Qing Qing lega.


Untung saja Nan Xi datang dan cepat-cepat menjauhkan Feng darinya. Nan Xi penasaran kenapa Feng datang kemari tengah malam mencari Qing Qing? Apa ada sesuatu hal yang penting?

Qing Qing berbohong menyangkal, Feng tidak bilang apa-apa kok, cepat bawa dia pergi. Setelah mereka pergi, Qing Qing meminta maaf pada semua orang atas keributan barusan lalu kaburrrr.


Keesokan harinya di kelas, Qing Qing galau melihat teman-teman sekelasnya yang sedang heboh kasak-kusuk. Jelas mereka sedang menggosipkan kejadian kemarin. Gengnya Xiao Bi bahkan sedang menirukan gayanya Feng semalam.

Feng datang tak lama kemudian dan langsung tertunduk malu teringat kejadian semalam. Kontan saja semua orang langsung memperhatikan kedua orang itu.

Feng dan Qing Qing akhirnya duduk berdua dengan kaku dan canggung, sama-sama tak tahu bagaimana harus menghadapi satu sama lain. Qing Qing mengembalikan dompetnya, Feng buru-buru mengantonginya lalu keduanya cepat-cepat berpura-pura sibuk sendiri-sendiri. Yang satu pura-pura lihat tablet, dan yang satu pura-pura coret-coret di buku.

 

Nan Xi mendadak muncul di hadapan mereka dengan membawa beberapa kantong makanan sambil memberitahu mereka kalau tabletnya Feng kebalik dan Qing Qing malah mewarnai buku pelajarannya pakai crayon.

Apa mereka tidak konsen karena belum sarapan? Nih, Nan Xi sudah membawakan makanan untuk mereka. Makanlah biar mereka bisa fokus belajar lagi.


Siangnya, Qing Qing keluar menemui Daniel yang langsung memperlihatkan berita tentang kejadian semalam yang sudah viral sekarang ini.

Alih-alih mencemaskan berita itu, Qing Qing malah heboh tidak terima karena berita itu menyebut dirinya sebagai 'asisten yang menyedihkan'. Qing Qing sontak emosi, dia tidak menyedihkan!!! Seharusnya judul beritanya tuh 'Pengakuan Cinta di Asrama'.

"Aku tahu kalian tidak akur. Tapi jika kalian ingin bertengkar, tidak bisakah kalian lebih sadar siapa di sekeliling kalian? jejeritan dan saling menarik tengah malam." Omel Daniel. "Meskipun penampilanmu seperti ini..."

"Seperti apa?!"

"Sangat bagus, sangat bagus. Tidak ada yang salah dengan itu. Aku tidak menghinamu."

Tapi belakangan ini, media sangat mencurigai peran Qing Qing sebagai asistennya Feng. Sekarang ditambah dengan foto-foto ini dan kejadian semalam.

"Tapi situasi sebenarnya tidak seperti itu!"

Ah, sudahlah. Kalau mereka harus berakting, maka mereka harus melakukannya dengan benar. Besok Feng akan melakukan konferensi press, Qing Qing harus ikut bersamanya biar awak media melihat mereka ramah terhadap satu sama lain.

"Kalau aku menemukan artikel lagi, maka semuanya berakhir."

"Maksudmu, aku benar-benar harus menjadi asistennya Si Tu Feng?"

"Ya, iyalah." Sinis Daniel lalu pergi. Qing Qing kontan sumringah saking senangnya.


Di kantor, Daniel gantian mengomeli Feng karena Feng malas melakukan pemotretan dan lain sebagainya. Kalau seperti ini caranya, lalu bagaimana Feng bisa punya uang untuk membuat musik?

Apa Feng tahu berapa banyak kerugian yang harus ditanggung perusahaan gara-gara keputusan dadakan Feng untuk membatalkan perilisan lagu Breathing?

Bos mereka benar-benar marah gara-gara itu dan memutus semua dana promosi mereka. Dana promosi yang sekarang mereka pakai itu adalah uang pinjaman dari rekannya Daniel. Tuh, lihat. Kartu kreditnya sudah hampir limit sekarang.

Feng yang awalnya cuek, jadi merasa bersalah padanya. Baiklah, kalau begitu, dia harus syuting apa besok? Daniel memberitahu bahwa Qing Qing sudah setuju untuk datang sebagai asistennya Feng besok.

"Hah? Chen Qing Qing juga datang?"

"Jangan khawatir, aku akan ada di sana besok. Selama kau bergaul sangat baik dengan rekan se-tim-mu, aku jamin takkan terjadi apapun."

Bersambung ke part 2

3 komentar: