Sinopsis About is Love Episode 3 - 3

Sinopsis About is Love Episode 3 - 3

Si pintar Qiu Jing dengan cepat menduga apa masalahnya. Fei Fei pasti salah tulis alamat. Jika Fei Fei memakai alamat yang biasanya dia pakai, kemungkinan paket itu terkirim ke lantai atas. Hah?


Jadi begini, apartemen mereka ini kan aslinya direnovasi dari sebuah studio dan berada di lantai satu. Tapi apartemen mereka ini disewakan secara terpisah dari lantai dua dan tiga yang merupakan bangunan utama gedung ini.

Karena awalnya tak ada yang tinggal di sini selain mereka berdua, jadi dulu paketan ke alamat ini selalu terkirim ke mereka. Tapi sekarang, pemilik gedung ini sudah kembali dan sepertinya si kurir mengira kalau lantai satu dan lantai atas adalah satu gedung yang sama.

Ah, Fei Fei baru ingat. Belakangan ini dia memang pernah melihat seorang pemuda yang pindah ke lantai atas.


Zhou Shi tiba-tiba ingat dengan telepon aneh yang diterimanya sore tadi. Si penelepon tadi mengatakan sesuatu seperti: macan, berenda, dll.

Zhou Shi cepat-cepat menghubungi nomor tadi, tapi mereka malah mendengar dering ponsel dari lantai atas. Astaga, si c***l itu tinggal di atas mereka. Fei Fei langsung menyeret Zhou Shi bersamanya untuk menangkap si c***l itu.


Fei Fei langsung memencet bel dan menggedor pintu rumah tetangga barunya itu dengan penuh emosi. Ning Fei akhirnya membuka pintu sambil bawa palu, terang saja Fei Fei merasa terancam langsung mengambil sapu sebagai senjata. Dia mau ngapain pakai palu itu?!

Zhou Shi langsung mengenalinya. Tapi alih-alih menjawab Fei Fei dengan cara baik-baik, Ning Fei malah menjawabnya dengan memukuli bel rumah itu sampai hancur. Dia bahkan mau langsung menutup pintunya lagi.


Zhou Shi cepat mencegahnya dan memintanya untuk bicara baik-baik lalu mencoba mengingatkan Ning Fei tentangnya dengan cara menunjukkan bajunya yang ketumpahan cat lukis pemberiannya itu.

Ning Fei masih juga diam tapi jelas dia ingat. Telepon aneh tentang daleman yang Zhou Shi terima sore tadi, itu Ning Fei kan yang meneleponnya?

"Jangan menyangkal! Aku mendengar nada deringnya dari dalam rumahmu!" Ketus Fei Fei.

Ning Fei mengakuinya, paket itu salah kirim. Barang itu ada di dalam rumah, tapi Ning Fei lupa di mana menaruhnya.


Kedua wanita itu akhirnya masuk dan langsung tercengang melihat rumah Ning Fei yang penuh dengan berbagai macam lukisan yang pastinya menarik perhatian Zhou Shi.

"Kau yang menggambar semua lukisan ini?"

Ning Fei menyangkal. Dulu gurunya dan kakak seniornya juga tinggal bersamanya saat dia masih kecil.


Fei Fei sampai kesal menegur Zhou Shi untuk fokus pada tujuan utama mereka datang kemari. Tapi setelah mengetahui Ning Fei ternyata seorang pelukis, Zhou Shi jadi yakin kalau Ning Fei itu bukan orang jahat.

Tidak usah terlalu mencemaskan paketannya lah, itu kan cuma daleman. Dia akan bantu nyari deh. Kedua wanita itu lalu mulai mencari di sekiat sofa.


Tapi saat Fei Fei mendekati meja, Ning Fei tiba-tiba membentaknya untuk tidak ke sana. Kaget, Fei Fei refleks berbalik hingga gagang sapunya tak sengaja menyenggol sebuah mangkok porselen antik sampai pecah.

Ning Fei diam saja, tapi dia tampak merana melihat mangkok pecah itu. Fei Fei tampak agak merasa bersalah, tapi tak mau mengakuinya. Malah mengklaim kalau itu cuma mangkok biasa, kelihatannya juga tidak mahal.

Dia bahkan semakin berpikiran buruk tentang Ning Fei dan cepat-cepat menyeret Zhou Shi pulang, lupakan saja paketannya. Kedua wanita itu langsung pergi dan meninggalkan Ning Fei.

Tapi sepertinya mangkok itu benar-benar sangat berarti bagi Ning Fei, dia bahkan menitikkan air mata melihat mangkok yang sudah pecah itu.
 

Sesampainya kembali di rumah, Fei Fei masih saja ngotot kalau itu cuma mangkok biasa dan pasti bisa dibeli di mana-mana.

Tapi saat Zhou Shi mengingatkannya untuk berangkat kerja, Fei Fei mendadak mewek meminta Zhou Shi untuk menggantikannya. Dia tidak suka merasa berhutang pada seseorang. Kejadian hari ini benar-benar menusuk hatinya.

"Tapi aku tidak punya pengalaman. Bagaimana kalau aku malah membuat masalah?"

"Pekerjaan ini tidak butuh pengalaman, kau cuma perlu terlihat cantik. Bukankah kau butuh pekerjaan? Bukankah ini kesempatan. Jadi, pergilah dan ganti bajumu."


Dan tempat kerja yang dimaksud Fei Fei ternyata sebuah bar dan Zhou Shi harus memakai seragam yang cukup ketat dan pendek sampai dia merasa tak nyaman.

Direktur tempat itu muncul dan langsung mengecek penampilannya lalu menyerahkan tag namanya yang bernama Xi Xi. Zhou Shi lalu tanya apa pekerjaannya.

Direktur berkata kalau pekerjaannya di sini sama saja seperti pekerjaan lain di luar sana. Hanya saja, pelanggan di sini lebih dermawan dan suka memberi tip gede. Seorang pegawai datang melapor bahwa Tuan Muda Wei sudah datang. (Hmm, Wei Qing kah?)

Sepertinya si Tuan Muda Wei ini akan membooking seluruh tempat, Manager bahkan memerintahkan si pegawai untuk tidak lagi menerima tamu baru dan bilang ke tamu-tamu lainnya kalau mereka sedang mengalami sedikit masalah.


Zhou Shi dan beberapa gadis lainnya lalu disuruh jejer di depan pintu untuk menyambut kedatangan sang Tuan Muda Wei yang ternyata benar-benar Wei Qing.

Zhou Shi jelas kaget dan langsung berusaha menutupi wajahnya sambil menggerutu lirih. Aduh! Kenapa dia sih? Di tempat seperti ini lagi. Pagi hari dia menghadiri acara pemberian beasiswa, malam harinya malah pergi ke bar, bedanya jauh banget.

Para gadis lainnya langsung masuk begitu Wei Qing masuk, tapi Zhou Shi terlalu ketakutan dan memutuskan untuk berdiam di depan pintu.


"Sedang apa kau di sini? Ruang private butuh orang, cepat masuk!" Tegur Manager.

"Saya masih baru, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, jadi saya berjaga di depan pintu saja."

Tapi Manager ngotot menyuruhnya masuk ke ruang private sekarang juga, dia kan penggantinya Fei Fei, jadi dia harus bertanggung jawab. Cepat antarkan pesanan Tuan Muda Wei! Tak bisa menghindar lagi, terpaksa Zhou Shi harus menurutinya.


Sementara tamu-tamu yang lain nge-dance, Wei Qing sendiri cuma duduk diam menonton mereka. Zhou Shi berusaha menundukkan wajahnya sedalam mungkin saat menyajikan pesanannya lalu cepat-cepat menghindar.

Tapi yang tak disangkanya, Wei Qing mendadak memanggilnya. Waduh! Wei Qing mengenalinya. Bisa gawat kalau Wei Qing sampai melaporkannya ke universitasnya.

"Kau, kemarilah!"


Terpaksalah Zhou Shi harus kembali menghadapinya sembari tetap merunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya. Jelas Wei Qing mengenalinya, tapi dia diam saja, malah melemparkan satu kotak perhiasan ke namanya Zhou Shi.

"Kau lupa mengambil tip-mu." (Pfft! Tipsnya perhiasan? Dermawan sekali si Tuan Muda Wei ini)

"Terima kasih!" Ucap Zhou Shi lalu kabur secepatnya.


Karena Wei Qing tadi tidak mengatakan apapun tentangnya, Zhou Shi jadi mengira kalau Wei Qing tidak mengenalnya. Dia membuka kotak itu dan mendapati isinya ternyata sebuah kalung mewah.

"Astaga! Dia menggunakan statusnya sebagai pewaris konglomerat untuk memberikan kalung pada semua orang. Sungguh menakutkan."


Tepat saat Zhou Shi keluar, dia berpapasan dengan dua orang preman yang tadi dilihatnya di mobilnya Direktur He, pria yang semobil dengan Ran Yu dan jelas mereka datang untuk mencari Wei Qing.

Zhou Shi santai saja berjalan melewati mereka, tapi kemudian dia menguping kedua preman itu menyebut nama Wei Qing dan tujuan mereka datang kemari adalah untuk membereskan Wei Qing. Mereka bahkan membawa tongkat untuk melaksanakan misi mereka.

Jelas saja Zhou Shi jadi cemas. Mumpung kedua preman itu pergi ke arah lain, Zhou Shi buru-buru kembali untuk menyelamatkan Wei Qing.


Wei Qing sendiri memanggil Direktur dan menanyakan tentang pramusaji yang barusan melayaninya. Direktur memberitahu kalau namanya adalah Xi Xi dan ini hari pertamanya, dia menggantikan temannya. Apa Wei Qing mengenalnya?

Wei Qing geli mendengar nama itu. "Tak kusangka kami akan bertemu lagi secepat ini dan di tempat seperti ini lagi."

"Sepertinya dia dan Tuan Muda Wei berjodoh. Apa anda ingin saya memanggilnya agar dia menemani anda minum?"

"Tidak perlu, dengan temperamennya yang berapi-api, bahkan sekalipun dia datang, dia tidak akan sopan padaku."


Baru juga dibicarakan Zhou Shi mendadak muncul dan berusaha menyeretnya pergi. Tapi kedua preman mendadak muncul dan langsung mengancam semua orang untuk pergi kecuali We Qing. Semua orang sontak menghambur keluar, kecuali Zhou Shi.

"Mau apa kalian mencariku?" Santai Wei Qing.
.
"Omong kosong! Mereka mau menghajarmu. Masa iya mereka mau mengundangmu makan bersama?"

"Bukan urusanmu! Minggat sana!" Bentak si preman.

Apa yang dikatakan si cantik ini memang benar, mereka datang kemari atas perintah seseorang, jadi Wei Qing jangan menyalahkan mereka. Lagian ini salahnya Wei Qing sendiri, dia terlalu populer dan punya banyak musuh.

Wei Qing pilih saja, dia mau melawan atau pasrah saja? Lebih cepat dilakukan lebih baik. Lagian rumah sakit dekat kok. Mereka sebenarnya sudah dibayar, tapi kalau Wei Qing tidak mau disakiti, dia bisa memberi mereka angpao yang jumlahnya dua kali lipat.

Wei Qing santai saja membiarkan mereka mengoceh. "Apa kalian sudah selesai bicara? Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan kehebatan kalian."


Wei Qing sontak menyerang mereka duluan. Awalnya dia mampu melawan dengan mudah, tapi pada akhirnya dia kalah jumlah. Preman satu menyikutnya berulang kali tanpa ampun dan tiba-tiba Zhou Shi melihat preman dua mengayunkan tongkatnya ke Wei Qing.

Bersambung ke episode 4

7 komentar: