Sinopsis My Little Princess Episode 16 - 1

Sinopsis My Little Princess Episode 16 - 1

 

Xing Chen menemui Meng Xi untuk menyatakan keinginannya berhenti kuliah. Mendengar itu, Meng Xi menceritakan sebuah kisah tentang seorang temannya pada seorang gadis saat dia masih muda. Keduanya sama-sama mengambil jurusan seni dan karena itulah mereka punya banyak topik untuk diperbincangkan. 

Mereka saling mengerti hingga mereka bisa mengetahui apa yang mereka pikirkan tentang satu sama lain melalui pandangan mata dan bahasa tbuh.

Tapi sama seperti Ayahnya Xing Chen, pria itu juga ditekan oleh keluarganya dan pada akhirnya pria itu memutuskan untuk menuruti keinginan keluarganya dan memutuskan gadis itu.


"Hidupnya tidak mengizinkannya untuk merasa menyesal akan sesuatu. Tapi dalam mimpinya, dia cenderung berpikir... seandainya dia memutar waktu krmbali dan hidup damai bersama wanita itu, rasanya pasti menyenangkan."

Moral dari ceritanya adalah dia ingin Xing Chen bisa membuat keputusan sendiri, pilihan yang tidak akan dia sesali di kemudian hari.

Xing Chen mengerti segala sesuatu pasti akan terjadi dalam hidupnya dan karena itulah dia banyak membuat kesalahan. Tapi dia merasa tidak seharusnya kita takut menyesal, hadapi perasaan kita sendiri karena kesalahan yang kita buat.

"Aku berharap orang yang mencintaiku dan orang yang kucintai akan hidup bahagia"

Meng Xi mengerti maksud Xing Chen. Tapi apa Xing Chen sungguh ingin berhenti? Lebih baik dia memikirkannya sekali lagi. Kalau cuma masalah biaya, dia bisa membantu Xing Chen. Xing Chen memiliki bakat besar, sayang sekali dia berhenti sekarang.


Tapi keputusan Xing Chen sudah bulat, dia tidak mau hidup seperti dulu. Hampir sepanjang hidupnya dia menghabiskan waktu untuk mempelajari hal-hal yang sebenarnya tidak dia inginkan hanya demi ibunya.

Dia sudah lelah hidup seperti itu, bakat yang Meng Xi sebut tadi sebenarnya adalah hasil kerja kerasnya. Jika dia meninggalkan kampus ini maka dia akan memilih hidup yang diinginkannya sendiri. Dia ingin bekerja dan menulis komik agar di masa depan nanti dia bisa jadi penulis komik.

Meng Xi akhirnya memgalah dan berjanji akan memperkenalkan Xing Chen pada sebuah studio komik. Sementara ini, dia ingin Xing Chen terus belajar dan berusaha. 

"Paman Meng Xi memang yang terbaik. Seandainya aku lahir 10 tahun lebih awal, aku pasti akan mengejarmu"

"Sekarang kau sudah dewasa tapi masih saja keras kepala"

Tapi Xing Chen sungguh tidak ingin berpisah dengan Meng Xi biarpun dia meninggalkan kampus ini. Memangnya Xing Chen mau pergi tanpa melakukan apapun? tanya Meng Xi. Tentu saja tidak, dia adalah pemeran utama dalam hidupnya sendiri dan dia bertekad untuk mendapatkan happy endingnya.

"Kau belum pergi, tapi aku sudah merindukan si gadis nakal ini"


Xing Chen berjanji akan sering berkunjung dan bersenang-senang dengan Meng Xi. Tapi ngomong-ngomong, orang yang Meng Xi bocarakan tadi adalah Meng Xi sendiri, kan? Meng Xi membenarkannya dan Xing Chen juga mengenal wanita yang dibicarakannya.

Xing Chen tahu, wanita itu pasti Xiao Xiao. Dia menyadarinya saat memperhatikan cara Meng Xi menatap Xiao Xiao, terlihat jelas bagaimana Meng Xi sangat mengagumi Xiao Xiao.

"Tuan Putri kecilku sudah dewasa rupanya"

"Apa kau menyesalinya?"

"Itulah hidup. Kau harus melepaskan sesuatu demi mendapatkan yang lainnya. Sekali kau membuat keputusan, kau tidak bisa menariknya kembali. Saat aku melihatnya di dalam mimpiku, aku merasa sangat bahagia"

"Paman Meng Xi, kuberitahu kau suatu rahasia. Jika seorang wanita bilang kalau dia membencimu, itu artinya dia sangat mencintaimu. Jika dia bilang kalau dia tidak mau melihatmu, dia sebenarnya ingin kau menemuinya. Jadi selama ini Xiao Xiao berbohong padamu. Sayang sekali dia rela melepaskan pria baik untuk wanita lain"


Malam harinya saat Xiao Xiao baru saja menutup toko, dia mendapati Meng Xi sudah menunggunya dan memberitahunya tentang apa yang dikatakan Xing Chen padanya tadi.

Dia datang untuk memastikan kebenaran ucapan gadis yang mengatakan itu. Xiao Xiao menyuruhnya untuk mencari jawabannya ke gadis itu saja dan jangan mengganggunya.

Dia hendak pergi tapi Meng Xi langsung menariknya kedalam peukannya dan menolak melepaskannya seperti yang pernah dia lakukan dulu.

Xiao Xiao awalnya berusaha memberontak sebelum akhirnya menyerah dan memutuskan untuk memberi Meng Xi kesempatan sekali lagi, tapi dengan syarat kalau Meng Xi harus mengganti masa 9 tahun perpisahan mereka.


Bos Preman mabuk, stres memikirkan kegagalan usahanya untuk mendapatkan Nyonya Chen. Sama sekali tidak bisa mengerti kenapa Nyonya Chen tidak memilihnya padahal suaminya itu sudah mati sementara dia bisa memberikan segalanya. Daniel mendengarkan segalanya dan memutuskan untuk melakukan sesuatu demi bosnya itu.


Yang Yang masuk ke ruang latihan dan mendapati Xing Chen hendak berlatih biola seorang diri. Dia merasa teringat hubungannya dengan Xing Chen selama ini.

Daniel muncul dari belakangnya dan bertanya apakah Yang Yang tidak tahu bagaimana cara meminta maaf pada Xing Chen. Dia mengklaim kalau dia juga merasa bersalah dan punya ide bagus.


Mempercayai ucapan Daniel, Yang Yang membawa Xing Chen ke tempat sepi dan mengaku ada orang lain selain dia yang mau minta maaf pada Xing Chen. Daniel muncul saat itu dengan penampilan premannya dan langsung mengejar Xing Chen.


Semua anggota orkestra sudah berkumpul di ruang latihan. Nian Yu mencoba menghubungi Xing Chen, tapi tentu saja tak ada jawaban. Yang Yang tiba-tiba datang dengan panik dan memberitahu semua orang tentang apa yang terjadi pada Xing Chen.

Yang Yang lalu membawa para pria ke tempat dia membawa Xing Chen tadi dan di sanalah Nian Yu menemukan ponselnya Xing Chen yang terjatuh.


Daniel menyekap Xing Chen di sebuah bekas bangunan kosong. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya Daniel inginkan, percuma kalau dia menginginkan uang karena bisnis keluarganya sudah bangkrut.

Daniel mengayun-ayunkan pisau ke depan muka Xing Chen dan menyuruh Xing Chen untuk menelepon Nyonya Chen dan menyuruhnya untuk menikah dengan Bos Preman. Hanya setelah Xing Chen melakukannya, dia akan akan melepaskan Xing Chen.

"Dia tidak akan mempercayaiku."

"Dia akan mempercayaimu. Jika tidak, akan kupotong satu jarimu dan kukirimkan padanya."

Xing Chen terus berusaha membujuk Daniel dan mengingatkannya akan hukuman yang akan diterimanya karena melakukan kejahatan ini. Tapi Daniel sama sekali tidak gentar dan memaksa Xing Chen untuk melakukan perintahnya.

Xing Chen bersikeras kalau Nyonya Chen tidak akan mempercayainya, lagi pula Nyonya Chen tidak peduli padanya. Bahkan sekalipun terjadi sesuatu padanya, Nyonya Chen tetap tidak akan peduli. Dia juga tidak ingat nomor teleponnya kok. Daniel dengan santainya mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor telepon Nyonya Chen lalu memaksa Xing Chen bicara.


Chu Yao bertekad menemukan Xing Chen apapun yang terjadi dan berniat mengumpulkan bala bantuan sebanyak mungkin.

Tapi Nian Yu melarangnya, takut hal itu malah membuat Daniel jadi semakin marah dan membahayakan Xing Chen. Lebih baik mereka berhati-hati.

Chu Yao jadi makin emosi mendengarnya, lalu mereka harus bagaimana? Masa mereka harus diam dan menunggu terus?

Nian Yu yakin kalau Xing Chen pasti akan menemukan cara untuk menghubungi mereka. Lebih baik mereka tenang dan menunggu.


Daniel berulang kali mencoba menelepon Nyonya Chen tanpa hasil. Xing Chen pun terus berusaha membujuknya untuk menghentikan usahanya daripada dia membuat baterei ponselnya lowbet. Tapi saat itu juga, tiba-tiba Xing Chen kepikiran sebuah ide.

Dia langsung mengubah taktiknya dan merengek lapar. Saat Daniel mengacuhkannya, Xing Chen mengancam kalau dia tidak dikasih makan maka dia tidak akan membiarkan Daniel menelepon Nyonya Chen. Bahkan jika Nyonya Chen mengangkat teleponnya maka dia akan membuat Nyonya Chen menutup teleponnya.

Daniel tahu sendiri bagaimana sifat diva-nya, dia bersumpah akan melawan Daniel habis-habisan kalau Daniel tidak memberinya makan.

Kesal, Daniel terpaksa menurutinya. Tapi saat dia mau beli ayam goreng, Xing Chen menuntut makanan lain.


Di depan toko komik, terlihat dua Beruang sedang bagi-bagi poster ke para pengunjung. Daniel datang tak lama kemudian pakai kacamata hitam untuk membeli pesanan Xing Chen yang ternyata memesan french fries dan komik Love Hina. Daniel sampai malu sendiri saat harus menyebut komik itu.


Dia langsung pergi begitu mendapatkan semua pesanan Xing Chen tanpa menyadari kedua Beruang yang mengawasinya sedari tadi, tentu saja kedua beruang itu adalah Nian Yu dan Chu Yao. Mereka pun bergegas ganti baju dan bergabung bersama Zhou Wei  dan Qing Fan untuk membuntuti Daniel.


Sementara itu, Xing Chen berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari ikatannya. Nian Yu cs membuntuti Daniel sampai ke tempat penyekapannya. Chu Yao cemas karena mereka cuma berempat.

Nian Yu berkata kalau dia akan mengikuti Daniel sementara Chu Yao dia perintahkan memanggil polisi. Yang lain dia suruh berjaga di sana. Chu Yao mau ikut, lagipula dia sudah menelepon polisi kok tadi.

"Kau pintar dan cerdas," puji Nian Yu


Xing Chen berhasil melepaskan ikatannya saat Daniel berjalan masuk. Tapi tiba-tiba dia seperti merasakan kehadiran orang lain di belakangnya. Dia menoleh tapi sepertinya tak ada siapa-siapa. Saat Nian Yu mengintip keadaan, Daniel sudah berjalan lagi.

Chu Yao memberi Nian Yu isyarat. Tapi Nian Yu tidak mengerti isyaratnya. Entah apakah Daniel mendengar suara mereka, tiba-tiba dia langsung lari ke tempat dia menyekap Xing Chen.


Xing Chen hendak melarikan diri saat dia mendengar suara berisik dari luar. panik. dia langsung  berlari ke arah lain. Gara-gara sibuk berkomunikasi dengan isyarat, Nian Yu dan Chu Yao tak melihat saat Daniel lari.

Bersambung ke part 2

0 komentar

Post a Comment