Sinopsis The Eternal Love Season 2 Episode 5 - 2

 Sinopsis The Eternal Love Season 2 Episode 5 - 2

Selir Dugu terburu-buru menemui Jenderal Wei dan menuntut penjelasannya atas kegagalannya di area berburu. Jenderal Wei melapor kalau itu terjadi karena ada seorang penyusup. Dia menduga kalau orang itu adalah Liu Shang, penasihat barunya Lian Cheng.


Selir Dugu pernah mendengar orang bernama Liu Shang itu. Kabarnya dia sangat jenius. Kalau sekarang dia bekerja untuk Lian Cheng, berarti Lian Cheng akan menjadi ancaman besar bagi mereka.


Kepala Pelayan sedang ngamuk-ngamuk mengomeli seorang pelayan bawahannya yang tidak becus mengurus bunga-bunganya. Liu Shang datang saat itu. Loh, Kepala Pelayan pikir kalau dia mau pindah ke sini beberapa hari lagi, kok dia datang sekarang?

"Ada hal penting yang harus kubicarakan dengan pangeran, apa dia ada?"

Sayangnya, Liu Shang datang di saat yang tidak tepat. Baru beberapa menit yang lalu Lian Cheng keluar. Sesuai saran Liu Shang, Lian Cheng pergi ke Gunung Yumen untuk menyembuhkan luka Lian Cheng.

Oh, begitu. Liu Shang tampaknya tidak mempermasalahkan hal itu dan mendadak mengalihkan perhatian Kepala Pelayan ke bunga-bunganya yang layu. Kepala Pelayan sontak mewek meratapi bunga-bunganya dan saat itulah Liu Shang diam-diam mengendap pergi dari sana, membiarkan Kepala Pelayan nyerocos sendiri.


Selir Dugu tak mau tahu, pokoknya Jenderal Wei harus memikirkan solusinya secepat mungkin. Jenderal Wei rencana, mereka bisa memanfaatkan seseorang.

"Kita bisa memanfaatkan Pangeran Yi Huai untuk menyingkirkan Pangeran Lian Cheng."

Yi Huai dan Tan Er adalah kekasih sejak kecil, mereka sangat dekat. Tapi sekarang Tan Er menjadi pelayan di kediaman Lian Cheng. Mereka bisa memanfaatkan Tan Er untuk menabur perselisihan di antara kedua pangeran itu.

Saat itu tiba, mereka hanya perlu duduk dan menikmati pertarungan antara kedua pangeran itu. Begitu Lian Cheng jatuh, mereka hanya membersihkan kekacauannya. Setelah itu, Dong Yue akan menjadi milik Selir Dugu.

Rencana yang bagus, Selir Dugu senang. "Panggil Qu Pan Er!" Perintahnya.


Tak lama kemudian, Pan Er datang menemui Tan Er di kediaman Pangeran ke-8. Biarpun Pan Er tersenyum manis padanya, tapi Tan Er menatapnya dengan curiga. Apalagi Jing Xin bilang kalau Pan Er sering menindas Tan Er, kedatangannya hari ini pasti bukan dengan maksud baik.

"Apa yang membawamu kemari?" Ketus Xiao Tan.

"Kita kan saudara, tentu saja aku datang kemari untuk mengunjungimu. Kudengar kau hidup dengan baik kediaman Pangeran ke-8 sampai menjadi pejabat wanita."

"Tentu saja. Aku Qu Xiao Tan, aku bisa dengan mudahnya naik jabatan."

Pan Er mengklaim kalau Selir Dugu juga memperlakukannya dengan baik lalu dengan sengaja memperlihatkan sebuah gelang giok berwarna orange pada Xiao Tan. Itu adalah hadiah pemberian Selir Dugu.


Mata Xiao Tan langsung berkilat-kilat melihat benda berharga itu. Dia bahkan langsung mengulurkan kedua tangan untuk mengambil gelang itu dan mengamatinya, gelang ini pasti sangat berharga dilihat dari warna dan coraknya.

Sebenarnya tidak baik membanding-bandingkan, tapi... "Kenapa kita tidak memiliki majikan sebaik ini sih?" Gerutu Xiao Tan.

Xiao Tan lalu mengulurkan gelang itu kembali ke Pan Er. Tapi Pan Er sengaja tidak memegangnya dengan benar sehingga gelang itu langsung jatuh dan patah begitu Xiao Tan melepaskannya.


Pan Er langsung heboh teriak-teriak menyalahkan Xiao Tan. Jelas saja Xiao Tan tidak terima, dia kan sudah menyerahkan gelang itu ke Pan Er, bagaimana bisa terjatuh?

Tepat saat itu juga Kepala Pelayan datang sambil martah-marah karena mendengar keributan mereka. Pan Er langsung mengaduhkan Xiao Tan ke Kepala Pelayan dan menuduh Xiao Tan mematahkan gelangnya Selir Dugu.

Kepala Pelayan mempercayainya begitu saja dan langsung mengomeli Xiao Tan, dia harus dihukum.

Tidak terima, Xiao Tan memikirkan kembali kejadian tadi dan akhirnya sadar kalau Pan Er sengaja melepaskan gelang itu dari pegangannya. Qu Pan Er menjebaknya.

"Kau menjebakku!" Kesal Xiao Tan.

Pan Er ngotot menuduh Xiao Tan tidak mau mengakui kesalahannya. "Hari ini akan kuberi kau pelajaran!"


Pan Er sontak mengayunkan tangan untuk menampar Xiao Tan, tapi tiba-tiba seseorang menangkap tangannya dan mendorongnya sampai dia tersungkur di tanah. Dan orang itu tak lain adalah Lian Cheng.

Hmm, kayaknya dia Lian Cheng modern deh dilihat dari reaksinya yang tampak sangat murka. Dengan penuh amarah dia mengingatkan Pan Er bahwa ini adalah kediamannya, jadi Pan Er tidak punya hak menghukum siapapun di tempat ini.

"Qu Tan Er adalah pengawas wanita di kediamanku. Dia pelayanku. Kalau kau berani menyentuhnya lagi, aku tidak akan mengampunimu dengan mudah."

 

Pan Er mengaduh kalau Xiao Tan mematahkan gelangnya Selir Dugu, jadi dia harus dihukum. Mendengar itu, Lian Cheng memperhatikan gelang patah itu dan langsung bisa menyadari kalau patahan gelang itu sangat rapi yang jelas menunjukkan kalau gelang ini bukan patah secara alami.

"Sepertinya ini dipatahkan dengan sengaja. Kalau kau setuju, aku bisa memerintahkan ahli giok di istana untuk memeriksanya. Akan tetapi, begitu kebenarannya terungkap, kau akan dituduh bersalah atas tuduhan fitnah."

Pan Er yang sedari tadi gelisah mendengar ucapan Lian Cheng, sontak bersujud sambil mengklaim kalau dia hanya bercanda saja. Mungkin saja dia sendiri yang mematahkan gelang itu, bukan salah Tan Er kok.

Tan Er tak percaya mendengarnya. "Dasar perempuan hina! Berani sekali kau memfitnahku! Apa kau punya hati nurani?!"

Lian Cheng memutuskan untuk mengampuni Pan Er dan mengakhiri masalah ini sampai di sini. Tapi jika sekali lagi Pan Er datang dengan niat licik dan menindas pelayannya lagi, Lian Cheng tidak akan memaafkannya dengan mudah.


"Kuperingatkan kau. Jika kau memilih untuk membantu orang lain lebih daaripada adikmu sendiri, maka kau akan mendapat masalah besar di kemudian hari."

Dia lalu mengalihkan omelannya ke Kepala Pelayan. Sebagai Kepala Pelayan, seharusnya dia menjaga penghinu rumah ini dengan baik. Jika dia menghukum pengawas wanita tanpa menyelidiki kebenarannya dulu, berarti dia tidak pantas menjadi seorang kepala pelayan.

"Sampaikan perintahku. Semua orang di kediaman ini harus menghormati Qu Tan Er dan memperlakukannya dengan baik," titah Lian Cheng lalu mengusir Pan Er.

Xiao Tan masih dendam dan hampir saja mengejarnya, tapi Lian Cheng dengan cepat menyuruh Xiao Tan untuk ikut dengannya.


Lian Cheng membawa Xiao Tan masuak ke kamarnya. Perhatian Lian Cheng langsung tertuju ke ranjang antik itu, ranjang penuh kenangan dengan Xiao Tan yang dulu dan kontan membuat senyumannya mengembang teringat momen-momen indah mereka. Xiao Tan heran melihatnya senyam-senyum gaje, dia lagi jatuh cinta apa?


Lian Cheng lalu bergerak ke tempat ganti baju dan menyuruh Xiao Tan untuk membantunya. Dia bahkan langsung merentangnya tangannya (minta dipeluk?). Xiao Tan menatapnya dengan bingung.

"Lepaskan sabukku." Perintah Lian Cheng.

Xiao Tan mendekat dengan ragu-ragu dan agak sedikit menjauhkan tubuhnya biar tidak terlalu nempel saat dia melingkarkan lengannya ke pinggang Lian Cheng dan berusaha meraba-raba ujung sabuknya.


Tapi Lian Cheng dengan liciknya memanfaatkan saat itu untuk menarik Xiao Tan ke dalam dekapannya lalu menci*mnya tanpa permisi.

Saking kagetnya, Xiao Tan terdiam cukup lama dan membiar Lian Cheng menci*mnya sebelum akhirnya kesadarannya kembali. Xiao Tan kontan mendorongnya dan melayangkan tangan untuk menamparnya.

Tapi belum sempat dia menampar, Lian Cheng dengan cepat mengingatkan Xiao Tan akan statusnya. Berani sekali Xiao Tan mau menampar seorang pangeran dan bersikap tidak sopan padanya.

"Baj*ngan! Berani sekali kau menciumku! Tapi... ci*mannya hebat juga. Sebenarnya aku lumayan menikmatinya juga," batin Xiao Tan.


"Apa ada pria yang kau sukai? Apa dia sudah menyatakan perasaannya padamu?" Tanya Lian Cheng yang keheranan memperhatikan Xiao Tan mendadak senyam-senyum.

Xiao Tan bingung, apa Lian Cheng sedang berusaha menggodanya? Hmm, sungguh tak disangka, rupanya dia masih sangat menarik bagi pria.

Dia mengiyakan pertanyaan Lian Cheng, memang ada seorang pria yang mendekatinya dan menyatakan perasaan padanya. Hanya saja, dia sendiri masih ragu dengan perasaannya.

Kayaknya pria yang dia maksud adalah Lian Cheng modern, tapi Lian Cheng tidak nyambung maksudnya dan langsung cemburu. Apa pria itu tampan?

"Teramat sangat tampan. Aku akan memberinya rating 9/10. Tapi... dia tidak setampan Pangeran. Kalau anda ratingnya 10/10."

Lian Cheng senang mendengarnya. Tapi tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda dari depan, Lian Cheng kuno sudah pulang, Lian Cheng modern pun buru-buru mengusir Xiao Tan lalu bergegas keluar dari sana.
Tapi terlebih dulu dia memperingatkan Xiao Tan bahwa hari ini dan seterusnya, jangan pernah ungkit-ungkit pertemuan mereka hari ini di hadapan dirinya. Jika tidak, maka Xiao Tan akan dihukum. Xiao Tan mengiyakannya saja biarpun bingung.


Malam harinya, mengumpulkan para pelayan lalu mulai meramal peruntungan cinta mereka berdasarkan zodiak masing-masing yang kontan saja membuat para wanita itu heboh rebutan meminta diramal duluan.

Saat Jing Xin datang, Xiao Tan meramalkan kalau Jing Xin akan menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarganya kelak. Dia lalu mengalihkan perhatiannya pada pelayan lainnya, memberikan ramalan untuk mereka sambil menasehati mereka tentang apa-apa saja yang harus mereka lakukan biar cepat dapat jodoh.

Jing Xin senang dengan situasi ini. Alangkah bagusnya kalau mereka bisa bersenang-senang seperti ini setiap hari, sayangnya Kepala Pelayan tidak akan membiarkannya. Ngomong-ngomong tentang dia, bagaimana peruntungan Kepala Pelayan menurut Xiao Tan?

"Kepala Pelayan? Dia bukan termasuk dalam 12 zodiak, dia punya zodiak sendiri, namanya Brengs*k." Ujar Xiao Tan yang kontan mengundang tawa semua pelayan.


Jing Xin setuju dengannya. Eh, Xiao Tan ingat tidak tentang pria yang pernah mereka kerjai waktu mereka masih kecil? Mereka menarih cabe di gelas teh anak itu. Bocah itu sangat marah sampai dia teriak-teriak lama sekali.

Xiao Tan jelas tidak mengerti apa maksudnya. "Kau ini bicara apa?" Bingung Xiao Tan lalu kembali fokus ke sesi ramalannya. Jing Xin heran mendengarnya, kenapa Xiao Tan tidak ingat hal yang terjadi di masa lalu?


Lian Cheng menemui Liu Shang dan memberitahu Liu Shang untuk memberitahu pelayan saja kalau dia butuh apa-apa. Liu Shang berterima kasih, tapi dia tidak punya orang yang bisa membantunya mengatur kamarnya, jadi dia ingin meminjam pengawas wanitanya Lian Cheng untuk membantunya. Bolehkah?

"Kenapa dia memilih Qu Tan Er secara khusus? Apa tujuannya di balik semua ini?" Batin Lian Cheng.

"Yang Mulia, walaupun Qu Jing Lian (Ayah Tan Er) telah diasingkan, tapi situasi politik sulit diprediksi. Pengwas wanita ini adalah putri kedua Qu Jiang Lin. Aku ingin menanyainya tentang masalah Qu Jiang Lin. Kita perlu membuat rencana di muka." Ujar Liu Shang usai membaca pikiran Lian Cheng.

"Kenapa dia bisa selalu membaca pikiranku?" Heran Lian Cheng (soalnya dia itu kamuuuuuu)

Lian Cheng terlalu sibuk melamun sampai Liu Shang harus mengeraskan nada suaranya dan menegur Lian Cheng. Apa Lian Cheng menyetujui permintaannya? Lian Cheng setuju, nanti dia akana menginstruksikan Tan Er.

Liu Shang berterima kasih sembari memperingatkan Lian Cheng bahwa Selir Dugu dan Jenderal Wei tidak akan menyerah semudah itu. Jadi setiap kali Lian Cheng keluar, dia harus mempunyai tindakan pencegahan.

"Terima kasih. Kau luar biasa pintar. Tapi kuharap kau juga akan setia," ancam Lian Cheng.

Bersambung ke episode 6

Post a Comment

0 Comments