Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 12 - 1

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 12 - 1

Alih-alih istirahat, Wei Yi malah sibuk baca buku. Tapi saat Mo Mo mau masuk, dia langsung menyembunyikan bukunya.


Mo Mo menyodorkan termometer padanya lalu pergi tak peduli biarpun Wei Yi memintanya untuk tinggal. Dia baru kembali sepuluh menit kemudian dan melihat demamnya Wei Yi sangat tinggi.

"Kita harus ke rumah sakit."

Seketika itu pula Wei Yi mendadak berubah jadi anak kecil yang ngotot tidak mau pergi ke rumah sakit dan langsung mengubur dirinya di dalam selimut rapat-rapat. Mo Mo sampai kesal dibuatnya. Tapi belum sempat memaksa Wei Yi lebih jauh, bel pintu tiba-tiba berbunyi.


Kedatangan Fu Pei benar-benar membuat suasana jadi canggung. Mo Mo sampai kesal sama Shan Shan, ngapain dia bawa Fu Pei kemari? Shan Shan beralasan kalau dia hanya butuh seseorang untuk membantunya.

"Apa kau sudah membeli kulit jeruk kering?"

"Katanya kau yang mau beli dalam perjalanan kemari?"

Oh yah, Shan Shan lupa. Demi membantu mendekatkan mereka, Shan Shan akhirnya berinisiatif menyuruh Mo Mo dan Fu Pei untuk pergi membeli kulit jeruk kering bersama.

Mo Mo menolak dan langsung pergi sendiri. Shan Shan pun langsung mendorong Fu Pei untuk pergi menyusulnya padahal dia sendiri tampak sedih begitu Fu Pei pergi.


Di tengah jalan, Mo Mo ditelpon ibunya Wei Yi yang cemaas menanyakan kondisi putranya soalnya putranya itu biasanya gampang sakit pada pergantian musim seperti ini.

"Dia demam tapi menolak pergi ke rumah sakit."

Ibu kontan cemas dan panik. "bagaimana suhu tbuhnya? Apa dia demam tinggi?"

"38,3 celcius."

Ibu malah lega mendengarnya. Soalnya dulu Wei Yi pernah demam sampai 39 derajat celcius, jaditidak masalah kalau cuma 38 derajat celcius. Mo Mo beri saja dia obat dan biarkan dia beristirahat, nanti juga dia pasti akan sembuh.

Tetap saja Mo Mo cemas dan berusaha meminta Ibu untuk membujuk Wei Yi ke rumah sakit. Tapi Ibu malah memberitahu kalau Wei Yi itu ternyata takut disuntik, makanya dia tidak pernah pergi ke rumah sakit.

Pokoknya Ibu tidak mau memaksanya. Putranya itu menakutkan kalau lagi marah. Mo Mo juga jangan membuatnya marah. Baiklah, Mo Mo akhirnya menurutinya.

Padahal begitu dia menutup teleponnya, Mo Mo berkomentar kalau Wei Yi itu sama sekali tidak menakutkan kalau lagi marah, dia cuma kelihatan tidak ramah saja.


Berusaha mencairkan suasana, Fu Pei langsung saja nimbrung mengomentari Wei Yi yang takut disuntaik lalu membahas tentang kenangan disuntik saat mereka SMA. Dulu ada seorang pria gendut yang berdiri di hadapan Mo Mo lalu pingsan menimpa Mo Mo saking takutnya disuntik.

Mo Mo dengan dinginnya mengingatkan bahwa yang berdiri di depannya adalah Fu Pei dan Fu Pei langsung melarikan diri saat pria itu pingsan makanya pria itu terjatuh menimpanya.

Fu Pei jadi semakin canggung mendengarnya. "Tapi aku membantu mengangkatnya kan."

"Omong kosong. Kau cuma ketawa dari kejauhan. Fu Pei, aku sudah tidak punya perasaan apapun terhadapmu."

"Aku tahu."

"Baguslah kalau kau tahu."

"Tentu saja aku tahu, kau memperlakukanku bak hantu."

"Mending melihat hantu daripada melihatmu."

"Si Tu Mo, bisakah kita kembali ke masa lalu?"


Tapi ucapannya kontan membuat Mo Mo emosi. Kenapa Fu Pei ingin melakukan itu? Apa mereka bahkan memiliki kenangan indah di masa lalu?

"Fu Pei, apa kau menyukai Wang Shan?"

"Aku... tidak tahu."

Mo Mo tak percaya mendengarnya. "Pergilah ke neraka!"


Saat Mo Mo sampai rumah, cuma ada Wei Yi yang menyambutnya dengan muka manyun. Dia bahkan menolak disentuh Mo Mo yang ingin mengecek demamnya.
Di mana Shan Shan?

"Sudah pulang."

"Secepat itu? Padahal aku ingin bicara dengannya."

"Tentang apa?"

Mo Mo buru-buru beralih topik mengajak Wei Yi masak bubur bersama. Tapi Wei Yi nggak mood dan langsung beranjak bangkit. Tapi sebelum itu, dengan dinginnya dia memperingatkan Mo Mo.

"Si Tu Mo, lain kali kalau kau membawa teman pulang, beritahu aku dulu."


Keesokan harinya, Mo Mo membuatkan bubur untuk Wei Yi. Tapi Wei Yi masih belum keluar juga dari kamarnya. Mo Mo akhirnya masuk ke kamarnya dan dengan takut-takut meminta Wei Yi untuk mengecek demamnya. Tapi Wei Yi masih dingin seperti kemarin dan menolak.

"Aku sudah membuatkan bubur, apa kau mau makan? Atau mau kubawakan kemari?"

"Nggak usah, makasih." Tolak Wei Yi lalu keluar.


Mo Mo tetap setia menunggunya sampai dia keluar dari kamar mandi dan akhirnya memakan buburnya. Dia mencoba menanyakan pendapat Wei Yi tentang rasanya, tapi Wei Yi lagi-lagi hanya menjawabnya dengan singkat.

"Apa kau mau ke lab hari ini?"

"Tidak."

"Aku hari ini libur. Kau mau makan apa untuk siang nanti? Akan kumasakkan."

"Tidak usah, aku akan pesan dari luar saja."

Wei Yi dengan cepat menghabiskan buburnya, mencuci mangkoknya, lalu masuk kamar lagi. Mo Mo lama-lama jadi kesal dengan jawabannya yang singkat dan dingin itu.

"Birkan saja seniormu saja yang merawatmu!" Gerutu Mo Mo.


Hari ini Fu Pei akan mengikuti ujian CET4 lagi. Tapi dia tidak tampak bersemangat teringat pertanyaan Mo Mo tentang perasaannya terhadap Shan Shan.

Dia bahkan hampir mau menyerah saja, tapi Shan Shan tiba-tiba muncul saat itu seolah tahu kalau Fu Pei mungkin akan menyerah. Dia mengingatkan Fu Pei kalau dia sudah berusaha keras untuk mengajari Fu Pei, jadi dia harap Fu Pei tidak akan mengecewakannya.

Fu Pei ingin bicara, tapi Shan Shan dengan cepat menyela dan menyuruhnya masuk ke ruang ujiannya. Dia bahkan membekali Fu Pei dengan peralatan tulis yang dia butuhkan.

Fu Pei akhirnya menurutinya, tapi dia ingin mereka bicara setelah ujian selesai. Tepat saat itu juga, pengawas ujian tiba-tiba berteriak menyuruh peserta ujian untuk masuk secepatnya.

"Masuklah. Cek ulang semuanya dengan benar, jangan terburu-buru atau mengumpulkannya sebelum tenggat waktu. Aku akan menunggu di luar."

"Kau seperti ibuku saja."

Fu Pei benar-benar mengerjakan ujiannya dengan serius, bahkan mengecek ulang segalanya dengan benar seperti nasehat Shan Shan.


Mo Mo mulai mencobai semua jus jeruk berbagai macam merek itu sambil mencoba membuat suara-suara gaduh untuk menarik perhatin Wei Yi.... tepat saat Wei Yi mendadak keluar dari kamar hanya untuk mengambil air minum lalu masuk lagi dan mengacuhkan Mo Mo.

Mo Mo sampai eneg setelah mencobai semua jus jeruk itu saat tiba-tiba bel pintu berbunyi. Mo Mo mengira kalau Wei Yi benar-benar memesan food delivery, tapi saat dia membuka pintu yang datang malah Yu Yin lagi.


Dia beralasan kalau dia mewakili rekan satu timnya untuk menjenguk Wei Yi sekalian membawakan paketnya Wei Yi yang dikirim ke kampus. Baru juga Mo Mo mau memanggilnya, Wei Yi keluar saat itu juga... dan melewati Mo Mo begitu saja demi menyambut Yu Yin dengan ramah.


Saat Wei Yi membuka paketnya yang ternyata mikroskop, Mo Mo dan Yu Yin kontan bertanya-tanya penasaran tentang benda itu. Tapi Wei Yi mengacuhkan pertanyaan Mo Mo dan menjawab Yu Yin seorang.

Mo Mo jelas sakit hati dan cemburu melihat keakraban mereka. Saking emosinya, dia sampai membanting gelasnya lalu masuk ke kamar mandi dengan kesal.


Saat Mo Mo keluar tak lama kemudian, cuma ada Yu Yin di ruang tamu. Di mana Wei Yi? Yu Yin berkata kalau Wei Yi sedang ganti baju, mereka mau makan di luar, apa Mo Mo mau ikut?

Belum sempat dia menjawab, Wei Yi keluar kamar saat itu juga, masih dengan wajah cemberutnya. Mo Mo terpaksa menolak ajakan Yu Yin padahal dia sebenarnya lapar.

Bersambung ke part 2

1 komentar: