Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 17 - 1

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 17 - 1

Saat Shan Shan sudah terlelap, Wei Yi dan Mo Mo sama-sama tidak bisa tidur memikirkan satu sama lain.


Wei Yi akhirnya keluar kamar dan membuka kulkas untuk minum bir... saat tiba-tiba saja Mo Mo muncul dan menegurnya. Wei Yi sontak kaget sampai tak sengaja menumpahkan birnya ke lanatai.

Heran melihatnya, Mo Mo maju mendekat tapi malah terpeleset tumpahan bir dan hampir saja terjatuh kalau saja Wei Yi tidak sigap menangkapnya lalu berputar-putar dengan romantis... sampai akhirnya dia mengunci Mo Mo di antara dirinya dan kulkas. Wei Yi lalu mendekat dan menci~m mesra Mo Mo.


Tak lama kemudian, keduanya duduk di sofa dengan canggung. Mo Mo tiba-tiba mengelus lehernya dan mengaku kalau dia kedinginan. Wei Yi berniat mau menutup balkon saja, tapi Mo Mo dengan cepat menghentikannya dan menegaskan kalau dia kedinginan bukan karena balkon terbuka... melainkan karena dia kelamaan berdiri di depan kulkas. Wkwkwk!

Mereka jadi sama-sama canggung lagi gara-gara itu. Wei Yi penasaran apakah Shan Shan akan balik ke kampus besok? Mo Mo tidak yakin, apalagi Shan Shan lagi tengkar sama Fu Pei.

"Kalau begitu, aku akan menyuruh Fu Pei untuk menjemputnya."

"Apa pantas melakukan itu?"


Tapi tak lama kemudian, mereka sama-sama gugup menanti Fu Pei mengangkat teleponnya. Fu Pei masih ngantuk saat mengangkat teleponnya. Mo Mo berusaha menjelaskan permasalahannya lebih dulu, tapi Wei Yi malah to the point menyuruh Fu Pei untuk menjemput Shan Shan besok pagi-pagi sekali lalu menutup teleponnya begitu saja.

Mo Mo kesal, "tidak bisakah kau bijak sedikit?"

"Aku sudah bijak."

"Itu kau sebut bijak? Di mana sisi kebijaksanaannya?"

"Teman wanitamu berada di rumahku, nyebelin."


Mo Mo baru bangun saat Shan Shan sudah selesai mengepak semua kebutuhan ujiannya. Dia bahkan sudah membelikan sarapan untuk mereka.

Tapi saat Mo Mo ingin mengetuk pintu kamar Wei Yi tak lama kemudian, dia mendadak ragu. Mending tidak usah membangunkan Wei Yi deh. Mungkin dia masih tidur.

Shan Shan yakin tidak. Soalnya waktu dia keluar beli sarapan tadi, dia melihat Wei Yi lagi minum di ruang tamu. Tetap saja Mo Mo ragu, Wei Yi hanya akan keluar dan makan kalau dia merasa lapar. Dan tepat saat itu juga, Wei Yi mendadak keluar dari kamarnya dan Mo Mo langsung sumringah melihatnya.

Mereka akhirnya duduk bersama untuk sarapan. Mo Mo seperti biasanya, ingin memakan cakwe-nya pakai tangan. Tapi Shan Shan dengan cepat memukul tangannya dan menuntutnya untuk pakai sumpit.

Tapi Wei Yi tak suka ceweknya dipukul dan langsung melempar tatapan seram ke Shan Shan. Mo Mo kesulitan memakan cakwe itu pakai sumpit, maka Wei Yi dengan manisnya menyuruh Mo Mo untuk makan pakai tangan saja.

Shan Shan penasaran apakah mereka ada rencana untuk hari ini? Wei Yi menyangkal tapi diam-diam menyenggol kaki Mo Mo dan memberi isyarat mata pada Mo Mo.


Maka Mo Mo pun mencoba menyarankan berbagai hal untuk Shan Shan lakukan biar dia segera pergi dari rumah ini. Tapi Shan Shan menolak semuanya. 

Mo Mo hampir saja patah semangat, tapi tiba-tiba saja keberuntungan mereka datang dengan sendirinya saat Shan Shan mengaku kalau hari ini dia ada ujian kelulusan.

Saking senangnya, Mo Mo dan Wei Yi sampai harus berusaha keras untuk menyembunyikan senyum mereka yang terlalu bahagia. Mo Mo bahkan mengklaim kalau dia cuma senang memikirkan Shan Shan akan segera lulus.


Tak lama kemudian, Mo Mo mengantarkan Shan Shan keluar sambil menyemangatinya untuk ujiannya nanti. Shan Shan cemas apakah jalanan dari sini nanti macet?

"Entahlah. Tapi jangan khawatir. Kau pasti akan punya waktu." Ujar Mo Mo ambigu.


Shan Shan tidak terlalu memikirkan maksud ucapannya. Tapi setibanya di luar, dia malah kaget melihat Fu Pei sudah menunggunya di sana pakai sepeda motor. Sedang apa Fu Pei di sini?

"Menjemputmu. Lagi macet sekarang. Ayo cepetan, nanti kau terlambat ujian loh."

Shan Shan menampik tangannya dan berkata kalau dia sudah memanggil taksi, padahal diam-diam dia sebenarnya senang.


Fu Pei berusaha membujuknya untuk naik motornya saja, tapi Shan Shan masih terus jual mahal dan masuk ke taksinya. Di tengah jalan, Shan Shan langsung menoleh ke belakang, mengharap Fu Pei mengejarnya, tapi malah tak melihat apa-apa. Shan Shan kecewa.


Ternyata jalan raya memang benar-benar macet parah dan sekarang Shan Shan mulai panik karena takut terlambat. Dan saat itulah, tiba-tiba saja Fu Pei muncul dan langsung memaksanya keluar, membayari taksinya, lalu menyeret Shan Shan ke motornya dan memakaikannya helm.

Shan Shan masih saja keras kepala ingin mencopot helmnya, tapi kali ini Fu Pei mengancam tidak akan mendatangi Shan Shan lagi kalau Shan Shan mengusirnya. Shan Shan akhirnya diam dan naik ke motornya.

Fu Pei senang, dia langsung melingkarkan tangan Shan Shan ke pnggangnya lalu melaju... dan berhenti tepat di gedung depan yang cuma berjarak beberapa meter. Pfft! Shan Shan sampai bingung, tempat ujiannya sedekat ini lalu buat apa Fu Pei membawanya naik motor?


"Karena aku sudah terlanjur meminjamnya. Sayang sekali kalau tidak mengantarkanmu."

"Kenapa kau meminjam motor?"

"Aku ingin kelihatan macho biar kau memaafkanku."

"Akulah yang salah."

"Oh yah, benar. Kalau begitu, aku memaafkanmu. Aku kan pria sejati."

"Makasih~~~"

"Ah sudahlah. Cepat masuk sana, kau bisa terlambat nanti. Semangat!"


Mo Mo dan Wei Yi selesai nonton film sambil gandengan tangan dan suap-suapan romantis. Tapi Mo Mo lama-lama bosan juga. Bingung harus ngapain, Wei Yi akhirnya mencoba usul agar mereka shopping atau makan.

Tapi Mo Mo menolak semuanya. Mereka sudah shopping kemarin dan mereka juga sudah menghabiskan puluhan snack selama nonton film barusan.

Wei Yi tambah bingung harus bagaimana lagi. Mo Mo mendadak punya ide, bagaimana kalau mereka keluar dan berolahraga?

"Aku tidak suka olahraga," tolak Wei Yi.


Tapi tak lama kemudian, mereka akhirnya saling berhadapan di meja tenis. Tapi Wei Yi malah usul agar mereka jalan-jalan saja, itu kan juga olahraga.

"Jangan bilang kalau kau tidak bisa main tenis meja."

Wei Yi mengklaim bisa. Tapi nyatanya, setiap kali Mo Mo memukul bola, Wei Yi selalu gagal memukul balik lalu menyalahkan meja dan betnya sebagai penyebabnya.

"Kurasa yang bermasalah adalah kemampuanmu. Kau yang bermasalah!" Kesal Mo Mo.


Wei Yi jadi ngambek sekarang. Di tengah jalan, mereka melihat sekumpulan remaja sedang main skateboard dengan begitu ahlinya. Mo Mo kontan antusias mengagumi salah satu anak yang paling cakep yang jelas saja membuat Wei Yi cemburu.

"Tentu saja kau yang paling cakep. Maksudku dia pemain skateboard yang mengagumkan." Ujar Mo Mo yang tampak benar-benar kesengsem pada si pemain skateboard itu.

Maka kemudian Wei Yi memutuskan untuk mendatangi grup skateboarder itu dan meminta mereka untuk meminjamkan skateboard-nya, dia mau coba. Mo Mo jelas cemas. Apa Wei Yi bisa, kelihatannya ini sulit dan berbahaya. Mending jangan deh.

Tapi Wei Yi dengan pedenya ceramah panjang lebar tentang pergerakan skateboarder dan hubungannya dengan ilmu fisika. Dengan berbekal ilmu teori itu, Wei Yi yakin kalau dia bisa melakukannya dengan mudah lalu mulai menaiki skateboard-nya... dan hampir saja terjatuh. Wkwkwk! Malunya.

Tapi seperti biasanya, Wei Yi dengan penuh harga diri beralasan bahwa teori dan praktek itu sangat berbeda. Mo Mo cuma bisa tersenyum geli melihat kelakuannya.


Mereka akhirnya pulang dan sekarang saatnya mereka harus berpisah ke kamar masing-masing. Mereka enggan berpisah, tapi akhirnya mereka harus mengucap selamat malam pada satu sama lain lalu masuk kamar... dan keluar lagi dengan alasan malam masih belum larut.

Jadilah mereka duduk bersama dan nonton TV. Padahal sama-sama sudah ngantuk, tapi tak ada satupun yang mau mengakuinya dan berusaha bertahan melek sekuat mungkin... hingga akhirnya Mo Mo tidak tahan lagi dan jatuh tertidur di bahunya  Wei Yi.

Bersambung ke part 2

1 komentar: