Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 9 - 1

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 9 - 1

Mo Mo bersiap dengan pisau besarnya saat Wei Yi membuka pintu dan mendapati Fu Pei lah yang datang. Mo Mo jadi cemas melihat sudut bibirnya berdarah dan pipinya yang masih merah bekas tamparan ayahnya, apa dia baik-baik saja?


Fu Pei ingin bicara berdua saja dengan Mo Mo. Mo Mo setuju tanpa ragu, dia langsung menyerahkan pisau besarnya ke Wei Yi lalu bergegas keluar bersama Fu Pei.


Mereka duduk di taman. Tapi tak lama setelah itu, Mo Mo tiba-tiba saja berlari kembali ke apartemennya dengan panik seolah sedang melarikan diri dari Fu Pei.

Ah, ternyata tadi Fu Pei memeluk paksa Mo Mo, ngotot meminta Mo Mo untuk memberinya kesempatan kedua sampai Mo Mo jadi takut padanya.


Saat akhirnya dia pulang, dia malah mendapati Wei Yi berada di dapur... sedang mengasah pisau yang suaranya seram sampai Mo Mo merinding mendengarnya.

 

Wei Yi lalu memberinya sekaleng bir dan to the point tanya kenapa Fu Pei menemuinya? Mo Mo heran dengannya, biasanya Wei Yi bukan orang yang suka kepo.

"Ibuku memintaku untuk menjagamu." Alasan Wei Yi

"Memangnya ibuku membayarmu?"

"Iya... bayar uang sewa. Apa yang kalian berdua lakukan di luar?"

Flashback.


Awalnya Fu Pei cuma diam saja, tapi akhirnya dia mengaku terus terang kalau dia ingin bersama Mo Mo. Dia bahkan langsung nembak Mo Mo, tapi dia bahkan tidak menatap mata Mo Mo dan terus menundukkan kepalanya.

Tapi Mo Mo menolak. "Kita tidak cocok."

"Kenapa? Apa kau jatuh cinta pada Gu... orang lain?"

"Tidak. Aku hanya berhenti mencintaimu."

Sakit hati, Fu Pei kontan menuduh Mo Mo sebenarnya cuma pura-pura setia di sisinya. Sebenarnya dia tidak berharga dalam hati Mo Mo kan, makanya Mo Mo bisa menyerah setiap saat.

Berusaha menahan air matanya, Mo Mo mengaku kalau dia tidak bermaksud berhenti mencintai Fu Pei secara tiba-tiba. Saat dia memberitahu Xu Jie Er kalau mereka tidak bersama, Mo Mo bahkan beralasan pada dirinya sendiri kalau Fu Pei bersikap begitu demi melindunginya.

Saat Fu Pei melepaskan tangannya di jembatan sekolah waktu itu, Mo Mo beralasan pada dirinya sendiri kalau Fu Pei hanya takut. Setiap kali Fu Pei gagal memenuhi janji-janjinya padanya, Mo Mo beralasan pada dirinya sendiri kalau Fu Pei hanya terlalua tergila-gila dengan game-nya sampai lupa.

Tapi saat Fu Pei memintanya untuk mencarikannya seorang pacar, Mo Mo tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri. Saat Fu Pei keluar dari rumahnya Wei Yi waktu itu, Mo Mo marah pada dirinya sendiri.


"Lalu hari itu, saat aku melihatmu dan Wang Shan... aku tiba-tiba menyadari kalau aku sudah tidak sedih lagi. Lebih tepatnya, aku tidak lagi merasa sedih karenamu. Aku merasa sedih karena aku menyadari bahwa akhirnya aku berhenti mencintaimu."

Dia sungguh tidak bermaksud mendadak berhenti mencintai Fu Pei, semua ini karena Fu Pei selalu melarikan diri dan meninggalkannya sendirian.


Mo Mo langsung beranjak bangkit, tapi Fu Pei tiba-tiba memeluknya paksa dan ngotot meminta Mo Mo untuk memberinya kesempatan kedua. Dia janji akan berubah.

Malah saat Mo Mo menegaskan sekali lagi kalau dia sudah tidak lagi mencintai Fu Pei, Fu Pei malah mau menci*mnya paksa. Kontan saja Mo Mo refleks mendorongnya lalu melarikan diri.

Flashback.

 

Wei Yi kontan meremas kaleng birnya dengan penuh emosi saat Mo Mo mengaku kalau Fu Pei tadi menyatakan cinta padanya.

"Terus?"

"Terus kami bertengkar. Aku lelah, mau tidur."

"Apa dia memukulmu?!"

"Nggak, aku yang pukul dia."

"Sungguh?"

"Sungguh."

"Kenapa kau memukulnya?"

"Karena aku menolaknya tapi dia ngoceh terus."


Wei Yi mendadak sumringah mendengarnya. Tapi dia buru-buru menormalkan ekspresi wajahnya lalu melarikan diri ke kamar. Dan begitu aman di kamar, Wei Yi kontan tersenyum lebar saking bahagianya. Hehe.

Dia santai saja main melempar-lempar kaleng birnya dan DUK! Terantuk ke hidungnya sampai berdarah, tapi tidak masalah, Wei Yi tetap bahagia.


Fu Pei kembali ke kampus dengan linglung saat tiba-tiba ponselnya berdering dari Shan Shan. Fu Pei malas mengangkatnya. Tapi setibanya di asrama pria, dia malah mendapati Shan Shan sudah menunggunya di sana.

Dia ingin menanyakan tentang tes CET4-nya Fu Pei, tapi malah cemas melihat pipi Fu Pei yang memerah. Shan Shan akhirnya membantu mengobati pipinya. Fu Pei mengaku kalau dia menyatakan cinta pada Mo Mo barusan, tapi Mo Mo menolaknya.

"Sudah kuduga. Apa dia yang memukulmu?"


"Tidak. Ayahku lah yang memukulku. Tidak masalah, dia sering memukulku sejak aku masih kecil. Ini cuma luka kecil. Mungkin karena aku menyebalkan sejak kecil. Sekarang Mo Mo juga tidak menyukaiku lagi."

"Bagaimana jika aku bilang kalau aku menyukaimu?" Aku Shan Shan. "Berilah aku kesempatan untuk tinggal di sisimu."

Shan Shan tahu kalau Fu Pei masih menyukai Mo Mo, tapi dia rela menunggunya. Tapi Fu Pei menolak, walaupun dia kelihatan tinggi dan kuat, tapi dia sebenarnya penakut. Saat menghadapi suatu keadaan yang canggung, dia cenderung melarikan diri.

Fu Pei tidak tahu bagaimana caranya menolak wanita. Makanya semua orang bilang kalau dia ini plin-plan. Dan sekarang dia bahkan tak tahu apa yang harus dia lakukan tentang hubungannya dengan Mo Mo.

"Aku tidak pantas untukmu."

Tapi Shan Shan tak peduli, ini adalah keputusannya. Dia tidak berpikir kalau Fu Pei penakut kok. Saat Fu Pei menyelematkannya di kedai waktu itu, dia tidak merasa Fu Pei itu penakut.

Dia tahu kalau Fu Pei selama ini hanya mencintai Mo Mo seorng. Tapi sekarang Mo Mo sudah tidak mencintainya lagi.

"Dan lagi, biarpun aku tidak setinggi kau, tapi aku tidak pendek. Kita sangat cocok."

Pokoknya mulai sekarang, Shan Shan akan terus menerus mengganggu Fu Pei dan takkan ada seorangapun yang bisa menghentikannya.


Hari itu di kantor, departemennya Mo Mo rapat membahas proyek iklan terbaru mereka. Klien mereka adalah sebuah perusahaan asuransi dari Amerika yang membuka cabang di China.

Sementara yang lain sibuk memberikan opini mereka, Mo Mo malah sulit fokus gara-gara Shan Shan yang nge-chat menanyakan skripsinya.

Sha Sha kurang setuju dengan ide mereka dan menginginan ide-ide kreatif yang baru, dan Li Na sontak membentak Mo Mo untuk memberikan opininya.

Walaupun tadinya kurang fokus, tapi Mo Mo dengan lancarnya mengutarakan ide-idenya. Karena ini asuransi, dia berpendapat agar mereka menakut-nakuti konsumen saja.

Semisal kecelakaan tak terduga yang bisa terjadi kapan saja. Dan tentang keuntungan asuransi, konsumen tetap akan mendapatkan keuntungan baik terjadi kecelakaan atau tidak.

Kalau begitu, Sha Sha memutuskan untuk memerintahkan mereka untuk membuat 3 proposal sebelum hari senin depan.


Begitu rapat usai, Mo Mo langsung menelepon Shan Shan yang mengabarkan bahwa dosbing mereka marah-marah karena mereka belum mengumpulkan skripsi mereka. Makanya Shan Shan menyuruh balik ke kampus buat ngumpulin skripsi mereka. Selain itu, ada yang mau Shan Shan bicarakan juga dengannya.

"Apa? Misterius sekali."

"Kita bicara nanti saat bertemu."

Mo Mo lalu minta izin Li Na untuk izin absen kerja nanti siang soalnya dia mau ngumpulin skripsi. Li Na tampak kurang senang, tapi dia tetap mengizinkan. Tapi dia mengingatkan Mo Mo untuk tidak kebanyakan absen, dia dan Jie Er sama-sama magang tapi Jie Er jarang minta absen.


Saat mereka tiba di toko percetakan, mereka malah mendapati tempat itu ramai banget hingga terpaksa mereka harus antri. Oh yah, terus apa yang mau Shan Shan omongin tadi? Tapi Shan Shan bersikeras nanti saja ngomongin masalah itu.

"Baiklah. Tapi format skripsiku seharusnya tidak ada masalah, kan?"

"Seharusnya ada." Wei Yi mendadak nimbrung.

"Bisa tidak kau berhenti menggodaku!"

"Kau libur hari ini?"


"Aku mau nyetak skripsiku. Bagaimana denganmu, kukira kau ada penelitian di kampus lama."

"Aku ada urusan di sini." Bohong Wei Yi.

Hmm, ternyata dia nggak bilang ke Mo Mo kalau penelitiannya udah pindah ke kampus baru. Dia kan janjinya akan tinggal di rumah itu hanya sampai penelitiannya di kampus lama selesai, makanya dia bohong biar bisa tinggal sama Mo Mo terus.

Wei Yi lalu buru-buru beralih topik mengenalkan Yu Yin pada Mo Mo. Mo Mo masih ingat padanya. Yu Yin juga ingat kalau dia pacarnya Wei Yi, kan? Shan Shan kaget mendengarnya, Mo Mo pacarnya Wei Yi?

"Bagaimana kau tahu?" Heran Wei Yi seolah memang benar Mo Mo itu pacarnya.

Mo Mo yang panik buru-buru menjelaskan kalau ini cuma kesalahpahaman. Waktu itu dia cuma ingin membantu Wei Yi bergabung ke dalam penelitiannya Prof Jiang, makanya dia berbohong kalau dia adalah pacarnya Wei Yi.

Mo Mo santai saja mengucap semua itu tanpa menyadari Wei Yi yang sama sekali tidak senang mendengarnya. Tapi tentu saja fakta itu membuat Yu Yin jadi senang.

"Giliranmu! Cetak skripsimu!" Ketus Wei Yi.


Selesai mencetak dan membayar, Mo Mo mau memanggil Wei Yi tapi malah mendapatinya akrab sama Yu Yin dan itu mendadak membuatnya sedih.

Dia bahkan terus tertunduk sedih sepanjang jalan, Shan Shan sampai geli melihat ekspresinya. Cepat-cepat mengalihkan topik, Mo Mo tanya apa sebenarnya yang ingin Shan Shan katakan padanya?

Bersambung ke part 2

2 komentar: