Wednesday, April 24, 2019

Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 5 - 2

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 5 - 2

Keesokan harinya, suasana rumah ribut bukan main gara-gara Ibu berusaha keras membangunkan Mo Mo tapi Mo Mo malah heboh jejeritan tidak mau bangun. Wei Yi sampai terbangun gara-gara mendengar keributan mereka.


Tak lama kemudian mereka semua berkumpul untuk sarapan bersama. Ibu dan anak itu terus saja berdebat, kali ini tentang makanan. Wei Yi geli melihat interaksi mereka.


Di kampus, pulpennya Yu Yin tiba-tiba mati. Dia langsung minta pinjam pulpen ke Wei Yi. Saat Wei Yi membuka tasnya, dia mendapati sebungkus kacang kenari yang kontan membuatnya teringat pada Mo Mo.

Flashback.


Tadi mereka jalan ke kampus bersama, Mo Mo menggerutui pekerjaannya yang susah banget. Kepalanya hampir pecah mengerjakan semua angka-angka dan perhitungan itu.

"Makanlah lebih banyak kacang kenari. Ibumu bilang kalau itu bagus untuk otakmu."

Oh, ngomong-ngomong tentang kacang itu, Mo Mo baru ingat kalau tadi ibunya nitip kacang itu untuk diberikan ke Wei Yi. Dia harus banyak-banyak makan kacang ini biar tambah pintar.

Flashback end.


Wei Yi tersenyum mengingat ucapan Mo Mo itu. Zhou Lei seperti biasanya, mengkritiki apapun yang dilakukan Wei Yi, apalagi saat dia melihat Wei Yi mengeluarkan kacang itu. Ngapain dia bawa kacang ke lab? Profesional dikit dong!

Tapi saat Wei Yi memberikan sedikit untuk Yu Yin, Zhou Lei malah minta juga. Wei Yi balas nyinyir, profesional dikit dong, tidak boleh bawa makanan ke lab.


Saat Prof Jiang kembali tak lama kemudian, dia malah mendapati ketiga muridnya bukannya mengerjakan penelitian mereka malah main-main dengan kacang kenari. Ia bahkan mendapati Wei Yi membrowsing cara memecah kacang kenari dengan benar.

Terang saja Prof Jiang jadi marah dan langsung mengomel menceramahi mereka. Bisa-bisanya mereka main-main dengan peralatan penilitian mereka. Sepertinya dia terlalu lunak terhadap mereka.

Dia memang sering bercanda biar bisa dekat dengan mereka, tapi dalam masalah penelitian, dia selalu serius. Karena itulah, dia berharap mereka juga bisa melakukan hal yang sama. Mereka benar-benar sangat mengecewakannya hari ini.

"Maafkan saya, Prof." Sesal Wei Yi.

"Kuharap murid-muridku selalu serius dan fokus dalam penelitian. Mengerti? Ulangi penelitian kalian."


Mo Mo menyerahkan laporan keuangan ke atasannya saat tiba-tiba si atasan memberinya sebuah poster lowongan kerja bagi advertiser yang kontan saja membuat Mo Mo antusias. Kalau poster itu ditempel di universitasnya Mo Mo, apa dia akan tertarik? Tanya si atasan.

"Tentu saja."


Shan Shan sedang berusaha mengajari Fu Pei, tapi Fu Pei cepat bosan dan langsung mengeluh minta istirahat. Dia kan sudah 2 jam belajar. Bagaimana kalau mereka mencari Mo Mo?

"Kau baru belajar 2 jam. Dan selama 2 jam itu, sudah berapa kali kau menyebut-nybut ingin bersenang-senang?"

"Ah, udahlah. Aku berhenti saja!"

Begini saja. Jika Fu Pei bisa menghapal 40 kata yang dia ajarkan, maka Shan Shan akan membawanya pergi menemui Mo Mo, bagaimana? Fu Pei mendadak semangat, oke!


Pulang malam harinya, Mo Mo kecapekan dan langsung roboh ke sofa. Ibu malah ngomel-ngomel melihat tingkahnya yang nggak ada anggun-anggunnya sama sekali.

"Bersikaplah seperti wanita. Kalau Xiao Gu melihatmu seperti ini, dia tidak akan tertarik padamu."

"Bodo amat."

Tapi begitu Wei Yi datang sedetik kemudian, Mo Mo mendadak menegakkan badn dan duduk dengan anggun. Wkwkwk! Ibu sampai geli melihatnya.


Ibu lalu menyuruhnya untuk masuk kamar dan melipat jemurannya lalu berusaha mempromosikan putrinya itu pada Wei Yi dengan mengklaim kalau Mo Mo pintar mengerjakan pekerjaan rumah tangga dll, tapi Mo Mo malah teriak menyangkal omongan Ibu. Pfft!

Canggung, Ibu akhirnya meminta Wei Yi untuk membantunya mencuci sayur. Tapi Wei Yi malah mencuci sayurnya lebay banget sampai setiap sudut sayurnya dia cuci sampai Ibu harus cepat-cepat menghentikannya biar dia tidak terlalu banyak buang-buang air.


Begini saja, Wei Yi bantu Ibu potong wortel saja, potong kotak-kotak ukuran sekitar satu senti lah.  Tapi saat Mo Mo keluar kamar tak lama kemudian, dia malah mendapati Wei Yi memotong wortelnya pakai penggaris. Wkwkwk!

"Yang bener aja!"

"Aku cuma ingin membuatnya sama rata."

"Perlu kucarikan microskrop sekalian?"

Ibu malah langsung membela Wei Yi. Wei Yi itu seorang peneliti, wajar lah dia melakukan ini. Seharusnya dia menghormati calon pilar negara ini. Mo Mo iyain aja deh.


Usai makan malam, Ibu memotong buah untuk mereka sementara muda-mudi itu sibuk sendiri-sendiri. Mo Mo sibuk dengan kerjaannya dan Wei Yi sibuk membaca dengan memakai kacamata tebal.

Mo Mo penasaran, apa dia rabuh jauh? Wei Yi membenarkan. Terus kenapa Wei Yi tidak pakai kacamata sehari-harinya? Karena refleksi cahaya kacamata bisa mempengaruhi penglihatan saat mengecek microskop.

"Sepertinya kau sangat menyukai fisika."

"Kalau tidak suka, ngapain kulakukan?"

Mo Mo sontak tertohok mendengar ucapannya itu. Prihatin melihat kedua muda-mudi itu terlalu serius bekerja, Ibu mendadak punya usul mengajak mereka keluar biar mereka melihat dan menikmati kehidupan bahagia para tetua.


Dan kehidupan bahagia para tetua yang dimaksud Ibu itu ternyata main mahjong. Wei Qing sampai heran, bagaimana bisa ibunya Mo Mo mengetahui adanya tempat ini di daerah ini?

"Emak-emak biasanya punya radar untuk hal-hal seperti ini. Sulit dijelaskan." Bisik Mo Mo.

"Tapi aku tidak tahu cara memainkannya."

"Tidak masalah, akan kuajari. Susun tile-nya."

Wei Yi mencoba meniru mereka menyusun tile mahjong-nya, tapi gagal. Dia bahkan cuma bengong menatap mereka bolak-balik sementara para tetua heboh memainkan mahjong mereka dengan berbagai macam istilah-istilahnya dan memberikan uang pada siapapun yang menang.


Mo Mo mulai cemas karena Wei Yi belum memenangkan apapun. Dia berniat mau mengambil alih saja. Tapi tiba-tiba saja Wei Yi mengklaim kalau dia sudah bisa.

Ah, ternyata dia diam doang bukan cuma bengong tapi mempelajari segalanya dalam diam. Bahkan sekarang dia dengan cepat memutar balikkan bak seolah ahli.

Permainan mereka bahkan langsung jadi pusat perhatian para tetua lainnya. Wei Yi terus-menerus memenangkan permainan sampai kedua tetua lainnya jadi ngambek dan berhenti bermain.

Para tetua lainnya benar-benar kagum dengan Wei Yi. Ibu Mo Mo langsung membangga-banggakannya bak anaknya sendiri. "Dia ini ilmuwan. Kalian bermain dengan mengandalkan keberuntungan, dia bermain dengan mengandalkan otak."

Wei Yi memenangkan uang cukup banyak, tapi dia memberikan semuanya untuk Mo Mo.


Begitu kembali ke rumah, Mo Mo memberikan semua uang hasil mahjong itu ke Ibu lalu lanjut mengerjakan tugasnya. Wei Yi juga berniat mau lanjut baca buku, tapi di mana bukunya? Perasaannya tadi dia meninggalkannya di meja?

Ibu menyajikan sisa bubur tadi untuk mereka lalu dengan sengaja mendorong kedua muda-mudi itu duduk berdempetan dengan alasan mau nyari majalah.

Tak sengaja ia menemukan bukunya Wei Yi tersembunyi di bantal sofa. Tapi Ibu sengaja tetap menyembunyikannya lalu mendudukinya biar kedua anak muda itu tetap duduk berdekatan. Hehe.

Canggung, Mo Mo dan Wei Yi mengalihkan perhatian dengan mengambil mangkok masing-masing tapi mereka tidak sadar kalau gerakan mereka kompak banget.

Ibu sampai geli melihat mereka. "Kalian benar-benar kompak. Orang-orang mungkin akan mengira kalau kalian sudah tinggal bersama selama bertahun-tahun."

Epilog:


Pagi itu saat Ibu dan Mo Mo ribut heboh gara-gara Mo Mo malas bangun, Ibu akhirnya mengalah lalu pergi mengecek kamarnya Wei Yi.

Wei Yi sontak pura-pura masih tidur dan menggerak-gerakkan kelopak matanya. Ibu jadi mengira kalau Wei Yi pasti lagi mimpi buruk. Tapi saat mimpi buruk saja dia terlihat sangat damai. Tidurnya sangat anggun, Mo Mo harus belajar dari Wei Yi.

Ibu bahkan langsung ingin memanggil Mo Mo saat itu juga. Wei Yi sontak bangkit seolah dia baru bangun tidur.

Bersambung ke episode 6

1 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^