Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 4 - 2

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 4 - 2

Wei Yi sedang mengepak baju-bajunya saat teman sekamarnya datang dan langsung nyerocos mengeluhkan gebetannya yang ternyata masih berhubungan dengan mantannya. Heran dia, padahal mantannya cewek itu udah nggak ada perasaan sama dia terus kenapa si cewek itu masih saja suka. Apa sih yang ada di pikiran cewek sebenarnya?


Tepat saat itu juga, Mo Mo nge-chat, minta pinjam kunci rumahnya Wei Yi soalnya kuncinya ketinggalan di rumah itu dan dia mau mengemasi barang-barangnya, dia juga meminta Wei Yi untuk tidak bilang ke siapa-siapa tentang dia tinggal di rumah We Yi. Tapi Wei Yi sepertinya masih kesal karena kejadian tadi pagi dan akhirnya malas membalasnya.


Fu Pei ternyata masih belum pergi. Sepertinya dia mau memata-matai Mo Mo saking penasarannya. Apalagi kemudian dia melihat Wei Yi dan Mo Mo bertemu di depan.

Mo Mo protes kenapa Wei Yi tidak membalas chat-nya? Wei Yi berbohong kalau ponselnya di-silent, Mo Mo tidak bawa kunci kan, ayo pergi bersama.

"Naik bis atau taksi?"

"Apa saja."

"Gu Wei Yi. Gu Wei Yi!"

"Apa lagi?!"

"Resleting kopermu tidak tertutup rapat."

"Makasih, ayo."


Mereka tiba di apartemen tanpa menyadari Fu Pei yang sedang membuntuti mereka dan shock melihat mereka masuk apartemen bersama. Pak Supir penasaran, apa gadis itu pacarnya Fu Pei?

Fu Pei menyangkal, ayo pergi saja, ke mana saja. Pak Supir jelas tidak percaya. Tapi dengan bijak ia menasehati Fu Pei untuk tidak bersedih.

Pengalamannya menjadi supir taksi selama bertahun-tahun, membuatnya bertemu bermacam-macam orang. Dulu, ia pernah mengantarkan seorang wanita yang menyuruhnya untuk menunggu di depan sementara wanita itu masuk untuk menghajar suaminya dan selingkuhan suaminya.

Tapi ternyata wanita itu cuma salah paham saja. Suaminya tidak berselingkuh, cuma suka koleksi boneka s** saja. Pfft! Mendengar itu, Fu Pei langsung meminta Pak Supir untuk balik ke sana.


Mo Mo mulai mengemasi barang-barangnya sementara Wei Yi cuma diam mengawasinya dengan muka cemberut. Mo Mo tidak tahan lagi melihatnya begitu dan langsung mengonfrontasinya, apa Wei Yi lagi marah karena sesuatu? Wei Yi menyangkal, nggak tuh.

Mo Mo tiba-tiba ingat kalau dia sudah mencuci selimut, tapi belum kering gara-gara hujan waktu itu. Akan dia jemur sekarang biar Wei Yi bisa memasangnya di kasur nanti.

Wei Yi malah menuntut Mo Mo untuk tetap di sini sampai selimut itu kering, dia tidak tahu bagaimana cara memasangnya di kasur. (Pfft! Masa sih?)

"Akan kulakukan saat aku senggang saja."

"Nggak boleh."

"Apa kau sedang mempersulitku?"

"Kalau kau tidak mau memasangnya, aku tidak bisa tidur."


Kesal, Mo Mo langsung pergi ke balkon sambil ngedumel merutuki Wei Yi. "Dasar sinting. Aku harus memukulnya, dia pasti sudah gila."

Mo Mo lalu menyuruh Wei Yi untuk membantunya memegangi ujung selimutnya biar dia bisa mengibas selimut itu. Tapi Wei Yi malah melepaskan pegangannya dan jadilah selimut terbang. Wkwkwk!

"Kenapa kau melepaskannya?!"

"Kukira kau mau memukulku." (Wkwkwk! Takut juga toh)

Mo Mo kesal dan langsung mengambil tongkat galah. Wei Yi kontan mundur mengira Mo Mo mau menghajarnya. Mo Mo sampai geli melihat reaksinya, dia tidak akan memukul Wei Yi kok. Ayo ambil selimutnya.

 

Karena selimut itu nyangkut ke pohon yang tinggi, Mo Mo menyerahkan galah itu ke Wei Yi dan menyuruh Wei Yi untuk mengambil selimut itu pakai galah, nanti dia yang tangkap.

Tapi Wei Yi juga cukup kesulitan meraihnya. Dia mencoba melompat tapi tetap gagal. Mo Mo bingung, ngapain dia melompat?

"Aku tidak cukup tinggi."

"Ooooh, begitu..." Mo Mo geli.

"Aku 187cm, tahu!"

"Masa?"

"Beneran!"

"Oke deh, abang yang tingginya 187cm tolong ambil selimutnya."


Wei Yi terus berusaha melompat lagi dan lagi... hingga akhirnya dia berhasil dan selimut itu terbang menutupi kepala Mo Mo. Wei Yi menarik selimut itu dari kepala Mo Mo tapi malah membuat Mo Mo terdorong hingga menempel ke dirinya.

Mereka begitu terpana menatap satu sama lain... saat tiba-tiba saja terdengar suara klakson dan saat itulah mereka baru menyadari kehadiran Fu Pei.


Tak lama kemudian, ketiga orang itu duduk bersama dengan tegang. Tapi Fu Pei malah sengaja mengomentari wadah buah yang kosong. Melihat wajah sedih Mo Mo, Wei Yi lah yang akhirnya angkat bicara duluan meyakinkan Fu Pei kalau ini hanya kesalahpahaman.

Tapi Fu Pei malah terus menghindari masalah ini dengan terus membahas masalah buah-buahan. Bagaimana kalau dia belikan semangka buat Mo Mo, mau? Dia bahkan bercanda dengan menjadikan wadah itu jadi topi.

Wei Yi mau pergi saja meninggalkan mereka berduaan, tapi Fu Pei malah memaksanya duduk kembali. Ini kan rumahnya Wei Yi, dia mau pergi ke mana memangnya?

"Oh, aku mengerti. Aku pasti mengganggu, kan? Aku akan pergi sebentar lagi, oke?"

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham."


Fu Pei tak percaya. Terus apa mereka mau bilang kalau mereka tidak pernah tinggal bersama, gitu? Wei Yi dan Mo Mo cuma bisa diam. Fu Pei malah terus saja bercanda dan mengalihkan topik seolah ini bukan masalah besar baginya.

Wei Yi prihatin melihat Mo Mo yang tampak jelas berusaha keras untuk tidak menangis. Fu Pei bahkan berkomentar kalau rumah ini cukup bagus untuk mereka tinggali bersama. Wei Yi mulai kesal dengan tingkah Fu Pei dan langsung membentaknya.

Fu Pei tak peduli dan terus saja nyerocos meminta mereka untuk tidak merahasiakan masalah mereka tinggal bersama ini. Bagus malah buat Wei Yi, Mo Mo gadis yang baik kok. Tapi tidak seharusnya mereka melakukan ini padanya, tidak seharusnya mereka merahasiakan masalah ini darinya, mereka kan teman dekat.


"Memangnya apa hubungan kita? Memangnya apa yang seharusnya kita lakukan sebagai teman?" Tuntut Mo Mo.

Berusaha menutupi perasaannya, Fu Pei malah berkata. "Sebagai teman, aku ingin memberitahu kalian. Si Tu Mo... Gu Wei Yi sangat cocok denganmu. Kuharap kalian berdua bahagia. Baiklah, kalau begitu, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku hampir lupa kalau aku ada pertandingan sore ini, aku pergi dulu."


Dia bersikap seolah dia ikhlas dengan hubungan mereka, padahal dia terus melamun sedih sepanjang perjalanan pulang sampai dia tidak sadar kalau dia sudah sampai ke terminal. Pertandingan basketnya bahkan sudah selesai saat dia tiba, pak pelatih sampai kesal melihatnya baru datang.


Mo Mo masih terus membeku di tempat setelah Fu Pei pergi. Wei Yi cemas melihatnya, tapi sama seperti Fu Pei, Mo Mo juga bersikap seolah dia baik-baik saja dan menghindari masalah dengan ini mengomentari wadah buah yang kosong itu, dia mau pergi beli buah, Wei Yi mau buah apa?

"Semangka."

"Semangka? Aku juga suka semangka. Akan kucuci selimutnya lagi, jadi kotor lagi."

"Si Tu Mo!"


Mo Mo langsung pergi ke kamar mandi dan memasukkan selimut itu ke mesin cuci. Tapi saking tidak fokusnya, jarinya malah terjepit pintu mesin cuci.

Wei Yi sontak masuk ke kamar mandi dengan cemas. "Sakit?"

"Sakit."

"Menangislah kalau kau mau, tidak apa-apa."

"Sakit, tapi aku tidak mau menangis."


Wei Yi mengerti dan langsung pergi meninggalkannya dengan alasan mau membelikannya hansaplas. Dan begitu Wei Yi pergi, Mo Mo langsung menangis sedih.


Mo Mo sudah tenang kembali saat Wei Yi pulang tak lama kemudian dengan membawa semangka dan hansaplas gambar doraemon.

Mereka membagi semangka itu jadi dua. Wei Yi ingin membahas masalah tadi, tapi lagi-lagi dia tidak punya kesempatan ngomong karena Mo Mo tiba-tiba melahap semangkanya dalam suapan besar. Mo Mo lapar, Wei Yi bilang apa barusan?

"Semangkamu sepertinya lebih manis."

Wei Yi memakan semangkanya sedikit dan Mo Mo langsung nyinyir, Wei Yi beneran suka semangka? Kayaknya nggak deh.

Untuk membuktikannya, Wei Yi langsung melahap semangkanya dalam suapan besar, dan jadilah kedua orang itu lomba makan semangka.

Tapi tiba-tiba Mo Mo ditelepon atasannya yang menyuruhnya datang ke perusahaan sekarang untuk menyerahkan laporannya. Mo Mo sontak melesat ke kamarnya dan Wei Yi memanfaatkan saat itu untuk mencuri sesuap semangkanya Mo Mo.

Epilog:


Setelah mengurus administrasinya Mo Mo waktu itu, Wei Yi melihat seorang gadis kecil yang sedang didandani sama ibunya. Ikat rambut anak itu kontan menarik perhatian Wei Yi.

Maka dia langsung mendatangi mereka dan meminta satu ikat rambutnya. Tapi anak itu langsung ngambek tidak mau berbagi ikat rambutnya.

Wei Yi punya cara jitu, "Akan kubayar 10 RMB."

"20 RMB." Tawar bocah itu.

"Deal!" Dan begitulah bagaimana Wei Yi mendapatkan ikat rambut itu... yang sayangnya sudah dibuang.

Bersambung ke episode 5

1 komentar: