Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 1 - 3

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 1 - 3

Tapi keesokan harinya saat Mo Mo sudah menunggu di halte bis, Fu Pei malah tidak datang-datang. Ditelepon juga tidak dijawab. Hadeh, Fu Pei! Fu Pei! Dia malah keasyikan main basket sama gengnya sampai lupa sama Mo Mo.


Karena tak bisa menunggu lagi, Mo Mo akhirnya mengirim pesan ke Fu Pei kalau dia pergi duluan, takut terlambat. Tapi bahkan sampai beberapa kemudian, Mo Mo tidak mendpat balasan apapun dari Fu Pei.

 

Mo Mo akhirnya tiba di halte bis tujuannya. Tempat itu tampak sangat sepi dan rawan. Apalagi saat Mo Mo jalan, tiba-tiba saja dia merasa ada yang aneh di belakang. Dia menoleh ke belakang dan kontan melompat mundur karena ada pesepeda yang lewat terlalu dekat dengannya.

Pesepeda itu cuma lewat, maka Mo Mo pun bisa tenang. Tapi begitu dia kehilangan kewaspadaannya, tiba-tiba muncul pencuri pakai helm yang langsung menjambret tasnya Mo Mo.

Mo Mo berusaha bertahan tapi tarikan si pencuri lebih kuat hingga Mo Mo terseret dan terjerembap ke tanah. Si pencuri berhasil mengambil tasnya lalu kabur bersama si pesepeda tadi.


Tangan Mo Mo sampai lecet dan berdarah gara-gara kejadian itu dan tidak bisa wawancara juga. Untung saja ponselnya tidak ikutan terampok. Dan untunglah saat dia menelepon pihak perusahaan, mereka mau mengerti dan bersedia mengubah jadwal interview.

 Dia mencoba menelepon Fu Pei lagi dan syukurlah kali ini teleponnya di angkat. Tapi yang bicara di seberang bukannya Fu Pei malah Mo Yi, soalnya ponselnya Fu Pei ketinggalan di asrama dan cuma Mo Yi yang ada di sana.

"Bisakah kau carikan Fu Pei?"

"Aku tidak tahu dia di mana."

Mo Mo memberitahukan keberadaannya sekarang dan kejadian yang menimpanya barusan dan meminta Mo Yi untuk menyampaikan informasi ini ke Fu Pei, dia tidak punya ongkos naik bis sekarang, ponselnya juga mau mati.

Mo Yi kontan cemas mendengarnya. Dia mencoba menelepon temannya untuk menanyakan keberadaan Fu Pei, tapi temannya juga tidak tahu di mana Fu Pei. Mo Yi terpaksa memutuskan pergi sendiri.



Dia muncul di hadapan Mo Mo tak lama kemudian dan jelas saja membuat Mo Mo bingung, kok dia yang datang? Fu Pei mana?

"Aku tidak tahu."

Mo Mo kecewa. Melihat tangannya terluka, Mo Yi tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk membantu Mo Mo bangkit, taksi sudah menunggu soalnya agak susah mencari taksi di daerah ini.


Melihat darahnya Mo Mo cukup banyak, Mo Yi langsung saja menyuruh pak supir pergi ke rumah sakit terdekat. Dia bahkan memberikan tisu pada Mo Mo untuk meambersihkan lukanya dulu.

Tapi lecet tangannya Mo Mo cukup parah sampai dia mengeryit nyeri begitu tisu itu menyentuhnya, tisu itu bahkan sampai lengket ke lukanya.

Melihat itu, Mo Yi langsung mengeluarkan tisu basah dan membantu membersihkan luka Mo Mo. Diaa benar-benar penuh perhatian dan lembut sampai membuat Mo Mo mendadak terpesona padanya... dan buru-buru mengalihkan pandangannya begitu Mo Yi kontak mata dengannya.


"Tidak parah kok, tidak perlu ke rumah sakit."

"Lebih baik ke rumah sakit."

"Aku akan mengoles obat di asrama saja."

Mo Yi ngotot dan tiba-tiba saja dia nyerocos panjang lebar tentang lukanya yang cukup parah itu dan bahayanya kalau tidak diobati dengan benar nanti bisa kena bakteri, bakteri bisa menyebabkan infeksi virus, dan konsekuensi paling buruk adalah... amputasi. (Pfft! Serem amat) Mo Mo jadi ketakutan dan meminta pak supir untuk ngebut.


Mereka tiba di rumah sakit tak lama kemudian. Karena KTP-nya Mo Mo hilang di tasnya yang dirampok, akhirnya Mo Yi yang harus mengurus administrasinya sementara Mo Mo menunggu di lobi.

Tak lama kemudian, Mo Mo melihat Mo Yi kembali... dengan membawa kursi roda. Pfft! Lebay amat. Mo Mo jadi malu bin galau antara ingin melarikan diri saja saking malunya tapi tidak bisa.

"Aku tidak mau pakai kursi roda."

Mo Yi kontan nyerocos lagi tentang konsekuensi, terpaksalah akhirnya Mo Mo harus naik ke kursi roda itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Dokter sampai cemas melihatnya pakai kursi roda, mengira lukanya Mo Mo parah banget, mungkin kena tulang atau sendinya, tapi Mo Mo malah bilang kalau lukanya cuma lecet dan kakinya keseleo.

"Terus kenapa kau pakai kursi roda? Untuk menunjukkan kasih sayangmu?" Goda Dokter (Duh, malunya Mo Mo. Wkwkwk) "Siapa namamu?"

Mereka malah menjawab barengan. "Si Tu Mo... Gu Mo Yi"

"Yang kutanyakan si pasien."

"Si Tu Mo"


Tak lama kemudian, Mo Mo berusaha keras bertahan saat dokter mengobati lukanya yang pastinya nyeri banget. Selesai mengobatinya, Dokter memberikan resep obatnya ke Mo Yi sambil memberikan berbagai nasehat pada Mo Mo tentang merawat lukanya.

Dan Mo Yi lagi-lagi menyuruh Mo Mo baik kursi rodanya. Mo Mo malu dan berusaha meminta Mo Yi menyingkirkan benda itu, tapi Mo Yi ngotot.

"Kau tidak perlu malu, itu fasilitas rumah sakit. Kalian boleh memakainya kadang-kadang... untuk menunjukkan kasih sayang kalian dan romantis." (Pfft! Dokternya lucu deh)

Terpaksalah Mo Mo harus naik kursi itu lagi. Parahnya lagi, dia malah jadi dilihatin pasien lainnya. Malunya!


Tiba-tiba Fu Pei muncul dan langsung mencemaskannya, apalagi melihat Mo Mo duduk di kursi roda, dia jadi mengira lukanya Mo Mo parah banget. Mo Mo dan Mo Yi meyakinkan kalu ini cuma luka kecil.

Fu Pei berterima kasih atas bantuan Mo Yi, nanti akan dia traktir Mo Yi deh. Mo Yi pulang saja, serahkan sisanya padanya. Dia langsung mengambil alih kursi rodanya Mo Mo dan tanya mereka harus ke mana sekarang?

"Menebus obat di apotek, resepnya ada di Gu Mo Yi."


Mendengar itu, Fu Pei langsung mengambil resep yang dipegang Mo Yi... lalu pergi sendiri mencari apoteknya dan meninggalkan Mo Mo lagi di tengah-tengah lobi (Hadeh! dibawa dong itu pasiennya, gimana sih? *tepokjidat*)

Mo Mo bahkan tidak tahu bagaimana cara mengendarai alat itu. Untung saja Mo Yi belum pergi dan dia langsung membantu mendorongnya.

"Kenapa kami selalu memiliki frekuensi yang berbeda? Mungkin tidak seharusnya aku berharap." Batin Mo Mo sedih melihat Fu Pei yang pergi meninggalkannya.


Mo Yi diam saja, tapi dia memperhatikan Mo Mo menundukkan kepala dalam-dalam lalu setetes air mata mengalir ke mapnya. Tanpa mengatakan apapun, dia langsung saja melempar tisu ke pangkuan Mo Mo.

"Aku tidak menangis."

"Untuk menghapus keringatmu."

Epilog:


Pasca kejadian menghilangkan pembalutnya Mo Mo itu, Mo Yi pergi ke supermarket dan mendatangi rak khusus pembalut. Wkwkwk! Untung saja tempat itu sepi.

Mo Yi celingukan untuk memastikan keadaan aman, dia mengulurkan tangan untuk mengambila satu... saat tiba-tiba saja muncul seorang sales yang menduga kalau Mo Yi pasti beli buat pacarnya, merek jenis apa yang disukai pacarnya?

"Saya... tidak ingat."

Oh, tidak masalah. Si sales langsung saja menunjukkan papan contoh berbagai jenis pembalut, dia bahkan antusias menyuruh Mo Yi untuk memegangnya. Wkwkwk! Terang saja Mo Yi jadi tambah kagok dan buru-buru melarikan diri.

Bersambung ke episode 2

4 komentar: