Sinopsis You Are My Hero Episode 39

Mi Ka tak sengaja bertubrukan dengan polisi yang sedang menyamar di mini market, mengintai seorang penjahat botak yang membawa sebuah tas besar. 

Tapi si polisi memang terlalu kentara dalam tindakannya sehingga si botak mencurigainya. Mi Ka memperhatikan si penjahat itu mengawasi si polisi, tapi kemudian dia tidak terlalu memikirkannya lagi.

Si kapten polisi menyadari anak buahnya sudah ketahuan dan langsung memerintahkan anak buahnya itu untuk mundur, digantikan polisi lainnya. Dari dalam mobil, mereka melihat si penjahat menyeberang jalan menuju terminal bis dengan diikuti si polisi.

Si penjahat membeli tiket menuju Changgang... tempat yang sama dengan yang dituju Mi Ka. Hadeh! Sial banget sih Mi Ka bertemu penjahat terus.

Mi Ka ada di barisan antrian di belakang si penjahat botak saat Ke Lei meneleponnya. Ke Lei mengira kalau Mi Ka akan datang besok dan ingin menjemputnya. Tapi Mi Ka yang ingin memberinya kejutan, sengaja tidak mengaku kalau dia berangkat hari ini dan menolak dijemput. Tanpa dia ketahui, Ke Lei sendiri sebenarnya sedang menuju ke sana.

Bis penuh penumpang saat itu. Kapten polisi mengingatkan anak buahnya untuk memastikan target mereka yang duduk di kursi belakang tidak kabur.

Si polisi duduk di belakang si penjahat, ada kamera mini di kacamata hitamnya sehingga polisi lain bisa memantau situasi melalui itu. Mi Ka sebenarnya hampir ketinggalan bis, tapi dia ngotot memohon-mohon pada pak supir untuk mengizinkannya ikut bisnya karena dia harus tiba di Changgang hari ini juga.

Pak supir kasihan padanya dan jadilah Mi Ka duduk di kursi paling belakang. Sebenarnya kursi sebelah si penjahat botak kosong, tapi dia menolak menaikkan tasnya ke rak bagasi dengan alasan itu barang berharga dan gampang pecah.

Orang sebelahnya Mi Ka langsung mengomentari keegosian orang itu. Mi Ka tidak mempermasalahkannya, mungkin memang isi tas itu barang berharga.

Bis pun berangkat dengan diikuti para polisi. Karena perjalanannya melewati jalan pedesaaan yang tak beraspal, bis itu jadi terus berguncang sehingga Mi Ka jadi terbangun dari tidurnya.

Orang sebelahnya Mi Ka penasaran sama dia dan langsung kembali membuka obrolan, penasaran Mi Ka orang mana dan apa yang dia lakukan di daerah pedesaan seperti ini.

Mi Ka jujur mengaku dirinya dokter, tapi dia beralasan kalau dia datang ke sana untuk bekerja. Orang itu langsung sok akrab memuji-muji Mi Ka, dia bahkan langsung melafalkan Sumpah Hippokrates dengan lancar padahal dia bukan dokter.

Dia mengaku kalau dulu waktu kecil dia bercita-cita jadi dokter. Tapi kemudian dia menyerah karena dia menyadari bahwa dia tidak sanggup menjadi semulia itu. Hah? Maksudnya?

Mereka hampir sampai Kota Jiangshui, beberapa penumpang pun bersiap turun. Tapi ada satu penumpang berjaket hijau yang mengambil tasnya si penjahat botak dan Mi Ka melihat itu. Hmmm, kayaknya mereka komplotan, tapi Mi Ka tidak tahu itu, sehingga dia hanya berpikir kalau si jaket hijau itu mencuri tasnya si botak.

Dia langsung memberitahu pria kacamata di sebelahnya tentang hal itu. Pria kacamata berusaha memperingatkannya untuk tidak usah ikut campur, lagian kan dia tidak tahu apa-apa. Siapa tahu kedua orang itu saling kenal atau semacamnya.

Tapi Mi Ka tak percaya dan tak mengindahkan peringatannya, malah nekat menghampiri si jaket hijau dan mengonfrontasinya. Si polisi yang khawatir, berusaha menyingkirkan Mi Ka. Tapi Mi Ka malah tambah nekat menarik si jaket hijau hingga memperlihatkan pistol yang ada di pinggangnya.

Hadeh! Kacau! Semua penjahat yang berada di bis itu sontak beraksi mengeluarkan semua senjata mereka. (Lagian ngapain sih sok nekat ikut campur. Mereka juga pasti awalnya nggak ada niatan bikin masalah di bis, tapi jadi gini gara-gara terlanjur ketahuan. Yah tahu niatannya Mi Ka baik, tapi seharusnya dia mikir juga kalau dia bukan profesional yang terlatih dalam bidang seperti ini, perbuatannya mungkin bisa membahayakan dirinya sendiri dan penumpang lain yang nggak bersalah. Apa sekarang dia ngerasa hebat karena pacarnya SWAT? Pertama kalinya ini aku kesal sama Mi Ka)

Si polisi nekat beraksi melawan si penjahat sehingga si supirnya berani menghentikan bisnya dan langsung melarikan diri duluan. Tapi tiba-tiba seseorang menembak si polisi, dan orang itu adalah si kacamata yang ternyata pimpinan para penjahat itu. (Pantesan dia bilang kalau dia tidak mulia)

Salah satu penjahat nekat keluar, mau mengejar si supir tapi gagal berkat para polisi yang melindungi si supir. Si kacamata langsung memerintahkan para anak buahnya untuk menutup semua tirai dan sita ponsel semua orang.

Si kacamata menemukan kacamata hitamnya si polisi dan langsung tahu benda itu ada kamera mini-nya. Jadi dia langsung menghancurkan kacamata itu, menyita ponselnya dan earpiece-nya.

Karena banyaknya sandera di bis, kapten polisi langsung memerintahkan anak buahnya untuk meminta didatangkan bala bantuan tim SWAT dan petugas medis. Ke Lei pun dihubungi untuk segera membantu ke sana.

Pertarungan dengan si polisi tadi, membuat salah satu penjahat juga terluka. Si kacamata langsung memanggil Mi Ka untuk memeriksanya. Mi Ka menyarankan agar orang ini dibawa ke rumah sakit untuk dioperasi.

Mi Ka juga mengkhawatirkan si polisi, tapi si kacamata tidak terima dengan itu. Apa hanya karena si polisi orang baik, jadi Mi Ka mau menyelamatkannya duluan?

Tanpa terlihat ketakutan sedikitpun, Mi Ka mengingatkan bahwa dia dokter. Urutannya dalam menangani pasien bukan berdasarkan baik-buruknya pasien. Luka si polisi tidak terlalu dalam, lebih mudah dan lebih cepat ditangani.

Mau nantinya mereka membunuh si polisi itu atau tidak, itu bukan urusan Mi Ka. Tugasnya sebagai dokter hanya mengobatinya. Si kacamata jadi kesal juga sama keberanian Mi Ka, tapi untungnya dia tidak mempermasalahkannya lebih lanjut.

Tiba-tiba si penjahat yang terluka itu, mulai semakin parah. Mi Ka dengan cepat membebat luka si polisi untuk menghentikan pendarahannya lalu beralih memeriksa si penjahat dan sekali lagi menegaskan bahwa dia harus dibawa ke rumah sakit untuk mengeluarkan pelurunya.

Si kacamata jelas tidak mau dan menyuruh Mi Ka untuk mengoperasinya di sana saja. Mi Ka berusaha menjelaskan bahwa dia harus di CT scan dulu. Mengoperasi pasien tanpa CT scan, bisa saja menyebabkan kesalahan dalam operasi dan memperburuk kondisi si pasien. Apalagi kondisi sanitasi di tempat ini sangat buruk dan tidak ada peralatan operasi juga di sini.

Oh, jadi hanya masalah butuh peralatan operasi? Gampang! Si kacamata langsung memerintahkan Mi Ka menggunakan ponselnya si polisi untuk menghubungi kapten polisi.

Mi Ka memperkenalkan dirinya sebelum kemudian memberitahukan situasi di dalam bis dan meminta mereka untuk mengirimkan peralatan dan tenaga medis ke dalam bis. Kapten polisi bersedia menuruti permintaan mereka, tapi dia hanya meminta agar semua penumpang selamat.

"Kalau orangku mati, maka semua penumpang juga harus mati." Ancam si kacamata.

Ke Lei masih dalam perjalanan saat dia diberitahu tentang informasi terkini di dalam bis itu. Sambil menunggu, Mi Ka berusaha menghentikan pendarahan si penjahat.

Si kacamata berusaha menyemangati anak buahnya itu dan meyakinkan bahwa mereka bisa pergi setelah operasi selesai nanti. Tapi Mi Ka malah lagi-lagi cari perkara dengan mengonfrontasi si kacamata, dengan sombongnya berkata bahwa mereka tidak mungkin bisa kabur.

Si kacamata santai mengingatkan bahwa ini bukan pertama kalinya bagi mereka. Jika sampai terjadi sesuatu pada mereka, maka semua orang di sini juga akan ikut mati bersama mereka.

Ke Lei akhirnya sampai juga di lokasi. Tim medis tiba beberapa detik kemudian, membawakan semua peralatan yang diminta Dokter Mi. Nama itu jelas menarik perhatian Ke Lei. Dokter Mi? Siapa nama lengkapnya?

"Mi Ka." Ujar Kapten Polisi.

Tercengang menyadari pacarnya berada di dalam bis itu, Ke Lei dengan cepat menilai situasi dan menyarankan agar mereka menunda dan melakukan penembakan di malam hari saja, menggunakan kamuflase malam untuk menyerang jarak dekat.

Dia juga berinisiatif untuk menyamar jadi dokter. Komandan awalnya tidak setuju, tapi Ke Lei meyakinkan bahwa dia mengerti ilmu kedokteran dasar yang dia pelajari dari pacarnya yang saat ini berada di dalam bis itu, Komandan akhirnya setuju juga.

Si kacamata menelepon Kapten Polisi lagi, Kapten Polisi pun berusaha bernegosiasi, meminta mereka untuk melepaskan sebagian penumpang dulu. Tapi si kacamata langsung mematikan teleponnya.

Dengan memanfaatkan alasan operasi itu, Mi Ka juga berusaha meminta si kacamata untuk melepaskan sebagian sandera. Operasi akan terlalu sulit dilakukan dalam keadaan penuh sesak begini.

Dan lagi, dia mengingatkan bahwa si pasien tidak melakukan CT scan. Jika sampai selaput parunya terluka atau pembunuh darahnya pecah, maka dia tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari 20 menit. Lagipula apa bedanya sandera 50 orang atau 20 orang?

Dan negosiasinya Mi Ka berhasil juga. Si kacamata akhirnya bersedia melepaskan sebagian sandera, tapi hanya satu dokter yang boleh masuk ke sana.

Mi Ka lalu beralih memeriksa seorang anak kecil yang sakit. Awalnya ibunya memang mau menuju ke rumah sakit. Mi Ka dengan cepat memeriksanya dan menanganinya. Sementara itu, Ke Lei sudah siap dengan penyamarannya dan langsung berangkat menuju bis itu.

Ke Lei akhirnya masuk ke bis itu. Seperti yang sudah bisa dia duga, dia digeledah lebih dulu. Keduanya langsung kontak mata. Bahkan saat dia masih memakai maskernya, Mi Ka langsung bisa mengenalinya.

Mi Ka begitu tercengang hingga dia tak sengaja melepaskan botol air yang dipegangnya. Dia buru-buru beralasan pada si kacamata bahwa dia belum makan siang, makanya dia lemas.

Si kacamata cuma butuh peralatan medis itu dan langsung mengusir Ke Lei. Tapi Ke Lei menolak dengan alasan mau membantu Mi Ka melakukan operasinya.

Tapi sikapnya terlalu santai tanpa terlihat ketakutan sedikitpun sehingga membuat si kacamata jadi curiga kalau dia adalah polisi. Ke Lei menyangkal dan berusaha meyakinkan kalau dia dokter. Dan dia datang dengan sukarela.

Si kacamata langsung sinis. Mulia sekali dia. Eh, dia dan Dokter Mi serasi loh. Bagaimana kalau mereka kenalan dulu? Terpaksa menurut, Ke Lei dan Mi Ka pun salaman dan berkenalan seolah mereka baru pertama kali saling mengenal.

Si kacamata masih curiga. Maka dia sengaja mengetes Ke Lei dengan menyuruh Ke Lei untuk menyebutkan tentang jenis-jenis gunting medis. Untungnya Ke Lei dulu pernah belajar tentang peralatan medis dari Mi Ka, jadi dia bisa menyebutkan semuanya dengan benar.

Bahkan saat si kacamata mengklaim bahwa Ke Lei salah sebut salah satu jenis gunting medis, Ke Lei santai menegaskan bahwa dia tidak salah dan menjelaskan beda kedua jenis gunting.

Mi Ka dengan cepat menyela, mengingatkan si kacamata untuk tidak kebanyakan tanya-tanya atau adiknya ini akan mati, dan menuntut si kacamata untuk melaksanakan janjinya melepaskan sebagian sandera.

Mi Ka dengan pedenya menyuruh para wanita dan anak-anak untuk keluar duluan. Tapi si kacamata punya rencana lain, justru wanita dan anak-anak yang harus tetap di dalam bis, sisanya boleh keluar.

Mi Ka kesal dan jadi tambah nekat menuntut si kacamata untuk melepaskan anak yang sakit ini, dia bahkan tak gentar saat si kacamata menodongkan senjata padanya. Si kacamata akhirnya menyerah juga. Tapi hanya si anak yang dia perbolehkan keluar, si ibu harus tetap di sini.

Tim SWAT yang berpencar di sekitar lokasi, melihat beberapa sandera keluar, tapi semuanya pria. Si botak khawatir saat melihat tim SWAT di luar, tapi si kacamata santai, lagipula mereka masih punya banyak sandera. Tim SWAT itu tidak bisa melihat ke dalam bis, jadi mereka tidak akan menembak.

Sementara Mi Ka dan Ke Lei bersiap melakukan operasi, si kacamata membuat tuntutan baru ke Kapten Polisi. Kali ini dia meminta sebuah mobil SUV besar, harus diantarkan dalam waktu setengah jam.

Kapten Polisi berusaha bernegosiasi, meminta mereka untuk melepaskan 10 orang lagi. Tapi si kacamata menolak. Dari para sandera itu, polisi mendapat informasi lebih detil tentang berapa banyak penjahat yang ada di dalam dan situasinya.

Kapten Polisi yakin kalau mereka minta mobil SUV karena mau kabur ke perbatasan karena tempat ini memang cukup dekat dengan perbatasan. Banyak jalan kecil di sekitar perbatasan. Itu bisa memudahkan para penjahat untuk bersembunyi.

Jadi Kapten Polisi menyarankan pada tim SWAT untuk menyelesaikan segalanya di sini saja agar tdak merepotkan. Ke Lei juga tadi menyarankan agar mereka beraksi di malam hari saja.

Karena keadaan gelap di dalam bis, jadi para penjahat itu menuntut dikirimkan genset dan lampu. Mi Ka yang melakukan operasinya, sedangkan Ke Lei hanya membantu sebisanya.

Tapi pada akhirnya Ke Lei melakukan kesalahan saat dia salah memberikan gunting yang dibutuhkan Mi Ka. Jelas saja fakta itu membuat si kacamata jadi semakin mencurigai Ke Lei.

Dia semakin curiga saat menyadari interaksi mereka yang cukup akrab dan kompak hingga dia langsung membisikkan sesuatu ke anak buahnya. Si anak buah langsung mengambil ponselnya Mi Ka.

Dan dari situlah si kacamata mengetahui hubungan mereka berkat wallpaper mesra mereka... dan mengetahui jati diri Ke Lei yang sebenarnya dari fotonya Ke Lei yang memakai seragam polisi. Jadilah Ke Lei diikat kedua tangannya.

Hari sudah petang saat si kacamata meminta mobil SUV-nya diantarkan. Tim SWAT bersembunyi di balik mobil itu untuk mendekat ke bis. Tapi karena para penjahat itu terus memantau jendela, Ke Lei pun langsung memberi kode ke Mi Ka.

Untungnya Mi Ka mengerti dan langsung melepaskan pendeteksi denyut jantung si penjahat. Dan itu berhasil mengalihkan perhatian mereka dari jendela sehingga tim SWAT bisa menyembunyikan diri di bawah bis. Mi Ka pura-pura minta maaf seolah dia tak sengaja melakukannya.

Untungnya si kacamata tidak curiga dan menyuruh salah satu anak buahnya untuk keluar mengecek mobil SUV itu. Untungnya si anak buah itu tidak melihat SWAT yang bersembunyi di bawah bis dan langsung melapor ke si kacamata bahwa mobilnya aman.

Si kacamata pun memberi berbagai instruksi pada para anak buahnya tentang apa-apa saja yang harus mereka lakukan untuk keluar dari bis yang intinya mereka akan menggunakan semua sandera sebagai tameng hidup. Dia sendiri akan memegangi Mi Ka, sementara Ke Lei disuruh jalan duluan.

Bersambung ke episode 40

Post a Comment

0 Comments