Sinopsis Prophecy of Love Episode 8 - 1

Paul sedang mengatur parkiran saat Rose meneleponnya untuk memberitahukan apa yang sedang dilihatnya. Sepertinya Phol sedang menunggu seseorang dan dia tampak gelisah, sepertinya dia tidak ingin Pat mengetahuinya.


Tepat setelah mereka selesai bicara, Paul melihat Rin baru datang. Terang saja para wartawan langsung heboh mengerubungi Rin. Phol sama sekali tak senang melihat kedatangannya, apalagi dia tidak punya kesempatan untuk bicara dengannya gara-gara para wartawan itu.

Parahnya lagi, Pat mendadak muncul dan langsung menyapa Rin dengan ramah dan ceria... sampai saat dia melihat kalung yang dipakai Rin, yang bentuknya sama persis seperti miliknya. Dia berusaha tetap sopan saat menyilahkan Rin masuk, tapi jelas saja kalung yang dipakai Rin itu membuatnya jadi tak tenang.

Tapi perhatiannya dengan cepat teralih ke parkiran dan langsung heran saat melihat si satpam yang mirip sama adiknya itu. Dia tidak terlalu yakin memang, tapi seperti biasanya, Pat dengan polosnya memberitahukan hal itu pada suaminya. Satpam itu mirip banget sama adiknya, tapi kenapa juga Paul ada di sini dan pakai pakaian sekuriti?

Pat memutuskan kalau dia pasti salah lihat, Paul kan lagi ada di Perancis sama Rose. Tapi Phol jelas memikirkan informasi itu dengan serius dan langsung memperhatikan si satpam.

Ran masih ragu-ragu setibanya di rumah. Thee dengan sabar meyakinkan takkan ada yang bisa menyakiti Ran selama dia ada di sini.

"Aku tahu tidak akan ada seorangpun yang bisa menyakitiku jika aku tidak menyakiti diriku sendiri. Karena aku terlalu mempercayai seseorang, makanya jadi begini."

"Biarkan masa lalu menjadi masa lalu. Kau bisa tinggal di sini dengan aman. Aku sendiri yang akan melindungimu."

Ibu lalu mengajak Ran masuk untuk melihat rumah yang sudah ditinggalkannya selama 5 tahun dan meyakinkan Ran untuk tidak takut pada apapun.

Tapi tetap saja saat Ran melangkah ke sana, kenangan buruk itu langsung kembali terngiang yang membuatnya jadi gelisah. Tapi dia berusaha menguasai diri dan dengan cepat beralih topik menanyakan Rose dan ibunya, apakah mereka tinggal di sini mulai sekarang?

Baru dibicarakan, Ibunya Rose baru kembali dari kebun bunga. Thee penasaran, di mana Rose? Tante Marisa jadi canggung, tak tahu bagaimana harus menjawabnya.

Di tempat acara amal, Rose berusaha cari-cari kesempatan untuk mendekati Phol yang kebetulan sedang menelepon seseorang dengan menggunakan tangan kirinya. Rose jadi bisa melihat cincin kawinnya.

Rose jadi bingung. Kalau Phol masih punya cincin kawinnya, apa mungkin pelakunya bukan Phol? Atau mungkin... dia punya cincin yang lain?

Rose terus membuntutinya... hingga dia melihat Phol bertemu diam-diam dengan Rin di belakang gedung. Phol jelas tak senang dengan kedatangan Rin dan langsung melabraknya.

"Kau tahu kalau Khun Pat akan datang ke acara ini."

"Aku tahu, makanya aku harus datang."

"Apa kau menantangku? Kau pikir aku tidak berani padamu?"

"Apa kau berpikir aku tidak berani padamu juga? Jangan takut, aku tidak akan memberitahu rahasia kita pada istrimu. Tapi kuingatkan padamu satu hal, aku bukan wanita yang bisa kau pacari secara diam-diam selamanya! Aku tidak akan menjadi gundiknya siapapun."

"Kau mengancamku?"

"Jika kau tidak menceraikan istrimu, aku akan melakukan lebih daripada mengancam." Ancam Rin lalu pergi. Untungnya mereka tidak ada yang menyadari keberadaan Rose yang diam-diam merekam perdebatan mereka.

Tak sengaja Rin bertubrukan dengan Pat yang sedang kebingungan mencari suraminya. Tapi perhatiannya dengan cepat teralih saat dia melihat kalungnya Rin yang mirip dengan kalungnya.

Baru menyadarinya juga, Rin dengan canggung beralasan bahwa mereka mungkin menyukai barang yang sama. Phol baru muncul saat itu, Pat memberitahu bahwa Tuan Wuttikorn baru saja datang.

Maka Phol langsung memanfaatkan saat itu untuk segera menjauhkan istrinya dari Rin. Pat antusias menyapa Wuttikorn dan berharap acara ini akan mengesankan bagi Wuttikorn.

"Aku juga berharap akan terkesan." Ujar Wuttikorn sambil melirik Phol penuh arti. Sayangnya Pat sama sekali tidak curiga apapun dengan makna tersembunyi dalam kalimat itu.

Saat hendak mengikuti tuannya masuk, Auay melihat Kratai dan langsung menyapanya dengan sinis. Kratai tak gentar sedikitpun dan balas menyindir Auay karena dulu Auay kan juga pernah tinggal di panti asuhan. Sekarang Auay datang ke sini, pasti dia merasa seolah pulang ke rumah.

"Kratai!"

"Biasanya aku tidak kasar pada siapapun. Tapi padamu, aku sama sekali tidak perlu bersikap sopan. Dan lagi, biarpun hari ini kau mengikuti bosmu datang kemari untuk beramal, kau tidak akan bisa mengubah kejahatan yang ada dalam dirimu."

Auay sinis mengklaim bahwa dia tidak pernah mendapat balasan yang jahat biarpun mereka semua menuduhnya orang jahat.

"Bilang sama Thee, dia pasti capek karena sekarang si peramal itu sudah kabur ke Perancis. Jadi sekarang, kesempatan untuk menjebloskanku ke dalam penjara... akan semakin sulit." Ejek Auay lalu pergi. Kratai jelas kesal mendengarnya.

Wuttikorn membuka acara dengan pidato penyambutannya yang seolah menggambarkan dirinya sebagai sosok yang dermawan dan baik hati. Pidato kedua adalah salah satu petugas yayasan yang mengumumkan tentang Guru Somphong yang masih menghilang sampai sekarang.

Thanaphol lalu dipanggil ke atas panggung untuk menyerahkan uang donasinya pada yayasan. Dan kejadian inilah yang Rose lihat dalam ramalannya dulu.

Dalam pidatonya, Thanaphol meyakinkan semua orang untuk menunggu investigasi polisi, dia meminta semua orang untuk percaya dan yakin bahwa Guru Somphong pasti akan kembali.

Mendengar segala pidato tentang Guru Somphong, Rose tiba-tiba ingat akan ramalannya saat dia hampir menjatuhkan vas bunga mawar usai memberikan donasi dulu.

Tak sengaja waktu itu dia menyentuh bunga mawarnya sehingga otomatis membuatnya mendapat penglihatan akan seseorang yang tampak dikejar-kejar di sebuah hutan, namun kemudian orang itu tertembak.

Dia ingat bahwa usai dia mendapat penglihatan itu, dia langsung menanyakan keberadaan Guru Somphong, tapi si petugas yayasan berkata bahwa Guru Somphong sedang cuti dan pulang kampung.

Dia ingat bahwa sebelum pergi, dia sempat melihat foto-foto Guru Somphong, dan orang itulah yang dia lihat dalam ramalannya.

Tiba-tiba Paul menepuk bahunya dari belakang dan mengagetkannya. Paul hanya penasaran kenapa Rose memperhatikan Phol dengan sangat serius sedari tadi. Apa yang dia pikirkan?

"Kurasa Khun Thanaphol terlibat dalam hilangkan Guru Somphong."

Rose sudah menghubungkan potongan-potongan penglihatannya, tapi nanti sajalah dia kasih tahu Paul. Tapi Paul heran, Guru Somphong itu orang baik. Dia yakin Guru Somphong tidak mungkin melakukan apapun yang bisa membuat Phol membunuhnya.

"Kecuali... dia mungkin mengetahui rahasia mereka. Makanya dia dibunuh, seperti yang kau alami sekarang ini."

Pat dengan antusias menunjukkan lukisan-lukisan yang digambar anak-anak panti pada Wuttikorn. Dan Rose terus berusaha membuntuti mereka sambil pura-pura sedang menyapu.

Tapi gara-gara dia ceroboh, seseorang jadi menabraknya. Para tamu jadi heboh karenanya dan itu sontak menarik perhatian Auay yang sepertinya mulai curiga. Tapi Rose bergegas kabur sebelum Auay sempat mengenalinya.

Acara lalu dilanjutkan dengan penampilan paduan suara anak-anak panti. Tapi alih-alih memperhatikan penampilan mereka, fokus perhatian Wuttikorn malah jatuh pada salah satu anak perempuan di panggung. (Njiiiir! Dia pedo!)

Di kantor polisi, bawahannya Chang melaporkan penyelidikannya tentang Wuttikorn, bahwa selama ini dia rutin berdonasi di yayasannya Guru Somphong.

Memang kelihatannya tidak ada yang aneh. Tapi setelah mereka melakukan penyelidikan secara mendalam, mereka menemukan informasi yang sangat aneh.

Setiap kali Tuan Wuttikorn mentransfer donasinya, ada beberapa gadis yang kemudian diadopsi. Satu hari sebelum Guru Somphong menghilang, ada seseorang yang melihatnya bertemu seorang gadis... gadis yang sama dengan yang diadopsi dari yayasan dua bulan yang lalu. Lalu setelah itu, Guru Somphong tiba-tiba menghilang.

Bahkan keberadaan gadis itu sekarang tidak jelas di mana. Mereka sudah berusaha mengontak keluarga yang mengadopsi gadis itu, tapi tidak bisa.

Bersambung ke part 2

Post a Comment

0 Comments