Sinopsis Find Me in Your Memory Episode 9 - 4

Sinopsis Find Me in Your Memory Episode 9 - 4

Jeong Hoon baru saja selesai siaran saat Tae Eun menelepon dan mengajaknya bertemu di rooftop untuk menanyakan apa sebenarnya yang terjadi pada Ha Jin. Apa dia baik-baik saja.


Jeong Hoon merasa tak enak karena lupa memberitahu Tae Eun. Belakangan ini begitu banyak hal yang terjadi. Tapi Tae Eun tidak perlu mengkhawatirkan Ha Jin. Tae Eun tahu sendiri kalau Ha Jin ceria dan kuat, dia menghadapi masalah ini dengan baik.

"Syukurlah. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."


Ha Jin bahagia banget saat membaca salah satu ucapan ultah dari penggemarnya. Tapi dia penasaran, Pewarta Lee pasti tahu kalau sebentar lagi dia ulang tahun, kan? Ha Kyung tak yakin, bagaimana bisa dia tahu tanggal lahirnya Ha Jin?

"Dia pasti bisa menemukan informasiku di internet."

"Siapa juga yang akan mencarimu di internet dan mengingat ulang tahunmu? Lagipula, kalaupun itu benar, dia pasti sudah melupakannya."

"Tidak mungkin. Tidak akan."

"Mungkin saja. Weeeek!" Tapi kemudian, Ha Kyung menyemangati Ha Jin untuk bicara saja pada Jeong Hoon dan bahas masalah ulang tahun ini dengan santai.


Jeong Hoon termenung galau di rumahnya yang gelap, teringat pengakuan Ha Jin malam itu, saat Ha Jin mengaku bahwa dia tidak akan lagi mendengarkannya dan mengucap perpisahan dengannya.

Ha Jin mengiriminya pesan saat itu, memberitahunya tentang ulang tahunnya hari rabu nanti dan mengajak Jeong Hoon makan malam bersama. Dia tidak perlu hadiah kok.

Apa Jeong Hoon ada waktu sebelum siaran beritanya? Tapi Jeong Hoon masih galau dengan perasaannya dan akhirnya memutuskan untuk tidak membalas pesannya, lalu menyimpan fotonya Ha Jin dan Seo Yeon kembali ke laci.
 
Setelah beberapa saat berfota ria bersama Ha Kyung, Ha Jin mulai bingung karena masih belum juga mendapat balasan dari Jeong Hoon. Apa dia sudah tidur?


Malam itu, Ha Jian lagi-lagi memimpikan kenangannya bersama Seo Yeon di studio balet saat Seo Yeon membaca tentang teori hidup sederhana seperti menghitung 5 sampai 6 sehingga mereka bisa selesai menghitung dengan hanya dua jempol.

Mimpi kecelakaan motornya juga mulai semakin jelas. Malam itu dia dan Seo Yeon ketemuan di suatu jalan. Tapi tiba-tiba Ha Jin melihat seorang pengendara sepeda motor dari arah berlawanan yang sepertinya sedang kesulitan mengendalikan motornya sehingga dia melaju terlalu kencang tepat ke arah Seo Yeon.

Ha Jin sontak panik berlari untuk menyelamatkan Seo Yeon. Dia berhasil mendorong Seo Yeon sehingga membuat dirinya sendiri tertabrak motor sampai dia pingsan.


Ha Jin tersentak bangun dari mimpi itu dengan napas terengah-engah. Ha Kyung sampai cemas melihatnya, apa dia mimpi buruk? Tapi Ha Jin masih terlalu gelisah sampai tak bisa berkata-kata.


Keesokan paginya, Jeong Hoon tak sengaja melihat fotonya Ha Jin di iklan lipstik di koran pagi yang dibacanya. Ayahnya menelepon lagi saat itu, memintanya untuk datang.

Jeong Hoon akhirnya datang juga tak lama kemudian. Ayah pun langsung menyerahkan kotak itu padanya. Isinya ternyata mainan-mainan masa kecil Jeong Hoon yang selama ini disimpan mendiang Ibu. Mainan-mainan yang menyimpan banyak kenangan indah masa kecilnya bersama Ibu. Di dalam kotak itu juga ada sepucuk surat yang ditulis Ibu sebelum beliau meninggal dunia.

Jeong Hoon-ah. Meskipun seluruh dunia tak tahu, tapi kau pasti tahu bahwa kotak ini adalah peti harta karun Ibu. Momen berharga yang kau berikan sudah cukup untuk mengisi kotak itu sampai tumpah.

Ibu menyayangi mereka bak permata. Jadi Jeong Hoon-ah, Ibu harap kau tidak akan pernah sedikitpun meragukan Ibu saat Ibu menulis bahwa Ibu sangat bahagia memilikimu sebagai putra Ibu.

Jeong Hoon-ah, berjanjilah pada Ibu. Berjanjilah jika kau menemukan sesuatu yang berharga, kau tidak akan ragu untuk mengejarnya. Ibu sungguh berharap kau akan bahagia. Bukan demi orang lain, tapi demi dirimu sendiri.

Ha Kyung masih galau gara-gara mimpinya semalam. Ha Kyung benar-benar penasaran dengan mimpinya, tapi Ha Jin menolak memberitahukan detilnya dan berkata kalau dia hanya mimpi aneh.

Tapi Ha Kyung cemaas. Kalau Ha Jin tidak baik-baik saja, sebaiknya mereka batalkan saja pemotretan hari ini. Ha Jin menolak, mereka sudha menundanya sekali, tidak mungkin dibatalkan lagi.

"Itu tidak penting, kau lebih penting." Ujae Ha Kyung, mendadak merasa keren gara-gara ucapan bijaknya itu.

"Tapi kita tetap harus pergi."

Ha Kyung setuju. Menjaga keselamatannya memang penting, tapi dia bisa lebih berenergi jika dia beraktifitas di luar. Ayo bersiap.


Dia melakukan pemotretannya dengan profesional. Tapi saat dia rehat, dia kembali gelisah memikirkan mimpinya. Mimpi itu terasa begitu nyata hingga dia yakin kalau itu bukan sekedar mimpi belaka. Dia lalu mencoba mencari artikel tentang kecelakaan motor tahun 2011 di Yangcheon, tapi hasilnya nihil.
 

Berkat surat ibunya itu, Jeong Hoon akhirnya mulai yakin dan mantap dengan perasaannya hingga dia memutuskan untuk menelepon Ha Jin saat itu juga. Ha Jin di mana sekarang? Apa mereka bicara sekarang?

"Aku sedang pemotretan, aku ada waktau sekarang. Kau sendiri sedang ada di mana sekarang?"

"Aku sedang keluar sebentar. Kemarin aku tidak membalas pesanmu, ma..."

"Tunggu! Kau mau bilang apa? Kau tidak akan bilang 'maafkan aku', bukan?"

Jeong Hoon tersenyum mendengarnya. "Aku punya waktu luang hari rabu. Ayo makan malam bersama. Kuharap pemotretanmu lancar. Hati-hatai di jalan. Beritahu aku saat kau sudah sampai rumah."

Ha Jin bahagia. "Baiklah. Aku akan melakukannya."

 

Tapi saat Jeong Hoon sampai rumah tak lama kemudian, tiba-tiba saja dia merasa ada yang aneh. Memang tampaknya tidak ada apa-apa, tapi mata tajam Jeong Hoon tak bisa dibohongi dan dengan cepat dia melihat laci raknya agak sedikit terbuka... Laci tempat dia menaruh fotonya Ha Jin dan Seo Yeon dan sekarang foto itu menghilang. (Si penguntit masuk rumahnya? Kok bisa?)


Saat Ha Jin hendak pulang, Bu Park tiba-tiba datang. Dia ingin mentaktir mereka makan, anggap saja ini pesta ultahnya Ha Jin, Bu Park akan membelikan apa saja yang ingin Ha Jin makan.

Kalau begitu, Ha Kyung mau ambil mobil dulu. Tapi saat Ha Kyung ke parkiran, dia hampir saja tertabrak oleh sebuah mobil van yang melaju terlalu kencang. Dan baru sedetik kemudian, Ha Kyung sadar kalau mobil van barusan adalah mobil mereka yang mendadak menghilang dari tempatnya. OMG! Itu si penguntit.

Ha Kyung sontak panik mengejarnya sambil berusaha menelepon Ha Jin, tapi tidak diangkat. Iish! Sial! Parahnya lagi, Bu Park mendadak telepon saat itu, jadi dia menyuruh Ha Jin masuk duluan.

Tanpa curiga apapun, Ha Jin memutuskan santai saja masuk duluan ke mobil van itu, dan seketika itu pula si penguntit menyerangnya dan membungkus kepalanya dengan kain hitam lalu bergegas membawanya pergi.


Jeong Hoon menelepon saat itu, tapi si penguntit dengan cepat mematikan ponselnya. Bu Park jelas bingung melihat mobil van itu pergi duluan. Ha Kyung baru muncul saat itu dan langsung teriak-teriak menyuruh para pengawal mengejar mobil itu, tapi tentu saja terlambat.

Tak bisa menelepon Ha Jin, Jeong Hoon pun menelepon Ha Kyung tapi malah diberitahu kalau Ha Jin baru saja diculik.

Bersambung ke episode 10

2 komentar: