Sinopsis Lucky's First Love Episode 5 - 3

Sinopsis Lucky's First Love Episode 5 - 3

Usai main, Xing Yun cs pergi ke sebuah toko buku. Xing Yun ingin membelikan sebuah hadiah untuk Chu Nan. Saat mereka hendak membayar, beberapa kasir merekomendasikan sebuah kuil untuk mereka kunjungi.


Tempat itu selain pemandangannya indah, juga terkenal membuat harapan banyak orang terkabul. Bahkan banyak orang yang memberikan kain sutra sebagai wujud terima kasih mereka karena harapan-harapan mereka terkabulkan. Terang saja ketiga wanita itu langsung sepakat untuk pergi ke kuil itu.


Di bis, Xia Ke mendengar Dong Dong menggosip tentang seorang wanita yang baru pertama kali jatuh cinta dan nekat terjun dari ketinggian hanya demi balikan sama mantannya.

Para wanita nyinyir mendengarnya, nggak banget sih, itu kan cuma seorang pria. Menurut Meng Meng, jauh lebih baik jika seorang wanita hidup mandiri. Jika dia percaya diri, para pria pasti akan tertarik padanya.

Dong Dong nyinyir mendengarnya, Meng Meng tidak akan mungkin bicara begitu jika dia jatuh cinta untuk pertama kalinya. Menurut Dong Dong, semakin telat wanita jatuh cinta untuk pertama kalinya, akan semakin sulit baginya untuk move on jika dia patah hati.

Seorang wanita yang tidak punya pengalaman dalam cinta bertemu dengan seorang pria yang berpengalaman, sudah pasti wanita itu akan terluka dan tidak akan pernah bisa move on. Xia Ke jadi cemas mendengar semua teorinya Dong Dong itu.


Di kuil, Xing Yun menulis beberapa harapan di jimatnya yang semuanya berhubungan dengan pekerjaannya. Yi Yi heran, semua harapan yang Xing Yun tulis ini kan bisa dicapai kalau dia bekerja keras. Seharusnya dia menulis harapan yang berhubungan dengan takdir saja. Contohnya, berharap bisa bersama Chu Nan seumur hidup.

Tapi Xing Yun ragu, dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan Chu Nan, semoga saja segalanya terselesaikan dengan baik.

"Dia belum meneleponmu?"

"Mungkin dia sibuk. Dia tidak menjawab telepon ataupun mengirimiku pesan."

Amy dan Yi Yi jadi cemas juga, jangan-jangan terjadi sesuatu padanya. Oh yah, dia kan pergi bersama Shen Qing, jadi Xing Yun coba tanya saja pada Xia Ke.

Xing Yun lalu menulis ulang harapan di jimatnya, kali ini dia berharap hubungannya dengan Chu Nan berjalan mulus dan begitupun dengan masalah keluarganya Chu Nan.


Xing Yun tengah kesulitan menggantung jimatnya karena letaknya yang terlalu tinggi saat Xia Ke mendadak muncul dan berniat membantunya menggantungkan jimatnya.

Tapi saat dia mendengar Yi Yi mendoakan semoga jimat itu membuat hubungan Xing Yun dan Chu Nan langgeng, Xia Ke sontak pura-pura tak sengaja melemparnya ke rawa-rawa. Pfft!

"Apa maksudnya itu?" Protes Xing Yun.

"Apa kau tahu jam berapa sekarang?" Santai Xia Ke.

Menyadari mereka sudah terlambat setengah jam, Amy dan Yi Yi pun langsung menyeret Xing Yun pergi tanpa mempedulikan jimatnya Xing Yun.


Xing Yun memanfaatkan saat itu untuk menanyakan apakah Shen Qing sudah tiba dengan selamat? Lalu bagaimana dengan Chu Nan? Dia turun di mana soalnya dia sulit dihubungi?

Xia Ke dengan canggung berbohong bahwa Chu Nan pergi setelah menurunkan kakaknya di rumah sakit. Teringat ucapan Dong Dong tadi, Xia Ke mendadak tanya apa kemunduran terbesar yang pernah Xing Yun alami dalam hidupnya.

Tapi Xing Yun merasa belum pernah mengalami hal semacam itu mengingat selama ini segala hal dalam hidupnya berjalan dengan baik. Keluarganya bahagia, kedua orang tuanya menyayanginya, jadi dia tidak pernah mencemaskan masalah sandang-pangannya. Kenapa Xia Ke menanyakan hal itu?

"Aku cuma penasaran, karena segala hal dalam hidupmu berjalan mulus, apakah akan sulit bagimu untuk pulih jika mengalami sebuah kemunduran?"

"Mustahil. Aku memang belum mengalami banyak badai kehidupan, tapi aku selalu bisa bangkit dengan kuat dari kegagalan dan kekecewaan."

"Kenapa? Apa kau sudah dilatih oleh orang tuamu?"


Tidak, melainkan karena dia punya bos semacam Xia Ke. Hehe, bercanda kok. Pokoknya, baginya sebuah kemunduran itu seperti bakpao yang tidak akan bisa bikin kenyang sampai dia memakan bakpao yang ketujuh.

Tapi dia tidak akan menyesal memakan keenam bakpao sebelumnya karena tanpa keenam bakpao itu, maka bakpao yang ketujuh akan menjadi yang pertama. Makanya dia harus makan keenam bakpao itu biar kenyang. Seorang pria tidak akan bisa sukses jika tidak mengumpulkan semua kemunduran yang pernah dialaminya.

"Jadi kau belajar prinsip kehidupan dari makanan?"

"Tapi aku dengar bahwa depresi adalah sesuatu yang tidak bisa kita kontrol. Jika suatu hari aku menderita depresi, semua filosofi itu tidak akan berguna. Karena itulah... bersikap lebih baiklah padaku di kemudian hari." Ujar Xing Yun lalu lari duluan.


Xing Yun ketiduran dalam perjalanan pulang. Xia Ke dengan sengaja mendekat sehingga kepala Xing Yun terkulai ke bahunya. Xia Ke benar-benar mencemaskannya setiap kali teringat ucapan Dong Dong tadi.


Di rumah sakit, Ibunya Chu nan dan Perawat baru saja mengganti perbannya Xiao Xi. Perawat memujinya karena Xiao Xi tidak menangis sama sekali selama diobati barusan.

"Terima kasih, Kakak. Terima kasih, Nenek." Ucap Xiao Xi.

"Aku bukan nenekmu," protes Ibu.

"Aku tidak mungkin memanggilmu bibi, kan?" Debat Xiao Xi dengan gaya sok dewasanya.

Dan itu sukses membuat Ibu tersenyum, menyadari Xiao Xi benar, lagipula dia memang tidak salah apa-apa. Di mana ibunya Xiao Xi? Xiao Xi berkata kalau ibunya sekarang sedang bekerja, dia akan kembali dua jam yang akan datang.

"Xiao Xi, di mana ayahmu?"

"Ibu bilang bahwa ayah akan kembali setelah aku menjadi pria yang hebat."

Tapi sebenarnya Xiao Xi tahu kok kalau ayahnya pergi mencampakkannya dan ibunya. Tidak masalah biarpun ayahnya tidak akan pernah kembali, dia sendiri yang akan menjaga ibunya.

"Xiao Xi, apa pekerjaan ayahmu?" Tanya Ibu.

"Aku tidak pernah melihat ayahku."

Perawat prihatin mendengarnya, hidup Ibunya Xiao Xi pasti tidak mudah karena dia harus mengurus anak dan bekerja sendiri. Syukurlah Xiao Xi anak yang pengertian dan bijaksana.

"Kuharap aku akan segera sembuh biar ibuku tidak mengkhawatirkanku lagi."


Di kantor, Xing Yun memberitahu Yi Yi kalau Chu Nan masih belum bisa dihubungi sampai sekarang. Yi Yi menyarankannya untuk fokus pada proyeknya saja sekarang, akhir bulan ini akan ada diskusi soalnya. Berdasarkan pengalamannya, para programer pasti akan menyulitkan Xing Yun, apalagi Xing Yun masih baru dalam bidang ini.

Yi Yi mendadak punya ide, dia minta bantuan Dong Dong saja. Para programer pernah bilang bahwa setidaknya butuh waktu 3 minggu untuk menyelesaikan satu kasus, tapi Dong Dong mampu menyelesaikannya dalam 12 hari saja.


Maka Xing Yun langsung mendatangi Dong Dong dengan membawakannya sepotong kue. Dong Dong langsung memakannya tanpa curiga apapun. Tapi kemudian Xing Yun to the point meminta nasehatnya tentang cara menangani para programer.

"Kau bawa pergi saja kuemu," tolak Dong Dong.

Dan Xing Yun langsung menyerah begitu saja dan hendak membawa kue itu pergi. Tapi Dong Dong dengan cepat memanggilnya kembali, seharusnya Xing Yun bilang secara detil biar dia bisa memperkirakan cara-cara para programer itu mempersulit Xing Yun nantinya. Senang, Xing Yun langsung bergegas mengambilkan dokumennya.


Xia Ke mengonfrontasi Chu Nan di rumah sakit dan tanya siapa sebenarnya pacarnya Chu Nan. Chu Nan tanpa semangat berkata bahwa pacarnya adalah Xing Yun dan dia akan segera melamar Xing Yun, sedangkan Shen Qing hanya temannya. Dia datang hanya untuk menjenguk anak temannya itu

Xia Ke jelas tak percaya. "Chu Nan, kuharap kau memikirkannya baik-baik sebelum kau bicara apapun. Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti kakakku ataupun Xing Yun."

Tiba-tiba dia mendapat telepon dari Shen Qing yang panik karena ada masalah dengan Xiao Xi.

Bersambung ke episode 6

0 komentar

Post a Comment