Sinopsis Before We Get Married Episode 7 - 2

Sinopsis Before We Get Married Episode 7 - 2

Karena belakangan ini, Wei Wei telah mengacaukan dirinya sendiri. Dia benar-benar tidak suka kehidupan seperti ini dan perasaan seperti ini. Dia jadi semakin membenci dirinya sendiri yang seperti ini.


"Apa yang tidak kau sukai tentang dirimu sendiri?"

"Aku tidak suka bahwa terkadang aku memikirkannya. Aku benci diriku sendiri, kenapa aku jadi seperti ini."

Awalnya, Ke Huan itu orang ca~~l gila. Tapi kemudian dia terus menerus muncul dan mengganggunya. Sulit untuk menyingkirkannya apapun yang terjadi. Ke Fei tidak mengerti, perasaan sedang didekati orang itu kan sesuatu yang bagus.

Mereka wanita yang sudah berusia lebih dari 30 tahun, mereka sudah bukan gadis remaja lagi. Jika seseorang mapan seperti Ke Huan mengejar kita, siapa juga yang hatinya tidak akan berdebar.

"Justru itu, aku harus semakin menjaga hatiku agar tidak berakhir dalam keadaan seperti ini."

"Cuma karena ini, kau memilih 321?"


"Aku tidak memilih. Hanya saja sejak awal aku sudah berjalan di jalan ini. Aku tidak boleh tiba-tiba bertemu cabang jalan di tengah jalan dan terpikat olehnya. Lagipula, perasaanku terhadap Hao Yi nyata."

Mereka sudah memiliki rencana untuk masa depan mereka dan mereka berjalan maju selangkah demi selangkah mengikuti rencana mereka. Wei Wei hanya menginginkan hidup yang stabil.

"Lalu bagaimana kalau Chu Ke Huan muncul lagi?"

"Aku akan memperlakukannya bagai orang asing."

"Kau yakin?"

"Sangat yakin."
 
"Walaupun aku tidak percaya, tapi aku akan tetap memberimu selamat. Bukan berarti aku tidak mempercayaimu sih, aku hanya tidak percaya kalau Tuhan akan menakdirkan hidupmu dengan cara mengikuti rencanamu. Dunia ini punya berbagai kemungkinan yang berbeda-beda, kau tidak bisa memaksanya."

 

Keesokan harinya, Ke Fei malah mendapati Bai Yang tengah menunggunya di depan kantor dan langsuung berusaha meraih wajah Fei Fei saking cemasnya, tapi Wei Wei langsung menampiknya dengan kesal. Bai Yang datang cuma untuk membuatnya marah kan?

Bai Yang meyakinkan kalau dia benar-benar mengkhawatirkan Ke Fei, tapi ujung-ujungnya dia berusaha membela Zi Yuan dan memberitahu Ke Fei kalau Zi Yuan tidak bermaksud melakukan itu, hanya saja Zi Yuan kadang tidak punya tempat untuk melampiaskan kemarahannya.

"Dia tidak punya tempat untuk melampiaskan kemarahannya, terus dia melampiaskannya ke mukaku, begitu? Kau benar-benar sangat perhatian, manis, dan sangat mengenal Kakak Zi Yuan-mu dengan baik. Kau pria baik, kenapa kau tidak jadian aja sama Kakak Zi Yuan-mu itu?"


"Ke Fei, bagaimana mungkin aku bersama Kak Zi Yuan. Kau tahu betul kalau orang yang kusukai adalah kau."

"Itu masalahmu, bukan masalahku."

"Ke Fei, kau dan Ke Huan cuma satu malam, tapi akulah yang paling peduli padamu."

Hah? Bai Yang ngomong apa? Dia dan Ke Huan apa? Satu malam apa? Loh, kan Ke Fei sendiri yang bilang kalau dia dan Ke Huan melakukan 'itu', makanya Bai Yang ngerti banget perasaan Ke Huan. Pikirannya langsung kalut banget waktu dia mendengar itu, jadi dia langsung menonjok Ke Huan.

Ke Fei tak percaya mendengarnya. "Yang Bai Yang, kau percaya apapun yang kukatakan? Apa kau tidak punya kemampuan untuk membuat penilaian? Apa kau sungguh berpikir kalau aku, Han Ke Fei, akan mau tidur dengan Chu Ke Huan?!"

"Ke Fei!"

"Enyah kau!" Kesal Ke Fei lalu pergi.

 

Bai Yang jadi bingung, jadi mereka tidak melakukannya? Tepat setelah itu, Bai Yang melihat Hao Yi. Bai Yang langsung menghampirinya dan berkata kalau dia mau membiacarakan tentang tunangannya Hao Yi. (Augh! Nih anak tukang ikut campur beneran!)


Malam harinya, Hao Yi memberitahu Wei Wei tentang pertemuannya dengan Bai Yang tadi. Bai Yang tadi menyuruhnya untuk lebih sering bersama Wei Wei dan lebih perhatian sama Wei Wei untuk mencegah Wei Wei jatuh cinta pada orang lain dan merusak hubungan mereka.

Tapi dia tidak curiga apapun tentang Ke Huan, malah menyuruh Wei Wei untuk menjauhi Ke Fei. Soalnya kan reputasi Ke Fei cukup buruk.

Wei Wei tak percaya mendengarnya. "Li Hao Yi, jika aku menyukai orang lain, maka itu masalah antara aku dan kau. Tidak ada hubungannya dengan orang lain, apalagi Ke Fei."

Hao Yi tetap ngotot menuntut Wei Wei untuk menjauhi Ke Fei. Dia benar-benar merasa gelisah gara-gara masalah ini. Dia sedang sibuk bekerja demi masa depan mereka, lalu tiba-tiba saja seseorang muncul dan berkata kalau Wei Wei mengkhianatinya. Dia tidak senang dengan perasaan ini.


"Jadi kau pikir aku mengkhianatimu?"

Bukan begitu, hanya saja Hao Yi merasa tidak baik jika Wei Wei terlalu dekat dengan Ke Fei. Wei Wei kesal mendengarnya. Hao Yi tidak merasa senang? Sama! Wei Wei juga tidak senang. Wei Yi merasa capek, lalu apa Hao Yi pikir dia tidak capek, gitu?

Coba saja dia keliling dan tanya wanita mana yang bisa jadi seperti dirinya, menghabiskan uang 150 dolar setiap hari selama 3 tahun berturut-turut.

"Tapi kan kita sudah sepakat, itu rencana kita."


"Benar, itu rencana kita. Kita bekerja demi menciptakan masa depan yang indah. Lalu katakan padaku, di mana masa depan kita? Satu-satunya yang kurasakan saat ini adalah masa kini."

Sekarang ini dia selalu pulang ke rumah yang kosong setiap hari. Satu-satunya yang ada di sisinya setiap malam hanya bantal tanpa kehangatan. Dan apa Hao Yi tahu apa yang paling menakutkan?

Sekarang ini dia tidak punya harapan ataupun ekspektasi karena ekspektasi tidak akan tercapai dan harapan akan hancur, karena Hao Yi terlalu sibuk dan tak pernah ada di sini. Hao Yi begitu sibuk sampai Hao Yi bahkan tidak punya waktu untuk nge-chat dia. Bahkan saat dia menelepon Hao Yi, yang dia dengar hanya pesan voicemail, dan sekarang Hao Yi malah menuduhnya berselingkuh?!

Hao Yi menegaskan kalau dia tidak pernah menuduh Wei Wei selingkuh. Apa yang Wei Wei katakan memang benar, dia terlalu sibuk belakangan ini. Tapi masa dia tidak boleh sibuk? Masa dia harus terus menerus menatap ponselnya menunggu pesan Wei Wei dan bicara dengannya selama berjam-jam? Mereka kan baru beli rumah, makanya dia harus bekerja lebih keras.


"Lalu apa kau pikir aku ini wanita normal? Aku punya hati dan perasaan, aku butuh perhatianmu. Apa kau sadar bahwa apa yang kau lakukan ini membuatku tidak yakin untuk mengikuti janjimu?"

"Aku benar-benar menjalankan janji kita, menjalankan rencana kita."

"Tapi kau mengabaikanku! Apa kau benar-benar mencintaiku?! Atau yang kau cintai sebenarnya adalah rencanamu? Mencintaimu karena pencapaian yang kudapatkan dari memenuhi rencanamu."

"Zhou Wei Wei, cara bicaramu itu tidak adil!"

"Jadi, asalkan kau bisa menemukan seseorang yang bisa bekerja sama dengan rencanamu, maka tidak masalah biarpun orang itu bukan aku."


Wei Wei pun melepaskan cincinnya dan menyarankan sebaiknya Hao Yi pergi saja dan cari orang yang mau bekerja sama dengan rencananya. Hao Yi kontan panik dan langsung memeluk Wei Wei.

"Maaf. Aku yang mengabaikanmu, aku yang mengabaikan perasaanmu. Tapi percayalah padaku. Tanpamu, maka rencana kita akan sia-sia." (Halah! Intinya dia tetap butuh Wei Wei untuk memenuhi rencananya doang)

Dia langsung maksa ingin memakaikan kembali cincin itu dan berkata bahwa hanya Wei Wei yang berhak memakai cincin ini, orang lain tidak berhak. Baiklah, dia bersedia mengubah rencananya.

"Dua bulan... Kita persiapkan pernikahan kita untuk dua bulan yang akan datang."


Tapi Wei Wei tidak bisa senang, itu rencana B atau C? Hao Yi meyakinkan bahwa ini adalah rencana yang mengutamakan Wei Wei lalu memakaikan cincin itu kembali ke jari Wei Wei, dan kali ini Wei Wei luluh. Tapi dia memperingatkan Hao Yi bahwa jika kali ini dia gagal memenuhi janjinya lagi, maka dia tidak akan menerimanya lagi.


Zi Ting mengajak Ke Huan ketemuan dan mengeluhkan kakaknya. Zi Yuan yang sekarang benar-benar bukan Zi Yuan yang dikenalnya. Ke Huan merasa bersalah mendengarnya, semua ini memang salahnya, tapi dia sudah berusaha sebisa mungkin. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang. Sepertinya cara terbaik sekarang ini hanyalah membiarkan waktu yang menyelesaikan segalanya.

Tapi Zi Ting kurang setuju. Tidak baik kalau terus menerus memperpanjang masalah ini. Karena itulah, Zi Ting memohon agar Ke Huan mengambil kembali rumah yang Zi Yuan tempati dan jual saja.

Rumah itu tidak murah dan pasti cukup membebani Ke Huan. Atau kalau Ke Huan menolak menjualnya, maka berhentilah mempedulikan mereka. Cinta itu tidak seperti sebuah pernikahan yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab. Tidak cinta lagi yah tidak cinta, tidak ada yang salah ataupun yang benar.

Dia ingin Ke Huan menjual rumah itu karena kehangatan sekecil apapun yang Ke Huan berikan pada Zi Yuan itu terlalu kejam baginya. Sebaiknya Ke Huan benar-benar memperjelas putusnya hubungan mereka dan berhentilah menemui Zi Yuan, jangan lagi membiarkan Zi Yuan masuk rumah Ke Huan, berhentilah memperlakukan Zi Yuan sebagai keluarga. Anggap saja dia sebagai orang asing.

Bersambung ke part 3

3 komentar: