Sinopsis Before We Get Married Episode 3 - 1

 Sinopsis Before We Get Married Episode 3 - 1

Sebelumnya: Episode 2 - Part 4

Selanjutnya: Episode 3 - Part 2

Di kantor, Hao Yi dan Wei Wei hampir saja bisa ketemuan di ruang rapat tapi tiba-tiba saja ada beberapa orng lewat yang sontak membuat Hao Yi berbalik masuk ke ruang sebelah. Dia mengingatkan Wei Wei untuk bersikap lebih natural dan jangan gugup, orang bisa curiga nanti.


Wei Wei mulai kesal, sampai kapan mereka mau kayak begini terus? Kapan mereka bisa mengumumkan kalau mereka sudah pacaran selama 3 tahun dan bahwa mereka sekarang sedang mencari rumah untuk persiapan pernikahan?

"Kau kan tahu kalau bos tidak suka office romance."

"Terus kapan kita akan menikah? Apa kita tidak akan mengundang siapa-siapa?"

Tentu saja mereka akan melakukan itu. Hanya saja... mereka perlu merencanakan segalanya lebih dulu. Wei Wei ngotot menuntut kapan mereka akan go public?


Hao Yi usul agar mereka menunggu sampai mereka sudah membeli rumah dan mempersiapkan pernikahan mereka. Kalau mereka memberitahu bos sekarang, sudah pasti bos bakalan memecat mereka.

Hao Yi mengaku kalau dia sudah bicara dengan si tuan rumah, dia sudah setuju untuk mencari orang untuk mengurus masalah lantai miring itu.

"Kau sungguh mau membeli rumah miring itu?" Heran Wei Wei.

"Kau aneh sekali. Kau sendiri yang memintaku untuk memohon pada tuan rumah untuk memperbaiki masalah lantainya. Kecuali... kau mau bicara pada temanmu Gao Zi Yuan tentang rumah mereka."

"Aku nggak mau. Aku mau meeting."


Ke Huan lagi kesal sama Bai Yang, sepertinya karena Bai Yang yang tidak fokus kerja dan jadi merugi gara-gara mikirin Ke Fei. Tapi Bai Yang menolak menyerah akan Ke Fei, dia serius tentang Ke Fei dan meujuk Ke Huan untuk membantunya memikirkan cara mengejar Ke Fei.


Wei Wei lembur lagi malam harinya. Tapi saat dia hendak pulang, ternyata di luar sedang hujan dan dia tidak bawa payung. Dia tidak sadar kalau Ke Huan sebenarnya sudah menunggunya sedari tadi dan langsung saja lari menembus hujan ke mini market terdekat.

Ke Huan langsung membuntutinya. Tapi kemudian dia malah melihat Wei Wei ke mini market cuma buat beli kardus yang dia gunakan sebagai payung. Cemas, Ke Huan langsung lari mengejarnya dan menariknya untuk berteduh sambil mengomelinya. Dia kira kalau Wei Wei ke mini market buat beli payung, kenapa dia malah cuma pakai kardus? Dia sudah gila apa?

Wei Wei kesal melihatnya lagi, ngapain juga dia beli payung, dia sudah payung kok di rumah. Payung tuh mahal, harganya setara dengan harga dua kali makan.

Ke Huan tak percaya mendengarnya. "Baiklah, terus di mana 321 (bacanya San Er Yi - terdengar seperti nama belakang Hao Yi)?"

"Namanya Li Hao Yi. Kalau dia menjemputku dengan motor, dia juga akan kehujanan. Mending aku kehujanan sendirian aja."

"Apa dia tahu kau lembur? Jika dia tahu, lalu kenapa dia tidak menungguimu?"

"Kenapa kau peduli amat?!"

"Karena jika itu aku, aku tidak akan membiarkanmu basah kuyup."


Wei Wei speechless mendengarnya. Tapi dia tetap bersikeras menolak Ke Huan dan memperingatkan Ke Huan sekali lagi untuk tidak dekat-dekat dengannya, dia sudah menghapus Ke Huan! Tapi yang tak disangkanya, pandangannya Ke Huan tiba-tiba melembut dan berkata.

"Maaf. Saat kau datang melihat-lihat rumahku waktu itu, aku kelewat batas. Makanya aku menunggumu di sini hari ini agar aku bisa meminta maaf padamu."

"Jadi kau sudah menunggu di sini sejak kau pulang kerja?"

"Aku ingin bertaruh untuk melihat apakah aku akan bertemu denganmu. Siapa sangka kalau aku malah bertemu orang bodoh yang menggunakan kardus untuk menembus hujan."

"Seperti ini caramu meminta maaf?"

"Maaf. Biarkan aku mengantarmu pulang."

"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."

"Kalau begitu, biarkan aku memberimu payung."


Dia akhirnya membelikan Wei Wei payung dan terus menemaninya berjalan pulang. Wei Wei penasaran, apa Zi Yuan tidak akan khawatir dia pulang terlalu larut? Tapi Ke Huan menegaskan bahwa Zi Yuan hanyalah 'keluarga'. Apa Wei Wei ada waktu sekarang?

"Karena aku sudah membelikanmu payung, maukah kau mendengarkan lagu bersamaku?"

Wei Wei akhirnya setuju untuk menemaninya mendengarkan lagu di coco bar lagi.

 

Keesokan harinya, orang-orang di kantor pada heboh gara-gara Ke Fei dikirimi buket bunga. Ke Fei sok cool mengklaim kalau ini cara kuno, tapi saat ada yang mau menyentuh bunganya, dia langsung tidak terima.

Sepertinya itu dari Bai Yang. Ada pesan di dalam bunga itu yang mengatakan bahwa ada rahasia yang tersembunyi di dalam bunga itu. Mau merasakannya?


Bai Yang sendiri baru saja mendapat hadiah lagi dari Zi Yuan. Bai Yang langsung melaporkan masalah ini pada Ke Huan. Zi Yuan bilang kalau dia sudah mengatur Bai Yang untuk ikut pindah ke perusahaan modal ventura bersama Ke Huan.

"Dia bahkan ikut campur dalam urusanmu." Kesal Ke Huan.

Bai Yang rasa maksud Zi Yan baik. Lagian dia memang akan ikut ke manapun Ke Huan pergi. Dia memang bermaksud mengikuti Ke Huan kok, jadi anggap saja apa yang dilakukan Zi Yuan ini sebagai jalan pintas.


Setibanya di rumah, Ke Huan lagi-lagi melihat Zi Yuan baru saja shopping gila-gilaan. Zi Yuan santai saja nyerocos menceritakan kegiatannya tadi yang pergi melihat-lihat apartemen baru. Ke Huan benar-benar sudah tidak tahan lagi sekarang dan langsung membentak Zi Yuan.

Zi Yuan lagi-lagi berusaha menghindar dengan nyerocos tentang hadiah-hadiah yang mau dia berikan pada para rekan kerjanya Ke Huan, tapi Ke Huan sontak mengonfrontasinya. Dia tidak suka Zi Yuan ikut campur dalam hidup dan pekerjaannya.

Dia tidak peduli tentang Zi Yuan yang menggunakan kartu kreditnya buat beli hadiah ataupun masalah menjual rumahnya. Tapi Zi Yuan bahkan sampai ikut campur dalam urusannya Bai Yang.

Zi Yuan membela diri kalau dia hanya ingin membantu Bai Yang, apalagi selama ini Bai Yang sudah banyak membantu Ke Huan. Memangnya itu salah? Lagi-lagi dia beralasan kalau semua yang dia lakukan adalah demi Ke Huan.

"Berhentilah mengatakan bahwa segala hal yang kau lakukan adalah demi aku. Dan tolong berhentilah berkata bahwa semua yang kau lakukan adalah demi masa depan kita. Kau tahu betul bahwa dengan melakukan ini kau justru membuat jarak di antara kita semakin besar."


"Karena itulah aku berusaha untuk berubah."

Tapi berubah yang dimaksudnya adalah mengubah rumah dan lingkungan tempat tinggal mereka agar situasi mereka berubah.

"Itu tidak akan berubah." Geram Ke Huan.

Mulai panik, Zi Yuan langsung mengingatkan Ke Huan akan janjinya pada mendiang ibunya dulu. Ke Huan menegaskan bahwa dia memang berjanji pada mendiang ibunya Zi Yuan, tapi tidak dengan memakai metodenya Zi Yuan ini.

"Kalau begitu katakan padaku metode macam apa yang ingin kau gunakan? Asalkan aku bisa selalu bersamamu, aku rela melakukan apapun asalkan aku bisa selalu di sisimu dan mencintaimu."

"Gunakan saja metodemu, aku tidak peduli." Ke Huan langsung pergi meninggalkannya dan merenung di luar.


Berusaha melupakan Zi Yuan, Ke Huan tiba-tiba teringat Wei Wei dan langsung meneleponnya, tapi nomornya tidak aktif. Bahkan memikirkan Wei Wei saja bisa membuatnya tersenyum. Ke Huan akhirnya memutuskan untuk pergi mencari Wei Wei.


Wei Wei sedang keluar mau buang sampah saat Ke Huan mendadak muncul dan mengagetkannya dari belakang. Wei Wei refleks berbalik sambil mengayunkan kantong sampahnya hingga tak sengaja memukul 'itunya' Ke Huan. Wkwkwk!

"Maaf, maaf... kenapa kau lagi?"

"Bagaimana bisa aku malah menyukai seseorang yang kasar dan berpakaian sekacau dirimu?"

"Memangnya aku harus pakai apa cuma buat buang sampah? Baju pengantin?"

"Oh, kau sudah bisa nyolot sekarang. Sepertinya hubungan kita jadi semakin dekat."

"Yang bener aja. Bagaimana kau tahu aku tinggal di sini?"

"Aku, Chu Ke Huan, jika aku ingin menemukan seseorang, aku pasti akan menemukannya."

"Apa kau penguntit ca~~l?"


Ke Huan mengiyakan, dan si ca~~l ini ingin mengatakan sesuatu pada Wei Wei. Dia bersedia memberi diskon apartemennya sebesar 8 juta dolar. Tapi, si ca~~l ini punya syarat. Yaitu...

"Kau harus menghabiskan malam bersamaku."

APA?! Wei Wei sontak murka menyerang Ke Huan dengan ganas sambil teriak-teriak heboh. "Dasar ca~~l! Udah gila apa?! Ngapain juga aku harus menghabiskan malam bersamamu?! Kau pikir kau itu apa? Tidak tahu malu! Siapa juga yang mau tidur denganmu?! Kau anggap aku ini apa?!"

"Jadi kau setuju?"

"Siapa bilang aku setuju, orang gila?!"

"Kau kan teriak-teriak buat didengar seluruh dunia. Tuh, lihat. Mereka semua dengar." Kata Ke Huan sambil menunjuk para tetangga yang sedang menonton kehebohan mereka. "Bukankah itu bisa dianggap kalau kau setuju?"

Berusaha bersabar, Wei Wei akan menganggap ucapan Ke Huan tadi candaan saja. Tapi Ke Huan terus berusaha membujuk Wei Wei dengan iming-iming diskon 8 juta dolar untuk rumahnya.

"Chu Ke Huan... Enyah kau!"


Ke Fei baru pulang saat itu dan langsung heboh mengira mereka berdua benar-benar sudah melakukan hal yang aneh-aneh.

"Yang bener aja! Kalian semua sinting!"

"Zhou Wei Wei, aku akan menunggu jawabanmu."

"Mati saja kau, dasar ca~~l!" Wei Wei sontak melempari Ke Huan dengan kantong-kantong sampahnya.

"Kau bukan cuma kasar tapi juga kejam."

Bersambung ke part 2

1 komentar: