Sinopsis King is Not Easy Episode 6

Sinopsis King is Not Easy Episode 6


Mumpung Pangeran Regen sudah mabuk, Ibu Suri memanfaatkan saat itu untuk mencari tahu siapa saja para pejabat yang bisa dipercaya, alias para pejabat yang memihak Pangeran Regen dan menentang Ji Man.

Pangeran Regen santai saja menyebutkan daftar empat pejabat komplotannya. Begitu Pangeran Regen pingsan karena mabuk, Ibu Suri cepat-cepat mencatat daftar nama pejabat tadi di selembar kain lalu memerintahkan Qiu Shui untuk mengirimkan pesan ini ke Ji Man dan suruh Ji Man untuk menyingkirkan daftar komplotannya Pangeran Regen ini.


Qiu Shui mengendap-endap ke kamarnya Raja. Dia meletakkan kain itu di depan pintu, mengetuk pintu untuk menarik perhatian Ji Man lalu cepat-cepat bersembunyi.

Flashback end.


Da Xi tak menyangka, jadi ternyata Qiu Shui yang mengirim surat itu. Qiu Shui mengakuinya, dia bersembunyi karena Ibu Suri menyuruhnya untuk tidak bilang-bilang.

"Kenapa ibu tidak bilang padaku sebelumnya? Apa ibu tidak mempercayaiku?"

"Tidak, bukan begitu. Waktu itu ayahmu baru saja meninggal dunia, semua mata di istana tertuju pada kita berdua. Kau masih sangat muda dan ceroboh. Aku takut jika kau tahu, kau mungkin akan tak sengaja membeberkan segalanya dan membuat keadaan kita makin sulit."

"Tapi bagaimana setelah paman meninggal dunia? Kenapa ibu masih bersikap seolah ibu ingin tetap mengendalikan segalanya?"


Karena Ibu Suri melihat Ji Man tampak begitu bahagia setelah Pangeran Regen mati. "Selain itu, para pejabat tampak menghormatimu. Dan kau juga anak yang penuh semangat."

Ibu Suri tak tega membiarkan Ji Man mengetahui apa yang sebenarnya ada di balik topeng kedamaian di dalam istana.

"Karena itulah waktu itu aku sengaja menekanmu dengan membuatmu meyakini kalau kekuasaan tidak berada di tanganmu. Hanya dengan melakukan itu, aku bisa yakin kau akan tetap fokus dan siap memecahkan berbagai masalah. Aku tidak menyangka kalau melakukan ini, malah membuat hubungan kita berdua jadi renggang."

"Ibunda, aku tahu sekarang. Seharusnya ibu memberitahu sejak awal, sejak jauh lebih awal."

Ibu Suri tak ingin membahas masalah ini. Lagipula semua itu sudah jadi masa lalu, sudah tidak penting lagi sekarang.

Menggenggam tangan Ji Man, Ibu Suri berkata yang paling penting sekarang adalah Ji Man harus menjaga dirinya sendiri. Masih banyak hal yang harus dia lakukan.


Da Xi mengerti lalu pamit. Qiu Shui benar-benar bahagia untuk Ibu Suri, akhirnya penderitaan Ibu Suri bisa berakhir sekarang.


Ji Man dan Shen Jia sedang mondar-mandir cemas karena Raja tak ada di kamar saat mereka bangun. Untunglah Raja kembali tak lama kemudian. Mengacuhkan kecemasan Shen Jia, Da Xi menuntut bicara berdua dengan Ji Man.

Mereka berdua pun menjauh ke belakang tiang. Ji Man langsung ngomel-ngomel memarahi Da Xi.

"Ke mana sebenarnya kau pergi tadi? Ap kua tidak tahu orang-orang sangat cemas saat kau tak ada? Kenapa kau selalu membuat semua orang cemas?"

"Kenapa kau seserius ini? Aku kan sudah kembali dan baik-baik saja."

"Sebaiknya begitu. Jangan lupa kalau kau ada di dalam tubuhku sekarang. Sebaiknya kau menjaganya dengan baik. Jika tidak, akan kubunuh kau!" Geram Ji Man sambil menarik Da Xi mendekat hingga dia tersembunyi di balik tiang.


Shen Jia kaget melihat itu dari kejauhan, mungkin dia pikir mereka lagi melakukan hal yang aneh-aneh. Da Xi santai melepaskan diri, dia mengerti kok. Dia mengaku kalau dia mendapatkan sesuatu selama dia pergi tadi. Apa Ji Man mau tahu? Tidak.

"Hei, kau ini aneh sekali. Apa kau akan mati kalau bilang 'Ya' sekali saja?"

"Benar."

"Baiklah, kau menang. Tapi aku akan tetap bilang padamu. Ini ada hubungannya denganmu."

"Baiklah, baiklah. Cepat katakan. Aku masih ada kerjaan."

"Kau sudah sangat salah paham pada ibumu. Dia itu tidak menyebalkan dan seburuk yang kau pikir. Dia melakukan semua itu untuk melindungi kerajaanmu."

Apa Ji Man masih ingat saat dia menerima sebuah surat selama masa pemerintahan Pangeran Regen, surat yang berisi nama-nama para pejabat pendukungnya Pangeran Regen?

Dia mau meneruskan ceritanya, tapi Ji Man membentaknya dengan cepat, menolak mendengarkan apapun lebih lanjut lalu pergi. Da Xi sampai sebal padanya, apa sih masalahnya dia?


Keesokan harinya, Ji Man dan Da Xi bertemu Ibu Suri di paviliun. Ibu Suri langsung cemas menanyakan keadaannya dan memperingatkan Da Xi untuk menjaga Raja dengan baik.

"Terima kasih atas perhatian Ibu Suri. Aku hanya merasa butuh udara segar, jadi aku memutuskan jalan-jalan."

Tapi Da Xi tiba-tiba pingsan lagi. Qiu Shui pun segera memanggil tabib untuk memeriksanya.


Setelah memeriksanya, Tabib berkata bahwa Raja masih sakit. Dia sudah menyiapkan obat. Akan tetapi, dia masih kekurangan satu bahan obat yang sangat sulit ditemukan. Ibu Suri menuntut Tabib untuk menemukan bahan obat itu tak peduli apapun caranya.

"Aku tidak akan memafkanmu kalau sampai terjadi sesuatu pada Paduka Raja!" Ancam Ibu Suri.

Tabib mengklaim bahwa bahan obat yang dimaksudnya itu sebenarnya ada di hadapan mereka saat ini. Tapi itu adalah... darahnya Ibu Suri. Apa?

Ibu Suri tanpa ragu mengambil pedang pengawal terdekat dan hendak menyayat tangannya sendiri. Qiu Shui cemas berusaha menghentikannya dan mengingatkan kalau kesehatan tubuh Ibu Suri sendiri tidak cukup kuat.

Tapi Ibu Suri sama sekali tidak mempedulikan dirinya sendiri. Pokoknya dia harus menyelamatkan nyawa putranya. Ibu Suri langsung menyayat lengannya tanpa ragu.


Ji Man benar-benar tercengang melihat pengorbanan Ibu Suri yang benar-benar tulus. Tak ada seorangpun yang menyadari kalau Da Xi sebenarnya cuma sedang berpura-pura dan diam-diam tersenyum senang melihat reaksi Ji Man.


Mereka lalu buru-buru menggotong Raja kembali ke kamarnya. Melihat lengan Ibu Suri yang diperban, Ji Man bertanya canggung, bagaimana luka Ibu Suri?

Ibu Suri santai menutupi lengannya. Ibu Suri tahu kalau Raja menyukai Da Xi, Ibu Suri lega ada Da Xi yang menjaga Raja. Tapi dia memperingatkan Da Xi untuk merahasiakan apa yang terjadi hari ini dari Raja.

"Kenapa?" Ji Man heran. "Anda membahayakan nyawa anda demi menyelamatkan Yang Mulia. Kenapa anda tidak ingin Paduka mengetahuinya? Selain itu, bukankah anda bisa menggunakan ini untuk meredakan ketegangan di antara kalian berdua?"


"Sikap Raja padaku mulai berubah belakangan ini. Namun, aku tidak ada niatan untuk memanfaatkan apapun untuk membuat Raja memahamiku. Aku juga tidak ingin dia merasa bersalah. Aku tidak ingin membuatnya merasa kalau dia harus baik padaku hanya karena dia merasa wajib."

"Yang Mulia jelas kurang menyayangi anda. Kenapa anda masih membahayakan nyawa anda demi menyelamatkannya?"

"Mungkin karena pada dasarnya wanita itu memang lemah. Tapi seorang ibu akan melakukan apapun demi anak-anak mereka. Tak ada luka yang terlalu besar untuk ditanggung dan tak ada tantangan yang terlalu besar (bagi seorang ibu demi anaknya)."

Ji Man adalah putranya yang sangat berharga. Kesehatan Ji Man jauh lebih penting daripada dirinya sendiri. Hanya demi Ji Man, Ibu Suri rela mempertaruhkan nyawanya.


Tak lama setelah Ibu Suri pergi, Da Xi akhirnya bangun dari tidurnya dan langsung mencemaskan kondisi Ibu Suri. Apa Ibu Suri baik-baik saja? Tabib mengiyakannya, Ibu Suri cuma kehilangan sedikit darah.

Ji Man jelas curiga. Jadi dia cuma pura-pura sakit. Dia sudah kelewatan. Bagaimana bisa dia bercanda seperti ini? Da Xi membela diri, semua ini salah Ji Man, dia terlalu keras kepala seperti dinding batu.

"Aku harus menunjukkan padamu bagaimana perasaan ibumu yang sebenarnya padamu. Akuhahrus bagaimana lagi?"

"Tapi kau tidak perlu bertindak sejauh itu. Ibu Suri selalu lemah. Bagaimana kalau..."

"Kalau terjadi sesuatu, maka itu salahmu. Bagaimana? Apa kau merasa tersentuh oleh sikapnya?"


Ji Man masih saja terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Da Xi benar-benar heran, memangnya dia bakalan mati kalau dia jujur satu kali saja?

"Muka jutekmu itu kayak liver babi."

Ji Man jelas kesal mendengarnya. Tapi dia penasaran, bagaimana cara Ji Man meyakinkan Tabib untuk ikutan berakting?

Gampang saja, Da Xi cuma bilang kalau dia masih agak sakit dan perlu dosis obat yang kuat. Jika tidak, maka masalah negara akan terpengaruh. Dia juga bilang kalau dia mau menguji ketulusan Ibu Suri. Dia cuma perlu mengancam sedikit.

Ji Man langsung sinis mengkritikinya. Da Xi tak peduli dan tanya sekali lagi. Apa Ji Man sungguh tidak merasa tersentuh? Biarpun cuma sedikit? Tapi Ji Man malah cuma memberinya tatapan tajam. Da Xi sampai kesal sendiri menghadapinya.

Tapi akhirnya, Ji Man mengaku kalau dia memang merasa tersentuh. Apa Da Xi puas sekarang? Da Xi senang.


Keesokan harinya saat mereka melewati paviliun, mereka melihat Ibu Suri pusing dan hampir roboh. Ji Man refleks berlari ke arahnya dengan cemas, apa Ibu Suri baik-baik saja? Kenapa dia sendirian? Ke mana Qiu Shui?

Dari kejauhan, Da Xi senang melihat reaksi Ji Man itu. Ibu Suri berkata kalau dia baik-baik saja dan Qiu Shui sedang pergi mengambilkan jaket untuknya.

"Kalau begitu, sebaiknya Ibu Suri istirahat sampai Qiu Shui kembali dan menemani Ibu Suri."

Ibu Suri masih mencemaskan Raja dan menanyakan bagaimana keadaannya. Ji Man meyakinkan kalau Raja sudah baik-baik saja. Berkat Ibu Suri, Raja bisa sembuh dengan cepat.

"Dia... tidak tahu, kan?"

"Tidak. Jangan Khawatir, Yang Mulia. Raja tidak akan mengetahuinya."


Ji Man menghampiri mereka, pura-pura tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Ibu Suri benar-benar senang melihat anaknya sudah sehat kembali.

"Ibu. Ibu harus kembali. Di luar dingin, Ibu bisa sakit nanti."

Ibu Suri menurutinya. Tapi terlebih dulu dia meminta Da Xi untuk menjaga Raja dengan baik. Raja baru sembuh, jadi dia tidak boleh lama-lama di luar.

 

Setelah Ibu Suri pergi, Da Xi memperhatikan ekspresi Ji Man yang masih menatap kepergian Ibu Suri. Bagaimana? Rasanya menyenangkan kan memiliki hubungan baik dengan Ibu Suri?

Ji Man mengakuinya. Tapi dia tidak mengerti, kenapa Ji Man begitu ingin memperbaiki hubungannya dengan Ibu Suri?

"Ibuku meninggal dunia saat aku masih kecil. Jadi aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk merasakan cinta ibu. Saat aku melihatmu memperlakukan ibumu dengan sangat dingin, aku merasa kau meremehkan hal yang sangat berharga bagiku. Aku selalu berpikir bahwa jika ibuku masih ada, tak peduli dia baik padaku atau tidak, aku pasti akan bahagia."

Prihatin, Ji Man mengaku kalau dia salah sebelumnya. "Jangan bersedih. Mulai sekarang, istana ini adalah rumahmu dan aku adalah keluargamu. Setuju?"


Terharu, Da Xi pun menyandarkan kepalanya dalam pelukan Ji Man. Tepat saat itu juga, Ni Chang kebetulan lewat tak jauh dari sana dan langsung mendelik shock.

"Apa yang mereka lakukan? Dia sangat jelek! Berhenti menggodai Raja!"


Saat Ji Man hendak masuk kamar Raja dengan membawa makanan, Ni Chang tiba-tiba menghentikannya dan menamparnya.

"Dasar perempuan sundal! Berani sekali kau merayu Paduka Raja di siang bolong?! Jangan kira kalau kau itu lebih baik daripada orang lain hanya karena dia memilihmu. Kuperingatkan kau! Menjauhlah dari Yang Mulia! Jika tidak, akan kutunjukkan kemampuanku!"

Dan kemampuan yang dimaksudnya adalah dengan sengaja menumpahkan makanan yang Da Xi bawa lalu pura-pura jatuh seolah Da Xi yang menjahatinya.


Yang tidak dia ketahui, Da Xi keluar saat itu dan melihat sendiri apa yang diperbuat Ni Chang. Saat dia mendekat, Ni Chang langsung mengeluh manja dan mengaduhkan Da Xi padanya sambil menunjukkan buktinya. Ji Man tanya pada Da Xi, apa yang sebenarnya terjadi?

"Tidak ada yang perlu dikatakan. Yang Mulia Selir hanya punya khayalan yang sangat tinggi. Ia mengira kalau saya sedang berusaha merayu anda jadi dia membuat semua sandiwara ini. Lalu dia mendudukkan dirinya sendiri di tanah dan menjatuhkan sarapan Yang Mulia. Saya rasa, Selir tidak puas pada Yang Mulia. Jika tidak, kenapa juga dia datang kemari dan bikin ulah?"


Panik, Ni Chang menuduh Ji Man berbohong. Malas melanjutkan perkara ini lebih lanjut, Da Xi menyuruh Ji Man membersihkan semua ini. Da Xi pun pergi. Ni Chang tak percaya, masa Raja membiarkannya pergi begitu saja?

"Iya. Kayak kau tidak tahu apa yang terjadi saja, berhentilah mempermalukan dirimu sendiri."

Tidak mau menyerah begitu saja, Ni Chang bersikeras merecoki Raja dan menuntut apa rencana Raja untuk menghukum Da Xi?

Kesal, Da Xi mengingatkan Ni Chang kalau dia tidak suka wanita bodoh dan dia juga tidak suka dengan wanita yang mengira diri mereka pintar. Mengerti?

"I...Ya... Iya. Saya akan mendengarkan apapun yang Paduka katakan."

"Aku melihat apa yang terjadi hari ini. Dia bahkan tidak mendorongmu. Kenapa kau bilang kalau dia mendorongmu?"


"Aku... aku melihatnya memeluk Yang Mulia di taman kemarin. Aku cemburu. Aku menyukai Yang Mulia. Aku mengagumi Yang Mulia. Aku tidak mau membagi Yang Mulia dengan orang lain."

Takut Raja marah, Ni Chang cepat-cepat berlutut dan mengaku salah. Malas mempermasalahkan masalah ini lebih lanjut, Da Xi cuma memperingatkan Ni Chang untuk tidak mengulanginya lalu menyuruh Ni Chang mendekat.

"Apa kau masih ingat apa yang kukatakan dulu?"

Ni Chang mengiyakannya. Dia sudah banyak berlatih cara bersikap lembut dan melayani pria. Tapi sepertinya tidak berhasil. Raja masih belum mendatanginya sampai sekarang.

Da Xi males banget mendengar, nanti dia akan datang kalau dia sudah sembuh. Begini saja, Ni Chang datang saja tiap sore mulai besok. Ni Chang senang. Dia akan datang tepat waktu.


Keesokan harinya, Ni Chang datang ke kamar Raja dengan dandanan serba wah nan menggoda. Niatnya menggoda Raja tapi malah bikin Da Xi ilfil.

"Apa kau sedang bikin pertunjukkan? Kau itu selir, bukan pel~~~r. Ganti sana!"

Ni Chang kecewa dan akhirnya pergi ganti baju. Begitu dia kembali, Da Xi tanya padanya. "Jika kau mau bilang padaku bahwa sekarang sudah larut malam, jangan mempelajari dokumen terus dan beristirahatlah, bagaimana kau kan mengutarakannya?"


Ni Chang langsung lebay memanggil Raja dengan nada menggoda lalu menyingkap pakaiannya dan bergerak mendekat, tapi Ji Man sigap menghalangi jalannya. Terpaksa Ni Chang harus menahan kesal dan duduk di depan meja.

"Cepatlah tidur. Aku... sudah lama menunggu~~~~" Goda Ni Chang sambil meletakkan tangannya di meja. Ji Man sontak mendengus geli melihat tingkah lebaynya.

Ni Chang kesal, "Apanya yang lucu?!"

"Tidak ada, Yang Mulia. Silahkan dilanjutkan."

Bersambung ke episode 7

0 komentar

Post a Comment