Sinopsis Leh Nangfah Episode 28 - 1

Sinopsis Leh Nangfah Episode 28 - 1


Korn dan yang lain langsung membekuk Piwara dan mengambil pistolnya dan Beauty langsung roboh dalam pelukan Tee. Tanpa mempedulikan dirinya sama sekali, Beauty lega melihat Tee selamat.

"Aku tidak kenapa-kenapa. Kenapa kau melakukan ini? Bagaimana aku bisa hidup kalau sampai terjadi sesuatu padamu"

"Aku tahu sekarang... aku mencintaimu... lebih daripada hidupku sendiri. Sungguh." Ucap Beauty sebelum akhirnya pingsan.

Lalita menangis tak berdaya karena tak bisa menolong putrinya. Beauty pun segera dilarikan ke rumah sakit.


Papa baru pulang dan mendapati Mami dan Orn ada di rumah. Kenapa Orn tidak pergi ke event-nya Grace. Orn tidak mau, dia tidak mau bertemu siapapun di sana.

"Kau masih belum melupakan Teepob?"

"Aku tidak ingin jadi gugup, jadi lebih baik menjauh."

Tapi kemudian Papa ditelepon Grace yang mengabarkan tentang kejadian itu dan Beauty. Orn langsung cemas mendengarnya dan minta izin papa agar dia bisa menjenguk Beauty di rumah sakit.

Tepat saat itu juga, Jade meneleponnya setelah mendegar kabar yang sama dan berkata kalau dia akan menjemput Orn sebentar lagi.

Papa akhirnya mengizinkan Orn pergi. Toh Orn sudah dewasa sekarang, dia bisa memutuskan segalanya sendiri.


Semua orang menunggu dengan gelisah di depan ruang operasi. Tee terus mondar-mandir dengan cemas, sementara para anak buahnya Beauty menangis. Parahnya lagi, hari sudah semakin sore.

Dokter akhirnya keluar tak lama kemudian dan syukurlah Beauty selamat sekarang. Hanya saja tadi dia kehilangan banyak darah, jadi kondisinya harus selalu diawasi. Semua orang lega mendengarnya.


Saat semua orang berkumpul di sekitar Beauty yang masih belum sadarkan diri, A-ngoon dengan polosnya berkomentar kalau Beauty itu seperti Putri Tidur.

"Dia harus menemukan seorang pangeran untuk membangunkannya dengan ci~man."


Menyadari hari sudah sore, Pat langsung menarik Tee menjauh dan memberitahunya kalau Beauty akan berubah jadi burung saat matahari terbenam.

"Kau tahu tentang itu?"

"Jika dia berubah jadi burung kecil, apa dia bisa menanggung rasa sakit dari lukanya?"

Pat lalu mengajak semua orang keluar dengan alasan agar Beauty bisa beristirahat dengan tenang dan meninggalkan Tee berduaan dengan Beauty.

Tee menggenggam tangannya dengan sedih. Kenapa Beauty melakukan ini? "Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, lebih baik aku mati saja."


Pat dan para pembantu cemas karena sekarang sudah hampir tiba waktunya Beauty jadi burung. Bibi Jan kontan menangis lagi karenanya.

Kratua dan yang lain bingung, kenapa mereka malah menangis lagi? Beauty kan sudah selamat? Tidak akan terjadi apapun pada Beauty.


Orn berjalan sangat cepat sampai Jade ngambek, apa dia buru-buru untuk menemui Tee? Kalau tahu ini yang akan terjadi, dia pasti tidak akan menjemput Orn tadi.

"Kalau kau tidak menjemputku, aku akan datang sendiri! Ayo, cepetan!"

Saat mereka tiba di depan kamarnya Beauty, mereka mendapati para pembantu sedang menangis. Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Beauty? Thana menyangkalnya. Mereka juga bingung apa yang sebenarnya para pembantu takutkan.

"Aku hampir saja ketakutan. Lalu, di mana P'Tee?"

"Dia di dalam bersama Beauty."


Sudah hampir jam 6. Beauty belum sadar, tapi tbuhnya langsung bereaksi dengan sendirinya dan menggeliat kesakitan.

Cemas dan tak tahu harus bagaimana, Tee berusaha menghentikannya dengan memeluknya erat-erat.

"Beauty kau harus baik-baik saja. Aku mencintaimu, Beauty. Kau dengar itu? Aku mencintaimu."


Tapi Beauty terus menggeliat kesakitan dan tiba-tiba dia mulai bercahaya. Tiba-tiba Tee teringat ucapan A-ngoon bahwa Beauty harus dici~m seorang pangeran untuk membangunkannya. Dengan pikiran itu, Tee pun menci~m bibir Beauty.


Beauty sontak memancarkan cahaya yang sangat amat terang dan kristalnya berubah menjadi warna emas seutuhnya. Kutukannya akhirnya terpatahkan.

Mereka yang mengetahui rahasianya Beauty melihat cahaya terang itu dari luar pintu dan langsung cemas.

Bingung melihat reaksi mereka, Orn jadi penasaran dan langsung saja melesat masuk ke kamarnya Beauty.

 

Panik, semua orang berusaha mengejarnya, tapi terlambat. Dan saat mereka masuk, mereka mendapati Tee tengah menci~m Beauty.

Tee akhirnya melepaskan diri dan langsung lega melihat Beauty tidak lagi berubah jadi manusia. "Beauty, kau akhirnya bangun. Kau tidak perlu jadi lovebird lagi sekarang."

Beauty langsung melihat dirinya sendiri. "Aku tidak perlu jadi burung lagi?"

"Iya, tidak perlu lagi."

Tee lalu menc~qmnya lagi tanpa mempedulikan para penonton mereka. Patah hati, Orn langsung keluar dari sana dan Jade cepat-cepat mengejarnya.


Lalita bahagia. Dewi pun senang. Akhirnya Beauty berhasil mematahkan kutukannya dengan kebaikan. Lalita sungguh berterima kasih pada Dewi. Jika Beauty tidak pernah mendapat pelajaran dari Dewi, dia pasti akan berakhir menyedihkan.

"Jika itu terjadi, aku juga pasti akan sedih. Biarpun aku mengajarimu untuk tenang, sebenarnya aku sendiri juga sering khawatir setiap kali terjadi hal-hal yang tidak sesuai harapanku."

"Dewi juga khawatir?"

"Tentu saja. Aku khawatir jika apa yang kulakukan, malah akan memperburuk dosanya alih-alih membantunya. Tapi syukurlah, pada akhirnya kebaikannya menyelamatkannya."


Jade terus setia menemani Orn dan mencemaskannya. Tapi Orn mengklaim kalau dia baik-baik saja dan mengaku kalau dia sebenarnya sudah lama tahu Tee tidak cocok untuknya.

"Kenapa?"

"Karena sepasang kekasih seharusnya bahagia saat bersama. Tapi setiap kali aku bersama P'Tee, aku hanya merasakan kesedihan. Aku tidak tahu apakah P'Tee tidak menyukaiku atau apakah aku tidak cukup baik dan aku tidak tahu bagaimana harus bersikap. Bagaimana denganmu? Bagaimana rasanya saat kau bersama P'Beauty."


"Aku hampir tidak mengenalnya. Tidak seperti saat aku bersamamu."

"Memangnya bagaimana perasaanmu saat bersamaku?"

"Gila, menyenangkan dan aku bisa menjadi diriku sendiri... dan aku bahagia."

Orn tersipu malu mendengarnya. "Kau bercanda, yah?"

"Tidak! Jadilah pacarku."

Orn sontak menutupi wajahnya dari Jade saking malunya. Tak mendapat jawaban, Jade langsung menggenggam kedua tangan Orn dan terus mengulang pertanyaannya sampai akhirnya Orn menerimanya.

Bersambung ke part 2

0 komentar

Post a Comment