Sinopsis Leh Nangfah Episode 26 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 26 - 2


Tak bisa berkilah lagi, Piwara sontak berubah sikap sinis. Apa lagi yang harus dia jelaskan? Haruskah dia menerjemahkan Bahasa Thai ke dalam Bahasa Thai seolah menjelaskan pada anak TK?

"Jadi kau mengakuinya?"

"Jadi selama ini aku memelihara ular didekatku?"

"Kau menggunakan email-nya Pat untuk mengirim informasi rahasia pada Ron dan Mintra. Pat selalu baik padamu, kenapa kau malah menjebaknya?"

"Loh, kalian berdua sudah berbaikan? Bukankah kalian saling membenci? Kukira akan ada perang berdarah. Kalian berdua sangat marah pada satu sama lain hanya karena sedikit ejekan."


Pat mulai mengerti sekarang. Piwara yang selama ini tampak lugu, sebenarnya diam-diam selalu berusaha menghasutnya untuk semakin membenci Beauty. Tapi, sejak kapan Piwara mulai melakukan itu padanya?

"Tentu saja sejak hari pertama aku mulai bekerja di sini. Kalian berdua bertengkar hanya karena sedikit hasutan dariku. Apa kau tahu betapa puasnya aku setiap kali melihat kalian bertengkar dan memperebutkan satu pria?"

"Tapi kenapa kau melakukan ini?"

"Karena aku membenci kalian semua, tentu saja. Dan Pat, apa kau tahu betapa menyedihkannya dirimu setiap kali kau bertengkar dengan ayahmu? Tapi bagus juga, aku suka. Bertengkarlah satu sama lain sampai kalian mati, Thanabavorn!"

Pat sungguh tak mengerti kenapa Piwara melakukan ini pada mereka padahal selama ini dia selalu baik padanya. Apa salah mereka padanya? Apa Piwara juga yang meracuni para pembuat sample? Dalam flashback, terlihat Piwara memang menyuntikkan obat pada galon air.

"Kau baru sadar, Pat? Kau sangat bodoh. Tapi aku melakukannya untukmu agar kau bisa menang dari Beauty. Dan masalah design, kau sendiri yang menyuruhku untuk mengambilnya."

"Tapi aku cuma menyuruhmu untuk mengambilnya."

"Karena kau sudah memberiku kesempatan, kau pikir aku bodoh untuk menuruti perintahmu? Aku bahkan menggunakan laptop dan akunmu. Kau sendiri yang memberiku kesempatan, Pat! Seharusnya kau tahu kalau Thanabavorn tenggelam itu karena kebodohanmu, Pat!"


"Itu cuma pertengkaran antar saudara. Kau tidak mengerti karena kau tidak punya saudara." Ujar Beauty sambil menunjukkan data diri Piwara.

"Kalian menyelidiki profilku? Tapi asal kalian tahu, ini bukan segalanya. Karena aku tidak mencantumkan semuanya. Aku tidak mau kalian tahu aku putrinya siapa. Kuberitahu, yah. Aku sudah menjual informasi tentang kalian sejak lama. Jauh lebih lama daripada yang kalian sadari. Dan kalian semua bodoh karena mempercayaiku! Terutama kau, Pat. Kau yang paling tolol di antara kalian semua!"

"Apa maksudmu?"

"Apa kalian tahu apa yang sudah kalian lakukan pada keluargaku?! 15 tahun yang lalu, ada seorang pegawai yang dipecat dan dituduh menjual informasi perusahaan ke perusahaan lain."

Orang itu disalahkan sebagai penjahat hingga tak ada seorangpun yang mau berhubungan dengannya dan tak ada yang mau mempekerjakannya. Akibatnya, dia tidak punya uang lagi dan pada akhirnya bunuh diri. Dan orang itu adalah ayahnya.


Dalam flashback, Piwara kecil melihat ayahnya tampak sangat depresi di kamarnya yang gelap dan akhirnya ia menembak dirinya sendiri tepat di hadapan Piwara.

"Jika ayahku tidak dipecat oleh perusahaanmu, ia pasti masih bersamaku dan keluargaku akan hidup bahagia! Thanabavorn sangat busuk! Apa yang kulakukan, pantas kalian dapatkan!"


Tee tahu siapa yang dimaksudnya. Ayahnya Piwara adalah mantan asisten ayahnya dulu. Orang yang menjual informasi rahasia perusahaan pada perusahaan lain. Tapi Piwara ngotot meyakini ayahnya tidak bersalah dan menuduh Thanabavorn mengkambinghitamkan ayahnya.

"Kau sudah salah paham, Khun Piwara. Aku akan menyuruh HRD untuk menunjukkan profilnya padamu."

"Aku tidak mau melihatnya! Tidak akan! Thanabavorn menghancurkan hidupku! Biarpun aku tidak bisa menghancurkan Thanabavorn, tapi aku puas karena sudah membuat saudara bertengkar. Aku jauh lebih menikmatinya daripada lakorn. Kalian harus membayarnya! Kalian semua!"

Menyadari Piwara sudah tak ada harapan lagi, Tee memerintahkan sekuriti untuk menangkapnya dan menyatakan bahwa mulai sekarang, Piwara bukan lagi pegawai Thanabavorn. Mereka akan bertemu lagi di pengadilan. Piwara pun diseret keluar dari sana sambil terus jejeritan histeris.


Menurut Beauty, Piwara sebaiknya dirawat oleh psikiatris. Tapi Tee tidak sependapat. Jika Piwara tidak mau dirawat, mereka tidak bisa memaksanya.

Beauty menyayangkan perbuatannya. Alih-alih mencari kebenaran tentang kejahatan ayahnya, dia malah membiarkan masa lalunya menghancurkan masa depannya dengan cara membalas dendam pada mereka.

"Kita tidak akan tahu rahasia hati manusia. Dia mungkin tidak tahu kejahatan yang dilakukan ayahnya, makanya dia menyalahkan perusahaan. Atau mungkin dia tahu, tapi dia tidak mau menerima kebenarannya. Kurasa yang paling terluka adalah Pat. Aku senang akhirnya kau bisa berbaikan dengan Pat."


"Aku juga menyadari bahwa dulu aku sangat jahat pada Pat. Mulai sekarang, aku tidak akan melakukannya lagi."

"Beauty sangat menawan. Oh, siapa di sana..."

Beauty menoleh dan Tee langsung mengecup pipi Beauty lalu nyodorin pipinya sendiri. Beauty nggak mau, malu, bisa dilihat orang nanti. Lagian urusan mereka belum selesai tentang Korn dan rekannya yang berusaha mengambil alih perusahaan.


Tee tampak canggung lalu berusaha mengalihkan perhatian Beauty dengan menggodai wajahnya keriputan. Beauty sebal, dia kan lagi serius. Ah, bagaimana kalau dia tanya langsung saja pada Korn tentang kebenarannya?

Ide bagus. Tee langsung mengajaknya ke kantornya Korn sekarang juga. Tapi Beauty baru sadar kalau saat itu sudah sore dan langsung membatalkan niatnya. Lebih baik besok pagi saja.

"Kenapa kita tidak menyelesaikan masalah ini sekarang saja? Mungkin terlalu terlambat kalau kita menunggu besok."

"Lebih baik besok. Setelah aku selesai bicara dengan Paman Korn, aku akan memberitahumu kebenaran akan segalanya. Yah?"

"Oke. Dan tentang apa yang ingin kukatakan padamu, juga harus menunggu besok."

"Tentu. Kita bicara besok saja. Sampai jumpa besok."


Mereka akhirnya berpisah. Tapi tiba-tiba Dewi dan Lalita melihat kristalnya bergetar yang menandakan bahwa sekarang saatnya mengungkap kebenarannya. Dan itu adalah tugas Dewi.


Beauty hendak masuk toilet saat cahaya ajaib itu muncul lagi mengitarinya, bahkan menghalanginya masuk toilet. Mengerti kemauan si cahaya ajaib, Beauty akhirnya pergi mengikutinya.

Cahaya itu menuntunnya hingga tiba di depan sebuah ruangan lalu menghilang. Beauty awalnya bingung, tapi saat dia menguping dari balik pintu, dia malah mendengar suara Korn sedang bicara dengan rekan misteriusnya.

"Kudengar kau sudah menyingkirkan Piwara. Baguslah, satu masalah selesai. Tapi... Beauty masih belum tahu kan siapa sebenarnya yang mau mengambil alih perusahaan?"

"Belum. Kadang dia tampak sangat penasaran, tapi dia tidak menebak kalau orang itu aku." Ujar suara Tee. OMG!

"Kurasa kau harus menjadi seorang aktor. Kau berakting dengan sangat baik."


Shock, Beauty langsung membuka pintu dan mendapati pamannya dan Tee sedang ketawa-ketiwi. "Tee!Paman Korn! Kalian pembohong! Pengkhianat!"

Beauty langsung melarikan diri dari mereka. Tee berusaha mengejarnya dan memintanya untuk mendengarkan penjelasannya dulu.

Tapi tentu saja Beauty tidak mau dan terus lari menghindarinya. Dia menghindar ke ruang rapat. Tapi saat dia mau menutup pintu, dia mulai kesakitan.


"Beauty, dengarkan aku dulu."

"Aku tidak mau dengar! Aku melihat dan mendengar segalanya! Kau berbohong padaku! Kau selalu membohongiku! Kau bekerja sama dengan Paman Korn untuk membohongiku dan mengambil alih perusahaan ayahku! Kenapa? Apa menjadi co-presiden tidak cukup? Kalau kau mau mengambil alih perusahaan ayahku, kenapa kau tidak melakukannya di hadapanku? Kenapa kau menipuku untuk mencintaimu?"

"Beauty, aku tidak menginginkan perusahaan. Aku tidak menginginkan posisi presiden."

"Lalu apa yang kau inginkan?! Katakan!"


"Aku menginginkanmu, Beauty! Ada apa? Katakan padaku?"

"Tinggalkan aku. Aku membencimu! Aku membencimu!"

"Tapi aku mencintaimu, Beauty! Aku tidak akan melepaskanmu! Aku akan selalu bersamamu. Aku tidak akan meninggalkanmu ke mana-mana, Beauty!"


Tee memeluknya erat-erat tepat saat matahari terbenam dan Beauty pun berubah menjadi burung. Tee tak menyadarinya awalnya.

Tapi saat dia membuka mata sedetik kemudian, dia langsung shock mendapati Beauty sudah berubah menjadi burung biru yang selama ini dikenalnya.

Lalita tak mengerti kenapa segalanya harus jadi seperti ini. Kenapa segalanya bisa jadi salah. Tapi Dewi berkata bahwa ini bukan akhir. Lalita sabar saja dan amati semuanya dengan hati tenang.


Tee tak sanggup berkata-kata saking shocknya, Beauty pun hanya bisa menangis. Saat Korn datang, Beauty langsung terbang dari sana. Tee berusaha mengejarnya, tapi Beauty langsung bersembunyi.

Bersambung ke episode 27

1 komentar: