Sinopsis Leh Nangfah Episode 19 - 1

 Sinopsis Leh Nangfah Episode 19 - 1


Pat menelepon Tee dan tanya apa yang Beauty katakan tentang seminar di luar kota yang akan mereka adakan nanti. Soalnya tadi waktu mereka membicarakan masalah itu dalam meeting, Beauty jadi marah dan langsung pergi, dia bilang mau ke Tee tadi.

Tee mengerti bahwa itulah yang tadinya mau Beauty bicarakan saat Beauty nyelonong masuk ke kantornya. Dia mengaku mereka tak sempat bicara, karena tadi dia sedang ada tamu.

"Bilang padanya bahwa kalau dia masih ingin menjadi tim kami, maka dia harus ikut. Dan bilang padanya untuk jaga sopan santun. Aku manager proyek. Dia harus menghormatiku."

Oke. Tee akan bilang padanya. Tapi belum sempat ngomong tentang ketidakyakinannya apakah Beauty akan mendengarkannya atau tidak, Pat sudah keburu menutup teleponnya. 


Saat Tee membaca buku laporannya Beauty lagi, dia langsung teringat saat-saat kebersamaan mereka. Dan kenangan itu refleks membuat senyumnya merekah. Tapi sedetik kemudian dia tersadar dan buru-buru push up untuk menyingkirkan Beauty dari pikirannya.

"Yang waktu itu sit-up dan sekarang push-up. Cinta benar-benar bisa membuat bentuk tubuh jadi makin bagus." Komentar Seua


Keesokan harinya, Tee sudah hampir tak sabaran menunggu di ruang tamunya Beauty. Sudah lebih dari dua jam dia menunggu, tapi Beauty belum juga turun. Seenuan dan putrinya datang membawakannya minuman.

Tee penasaran dengan lukanya Seenuan. Apa dia sudah baikan? Seenuan mengaku kalau dia masih belum bisa menggenggam barang-barang dengan benar. Dokter bilang kalau dia harus melakukan terapi fisik selama beberapa waktu.

"Bibi bisa memberitahuku kalau butuh bantuan apapun dari perusahaan. Jangan sungkan."


Yang ditunggu-tunggu akhirnya turun juga tak lama kemudian, tampak begitu cantik dan memesona sampai Tee terpana dibuatnya.

"Kau lihat apa? Apa aku cantik?"

Tee langsung canggung dan tersipu malu sampai tidak bisa menjawab. Malah A-ngoon yang membantunya menjawab. Tentu saja Beauty sangat amat cantik sampai Tee terpana.


Canggung, Tee mengalihkan topik, mengajak Beauty berangkat sekarang juga dan menawarkan tangannya untuk Beauty genggam.


Setibanya di depan tempat pesta, langkah Beauty terhenti saat melihat dua pasang lovebird yang mirip dirinya di dalam sangkar. Tee heran melihatnya, katanya Beauty sudah tidak takut burung?

Benar, dan Beauty membuktikannya dengan menyentuh burung-burung itu. "Aku sudah tidak takut pada mereka lagi."

Tee memberitahu Beauty bahwa setiap malam ada seekor lovebird yang datang ke rumahnya. Burung itu mirip burung-burung lovebird ini, warnanya juga biru.

Beauty langsung canggung. "Semua lovebird kan terlihat sama."

"Kurasa tidak. Yang datang ke rumahku itu tidak seperti yang lain. Aku ingat dia setiap kali melihatnya. Dan sikapnya, aku jamin tak ada burung lain yang seperti dia."

"Alangkah bagusnya kalau dia merasakan perasaan yang sama padaku seperti perasaannya pada burung." Batin Beauty


Beauty penasaran apa maksud Tee tentang tak ada burung lain yang seperti burung itu. Tee menjawabnya dengan memotret Beauty. Sikap burung itu sangat mirip dengan Beauty.

"Kalau begitu, dia pasti sangat cantik, yah? Karena dia seperti aku."

"Kurasa begitu."

Beauty langsung berbunga-bunga mendengarnya. Jadi... apa Tee sangat menyukai burung itu? Iya, Tee sangat menyukainya. Biarpun burung itu kadang moody, tapi dia sangat imut dan pintar. Lucunya, brung itu cuma datang padaku di malam hari. Tee tidak tahu ke mana dia pergi saat siang hari.


"Dan dia selalu datang untuk tidur bersamaku. Jika aku sedang bekerja dan tidak tidur, dia juga tidak akan tidur. Dan saat dia mau tidur, dia tidak mau tidur di kandang seperti ini. Dia akan tidur di atas d~~anya, di atas ranjang yang empuk seperti pasangan."

Beauty langsung tersipu malu mendengarnya. "Dasar gila. Menjijikkan."

Tee bingung melihat reaksinya. Apanya yang menjijikkan? Kenapa muka Beauty memerah? Dia kan ngomongin burung, bukannya ngomongin Beauty.

"Aku tahu!"

"Ada apa denganmu? Hah? Ayo masuk."


Begitu mereka masuk, para wartawan langsung heboh memotreti Beauty. Orn yang sedang bersama orang tuanya, langsung cemburu melihat mereka datang bersama.

Mereka lalu menghampiri keluarga Orn dan mengucap selamat sebagai kedua presiden Thanabavorn. Saat wartawan sibuk memotreti Beauty dan kedua orang tua Orn, Tee dan Orn punya kesempatan untuk ngobrol bersama.


Tee memuji-muji rangkaian bunga-bunga indah hasil karya Orn itu dan sukses membuat mood Orn bangkit kembali. Tapi saat Tee menoleh ke Beauty, dia mendapati Beauty sedang melirik mereka dengan sebal.

Perhatian Tee cepat teralih saat Orn mengajaknya untuk menikmati hidangan. Tapi tepat saat itu, Jade datang dan langsung mendekati Beauty dan Beauty pun menyapanya dengan ramah.

Tee jadi cemburu melihat keakraban mereka dan Orn cemas memperhatikan reaksi Tee itu. Tee sampai benar-benar melupakan Orn yang ada di sampingnya saking kesalnya melihat Beauty bersama Jade.

Orn berusaha mengalihkan perhatian Tee kembali padanya. Tapi tetap saja pandangan Tee kembali ke Beauty.


Tee makin kesal saat melihat Beauty duduk berdekatan dengan Jade sambil ngobrol tentang bisnis. Jade mengucap selamat untuk mereka karena Thanabavorn sekarang memiliki presiden yang cakap dan cantik seperti Beauty.

"Aww, kau manis sekali, Khun Jadecharn."

"Kalau perusahaanku punya presiden sepertimu, aku pasti akan bekerja dengan sepenuh tenaga. Apa kau tidak tertarik untuk pindah ke perusahaan lain?"

Belum sempat Beauty menjawab, Tee menjawabnya duluan dan menegaskan. "Maaf. Dia tidak akan pindah ke mana-mana karena dia adalah Putrinya Khun Bavorn dan juga co-presiden generasi kedua denganku seorang. Dan kurasa dia tidak akan pindah ke perusahaan saingan."

Suasana sontak tegang antar kedua pria dan Beauty cuma bisa cengengesan canggung. Tapi ketegangan mereka tak berlangsung lama saat Orn datang menyela mereka untuk memberitahu bahwa pesta akan dimulai.


Acara dimulai dengan pidato Papanya Orn di mana ia mengumumkan tentang Thailand Fashion Week dan bahwa ia mengundang orang penting dalam pesta ini. Si MC acara lalu mengumumkan kedatangan tamu kehormatan mereka yaitu Grace Miller.

Beauty langsung heboh mendengarnya. Grace Miller itu idolanya. Grace pun turun dan langsung menyapa para tamu dalam Bahasa Thailand yang fasih. Ia mengaku bahwa neneknya adalah orang Thailand dan ia adalah teman dekat keluarganya Orn.

Ia juga mengumumkan bahwa cover majalahnya tahun ini adalah tentang Thai fashion. Selesai pidato, Grace cipika-cipiki dengan Orn sekeluarga lalu mereka foto-foto bersama.

Beauty antusias ingin menyapa Grace, tapi Tee mencegahnya dengan cepat. Tunggu orang-orang ini mundur dulu. Beauty tidak mau. Bisa-bisa Grace sudah pulang sebelum dia punya kesempatan menyapa Grace.

"Jika brand kita bisa tampil di majalah Dazz, itu bisa jadi loncatan yang sangat besar bagi kita."

"Aku tahu itu. Tentu saja aku akan bicara dengannya, tapi tidak saat sedang banyak orang seperti ini."

"Tapi kalau kita membuatnya mengingat kita duluan sebelum yang lain, kita bisa mendapat keuntungan besar."


Beauty mau mendekat, tapi Tee terus saja menghentikannya dan bersikeras menyuruhnya menunggu. Malah Jade yang mendapat kesempatan duluan untuk mendekati Grace dan foto-foto bersama mereka.

Kesal, Beauty langsung nyinyir menyindir Tee. Tapi Tee tetap saja menghentikannya saat dia berusaha mendekati Grace lagi.


Selesai foto-foto, Grace interview dengan para wartawan. Beauty benar-benar tidak sabaran dan menyuruh Tee untuk meminta Orn memperkenalkan mereka pada Grace. Tee tidak mau dan terus ngotot menyuruh Beauty menunggu.

Beauty tidak mau menunggu dan langsung menyeret Tee ke Orn. Tapi Tee masih saja bersikeras tidak mau bilang yang sebenarnya dan hanya beralasan kalau Beauty menyukai karangan bunganya Orn. Beauty sampai kesal dibuatnya.


Tapi kemudian dia melihat Grace selesai interview. Beauty langsung melesat mendekati Grace lalu menyombongkan dirinya dan perusahaannya.

Tapi Grace yang tadinya penuh senyum di depan kamera, mendadak berubah dingin dan cuek pada Beauty. Dia bahkan terus berusaha menghindari Beauty, tapi Beauty terus saja mengejarnya.

Dia berusaha mengingatkan Grace kalau mereka pernah bertemu saat dia masih kuliah design di London. Grace bahkan pernah menghadiri fashion show-nya saat dia lulus.

Grace males banget mendengarkan ocehan Beauty dan dengan dinginnya berkata kalau dia tidak ingat. Mungkin rancangannya Beauty kurang menarik sampai dia lupa. Dia lalu pergi untuk menyapa Orn. Beauty jelas sakit hati diperlakukan seperti itu.

"Julukan 'tak berperasaan' sangat cocok dengannya." Komentar Jade.

"Pantas saja sih, udah tua. Udah kena Alzheimer." Kesal Beauty


Melihat itu, Dewi berkomentar kalau Grace dan Beauty itu sangat mirip satu sama lain seperti bayangan cermin. Jika saja ia tidak tahu kalau Lalita adalah Ibunya Beauty, mungkin ia akan mengira kalau Beauty putrinya manusia bernama Grace Miller itu.

"Lallalit sangat meyakini Grace. Makanya secara tak sadar, dia mengikuti sikap Grace."

Karena mereka sangat mirip bagai bayangan cermin, Lalita usul agar mereka membuat Beauty melihat sikapnya sendiri melalui Grace, agar Beauty sadar seperti apa dirinya selama ini.

Dewi setuju. Lalita memohon agar Dewi mengizinkannya untuk melakukan tugas itu. Dia ingin mengajari Beauty tentang perasaan orang lain setiap kali Beauty merasa dirinya lah yang paling benar dan marah-marah tanpa alasan.

"Baiklah. Kau boleh melakukannya. Tapi kau hanya memberinya percikan kecil. Selebihnya tergantung pada nasibnya sendiri."

"Aku akan berhati-hati."


Beauty masih kesal saat Grace menyapa Orn dan tanya di mana kekasihnya. Orn malu-malu menunjuk Tee. Grace langsung suka dengan Tee. Sangat tampan dan sangat cocok dengan keponakan kesayangannya.

MC lalu memanggil komite Thailand Fashion Week untuk foto-foto bersama Grace. Tapi saat Beauty mau ikutan foto, Grace bersikeras ingin foto-foto bersama keluarganya Orn dulu.


Terpaksalah Beauty pergi. Tapi saat Tee juga mau pergi, Grace mencegahnya dan menyuruhnya ikut foto... karena mereka kan jadi satu keluarga sebentar lagi. 

Tee tampak tak enak pada Beauty, tapi dia terpaksa berfoto bersama mereka. Cemburu, Beauty langsung menjauh dari sana.

Bersambung ke part 2

1 komentar: