Sinopsis Leh Nangfah Episode 18 - 1

Sinopsis Leh Nangfah Episode 18 - 1


Burung-burung itu berterbangan dari kotak. Suasana jadi ribut karenanya. Tee sigap menjauhkan Beauty dan melindunginya sementara yang lain sibuk memukuli burung-burung itu. Beauty pun tampak ketakutan.

Pat kesal melihat Tee malah melindungi Beauty, tapi senang juga melihat ekspresi ketakutan Beauty.

"Berhenti!!!" Bentak Beauty.


Pat senang, mungkin mengira Beauty akan histeris. Tapi alih-alih mencemaskan dirinya, Beauty malah mencemaskan burung-burung itu dan meminta mereka untuk berhenti memukuli burung-burung itu. Buka saja pintunya, mereka akan keluar dengan sendirinya. Semua orang jelas kaget mendengarnya.

"Aku yakin ada seseorang yang punya niat baik dan tahu kalau aku takut pada burung. Makanya dia mengirimiku burung-burung sebagai kejutan. Tapi maaf, aku sudah tidak lagi takut pada burung. Karena binatang membantu kita untuk mengetahui seperti apa pengkhianat itu. Kita, manusia, tidak boleh lengah. Aku benar kan, Khun Pakpimon (nama asli Pat)?"

Pat canggung mendengarnya. "Yah."


Beauty cepat-cepat mengalihkan topik dan melanjutkan rapat mereka. Beauty menilai bahwa perusahaan mereka selama ini hanya fokus pada kecantikan produk mereka tanpa mempedulikan kecantikan pembuatnya.

"Jadi bagaimana kalau kita kembangkan keduanya bersama-sama? Jangan lupa bahwa slogan kita adalah inner beauty. Jika pegawai kita belajar mempercantik diri mereka sendiri, mereka akan punya punya keberanian untuk memproduksi produk yang berkualitas."


Semua orang langsung bertepuk tangan kagum dengan idenya, kecuali Pat tentunya. Thana setuju dengannya, inner beauty memang harus dimulai dari pembuat produknya.

"Selamat," ucap Tee bangga.


Papanya Orn meminta pendapat Jade tentang event untuk acara anniversary perusahaannya. Jade menyarankan agar mereka mengadakan pesta indoor dengan atmosfer yang hangat dan bersahabat.

Papa dan Mami lalu pergi bersama pihak organizer untuk menata tempat pestanya nanti. Jadilah Orn berduaan dengan Jade yang tanya kenapa Orn tidak bertemu Tee hari ini.

"Dia ada meeting hari ini." Ketus Orn

"Kalau begitu, sebaiknya kau segera pulang dan bersiap-siap."

"Dia bilang kalau dia tidak bisa datang karena hari ini ada pengumuman co-presiden baru Thanabavorn."


Jade terkejut mendengarnya. Beauty diumumkan jadi co-presiden? Wah, itu berita besar untuk industri ini. Orn sontak panik menyadari kalau informasi ini mungkin informasi rahasia dan dia sudah ceroboh membocorkannya.

"Khun Jade, bisakah kau merahasiakannya?"

"Kurasa ini memang rahasia. Jika tidak, pasti sudah ada press conference."

"Astaga, tidak seharusnya aku mengatakan itu. Kau tidak boleh bilang-bilang, yah? berjanjilah kalau kau tidak akan melakukannya! Berjanjilah, kumohon!"

Jade geli melihat kepanikannya. Baiklah, dia berjanji. Tapi ada satu syarat. Orn harus makan malam bersamanya. Orn awalnya tidak mau, tapi saat Jade berniat mau mengajak Maminya Orn juga, Orn akhirnya setuju. Tapi dia harus menepati janjinya, loh. Janji, yah? Janji?

"Bagaimana bisa aku jahat saat kau memohon padaku seperti ini?" Goda Jade


Selesai rapat, mereka melanjutkannya dengan pesta. Saat ngobrol dengan salah satu eksekutif, ia membahas tentang Thailand Fashion Week yang akan datang.

Ia yakin Thanabavorn akan punya ide-ide baru tahun ini dengan bergabungnya Beauty dalam perusahaan mereka. Beauty tak tahu menahu tentang cara itu dan langsung menuntut penjelasan Tee.

"Bagaimana mungkin kau tahu segalanya saat kau baru selesai training?" Bisik Tee.

Thana lalu pamit karena sekarang sudah sore dan dia harus mengantarkan Ibunya Tee ke acara lain. Beauty sontak cemas menyadari sekarang sudah hampir petang.


Begitu Thana dan si eksekutif pergi, Beauty juga langsung pamit pada Tee. Tugasnya sudah selesai, kan? Dia ada urusan penting lainnya. Dadah! 

Tapi Tee langsung menariknya dan mengingatkan Beauty kalau ini adalah acaranya Beauty, jadi dia tidak boleh pergi begitu saja. Urusan perusahaan harus dinomorsatukan.

Beauty tak peduli dan langsung melesat kabur. Sayang, langkahnya terhenti saat Korn mendadak menghadangnya dan berkata kalau dia sangat bangga pada Beauty hari ini.

"Terima kasih. Paman, aku ada urusan penting lainnya, jadi aku permisi!"


Beauty berusaha lari secepatnya, tapi tiba-tiba saja dia mulai kesakitan. Dan tepat saat itu terjadi, Pat ada di sana. Panik, Beauty bergegas naik ke lantai atas dan mencari tempat kosong.

Pat jelas penasaran dengan keanehan Beauty dan langsung pergi mengejarnya. Dia semakin heran saat melihat Beauty masuk ke gudang sambil mengerang kesakitan dan tampak begitu panik. Dia mencoba mengetuk pintu, tapi dia terus mendengar suara kesakitan Beauty sampai dia cemas dibuatnya.


Tepat saat dia membuka pintu, Beauty sudah berubah jadi burung yang ngumpet di dalam kardus. Pat jelas bingung mendapati tempat itu kosong. Dia berusaha mencari Beauty, tapi tak menemukannya di mana-mana. Korn heran, apa yang dia lakukan di sini?

"Keponakan ayah. Lihatlah kekacauan yang dia buat."

"Di mana Beauty?"

"Aku sedang mencarinya."


Korn tak percaya kalau Beauty ada di sini. Tadi dia bilang dia ada urusan penting. Kalaupun iya, terus dia menghilang ke mana? Jendelanya saja tertutup. Pat yakin seyakin-yakinnya kalau Beauty tadi masuk kemari, dia tidak mungkin salah.

Korn menduga yang masuk kemari pasti pencuri dan langsung memanggil sekuriti. Pat tak menyerah dan terus mencari-cari keberadaan Beauty... dan saat itulah dia melihat si lovebird biru.

"Bagaimana bisa burung itu ada di sini?" Heran Pat.


Korn yakin itu salah satu burung yang lepas tadi. Pat menyangkal, tidak ada lovebird di ruang meeting tadi. Korn jelas heran mendengar ucapan Pat. Pasti Pat kan yang membawa burung-burung itu ke ruang meeting?

Pat mengakuinya. "Terus kenapa? Apa ayah akan melaporkannya pada presiden sekaligus keponakan kesayangan ayah itu agar dia memecatku?"

Beauty kesal, dia sudah menduga Pat lah pelakunya. Korn kecewa padanya, sungguh ia tak pernah menyangka kalau Pat akan melakukan sesuatu semacam ini. Kalau sampai ada yang tahu, maka reputasi Pat sendirilah yang akan hancur.

"Aku tidak peduli. Biar semua orang tahu kalau presiden baru mereka itu sebenarnya gila dan takut burung. Bagaimana bisa seseorang seperti ini memimpin sebuah perusahaan?"

"Aku sudah lama tidak takut pada burung, cewek kuno!"

"Lalu apa hasilnya sesuai harapanmu? Cobalah untuk bersabar. Segalanya akan segera selesai." Ujar Korn ambigu.


Beauty jelas curiga dengan maksud ucapan Korn. "Apa paman akan mengambil alih perusahaan dan membiarkan cewek kuno itu menanganinya?!"

Aku tidak akan pernah bisa mentoleransi apalagi membiarkan Beauty jadi bosku."

"Pat. Apa kau mau bekerja di tempat lain saja? Aku akan mengurusnya untukmu."


"Bagus. Pergi saja kalian. Pergi, pengkhianat!" Beauty langsung ganas menyerang Pat dan buang kotoran tepat mengenai mata Pat. Wkwkwk!


Alih-alih marah, Dewi geli melihat tingkah Beauty. Dia bisa bertahan dengan baik biarpun caranya rada menjijikkan. Tapi warna hitam kristalnya jadi meningkat lagi. Lalita bingung, bukankah Beauty tidak pernah menyakiti siapapun?

"Pikirannya masih diliputi oleh kebencian terhadap mereka yang dia kira pengkhianat. Jika dia tidak melepaskannya (kebencian), maka dia tidak akan lulus."

Lalu apa yang harus Beauty lakukan? Tanya Lalita. Tentu saja Beauty harus mempelajari dirinya sendiri.


Beauty datang ke rumah Tee dan langsung mencari-cari keberadaan Tee. Di mana dia? Apa belum pulang?

"Tee tidak ada. Yang ada Seua-kraung."

"Ew, kucing gendut."

"Biarpun aku gendut, aku bisa memberimu kehangatan di musim dingin, say."

"Hei, pergi sana. Aku lagi bad mood."

"Ada apa, cantik? Katakan padaku."

"Aku tidak mau jadi burung lagi. Apa kau bisa bantu?"

"Terus apa kau mau jadi jerapah?"

"Hei. Bagaimana kalau aku berubah tidak tepat waktu dan ada orang yang lihat? Seperti hari ini, hampir saja."

"Kau burung apa spiderman? Bagaimana bisa kau berubah?"

"Cuma tinggal 35 hari. Apa yang harus kulakukan?"

"Cantik-cantik bego."


Tepat saat itu juga, dia mendengar suara Pat yang datang bersama Tee. Pat berusaha meyakinkan Tee kalau Beauty sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka.

Tadi dia melihat Beauty sempoyongan masuk ke dalam gudang. Tapi waktu dia masuk, Beauty malah menghilang. Tee tak percaya, Beauty pasti keluar saat Pat sedang tidak memperhatikan.

Tapi... Beauty juga pernah menghilang saat di pom bensin. Pat kesal, apa Tee mengkhawatirkan Beauty? Tapi aneh juga, kenapa dia melarikan diri padahal Tee sudah berbaik hati memberinya tumpangan?

"Pasti ada seseorang yang meneleponnya, jadi dia bergegas pergi." Duga Tee dengan nada kesal.

"Siapa yang meneleponku? Kau berpikir terlalu berlebihan, gendut mata empat."

"P'Tee, aku yakin kalau Beauty menyembunyikan sesuatu dari kita."

"Iya. Aku memang punya rahasia. Tapi itu urusanku, cewek kuno!"


Pat bingung mendengar cuitan burung itu. Dari mana cuitan itu berasal? Saat itulah Tee melihat burung Beauty dan Pat langsung ketakutan. 

Itu burung yang ada di gudang tadi. Burung itu yang selalu cari perkara dengannya. Tee tak percaya, itu pasti burung lain yang kebetulan warnanya sama.

"Tidak, P'Tee. Aku ingat betul. Itu burung yang sama."

"Kalau kau ingat, maka cepatlah pergi sebelum aku membuang cintaku ke kepalamu lagi."


Ketakutan, Pat memutuskan pergi. Dia berjalan takut-takut... lalu menabok kepala burung Beauty dan kaburrrr.

"Dasar cewek kuno!"


Tee heran. "Apa kau melakukan sesuatu padanya?"

"Nggak tuh."

"Hei, kau jadi lebih galak sejak terakhir kali aku melihatmu atau kau lapar? Kau lapar, yah?"

"Lain kali akan kucolok matamu, cewek kuno!"

Bersambung part 2

1 komentar: