Sinopsis About is Love Episode 14 - 3

 Sinopsis About is Love Episode 14 - 3

Tapi untung saja Zhou Shi sudah mabuk dan masih gila dengan kenarsisannya hingga mengira kalau penyakit yang Wei Qing maksud adalah penyakit cinta tak terbalas.


"Kasihan, kasihan! Begini saja, karena hari ini kita bersenang-senang, akan kuberi kau kesempatan untuk menyatakan perasaanmu agar kau bisa menyembuhkan penyakit cinta tak terbalasmu. Katakan saja. Akan kuingat apapun yang kau katakan."

"Tak ada yang perlu kukatakan."

Zhou Shi tak percaya. Wei Qing kan jenis orang yang tidak mengutarakana apa yang dia pikirkan. Kalau begitu, biarkan Zhou Shi bertanya. Apa yang Wei Qing sukai dari dirinya? Dan kenapa Wei Qing suka sekali mengganggunya?


Wei Qing jujur mengaku kalau dia menyukai Zhou Shi karena saat dia menyentuh Zhou Shi, dia tidak mendapat reaksi alergi. Dia suka karena Zhou Shi masih muda dan cantik.

"Aku tahu itu!" Ujar Zhou Shi dengan narsisnya. "Makanya, katakan sesuatu yang tidak aku tahu saja."

"Aku suka kau punya banyak kekuatan dan makan banyak. Kau orang yang menampakkan pikiranmu melalui wajahmu, kau tidak pernah menyembunyikan pikiran-pikiranmu. Dan aku juga suka kau mampu mengatasi segala kesulitana, kau melakukan segalanya sendiri, dan tidak pernah mengambil keuntungan dari siapapun."


Dan satu lagi. Zhou Shi biasanya pengecut. Dalam keadaan sadar, dia biasanya pengecut. Tapi saat sedang mabuk, dia jadi sangat percaya diri.

Zhou Shi ngambek. "Kau kelewatan!"

"Sebenarnya, kau tidak perlu mengubah dirimu demi siapapun. Pasti akan ada seseorang yang menerimamu apa adanya. Kau atidak perlu jadi orang yang paling berbakat, cukuplah jadi dirimu sendiri. Hei! Kasih aku respon dong. Aku tidak pernah memuji orang sebelumnya."

Zhou Shi benar-benar terpesona mendengar ucapannya hingga dia bertindak impuls mengec*p Wei Qing yang jelas saja membuat Wei Qing kaget.

"Makasih sudah memujiku. Bukankah respon ini cukup besar?"

 

Wei Qing kontan menarik Zhou Shi dan menci*mnya mesra. Mereka begitu larut dalam perasaan mereka hingga Wei Qing tak sengaja oleng ke belakang dan menyenggol sebuah wadah lilin sampai lilin itu tercebur ke air lalu mengambang di permukaan.

Tapi dalam keadaan mabuknya, Zhou Shi malah mengira lilin terapung itu adalah kertas ujiannya yang dulu. Dia langsung terjun ke air untuk mengambilnya, sama persis seperti saat dia tenggelam dulu.

Cemas, Wei Qing langsung terjun ke air untuk menyelamatkannya, persis seperti dulu saat ada seseorang (entah siapa) yang juga terjun ke kolam untuk menyelamatkan Zhou Shi remaja.


Wei Qing membawanya ke permukaan dan langsung ngomel-ngomel memarahinya saking cemasnya. Dia sudah gila apa? Gila karena kebanyakan minum?

"Anggap saja ini cuma mimpi. Lagian aku sudah minum banyak, besok aku pasti akan melupakan segalanya."

"Kalau begitu, mari kita buat ini jadi mimpi gila." Ujar Wei Qing lalu kembali menci*mnya.


Ming Cheng baru kembali dari mencari tahu penyebab pemadaman listrik. Lagi ada perbaikan sekarang, jadi mungkin pemadamannya bakalan sampai satu jam.

Berhubungan tidak bisa melakukan apapun sekarang, bagaimana kalau mereka keluar untuk melihat bulan purnama saja. Tapi Qiu Jing malah nyerocos panjang lebar tentang ilmu teori bulan purnama... yang intinya, bulan purnama itu berhubungan dengan musim kawinnya para binatang. Wkwkwk!

Qiu Jing mendadak mencemaskan Zhou Shi. Kenapa malah terjadi pemadaman listrik di saat seperti ini. Manusia adalah makhluk yang pikirannya lemah dan sulit mengontrol diri. Tidak bisa, dia harus mencari kedua orang itu!


Tapi Ming Cheng dengan cepat mencegahnya. Lagian, apa dia tahu di mana rumahnya Wei Qing? Gampang, tinggal cari saja di internet atau telepon polisi.

Terus dia mau lapor apa ke polisi? Bahwa ada seorang wanita dan seorang pria yang lagi berduaan? Bahkan sekalipun terjadi apapun di antara mereka, sudah terlambat kalau dia pergi sekarang.

Qiu Jing heran mendengarnya, kenapa Ming Cheng tenang banget? Apa dia tidak mengkhawatirkan Zhou Shi? Bagaimana kalau Zhou Shi mabuk dan Wei Qing menyakitinya?

"Aku percaya pada Shi Shi. Jika dia berani minum bersama Wei Qing, berarti Wei Qing adalah seseorang yang dia percayai."

Hmm, benar juga. "Kau benar-benar mengenalnya dengan baik."

"Tentu saja. Aku melihatnyai tumbuh besar, dia sudah seperti adik kandungku sendiri."

"Adik kandung? Hadeh, tamat deh. (Hubungan mereka) mustahil."

"Mustahil? Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Ayo lihat bulan saja."


Zhou Shi terbangun keesokan harinya di sebuah kamar yang besar dan langit-langitnya tinggi. Bingung dia, sejak kapan langit-langit kamarnya jadi setinggi ini? Sejak kapan rumahnya jadi sebesar ini?

Ada segelas susu lagi di nakas. Zhou Shi santai saja meminumnya... tepat saat dia ingat minum-minum dengan Wei Qing dan mengonfrontasi perasaan Wei Qing padanya (tapi sepertinya dia tidak ingat dengan ci*mannya). Ingatan itu kontan membuat Zhou Shi tersedak.

 

Gawat! Jangan-jangan...? Mana dia cuma pakai kimono lagi. Tidak mungkin! Ini pasti cuma mimpi! Dia langsung menutup mata lagi sambil bersikeras meyakini kalau semua ini cuma mimpi. Saat dia membuka mata, dia pasti berada di kamarnya dan tidak ada yang mengganti bajunya.

Tapi saat dia membuka mata, dia masih juga di sana. Zhou Shi dengan takut-takut membuka kimononya dan kontan lebay menaboki kepalanya sendiri dengan penuh penyesalan. Ngapain dia minum sih?! Sama Wei Qing lagi! Tapi tunggu dulu, di mana Wei Qing?


Wei Qing sendiri baru keluar dari kamar mandi sambil teleponan dengan Asisten An yang melaporkan tentang perekrutan pegawai baru. Dari percakapan mereka, ternyata PA-nya Wei Qing mau cuti hamil, tapi Asisten An masih belum mendapatkan penggantinya. Apa Wei Qing mau memilih salah satu dari departemen mereka?

"Tidak perlu terburu-buru. Ada seseorang yang kurasa cocok." Ujar Wei Qing (Hmm, Zhou Shi kah?)

Asisten An juga melapor bahwa para dewan direksi akan segera datang sebentar lagi. Tapi Nyonya He tidak datang karena sedang tidak enak badna. Kalau begitu, Wei Qing ingin mereka video call meeting.


Semua orang berkumpul untuk meeting. Seorang direktur melaporkan pendapatan perusahaan mereka yang terus menurun sedikit demi sedikit.

"Aku tahu itu. Aku sudah melihat laporannya. Yang kuinginkan bukan laporan situasi terkini, melainkan solusi."

Wei Qing mau dengar apa pendapat mereka tentang masalah finansial yang dialami perusahaan belakangan ini. Menurut mereka kerugian terbesar datang dari galeri seni.

Pasar seni belakangan ini memang berubah, tapi galeri mereka terus menerus merugi. Mereka yakin kalau kesalahan ini ada pada manajemen galeri. Karena itulah, mereka menyarankan agar anggota manajemen galeri segera diganti.

"Maksud kalian, kalian ingin dewan direksi menyingkirkan Direktur He dan memilih orang lain yang lebih mampu? Bahkan sekalipun kita menggantinya, kita harus mencari pengganti yang sesuai. Tapi dari yang kulihat, saat ini di galeri, tidak ada seorang pun yang lebih baik daripada Direktur He."

Atau jika salah satu dari mereka merasa lebih cocok untuk menggantikan Nyonya He, mereka boleh merekomendasikan diri mereka sendiri. Tapi para direktur itu malah cuma membisu.

Karena tidak ada yang mau maju mencalonkan diri, maka sebaiknya mereka memikirkan solusi lain saja.

Karena bisnis galeri adalah bisnis yang tidak pernah membawa keuntungan bagi perusahaan mereka. Tapi salah satu direktur berkata bahwa ada beberapa perusahaan lain yang tertarik membeli Yun Ma art, contohnya... perusahaan Snow.



Pada saat yang bersamaan, Zhou Shi keluar dari kamar dan mencari-cari Wei Qing. Tapi rumah itu cukup besar sampai dia kesulitan mencarinya. Tapi kemudian, samar-samar dia mendengar suara Wei Qing dari lantai bawah.

Bersambung ke episode 15

2 komentar: