Sinopsis Master Devil Don't Kss Me Season 2 - Episode 15

Sinopsis Master Devil Don't Kss Me Season 2 - Episode 15



Dokter memberitahu bahwa Tuan Han sudah tidak kritis lagi sekarang, tapi ia tetap harus dirawat di RS. Qi Lu menangis melihat ayahnya seperti ini.


Sekretaris Liu dari perusahaan datang tak lama kemudian memberitahukan masalah yang ada di perusahaan. Salah satu dari proyek mereka investasinya gagal, juga ada masalah keuangan.

Karena itulah dia menyarankan Nyonya Han untuk datang ke perusahaan untuk menahan para pemegang saham agar mereka tidak menarik investasi mereka.

Nyonya Han ragu karena dia cuma seorang IRT yang tak tahu menahu urusan perusahaan. Qi Lu juga belum lulus sekolah. Apa tidak ada cara lain?

"Bagaimana kalau Tuan Muda yang melakukannya?" Saran Sekretaris Liu.

Qi Lu sudah cukup umur untuk memikul tanggung jawab perusahaan. Para pemegang saham itu melihat Qi Lu tumbuh dan mereka semua menyukai Qi Lu, apalagi Si Di Lan terkenal dengan pendidikan bisnis mereka. Qi Lu ragu tapi Nyonya Han menyemangatinya untuk pergi.


Chu Xia datang tak lama kemudian. Melihat Tuan Han masih belum sadar, dia memohon agar Tuan Han dan ibunya (organ ibunya yang ada dalam tbuh Tuan Han) bertahan. Dia janji akan terus bekerja keras setiap hari dan hidup dengan baik. Jadi dia memohon agar mereka juga hidup dengan baik.


Nyonya Han berusaha menenangkannya dan meyakinkannya bahwa Tuan Han dan ibunya pasti akan baik-baik saja. Tapi Chu Xia tak bisa lagi menahan tangisnya dan langsung menangis dalam plukan Nyonya Han.


Man Kui diberitahu Xin Wei bahwa ada masalah dalam keluarga Han, ada kemungkinan mereka akan bangkrut. Para pemegang saham ingin menarik investasi mereka dan Ayah Qi Lu dirawat di RS karena masalah itu.

"Pantas saja Qi Lu tidak datang ke sekolah hari ini," Man Kui cemas.

"Ke mana kalian pergi kemarin?"

"Apa itu urusanmu?"

"Xiang Man Kui, tidak seharusnya kau bicara begitu. Sekarang ini hanya keluargaku satu-satunya yang bisa menolongnya. Satu kata dari ayahku, keluarga mereka bisa keluar dari kekacauan ini dalam sedetik. Tapi kau, memangnya apa yang bisa kau lakukan?"

Man Kui sinis. Yah, perannya memang kecil. Jadi lebih baik mereka hentikan saja kerja sama mereka sampai di sini. Pfft! Xin Wei langsung galau.


Qi Lu menggerutu kesal sehabis rapat gara-gara para pemegang saham itu meremehkannya dan mempersulitnya.

Sekretaris Liu berusaha menyemangatinya, mereka hanya berpikir kalau Qi Lu masih terlalu muda dan tidak tahu bagaimana menjalankan bisnis. Karena itulah mereka mempersulit Qi Lu.

"100 juta? Di mana aku bisa memperoleh 100 juga dalam satu minggu?"

Tapi hanya ini satu-satunya cara. Mereka harus mencari investor baru untuk membantu mereka bisa melalui semua ini. Hanya dengan begitu, para pemegang saham tidak akan menarik kembali uang mereka.


Qi Lu pulang malam harinya dengan lesu. Nyonya Han meneleponnya tak lama kemudian untuk memberitahu kalau Han Tua akan menemaninya di RS, tapi dia sudah menyuruh seseorang untuk datang menemani Qi Lu. Selama beberapa hari ke depan, Qi Lu harus bisa menjaga dirinya sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar. Qi Lu langsung cemas. Saat dia membuka pintu, dia mendapati sosok berdiri dalam kegelapan dan sontak menjerit ketakutan. "Hantu~~~"

"Kau yang hantu!" Kesal Chu Xia.

"Apa yang kau lakukan tengah malam begini?"

"Siapa yang hantu. Lampu teras mati, dan aku harus mencari kunciku untuk membuka pintu."

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Kudengar seseorang ketakutan karena sendirian di rumah. Jadi aku datang untuk menemaninya."


Qi Lu menyangkal dan langsung mendorong Chu Xia keluar. Tapi saat Chu Xia menolak pergi, Qi Lu sama sekali tidak keberatan. Karena Chu Xia bersikeras, masuklah! Lagian dia butuh seorang pelayan.

Ngomongnya sok banget padahal diam-diam dia tersenyum lebar. Heee. Saat Chu Xia masuk untuk menaruh barangnya di kamar, Qi Lu cepat-cepat menyembunyikan si kucing. Chu Xia tidak boleh tahu kalau dia ada di sini.


Dia lalu duduk sambil bergaya sok keren menunggu Chu Xia balik. Duduklah, mari bicara. Chu Xia menurutinya dan duduk di ujung sofa.

"Mendekatlah." Perintahnya.

Chu Xia geser sedikit. Qi Lu hampir kehilangan kesabaran melihatnya, lebih dekat lagi! Chu Xia lagi-lagi cuma geser sedikit. Kesal, terpaksa Qi Lu harus geser mendekat sendiri.


"Apa perlu sedekat ini. Kalau ada yang perlu kau katakan, cepat katakan."

Qi Lu tiba-tiba mencubit pipi Chu Xia. "Chu Xia, mulai sekarang kita jangan bertengkar lagi setiap kali kita bertemu, oke?"


Chu Xia setuju, Qi Lu pun langsung tersenyum senang. Kenapa dia senyum-senyum? Heran Chu Xia.

Tidak ada, Qi Lu cuma senang melihat Chu Xia lalu menarik Chu Xia ke dalam plukannya. "Terima kasih, Chu Xia. Terima kasih sudah kembali."

"Jantungmu berdetak sangat kencang."

 

Malu, Qi Lu mengklaim kalau itu jantungnya Chu Xia yang berdebar kencang. Qi Lu lalu melepaskan plukannya dan mendekatkan wajahnya untuk menc**m Chu Xia... tepat saat si kucing tiba-tiba mengeong dan batallah ciuman mereka. Wkwkwk!


"Ada seekor kucing?"

Qi Lu menyangkal, Chu Xia salah dengar kali. Tapi si kucing mendadak mengeong lagi. Chu Xia langsung celingukan mencari-cari.

Berusaha menutupi jejak, Qi Lu asal menirukan bunyi meong si kucing dan mengklaim kalau dialah yang membuat suara meong itu (padahal suaranya nggak ada mirip-miripnya).

Chu Xia jelas ragu, tapi Qi Lu terus ngotot dan mengklaim kalau Chu Xia pasti sudah lelah. Pasti Chu Xia sangat kelelahan sampai berhalusinasi. Tidak ada kucing kok. Ayo tidur!


Keesokan harinya, Chu Xia menyajikan sarapan untuk Qi Lu... telor ceplok gosong. Ha! Qi Lu langsung ilfeel melihatnya. Sebentar! Dia mau lihat dulu ada obat keracunan makanan atau tidak.

"Duduk! Makan!"

Terpaksalah Qi Lu duduk kembali dan memakan makanan tak layak makan itu. Hmm... enak juga, cobain deh. Qi Lu pun menyuapkan satu suap untuk Chu Xia. Enak? Chu Xia langsung meringis sebelum kemudian memuntahkannya. Menjijikkan!

"Kau makan saja pelan-pelan, aku berangkat dulu." Kata Qi Lu lalu kabur.

 

Kabar masalah perusahaannya Qi Lu sampai ke telinga para penggosip sekolah. Bisa diduga, mereka asal saja memelintir gosip itu dari yang awalnya hampir bangkrut jadi sudah bangkrut.

Kasihan Qi Lu, dia berubah dari pangeran jadi kodok sekarang. Parahnya lagi, mereka menyalahkan Chu Xia sebagai penyebab kesialan keluarga Han.


Qi Lu dan Chu Xia menyadari tatapan aneh semua orang pada mereka. Bahkan Xiao Nan pun bersikap aneh. Dia hendak menghindari mereka, tapi Qi Lu cepat-cepat menghentikannya untuk meminta maaf atas kejadian waktu itu.

Xiao Nan sama sekali tak menyangka akan mendapat maaf sampai dia canggung sendiri mendengarnya. Tidak masalah, kita semua berteman. Tanpa mereka sadari, Xin Wei kesal setengah mati menatap mereka dari kejauhan.


Xin Wei lalu mendekati Qi Lu dan dengan pedenya menyatakan kalau dia ingin mendiskusikan masa depan mereka. Qi Lu langsung mendengus sinis mendengarnya. Masa depan apa? Xin Wei tidak perlu mengkhawatirkan masa depannya.

Xin Wei langsung mendekat dan mengingatkan Qi Lu bahwa jika Qi Lu setuju untuk bersamanya, maka dia akan bicara pada ayahnya untuk membantu perusahaan Qi Lu. Mudah saja bagi keluarganya untuk membantu keluarga Qi Lu keluar dari krisis.


"Jadi maksudmu, jika aku melepaskan kesempatan ini, berarti aku bodoh?"

Kalau dipikir-pikir, mereka memang berasal dari latar belakang yang sama dan mereka bisa jadi pasangan sempurna. Tapi... "Hal yang disebut cinta, kau tidak memilikinya! Minggir!"


Cheng Chuan terburu-buru ke gudang peralatan olahraga dan bilang ke Feng Shao. "Chu Xia tidur dengan Qi Lu!"

"APA?!" Feng Shao kaget. "Kapan kejadiannya?!"

"Aku cuma bercanda. Tapi itu mungkin bisa terjadi."

Feng Shao bingung, jadi Chu Xia tidur dengan Qi Lu atau tidak sih? Belum, jawab Cheng Chuan.

Feng Shao lega, bikin takut saja. Terus kenapa Cheng Chuan berkata seperti itu kalau mereka ternyata tidak melakukannya?


Apa Feng Shao tidak dengar kalau Ayahnya Qi Lu dirawat di RS? Sekarang cuma ada mereka berdua di rumah. Dia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. "Feng Shao, tolonglah aku! Tolonglah aku! Tolonglah aku!"

"Baiklah, baiklah! Aku akan menolongmu. Ayo, pergi."


Nyonya Han mengomeli Han Tua yang belakangan ini suka sekali makan snack. Tapi Tuan Han malah lebih membela Han Tua. Dia kan sudah tua, biarkan dia hidup sesuai keiinginannya.

"Kita terlalu banyak berpikir dan khawatir dalam hidup ini. Tapi pada akhirnya, tidak banyak harapan kita yang menjadi nyata. Hidup sederhana mungkin lebih bahagia."

Tapi di mana Qi Lu? Nyonya Han berkata kalau Qi Lu dan Chu Xia ada di rumah. Chu Xia datang menjenguk waktu itu dan sekarang dia pindah kembali ke rumah. Jangan khawatir. Anak-anak sudah dewasa sekarang, mereka akan baik-baik saja.


Qi Lu mengelus perutnya yang sudah kelaparan, tapi Chu Xia lama sekali belum kembali dari tadi padahal cuma beli kecap.


Chu Xia dalam perjalanan pulang saat Feng Shao meneleponnya untuk mengajaknya makan malam bersama malam ini. Chu Xia menolak, dia baru kembali dari beli kecap dan mau memasak sekarang.

"Apa benar Qi Lu memperlakukanmu seperti pembantu?" Kesal Feng Shao

"Tidak seperti itu. Aku harus pergi. Dadah!"


Qi Lu berlari pulang dengan riang. Tapi saat dia menoleh ke dapur, senyumannya langsung menghilang melihat Man Kui sudah mulai memasak di sana.

Qi Lu dengan riang berkata kalau Man Kui datang untuk memasak karena dia tahu mereka berduaan saja.

Chu Xia dengan canggung menawarkan bantuannya, tapi Qi Lu melarang. Chu Xia duduk saja, Man Kui benar-benar pandai memasak. Man Kui membenarkannya lalu mengambil alih kecapnya Chu Xia.


"Kalau begitu, aku pergi."

"Mau ke mana?!"

"Feng Shao mengundangku makan malam. Karena seseorang memasak untukmu, jadi aku harus pergi."

Tapi Qi Lu ngotot melarangnya pergi dan menariknya kembali. Dia bahkan berusaha menyeret Chu Xia duduk bersamanya. Tapi karena tak enak pada Man Kui, Chu Xia langsung menghindar dan membantu Man Kui di dapur.


Man Kui tanya apakah Chu Xia masih marah dan mengklaim kalau dia sebenarnya selalu ingin menjadi teman baiknya Chu Xia. Dia iri melihat persahabatan Chu Xia dan Xiao Nan. Apa mereka masih salah paham atas kejadian waktu itu?

"Aku juga bersalah."

"Lalu, kita masih teman, kan?"


Chu Xia mengiyakannya. Tapi saat Man Kui membuka tutup panci, tiba-tiba saja dia menjerit sampai menjatuhkan tutup pancinya.

Entah apakah tangannya yang cedera tidak tahan panas atau tidak kuat mengangkat tutup panci itu. Qi Lu langsung cemas lalu membawanya pergi untuk mengobatinya.

Chu Xia yang keheranan, meletakkan tutup panci itu kembali di atas kompor dan mencoba menyentuhnya. "Tidak panas kok." Herannya.

Bersambung ke episode 16

Post a Comment

0 Comments