Monday, April 29, 2019

Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 8 - 2

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 8 - 2

Hari ini adalah hari pertama Mo Mo magang di Ori Advertising dan langsung menghadap atasannya yang bernama Sha Sha yang menyambutnya dengan cukup ramah.


Dia lalu diserahkan pada Direktur Eksekutif Kreatif yang bernama Li Na yang kemudian mengantarkan Mo Mo ke meja kerjanya dan menyuruh Mo Mo untuk mengambilkan sample banner dari lantai bawah.

Tapi gara-gara bannernya cukup besar, Mo Mo jadi tidak lihat saat seseorang lewat di depannya dan tak sengaja menubruk wanita itu.

Tapi saat mereka saling bertatap muka, kontan kedua kaget saling mengenali satu sama lain. Dia Xu Jie Er, mantannya Fu Pei yang mewek lebay saat tahu kalau Fu Pei dan Mo Mo mau bersama setelah lulus SMA.

Ternyata Jie Er juga pegawai magang di sini dan hari ini juga hari pertamanya bekerja di sini, di Departemen Kreatif No.4... sama seperti Mo Mo. Mo Mo benar-benar senang bertemu dengannya lagi lalu mengantarkannya menemui Sha Sha.


Tapi sikap Sha Sha tampak jauh lebih ramah dan akrab pada Jie Er daripada saat dia menyambut Mo Mo. Hmm, sepertinya karena Sha Sha mengenal ayahnya Jie Er.


Mulai hari ini, Prof Jiang memindhan penelitian mereka ke kampus baru. Ia bahkan sudah memberikan tugas masing-masing untuk Wei Yi dan Zhou Lei.

Yu Yin bingung soalnya dia belum diberi tugas apapun, tapi Prof Jiang memang sengaja tidak memberi Yu Yin tugas biar Yu Yin fokus saja menyelesaikan thesis S2-nya.

Yu Yin sontak protes keras, ngotot mau tetap ikut dalam penelitian ini. Lagian penelitian ini dan thesis-nya tidak bentrok kok.

"Apa kau sudah menyelesaikan kalkulasi yang kusuruh?"

"Belum."

"Xie Yu Yin, tenaga manusia itu ada batasnya. Sekarang ini kau harus fokus pada thesis-mu."

Tapi Yu Yin terus ngotot mau ikut penelitian ini. Dia sudah melakukan ini sejak S1, jadi dia tidak terima kalau tiba-tiba Prof Jiang menghentikannya sekarang. Apa dia boleh bergabung kalau dia menyelesaikan kalkulasinya?

Prof Jiang ragu, tapi baiklah, asal Yu Yin bisa menyelesaikan hitungannya besok, dia boleh bergabung, dia harus bisa menyelesaikan kalkulasi itu tanpa error.


What? Besok? Bahkan seorang profesor pun belum tentu bisa melakukannya. Tapi Yu Yin tak peduli dan menerima tantangan itu. Padahal begitu Prof Jiang pergi, dia langsung menyesali ucapan impuls-nya itu.

Wei Yi yang prihatin padanya, tanpa ragu menawarkan bantuannya. Kalkulasi itu pasti bisa diselesaikan besok jika mereka mengerjakannya bersama-sama. Yu Yin benar-benar tersentuh dan semakin terpesona padanya.


Mo Mo hendak pulang saat tiba-tiba saja dia dihadang Fu Pei yang sudah menunggunya di lobi sedari tadi sambil bawa setangkai bunga. Sedang apa dia di sini?

Tentu saja menjemput Mo Mo. Dia berusaha mengajak Mo Mo makan malam bersamanya, tapi Mo Mo menolak tegas.

"Apa kau masih marah padaku? Apa yang kulakukan pada Wang Shan (nama asli Shan Shan) waktu itu hanya kesalahpahaman."

"Itu tidak ada hubungannya denganku. Aku mau pulang sekarang!"


Tepat saat itu juga Jie Er muncul dan langsung menyapa Fu Pei, dia tidak menyangka kalau mereka berdua masih bersama. Tapi Mo Mo secepat kilat menyangkalnya.

Jie Er mulai keheranan melihat keanehan mereka, apalagi Mo Mo buru-buru pamit pergi. Jadilah Fu Pei dan Jie Er berjalan pulang bersama, apalagi mereka searah.


Tiba-tiba Fu Pei ditelepon ayahnya yang mengajaknya makan siang bersama besok. Tapi hubungan Fu Pei dan ayahnya sepertinya kurang baik, dia sengaja membuat-buat alasan untuk menolaknya lalu mematikan sambungan mereka. Bahkan dari percakapan mereka, sepertinya ayahnya Fu Pei ini orang tua yang sangat keras, dulu Jie Er dan Fu Pei putus gara-gara ayahnya Fu Pei.


Mo Mo mendapat kiriman daging panggang dari ibunya buat dia nikmati bersama Wei Yi. Malam harinya, Mo Mo memotong-motong daging itu sambil menunggu Wei Yi pulang.

Tapi sayangnya, gara-gara Wei Yi sibuk membantu kalkulasinya Yu Yin, dia jadi tidak bisa pulang. Mo Mo menunggu dan menunggu sepanjang malam, terus-menerus menatap pintu, bahkan mengecek keluar balkon, tapi tetap saja Wei Yi tidak pulang-pulang. Dia akhirnya menelepon Wei Yi untuk mengeceknya, kenapa dia tidak pulang?

"Seharusnya kau bilang dari tadi!"

"Baiklah, kapan-kapan aku akan memberitahumu lebih dulu."

"Yah udah, dah!" Mo Mo menutup teleponnya dengan kesal lalu mengambil piring dagingnya untuk dikembalikan ke kulkas, tapi malah hampir terjatuh gara-gara tersandung si Lingkaran.

"Lingkaran, ayahmu tidak pulang malam ini, apa kau tidak peduli?!" Kesal Mo Mo.

"Daya baterei lemah, mematikan." Jawab si Lingkaran dengan polosnya. Wkwkwk!
 

Wei Yi dan Yu Yin sibuk sepanjang malam hingga tak terasa malam berganti pagi. Saat Mo Mo keluar kamar, dia langsung mengecek kamarnya Wei Yi, tapi kamar itu masih kosong tak tersentuh.

Saat akhirnya mereka menyelesaikan kalkulasinya, Wei Yi benar-benar kecapekan dan langsung tidur tanpa menyadari Yu Yin yang tengah memandanginya dengan penuh cinta.


Prof Jiang dan Zhou Lei jelas heran saat membaca laporannya Yu Yin. Bagaimana bisa dia menyelesaikannya hanya dalam waktu semalam? Jangan-jangan Yu Yin asal membuat data ngawur untuk membodohi Prof Jiang? Yu Yin jelas tidak terima tuduhannya.

Sebentar, Prof Jiang mau mengkalkulasinya sendiri dulu. Dia meminta Zhou Lei dan Wei Yi untuk membantunya, tapi malah mendapati Wei Yi tidur.

Prof Jiang sontak membangunkannya dengan kesal dan ngomel-ngomel memarahinya, mengira Wei Yi malas dan langsung membanding-bandingkannya dengan Yu Yin yang rajin mengerjakan kalkulasinya sepanjang malam.

Yu Yin buru-buru membelanya dan mengaku kalau Wei Yi kecapekan karena membantunya mengerjakan kalkulasi itu sepanjang malam.

Hah? Zhou Lei tak percaya, mahasiswa S1 mana mungkin bisa mengerjakan kalkulasi ini. Yu Yin pasti bohong buat melindungi Wei Yi.


Tapi setelah membaca laporan itu baik-baik, Prof Jiang merasa mungkin memang Wei Yi yang mengerjakannya. Zhou Lei ngotot tak percaya dan langsung menuntut Wei Yi untuk mengerjakan kalkulasi itu di hadapannya.

Wei Yi menurutinya dan menulis rumus kalkulasi itu dengan lancar di papan tulis sampai Zhou Lei speechless. Prof Jiang kasihan juga sama Zhou Lei.

"Kalau begitu Prof, apa saya boleh ikut dalam penelitian ini?"

"Lupakan saja, lagian Wei Yi yang mengerjakannya, bukan kau."

"Tapi Prof kan cuma bilang kalau Prof menginginkan hasil yang akurat. Prof tidak pernah secara spesifik menyebutkan siapa yang harus mengkalkulasinya."

"Apa kau sungguh bisa melakukannya?"

"Bisa!"

Wei Yi akhirnya selesai menulisnya lalu minta izin pulang, dia mau tidur.


Saat Mo Mo pulang malam harinya, rumah masih petang. Aneh, kenapa Wei Yi belum pulang? Dia mencoba menelepon lagi... tapi malah terdengar bunyi dering ponsel dari kamarnya Wei Yi. Mo Mo lega.


Fu Pei menemui ayahnya di sebuah restoran, tapi dia tidak tampak senang sedikitpun, apalagi melihat ayahnya membawa seorang wanita muda yang dia kenalkan sebagai asisten barunya. Tapi Ayah malah menyuruh Fu Pei untuk memanggilnya sebagai 'Bibi Ling Ling' (Pfft! Perasaan tuh cewek belum tua deh).

"Kenapa Ayah datang kemari? Di mana ibu?"

"Ayah kemari untuk bisnis, kenapa juga harus bawa ibumu. Dia tidak bisa membantu bisnisku."

Fu Pei kontan menatap si 'Bibi Ling Ling' itu dengan sinis. "Begitukah?"

Suasana benar-benar jadi canggung sekarang. Bibi Ling Ling mencoba mengakrabkan diri dengan Fu Pei dengan tanya-tanya tentang kuliahnya, tapi Fu Pei diam saja.

Ayah jadi kesal dan langsung membantu sendoknya dan baru saat itulah Fu Pei menjawabnya. Ayah mengingatkan Fu Pei bahwa kalau ada orang yang lebih tua tanya, maka dia harus menjawab.

"Dia bukan orang tua, dia mungkin seusiaku, tapi ayah malah menyebutnya lebih tua dariku. Bagaimana bisa Ayah bilang begitu?"

Menyadari suasana semakin tegang, Bibi Ling Ling buru-buru pamit dengan alasan mau menemui temannya.


Kesal, Ayah langsung membawa Fu Pei ke tempat sepi dan langsung menamparnya. Tapi saat Ayah mau menamparnya untuk kedua kalinya, Fu Pei berani menghindarinya.

Ayah kontan ngamuk-ngamuk menghina Fu Pei mirip ibunya yang tidak tahu diri. Ibunya Fu Pei itu bukan orang baik, nyatanya dia meninggalkan Fu Pei sejak Fu Pei masih kecil.

"Itu karena salah ayah!"

"Terus kenapa? Dialah yang meninggalkanmu. Kau pikir dia kembali demi kebaikanmu? Salah! Dia kembali karena uangku! Aku punya banyak uang! Kalau kau tidak punya uang, tidak akan ada seorangpun yang akan mau tinggal di sisimu. Takkan ada seorangpun yang peduli padamu. Kuberitahu kau, takkan ada seorangpun!"

Fu Pei kontan menatapnya tajam. Ayah kontan emosi ditatap seperti itu dan langsung melayangkan tangan untuk menamparnya, tapi Fu Pei sigap menangkapnya dan menegaskan. "Pasti ada!"


Mo Mo masuk ke kamarnya Wei Yi tapi mendapatinya masih tidur. Dia mencoba membangunkannya, tapi Wei Yi bergeming. Mo Mo seketika terpesona menatap wajah tampan Wei Yi dari jarak sedekat ini.

Dia dia penasaran kenapa Wei Yi tidak bangun-bangun, apa dia mati? Mo Mo mencoba mengulurkan tangannya untuk mengecek napasnya Wei Yi... tepat saat Wei Yi mendadak membuka mata dan hampir saja membuat Mo Mojantungan.

"Kau mau apa?"

"Aku memanggilmu untuk makan daging panggang."


Mereka akhirnya nonton film horor lagi sambil makan daging, tapi Mo Mo heboh banget menutupi matanya pakai bantal sambil menendang-nendang Wei Yi dan menuntut Wei Yi untuk bilang-bilang kalau hantunya muncul.

"Kenapa kau menontonnya kalau kau takut?" Heran Wei Yi.

"Kenapa kau menontonnya kalau kau tidak takut?" Balas Mo Mo.

Wei Yi ingin mengambil dagingnya, tapi Mo Mo mendadak menyambar piringnya secepat kilat dan menghabiskan potongan terakhir daging itu lalu menyuruh Wei Yi mencuci piringnya.

"Kau cepat sekali menghabiskannya."

"Masih ada kok di kulkas. Ambil sendiri."


Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Mo Mo cemas, siapa yang datang tengah malam begini? Cemas, Wei Yi langsung memberinya pisau sebagai senjata. Dia saja yang buka pintu, cewek tidak boleh buka pintu tengah malam, bahaya. Wei Yi pun pergi membuka pintunya.

Epilog:


Setelah pulang dari acara gathering itu, Wei Yi tiba-tiba masuk ke kamarnya Mo Mo dan berniat mau membuka password ponselnya Mo Mo. Hah? Dia ngerti password-nya?

Tapi sedetik kemudian dia sadar dan akhirnya mengurungkan niatnya. Dia malah mengaku terang-terangan ke Mo Mo kalau dia tahu password ponselnya Mo Mo gara-gara Mo Mo sering membuka ponselnya di hadapannya.

Karena itulah dia menyarankan Mo Mo untuk mengganti password-nya dan meminta Mo Mo untuk mengirimkan foto-foto yang mereka ambil di pantai padanya.


Mo Mo mengirim foto-foto yang diinginkan Wei Yi saat itu juga dan kontan membuat Wei Yi bahagia menatap foto selfie-nya bersama Mo Mo.

Bersambung ke episode 9

2 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^