Wednesday, April 24, 2019

Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 5 - 1

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 5 - 1

Ketiga murid Prof Jiang sedang sibuk dengan penelitian mereka saat Wei Yi mendapat sms dari prof Xu bahwa hasil CET4 dan CET6 (ujian bahasa Inggris) sudah diumumkan.


Tapi saat Zhou Lei melihat Wei Yi pegang ponsel, dia langsung ngadu ke Prof Jiang dann menuduh Wei Yi mainan ponsel. Prof Jiang malah santai saja, dia kan tidak pernah melarang. Pfft! Speechless deh Zhou Lei.

Malah saat Wei Yi memberitahunya kalau hasil CET4 dan CET6 sudah diumumkan, Zhou Lei sendiri langsung semangat mengecek ponselnya lalu menyombongkan nilainya yang dapat 639, kalau Wei Yi dapat berapa?

Wei Yi dengan santainya menunjukkan hasilnya... 671. Pfft! Zhou Lei tidak terima kalah dan menuduh Wei Yi main curang.


Fu Pei masih duduk melamun di depan stadion saat teman sekamarnya menelepon dan mengajaknya main game. Dia juga memberitahu Fu Pei kalau cewe gebetannya itu ternyata teman sekamarnya Mo Mo. Makanya dia meminta Fu Pei untuk tanya ke Mo Mo tentang apa yang disukai gebetannya itu, soalnya dia mau ngasih hadiah.

"Mo Mo tidak akan mengangkat teleponku lagi."


Mo Mo dipindahkan ke sebuah kantor advertising, kantor impiannya yang kontan membuatnya sumringah, tapi pastinya dia tetap jadi akuntan di sana.

Yang paling menarik perhatiannya adalah setumpuk lolipop yang dihiasi gambar kartun wajah-wajah para pekerja. Melihat itu, resepsionis langsung memberinya 2 buah sambil memberitahu bahwa para pegawai terbaik, wajahnya akan digambar di lolipop.

"Kenapa?"

"Karena kami ingin para pegawai lain menjilat wajah mereka."


Mo Mo lalu diantarkan ke mejanya lalu diberi intruksi apa-apa saja yang harus dikerjakannya. ibatiba dia melihat dua orang pegawai sedang ribut berdebat tentang gambar bo*ong kelinci padahal itu untuk logo untuk sebuah studio film. Mo Mo cuma bisa menatap mereka dengan iri.

Belum sempat memulai tugasnya, tiba-tiba dia ditelepon ibunya yang mengaku kalau Ibu sedang dalam perjalanan ke rumahnya Mo Mo, Ibu hampir sampai malah. What? Ngapain Ibu datang kemari? Mo Mo panik.

"Ibu hanya ingin bertemu denganmu. Ayo kita ajak putranya Bibi Xu makan malam bersama kita."

"Bu, kenapa Ibu tidak mau mendengarkanku?! Kasiah tahu aku dulu sebelum Ibu datang. Kenapa malah datang mendadak?! Kenapa tidak kasih tahu aku dulu? Ibu tidak menghormatiku sama sekali!"

Tapi tib-tiba dia ditegur atasannya, terpaksa Mo Mo harus menyudahi teleponnya, tapi di memperingatkan Ibu untuk tidak mengajak Wei Yi atau Mo Mo akan marah sama Ibu.


Malam harinya, Mo Mo mengajak Ibu makan malam ke sebuah restoran. Nuansanya cukup tradisional, tapi pesan menunya saja sangat modern.

Mo Mo bahkan memesan banyak sekali makanan sampai Ibu protes, bagaimana bisa mereka menghabiskan semua ini? Mo Mo benar-benar pelit. Dia sudah cukup lama tinggal di rumahnya Wei Yi tapi malah tidak mau mengajak Wei Yi makan malam bersama mereka.

"Tidak masalah, lagian dia sibuk."

"Oh, kalian berdua sepertinya sangat dekat."

"Bu!"

Baiklah. Ibu sudah bicara dengan Bibi Xu, Ibu mau ikut pulang ke rumah mereka. Stres deh Mo Mo, dia kan sudah bilang kalau dia mau pindah dari rumah itu, jadi ngapain juga Ibu mau ke sana.

"Kau tidak boleh pindah, ibu tidak setuju. Lagian kan kau dipindahkan ke kantor lain. Kalau tempat kerjamu selalu pindah-pindah, terus kau mau pindah ke mana? Kau harus memikirkan keselamatanmu."

"Apa Ibu tidak khawatir aku tinggal bersama seorang pria?"

"Makanya ibu datang untuk meninjaunya," santai Ibu.


Mereka tiba di rumah tak lama kemudian dan Wei Yi menyambut Ibu dengan ramah. Ibu langsung membahas masa kecil Wei Yi dulu, Ibu pernah loh menggendong Wei Yi terus Wei Yi ngompolin Ibu. Wkwkwk!

"Waktu cepat sekali berlalu, kau sudah besar sekarang. Eh, apa kau sudah punya pacar?"

"Tidak."

"Kalau begitu, kau harus memilih yang baik," ujar Ibu penuh arti sambil ngelirik Mo Mo.

Ibunya Wei Yi bilang kalau Wei Yi tuh sangat pintar dan selalu mendapat beasiswa sejak dia kecil. Tapi jangan belajar terlalu keras. Belajar itu memang penting, tapi jangan mengabaikan hal-hal pribadi juga. Misalnya... berusaha keras mendapatkan pacar *lirik Mo Mo*.

Mo Mo kontan geli mendengarnya, Ibu malah langsung membentaknya. Mo Mo sendiri tidak punya pacar, berani sekali dia ketawa!

"Sebenarnya kalian berdua bisa..."

"Hentikan, Bu!" Bentak Mo Mo panik.

"Memangnya Ibu mau bilang apa? Ibu tidak akan menekanmu kok. Ibu cuma asal mengatakannya kok."


Tapi Ibu penasaran berapa tinggi dan beratnya Wei Yi? 187cm dan 65 kg, jwab Wei Yi. Wah, itu sih terlalu kurus, dia harus lebih banyak makan. Oh yah, Ibu bawa kacang kenari yang Ibu tanam sendiri loh. Kacang ini bagus untuk kesehatan otak. Bagaimana kalau Ibu buatkan bubur kacang kenari dan wijen hitam?

Mo Mo langsung protes tak setuju, mereka tidak punya wijen hitam dan lagian sekarang sudah larut malam. Oh, jangan khawatir, Ibu juga bawa wijen hitam dari rumah kok. Lagian bikinnya gampang kok.

Mo Mo langsung mengisyaratkan Wei Yi untuk menolaknya. Tapi karena tak enak menolaknya secara terang-terangan, Wei Yi mencoba menolaknya dengan cara halus.

Tapi Ibu nggak nyambung dan terus ngotot mau membuatkannya untuk mereka. Ibu bahkan menyuruh mereka untuk membantu memecah kacang kenarinya sementara Ibu akan memasak wijen hitamnya.


Fu Pei melampiaskan kesedihannya dengan minum-minum di sebuah kedai. Tepat saat itu juga, ada Shan Shan yang sedang membeli makanan.

Awalnya Shan Shan cuma menatapnya dengan penasaran dari meja sebelah. Tapi saat dia hendak pergi, tiba-tiba beberapa pria cari perkara dengan pelayan kedai cuma gara-gara si pelayan tak sengaja menubruknya. Ujung-ujungnya mereka juga cari masalah sama Shan Shan.

Fu Pei melihat itu dan langsung nimbrung dengan membayari mereka, tapi pria itu malah merasa tersinggung dan terus saja ngomel-ngomel gaje.


Fu Pei tiba-tiba menggenggam tangan Shan Shan lalu membawa Shan Shan pergi bersamanya. Dan dia baru melepaskannya setelah mereka sudah cukup jauh dan aman.

"Terima kasih sudah membantuku, akan kukembalikan uangmu."

"Tidak usah."

"Kenapa kau minum-minum sendirian di sini?"

Fu Pei mengklaim kalau dia sedih cuma karena gagal tes CET4. Shan Shan prihatin mendengarnya, padahal Fu Pei kan sudah mau lulus tapi malah gagal tes CET4. Tapi kan gagal tes itu bukan masalah besar, masa begitu saja dia sampai mabuk?

"Iya. Aku sangat sedih!"

"Belajarlah lebih keras dan ikut ujian lagi. Tidak ada gunanya duduk bersedih di sini."

"Aku tidak punya kesempatan lagi."

"Aku akan membantumu. Anggap saja sebagai ungkapan terima kasihku atas bantuanmu. Apa Mo Mo tidak pernah bilang kalau aku ini pintar?"

Fu Pei mendadak semangat mendengarnya menyebut Mo Mo. "Oke."



Karena tak punya alat, Wei Yi memecah kacang kenarinya dengan menjepitkannya ke pintu. Tapi hasilnya, bukan cuma membuat kulitnya pecah, kacang di dalamnya juga pecah.

Mo Mo kepedean mau mengajari Wei Yi cara memecah kacang kenari dengan benar, tapi hasilnya malah sama saja. Pfft! Wei Yi mencoba lagi dan kali ini hasilnya sempurna. Mo Mo langsung senang lalu membagi kacang itu buat mereka makan sendiri.

Ibu senang melihat kedua muda-mudi itu, bahkan langsung menonton mereka dari jarak dekat. (Mungkin Ibu mikirnya mereka serasi banget. Hehe)

Mo Mo sampai kaget melihat Ibu sedang menonton mereka, ngapaian Ibu di situ? Yah, melihat mereka berdua lah. Mereka memecah kacang kenari pakai cara itu? Romantis sekali.

Ibu lalu mengajari mereka cara memecah kenari dengan cara mudah hanya dengan pakai kunci lalu meninggalkan mereka berduaan lagi.


Masakannya akhirnya matang tak lama kemudian dan mereka bertiga makan bersama dengan nikmat. Tapi tak lama setelah itu, Ibu mendadak ngantuk dan mau tidur di kamarnya Mo Mo.

Mo Mo kontan panik berusaha mencegahnya dan mengisyaratkan Wei Yi untuk melarang ibunya tidur di sini, tapi Wei Yi malah tidak keberatan.

Mo Mo ngotot berusaha meminta Ibu menginap di hotel saja, tapi Ibu tidak mau. Lagian cuma semalam doang, Ibu akan pergi besok.

Bersambung ke part 2

1 komentar:

Hai, terima kasih telah berkunjung. Tinggalkan komentar kalian, yah ^^