Sinopsis Leh Nangfah Episode 25 - 1

Sinopsis Leh Nangfah Episode 25 - 1


Para burung shock dan kebingungan melihat si burung biru berubah jadi manusia dan langsung ribut mengusirnya dari kandang mereka. 

Beauty pun cepat-cepat mengeluarkan jarinya untuk membuka selot kandang, lalu cepat-cepat mengambil jemurannya Pat dan kabur. Burung-burung itu pun ikutan kabur karena Beauty membiarkan kandangnya terbuka.


Bibi Jan dan yang lain jelas bingung dan cemas melihat Beauty pulang dalam keadaan wajah penuh lebam. Malas menjawab pertanyaan Bibi Jan, Beauty hanya meminta sarapan dibawakan ke kamarnya, dia mau istirahat.

Dia juga menyuruh Somcheng untuk menelepon kantor dan bilang kalau dia sedang tidak enak badan, jadi dia akan datang agak siangan.

 

Pat penasaran dengan burungnya, tapi malah mendapati kandang itu kosong dan terbuka. Pat bingung, siapa yang membuka kandang? Bahkan pembantunya pun bingung. Tapi kemudian dia melihat ada CCTV yang menghadap langsung ke arah kandang.


Lalita cemas karena Pat akan segera mengetahui kutukan itu dan berusaha minta izin agar dia bisa memperingatkan Beauty. 

Tapi Dewi tetap santai dan mengingatkannya bahwa semua ini terjadi karena karma. Sudah sering Beauty menyakiti hati Pat. Inilah akibatnya.


Awalnya Pat tidak melihat ada yang aneh, tapi kemudian muncul cahaya dari dalam kandang dan si burung berubah jadi manusia dan dia adalah Beauty.

Pat shock dan akhirnya mengerti kenapa burung itu selalu mengganggunya selama ini dan bagaimana Beauty bisa tahu tentang tempat persembunyian design yang dicurinya.


Mami cemas melihat Orn pura-pura baik-baik saja, bahkan berdendang sambil mondar-mandir dengan bunga-bunganya. Mami lama-lama tidak tahan lagi melihat sikap Orn dan menyuruhnya menangis saja kalau dia ingin menangis. Jangan seperti ini, Mami jadi tidak tenang.

"Tidak. Aku tidak akan menangis lagi."

"Menangis saja kalau kau mau. Teepob bukan satu-satunya pria di dunia ini!"

Tangis Orn akhirnya pecah mendengar itu. Tapi tiba-tiba mereka melihat Jade datang. Tak enak mengganggu mereka, Jade berniat mau pergi saja. Tapi Mami menghentikannya dan memintanya untuk menemani Orn.


Begitu Mami pergi, Jade berusaha menghibur Orn dengan menyodorkan boneka Doraemon di hadapannya. Orn langsung sebel, dia kan bukan anak kecil lagi.

"Apanya yang bukan anak kecil? Barusan aku melihatmu menangis."

"Aku tidak menangis! Pergi! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi."

"Sungguh itu yang kau inginkan?"

"Iya. Aku muak melihat wajahmu."

Baiklah. Kalau Orn menginginkannya pergi, dia akan pergi... dan tidak akan kembali lagi. 

Tapi saat Jade berbalik mau pergi, Orn mendadak menghentikannya dan mengklaim kalau dia sebenarnya tidak bermaksud begitu.


"Satu menit kau menyuruhku pergi, menit berikutnya kau menyuruh tetap tinggal. Jadi maumu apa sebenarnya? Orang dewasa selalu menepati ucapan mereka. Kau jelas-jelas anak kecil."

"Aku bukan anak kecil!"

"Jadi kau mau aku tetap di sini atau pergi?"

"Tidak tahu!"

"Ayolah, senyum. Senyum. Tersenyumlah seperti ini (Doraemon). Apa kami mirip?"

Usahanya akhirnya sukses juga membuat Orn terhibur dan senyum pun Orn kembali merekah.


Beauty tengah berusaha menutupi lebam-lebamnya dengan make-up saat Pon datang untuk memberitahukan kedatangan Pat. Beauty langsung cemas mendengarnya.

Saat dia datang, Pat langsung menolak dekat-dekat dengannya dan menyindir wajah Beauty, sepertinya Beauty lelah. 

Tak gentar, Beauty balas mengingatkan Pat kalau dia tetap jauh lebih cantik dibanding Pat biarpun wajahnya tampak lelah.

"Aku tidak peduli kecantikan seperti dirimu. Wajahmu itu tidak bisa disebut 'lelah biasa', melainkan 'hancur total'. Kau pikir make-up akan bisa menutupinya? Apa kau berani menghilangkan dandananmu agar aku bisa melihat bibirmu membengkak seolah kau telah menggigit sesuatu semalam suntuk?"

"Aku tidak ada waktu bicara omong kosong denganmu, Pat. Aku harus pergi bekerja."


Pat nyinyir, Beauty sudah tidak punya hak untuk bekerja di Thanabavorn lagi. Sebagai salah satu eksekutif di Thanabavorn, Pat berkewajiban untuk menyingkirkan apapun yang bisa membahayakan para pegawai dan perusahaan.

"Bukankah kau yang selalu menjatuhkan perusahaan, Pat? Jika tidak, kenapa juga Tee menskorsmu?"

"Itu karena Tee tidak tahu apa yang benar-benar membahayakan perusahaan."

"Apa sebenarnya maksudmu?"

"Jangan bersikap seolah kau tidak tahu, Beauty."


Pat lalu menyalakan TV dan memperlihatkan rekaman CCTV itu. Shock, Beauty buru-buru mematikan rekaman itu. Pat langsung menghina Beauty sebagai monster dan makhluk yang menjijikkan dan sangat berbahaya bagi perusahaan.

"Tidak benar! Aku manusia sama sepertimu!"

"Lalu bagaimana kau akan menjelaskan rekaman itu? Video editan? Mana ada manusia biasa bisa berubah jadi burung selain monster?!"

"Aku bukan monster!"

Pat penasaran apakah Tee masih akan mencintai Beauty saat dia melihat rekaman ini? Apa para pegawai di perusahaan masih akan mempercayainya jika mereka tahu kalau presiden mereka ternyata seorang monster?

"Tinggalkan Thanabavorn. Katakan pada P'Tee kalau kau akan meninggalkan Thanabavorn dan meninggalkan P'Tee juga! Jika tidak, akan kuperlihatkan rekaman ini pada P'Tee agar dia tahu kalau wanita yang dicintainya ternyata monster!"


Pat bahkan mengancam akan memperlihatkan video itu pada semua eksekutif di Thanabavorn dan para reporter. Biar semua orang tahu kalau sosialita yang mereka puja-puja itu ternyata monster.

Dan kalau dia meng-upload-nya di internet, dia pasti akan mendapatkan banyak likes dan Beauty akan terkenal ke seluruh dunia.

Panik, Beauty berusaha memohon agar Pat tidak melakukan itu padanya. Pat nyinyir, kenapa juga tidak boleh. Saat mereka masih kecil, apa Beauty pernah mendengarkannya waktu dia meminta Beauty untuk berhenti membulinya? Tinggalkan Thanabavorn dan segalanya akan selesai sampai di sini.

"Tapi Thanabavorn adalah milik ayahku dan sekarang milikku. Aku tidak akan membiarkanmu dan ayahmu menendangku keluar dan menghancurkan Thanabavorn!"


"Apa maksudmu? Ayahku dan aku sangat mencintai Thanabavorn! Kenapa juga kami menghancurkannya, Beauty!"

"Mencintainya? Tidak benar. Kau dan ayahmu menjual rahasia Thanabavorn pada Jadecharn dan kau bahkan membangun pabrik secara diam-diam! Aku sudah berkali-kali mendengar ayahmu bicara di telepon tentang rencananya menghancurkan Thanabavorn! Kalau ini bukan 'bekerja sama menghancurkan Thanabavorn', lalu apa?"

Pat tidak terima dengan tuduhannya. "Aku lahir dan tumbuh bersama Thanabavorn. Setiap batu bata di gedung Thanabavorn adalah temanku. Aku dekat dengan mereka lebih daripada dengan ayahku! Aku tidak akan pernah menghancurkan Thanabavorn!"

Ayahnya pun begitu. Ia sangat mencintai Thanabavorn lebih daripada putrinya sendiri. Ia bahkan jauh lebih menyayangi Beauty, keponakan tercintanya.

"Tidak benar. Jika dia menyayangiku, kenapa dia mengkhianatiku dan menghancurkan Thanabavorn?!"


"Apanya yang tidak benar? Ayahku hanya menyayangimu seorang! Dan semakin ayahku menyayangimu, semakin aku membencimu! Kau dengar itu, Beauty?!"

Sepertinya Beauty tidak tahu kalau ayah Pat tidak pernah peduli padanya. Apapun yang dia inginkan, ayahnya selalu memberikannya duluan pada Beauty.

Bahkan saat dia sakit, ayahnya tak pernah merawatnya karena ia selalu sibuk mengurus Beauty. Apapun yang dilakukannya, selalu salah dan jahat di mata ayahnya. Beauty lah yang selalu benar dalam segala hal.

"Kenapa? Kenapa harus aku yang selalu salah?"


Beauty jadi merasa bersalah dan prihatin melihat tangis Pat. "Maaf. Maaf karena aku memperlakukanmu dengan buruk. Maaf karena aku selalu jahat padamu. Maaf karena aku selalu menyakitimu. Aku sungguh minta maaf."

Tapi Pat sama sekali tidak percaya dengan penyesalannya, kenapa dia tiba-tiba menyesal sekarang? 

Beauty menyadari permintaan maaf saja tidak mungkin bisa membuat Pat berhenti marah padanya. Tapi dia sungguh-sugguh minta maaf atas semua perbuatannya.

"Kau mengatakannya cuma untuk melemahkan hatiku dan agar aku mau menghapus rekaman itu, kan? Tapi itu tidak akan berhasil. Kutegaskan, tinggalkan Thanabavorn atau rekaman itu akan jadi viral."


Tee masuk ke kantornya Beauty, tapi malah mendapati tempat itu kosong. Beauty bahkan tidak bisa dihubungi. Cemas, Tee pun bergegas ke rumahnya Beauty dan diberitahu kalau Beauty sedang tidak enak badan dan tidak ingin bertemu siapapun.

"Tidak enak badan? Apa dia sudah ke dokter?"

"Saya rasa dia capek."

Tee menduga kalau Beauty pasti pulang larut malam, mungkin dia kira Beauty pesta lagi semalam. Saat dia mau pergi, Bibi Jan memberikan surat yang dititipkan Beauty padanya. Tapi surat itu ternyata surat pengunduran dirinya Beauty.


Terkejut, Tee langsung naik ke lantai atas tanpa mempedulikan larangan Bibi Jan. Tee mengetuk pintunya yang terkunci, tapi Beauty berteriak mengusirnya, dia tidak mau bertemu siapapun.

"Apa yang terjadi? Kenapa kau mau mengundurkan diri?"

"Aku sudah muak. Aku tidak mau lagi mengalami masalah. Aku tidak mau bekerja lagi."

"Bukankah kau bilang kalau kita harus mengelola Thanabavorn bersama-sama?"

"Itu cuma ucapan. Kalau dipikir-pikir, seseorang yang cantik dan elegan sepertiku tidak seharusnya melakukan apapun. Aku tidak perlu bekerja. Lebih enak duduk di rumah dan menghambur-hamburkan uang. Kau pergi saja. Aku mau pesta dengan teman-temanku."

Tee tidak mengerti kenapa, bukankah kemarin mereka baru saja bersemangat. Bukankah menjadi presiden perusahaan sangat penting bagi Beauty. Bukankah dia ingin menjadi presiden yang baik seperti mendiang ayahnya?

Beauty berbohong menyangkalnya. Dia tidak ingin menjadi apapun sekarang. "Aku juga tidak ingin melihat wajahmu. Pergilah!"

Bersambung ke part 2

1 komentar: