Sinopsis Le Coup de Foudre Episode 1 - 2

 Sinopsis Le Coup de Foudre Episode 1 - 2

Tapi setibanya di rumah, mereka malah harus berhadapan dengan tatapan tajam ibu mereka. Ibu bahkan langsung ngomel-ngomel memarahi Guan Chao karena baru pulang selarut ini.


"Kalau keluarga ini tidak berarti bagimu, kau tinggal saja di Beijing dan tidak usah kembali!"

"Bu, aku pergi menjemput Qiao Yi." Alasan Guan Chao lalu menatap Qiao Yi dengan penuh arti agar Qiao Yi bekerja sama dengannya. Tapi tidak semudah itu, dan jadilah kedua kakak adik itu saling bertelepati via tatapan mata.

"Akan kubagi setengah kuenya denganmu." Tawar Guan Chao

"Semuanya milikku."

"Oke."

"Biarkan aku bermain dengan game console-mu selama satu bulan."

"Ambil saja."

"Pergi ke reuni SMA bersamaku."

Kalau yang itu, Guan Chao tetap tidak mau. Ini masalah prinsip, tahu! Kesal, Qiao Yi hampir saja mau ngadu ke Ibu. Guan Chao kontan panik mencegahnya dan terpaksa menyetujuinya. Prinsipnya fleksibel kok.


Puas, Qiao Yi langsung melancarkan kemampuan aktingnya pada Ibu,  mengklaim bahwa Guan Chao memang menjemputnya. Dia sangat beruntung memiliki seorang kakak yang seperti ini.

"Sungguh?"

"Tentu saja!" Kompak kedua saudara itu. (Wkwkwk! Mereka adorable sekali)


Tapi keesokan harinya, Guan Chao malah mendapati Qiao Yi lagi akting sakit, pura-pura tangan kirinya patah gara-gara Guan Chao menarik tangannya kemarin.

Aktingnya benar-benar kelihatan meyakinkan banget dengan suara lemah, wajah pucat plus gips yang menopang tangan kirinya. Tapi Guan Chao tidak terpedaya.

"Jangan bodoh, adikku tersayang. Yang kutarik kemarin tangan kananmu! (Wkwkwk) Cepetan ganti baju! Kutunggu di luar."

Qiao Yi kesal dan terpaksalah akhirnya dia harus pergi. Tapi di tengah jalan, dia masih saja berusaha mencari-cari segala macam alasan biar batal pergi.

 

Dia mengklaim teleponnya berbunyi, seolah dia mendapat telepon sangat penting dari atasannya yang menyuruhnya datang ke kantor sekarang juga.

Tapi lagi-lagi, Guan Chao tidak terpedaya. Dia sontak merebut ponselnya dan memberitahu orang di seberang bahwa hari ini adiknya nikah jadi dia tidak bisa datang ke kantor.

"Dia akhirnya menemukan seseorng yang mau menikahinya, ini kesempatannya satu-satunya!"

Jelas saja Qiao Yi langsung panik merebut ponselnya kembali dan Guan Chao jadi tambah getol menggodainya. Soalnya yang dia telepon ternyata nomor costumer service provider ponselnya. Pfft!


"Jangan khawatir. Pria itu tidak akan datang."

"Sungguh?"

"Sungguh."


Teman-teman sekelas mereka hampir semuanya sudah datang saat tiba. Yan Mo benar-benar tidak datang, tapi Qiao Yi tetap masih cemas. (Note: Guan Chao ini juga sekelas dengan mereka dulu)

Tiba-tiba mereka ingat seoang pria yang dulu penampilannya preman banget. Siapa namanya?

"Fei Da Chuan!"

Baru diomongin, Fei Da Chuan muncul saat itu juga. Tapi dia beda banget dari yang katanya penampilan premannya dulu. Sepertinya dia jadi orang kantoran sekarang.

 

Wu Yi mengeluh lapar, sudah datang semua belum sih? Tunggu dulu. Katanya akan ada tamu spesial yang akan datang sebentar lagi. Siapa? Tanya Qiao Yi cemas.

"Orang yang sangat ingin kau temui."

OMG! Terang saja Qiao Yi panik dan buru-buru mau melarikan diri dengan beralasan mau ke kamar kecil. Tapi belum sempat dia bergerak, tiba-tiba terdengar suara sang tamu spesial yang menghentikan langkahnya.


Semua orang kontan berpaling ke asal suara. Tapi ternyata tamu spesial mereka adalah mantan wali kelas mereka, Guru Gao. Fiuh! Qiao Yi lega. Da Chuan seenaknya memanggilnya si tua Gao. Jelas saja Guru Gao protes, panggil dia Guru Gao, dasar nggak sopan.

"Anda sendiri yang bilang bahwa setelah lulus, anda tidak mau dipanggil guru." Ujar Qiao Yi

"Keluar sana."  Hah? Guru Gao ngusir Qiao Yi?  "Kamar kecilnya ada di luar."


Dalam wawancaranya, Qiao Yi mengaku bahwa dulunya dia berpikir bekerja menjadi writer-director di sebuah stasiun TV itu adalah mewawancarai orang-orang terkenal. Tapi ternyata, kerjaannya cuma menulis naskah opera sabun.

Bahkan sering kali jika mereka kekurangan staf, dia yang harus bertindak untuk akting. Jadi bisa dibilang, dia ini aktris veteran.


Hari itu, Qiao Yi terpaksa harus berakting di acara reality show mereka gara-gara si aktris yang seharusnya memerankan si istri malah minta bayaran lebih.

Ceritanya, dia jadi seorang wanita hamil yang ditindas oleh suaminya. Dan aktingnya sukses menarik simpati para penonton.


Selesai syuting, dia langsung membeli sekaleng coca cola. Tapi dia kesulitan membuka kaleng itu hingga dia terpaksa harus menggunakan kartu ID-nya untuk membuka kaleng itu.

Seorang rekannya datang dan langsung memuji aktingnya. Dia juga memberitahunya bahwa Supervisor Hu memintanya untuk merevisi naskahnya.

Qiao Yi langsung protes panjang lebar, mengeluhkan ide-idenya Supervisor Hu yang selalu saja minta cerita tentang perselingkuhan antar ipar, atau hubungan terlarang antara majikan dan pembantu.

Heran dia, apa dia belajar keras supaya bisa kerja di stasiun TV hanya demi membuat naskah murahan semacam ini?



Tepat saat itu juga, si MC menghampiri mereka dan langsung sumbar tentang pacarnya yang penuh perhatian dan ingin mengajaknya makan di restoran Perancis. Tapi dia tidak punya waktu, program acara barunya kan sebentar lagi akan tayang.

Hah? Qiao Yi tidak tahu menahu tentang masalah itu dan langsung penasaran, mereka punya program acara baru?

Si MC membenarkan, acara baru mereka adalah mewawancarai orang-orang terkenal dari Nanchuan. (Ah! Jadi mereka yang mau mewawancarai Yan Mo) Si MC mengaku kalau dia dan Supervisor Hu akan dipindahkan ke acara baru itu akhir bulan ini.


Mendengar itu, Qiao Yi langsung pergi menemui Supervisor Hu dan berusaha menyogoknya dengan miniatur roket agar Supervisor Hu mau memindahkannya juga ke acara baru itu. (Note: gambarnya emang rada buram yah, soalnya kayak ada filter-filter cahaya gitu sepanjang episode, rada ganggu pemandangan jadinya)

Dia sudah tidak tahan lagi dengan acara mereka ini, dia kan punya impian profesional. Kalau Supervisor Hu pergi, maka dia juga tidak akan bisa berkembang di sini.

Dia ingin menjadi seseorang yang bermartabat dan berkarisma... seperti Supervisor Hu dan menjadi produser TV yang dihormati rekan-rekannya.

Supervisor Hu tak percaya. "Jangan menjilat. Jujur saja."

"Aku menginginkan gaji anda."

"Itu butuh waktu bertahun-tahun."

"Orang-orang bilang kalau aku ditakdirkan untuk menulis naskah opera sabun. Aku tidak bisa menerima itu."

"Apa salahnya dengan opera sabun? Dulu rating acara ini kurang dari 0,1. Sekarang ini adalah acara paling populer di stasiun TV ini. Aku mau pindah dan sudah banyak orang yang mengincar posisiku. Aku pergi biar kau tetap tinggal."

Qiao Yi pasti tidak mau kan jadi bawahan selamanya? Jadi ngapain juga Qiao Yi mau ikut pergi bersamanya? Qiao Yi kontan sumringah mendengarnya, dan akhirnya dia mau balik lagi ke pekerjaannya.


Yan Mo sedang menemani ayahnya yang sedang dirwat di rumah sakit dan didiagnosis menderita kelainan katup jantung. Dari percakapan mereka, Yan Mo mendesain sebuah gelang yang berguna untuk mengecek kesehatan dan penemuannya itu mendapatkan penghargaan. Yah, walaupun dia mengakui masih banyak kekurangan pada penemuannya itu.

Ayah memberitahu bahwa Nanchuan TV ingin mewawancarai Yan Mo dan Ayah sudah menyetujuinya... soalnya produser acara itu adalah teman sekelas Ayah dulu. Terpaksalah Yan Mo harus setuju, tapi dia harap Ayah tidak akan lagi melakukan hal ini.


Tepat saat itu juga, para pasien mendadak heboh, soalnya sekarang jam tayang acara TV kesukaan mereka... yang sedang menayangkan episode Qiao Yi berakting jadi istri yang ditindas.

Memang Qiao Yi pakai topeng tipis untuk menyamarkan wajahnya. Tapi Yan Mo tetap mengenalinya dan langsung shock mengira itu beneran dan langsung pergi ke stasiun TV itu untuk mencari tahu bagaimana nasib wanita yang ditindas suaminya itu, soalnya wanita itu temannya.



Jelas saja satu-satunya pegawai yang ada di sana jadi canggung dan berusaha berkilah kalau wanita itu sudah pergi dan mereka sudah kehilangan kontak dengannya.

Yan Mo kontan marah-marah menuduh mereka tidak bertanggung jawab terhadap wanita lemah dan tak berdaya... tepat saat pandangannya jatuh ke meja kerjanya Qiao Yi yang ada foto masa remajanya.

Seketika dia langsung sadar kalau Qiao Yi ternyata kerja di sini dan acara itu cuma akting. Dia langsung pergi dengan kesal.

Bersambung ke part 3

4 komentar: