Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 21 - 2

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 21 - 2

Zhou Lei mau masuk lab. Saat tengah berkutat membuka pintu lab, dia merasakan kehadiran seseorang dari belakang. Mengira yang datang Wei Yi, dia santai saja nyerocos mengajak Wei Yi masuk lab buat mengecek jawaban tes mereka tadi di lab. Dia tidak akan tinggal di lab setelah ini.


Tapi yang tak disangka, ternyata yang ada di belakangnya adalah Jian Shi dan dia sontak ngomel-ngomel kesal mendengar Zhou Lei selama ini tinggal di lab tanpa seizin Prof Jiang.

Apalagi saat Zhou Lei mengaku kalau dia pernah membawa kucingnya ke dalam lab. Apa Zhou Lei tidak tahu kalau peralatan lab itu sangat mahal? Apa dia sanggup ganti rugi kalau sampai terjadi sesuatu? Dia harus melaporkan perbuatan Zhou Lei ini ke pihak universitas.


Wei Yi datang saat itu dan Zhou Lei langsung mengadukan ucapan Jian Shi itu ke Wei Yi. Wei Yi berusaha membelanya dengan memberitahu kalau dia juga pernah merawat kucing itu, tapi Jian Shi tak percaya. Sebaiknya Wei Yi jangan melindungi Zhou Lei, Wei Yi pasti dipaksa sama Zhou Lei.

Zhou Lei protes tak terima, kenapa Jian Shi selalu mencari-cari kesalahannya? Itu kan bukan masalah yang serius banget. Tapi Jian Shi terus saja mendebat Zhou Lei, mengklaim kalau perbuatan Zhou Lei ini bisa mempengaruhi elibilitas Zhou Lei untuk ke luar negeri.

"Senior, serahkan saja masalah ini pada Prof Jiang." Ujar Wei Yi menengahi mereka.


Tepat saat itu juga, Prof Jiang baru datang bersama Yu Yin. Jian Shi langsung saja mengadukan perbuatan Zhou Lei itu ke Prof Jiang dan menuntut Prof Jiang untuk mengadukan masalah ini ke pihak universitas.

Canggung menghadapi tuntutan Jian Shi, Prof Jiang diam-diam memberi isyarat ke Yu Yian dan seketika itu pula Yu Yin langsung menyeret Jian Shi pergi dengan alasan minta bantuan Jian Shi tentang percobaannya.


Tapi tak lama kemudian, Wei Yi malah tak sengaja mendengar Jian Shi curhat pada Yu Yin tentang kencan butanya dengan seorang pria bersama Fu Pei. Dia bahkan mengatai Fu Pei sombong dan tidak sopan. Tuh cowok nggak level banget deh sama dia.

Wei Yi jelas kesal temannya dihina seperti itu. Saking kesalnya, dia dengan sengaja lewat di tengah-tengah mereka dan bilang permisi ke Jian Shi sambil melemparkan tatapan setajam silet padanya.


Shan Shan sedang menunggu Fu Pei di depan asramanya saat dia melihat ayahnya Fu Pei datang. Dia langsung saja menyapanya ramah, tapi Ayah Fu Pei masih sinis seperti biasanya. Dia datang kemari untuk bertemu Jian Shi, bukan Shan Shan.

Shan Shan tidak mengerti kenapa Ayah membencinya padahal Ayah bahkan tidak mengenalnya. Ayah sinis, dia tidak butuh Shan Shan sama sekali. Semua pacarnya Fu Pei suka dia cuma karena ayahnya punya banyak uang.

Ayah bahkan mengancam tidak akan lagi memberi Fu Pei uang lagi kalau mereka terus bersama. Dengan begitu, Shan Shan tidak akan bisa lagi mendapatkan apapun dari Fu Pei.

Shan Shan tetap tenang menghadapinya. Dia mengerti kalau Ayah ingin memisahkan mereka karena Ayah belum mengenalnya. Tapi kenapa Ayah juga tidak mau memahami Fu Pei?

"Aku tidak memahaminya? Lalu siapa yang memahaminya? Kau?"

"Apa anda tahu kalau dia mau membuka perusahaannya sendiri?"


Ayah malah sinis meremehkannya. Palingan juga bisnisnya Fu Pei itu cuma akan bertahan kurang dari sebulan.

"Dia memulai bisnisnya dengan menggunakan uang yang dia dapatkan dari memenangkan pertandingan basket. Semua orang mengira dia mnghambur-hamburkan uang ayahnya, tapi bukankah dia sudah lama dia tidak lagi minta uang pada anda?"

"Bahkan sekalipun dia minta, aku tidak akan memberinya satu sen pun!"

"Dia selalu melakukan segala hal secara diam-diam. Tapi aku tahu kalau dia masih sangat mengharapkan pengakuan anda."

"Haruskah aku mengakuinya hanya karena dia menjalankan perusahaan?"

"Saya hanya ingin bilang bahwa Fu Pei jauh lebih dewasa daripada apa yang anda pikirkan. Kuharap kalian berdua mau duduk bersama dan saling bicara dengan hati terbuka dan bukannya menyelesaikan masalah dengan cara membanting barang seperti yang waktu itu."


Fu Pei datang saat itu. Tapi kedua ayah dan anak itu masih saja sama seperti biasanya, saling sindir dan berdebat. Fu Pei malas menanggapinya dan berniat mau pergi saja, tapi Ayah mencegahnya dengan cepat.

Tapi hmm, sepertinya dia sudah mulai melunak saat tiba-tiba saja dia menyarankan Fu Pei untuk mendaftarkan perusahaannya dulu jika dia mau membuka sebuah perusahaan.

"Sudah kulakukan." Ujar Fu Pei lalu membawa Shan Shan pergi. Dia penasaran apakah ayahnya menyulitkan Shan Shan.

Shan Shan menyangkal, malah mengklaim kalau ayahnya Fu Pei itu orang yang easy going dan tidak begitu menakutkan seperti yang Fu Pei pikirkan.

Fu Pei tak percaya mendengarnya. Apa ayahnya memberi Shan Shan duit biar Shan Shan pergi dari hidupnya? Berapa? Satu juta? Shan Shan geli menyangkal dugaan absurd-nya.


Mo Mo menyerahkan beberapa buku yang tidak lagi dipakainya pada Kepala Asrama dan dia mendapatkan beberapa lembar uang sebagai gantinya. Kepala Asrama ingat siapa Mo Mo, dia kan yang dulu sering pulang larut malam. Tapi sudah lama dia tidak datang ke asrama, apa dia sudah menemukan rumah di luar?

Mo Mo jadi malu karena Kepala Asrama ternyata masih mengingatnya. Dia kerja magang soalnya, makanya dia sering pulang larut.

Tentu saja Kepala Asrama ingat Mo Mo. Soalnya hanya Mo Mo seorang yang kalau pulang larut malam tidak dianterin cowok. Terus, apa sekarang dia sudah punya pacar? Mo Mo suka cowok yang kayak gimana?

"Ilmuwan."

"Kau mendapatkan orang yang tepat."


Bibi lalu bercerita kalau suaminya adalah seorang peneliti. Dia punya dua orang murid, yang satu cakep tapi rada bodoh. Mungkin mengira kalau Kepala Asrama mau jodohin dia sama muridnya suaminya itu, Mo Mo langsung saja menyela dan menegaskan kalau dia sudah punya pacar. (Pfft! Aduh, Mo Mo. Seandainya saja kamu tahu kalau yang diomongin Kepala Asrama itu cowokmu. Hehe)

Tapi menurut Kepala Asrama, seharusnya dia jangan pacaran sama ilmuwan. Soalnya orang kayak gitu suka sekali membaca sepanjang hari, omongan mereka sulit dimengerti, mereka selalu melakukan hal-hal aneh, sering kali mereka terbangun tengah malam hanya untuk melakukan kalkulasi, dan selalu membawa pulang mesin-mesin aneh.

Mo Mo geli mendengarnya, semua ucapan Kepala Asrama itu benar-benar persis menggambarkan Wei Yi.


Dia lalu mendatangi labnya Wei Yi dan kebetulan bertemu dengan Yu Yin dan Jian Shi. Yu Yin dengan ramah memberitahunya kalau Wei Yi baarusan keluar, maka Mo Mo pun pamit. Jian Shi penasaran, siapa wanita itu?


"Dia pacarnya Gu Wei Yi."

"Apa dia dari jurusan kita?"

"Tidak. Kalau tidak salah, jurusan akuntansi atau periklanan."

Jian Shi langsung nyinyir. Mereka kan tidak punya kesamaan. Dia kira kalau Yu Yin dan Wei Yi ada hubungan soalnya mereka biasanya cukup dekat.


Kedua wanita itu lalu berpisah jalan. Jian Shi ke perpus dan kebetulan bertemu Wei Yi di sana. Dia langsung duduk di mejanya Wei Yi dan memberitahu Wei Yi kalau pacarnya barusan datang ke lab mencarinya.

Wei Yi cuma menanggapinya dengan singkat dan dingin. Dan tepat saat itu juga, Mo Mo nge-chat mengabarkan dia baru saja mencari Wei Yi ke lab. Dia bisa menduga kalau Wei Yi pasti lagi ada di perpus.

"Tunggu aku, aku akan datang." Ujar Mo Mo dalam pesannya dan kontan membuat Wei Yi tersenyum.


Jian Shi malah dengan sinisnya menghina pacarnya Wei Yi dengan sebutan 'cewek semacam itu'. Kenapa Wei Yi bisa suka sama cewek semacam itu dan bukannya mencari pacar yang satu jurusan.

"Bukan urusanmu." Dingin Wei Yi.

"Apa?"

"Pacarku tidak ada hubungannya denganmu. Pria bernama Fu Pei yang kau bicarakan itu adalah temanku. Dia tidak sombong sepertimu, dan dia jauh lebih sopan darimu."

Wei Yi langsung beranjak pergi. Tapi untuk yang terakhir kalinya, dia meminta Jian Shi untuk berhenti membuli Zhou Lei... dia tuh pernah masuk pusat rehabilitasi. (Pfft! I Love Wei Yi)


Mo Mo heran melihat Wei Yi bersiul-siul, sepertinya dia lagi senang. Wei Yi membenarkan, dia baru saja menghukum si jahat.

"Hah? Ilmuwan itu memang benar-benar aneh."


Sesampainya di rumah, Mo Mo memberitahu Wei Yi kalau tadi dia menemukan uang 800 RMB, bagaimana kalau mereka menghabiskannya? Wei Yi setuju.

Mereka akhirnya ke mall dan belanja berbagai perlengkapan rumah tangga untuk menggantikan yang lama. Mo Mo pastinya yang paling antusias belanja ini-itu dan melihat benda-benda lucu termasuk boneka kelinci melet, tapi Wei Yi cepat bosan dan terang-terangan mengeluh capek.

"Kau itu kurang latihan."

"Aku latihan mental setiap hari."

"Hebat."

Pelayan toko memberitahu mereka bahwa boneka-boneka kelinci itu dibuat sendiri oleh para pelanggan mereka dari tanah liat. Mereka juga bisa membuatnya sendiri.

 

Tak lama kemudian, mereka akhirnya mencoba membuat kerajinan dari tanah lihat. Awalnya, Mo Mo sudah hampir berhasil, tapi pada akhirnya dia gagal.

Dia lalu berpaling ke Wei Yi... dan tiba-tiba saja dia jadi terpesona hingga dia membayangkan mereka berangkulan mesra dengan tangan kotor penuh lumpur ala-ala adegan di film Ghost. Heee.


Benar-benar khayalan yang indah... Sampai saat Wei Yi tib-tiba menegurnya dan lamunan indah Mo Mo buyar seketika. Apalagi saat melihat hasil kerajinan buatan Wei Yi yang bentuknya... errr... kayak ta*. Wkwkwk!

"Itu hasil latihan mentalmu?"

"Susah buatnya, tahu."

"Kalau begitu, kau taruh saja di kasurmu dan nikmatilah."



Sesampainya di rumah, mereka langsung memasang berbagai barang yang mereka beli sambil bercanda tawa hingga yang terakhir, mereka memasang lampu baru di kamarnya Wei Yi.

Begitu selesai, Wei Yi langsung merebahkan dirinya di kasur dan Mo Mo langsung ikutan rebahan di sisinya... Dan tiba-tiba kedekatan jarak itu membuat mereka berdua jadi terpesona pada satu sama lain saat tatapan mereka bertemu.

Epilog:


Ternyata Wei Yi pernah mendatangi Fu Pei di asrama demi pinjam uang. Fu Pei geli mendengarnya, tumben banget. Gimana dengan uang beasiswanya Wei Yi? Sudah habis? Si Tu Mo ternyata boros yah.

"Aku belum mendapatkannya (beasiswa). Iya atau tidak?"

"Kau mau berapa?"

"Berapa banyak yang bisa kupinjam darimu?"

"Sebut saja. Aku ini anak orang kaya."

"1.000 RMB."

"Kebanyakan."

"500 RMB."

"50 RMB."

"Selamat tinggal." Sinis Wei Yi lalu pergi.

Fu Pei tersinggung. Pebisnis yang baru mulai dari nol selalu saja diremehkan. Tapi Fu Pei tidak akan menyerah!

Bersambung ke episode 22

0 komentar

Post a Comment