Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 16 - 2

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 16 - 2

Sambil membantu anak bernama Xiao Jie itu melepas sepatunya, Mo Mo tanya apakah Xiao Jie mengenal Wei Yi. Dan Xiao Jie bilang iya. Mo Mo bingung, bagaimana Xiao Jie bisa mengenalnya?


Wei Yi tiba-tiba datang dan langsung menempelkan stikernya ke Xiao Jie dan menyuruhnya masuk kolam bola. Tapi saat mereka sendiri mau tempel-tempelan stiker, mereka malah keasyikan bercanda mesra sampai petugas harus menegur mereka.

"Ayah, Ibu, anaknya sudah masuk."

Pfft! Mereka jadi canggung dipanggil begitu. Mo Mo cepat-cepat menempelkan stikernya lalu berkata. "Ayo masuk."

Wei Yi kontan tersenyum bahagia mendengarnya. Mo Mo yang paling antusias bermain bola, bahkan mengajak anak-anak di sana untuk mengubur Wei Yi lalu buru-buru menyembunyikan dirinya sendiri.


Tapi dia cepat ketahuan berkat lengan bajunya yang tidak terkubur sempurna. Wei Yi sontak menangkap kakinya lalu menyeret Mo Mo.

Tapi tiba-tiba dia terbentur bola yang kontan membuatnya tersungkur tepat menimpa Mo Mo... lalu tiba-tiba saja sebuah bola besar terjatuh menimpa kepalanya dan cup! Tak sengaja membuatnya mengecup bibir Mo Mo. Hehe.

Canggung, Wei Yi cepat-cepat melepaskan diri darinya, meninggalkan Mo Mo yang gugup sekaligus bahagia.


Shan Shan mencoba menelepon Meng Lu, ingin curhat. Tapi Meng Lu malah lagi sibuk sama Ah Ke dan langsung menutup teleponnya.

Dia akhirnya berpaling ke Niu Niu, tapi Niu Niu juga lagi tidak bisa ngomong sama dia, lagi sibuk nge-game soalnya. Dia mencoba menelepon Mo Mo, tapi tidak diangkat. Chat-nya pun tidak dibalas.

Shan Shan akhirnya cuma bisa mengecek medsos dan mendapati postingan terbaru Fu Pei adalah ring basket. Tapi dia hanya melihatnya saja tanpa berkomentar.


Padahal Fu Pei lagi menanti-nantikan komentarnya Shan Shan. Tapi ternyata tidak ada apapun, Fu Pei jadi kesal. Dasar manusia berhati dingin, mau sampai kapan Shan Shan akan mengabaikannya? Pokoknya Shan Shan duluan yang harus minta maaf.


Keluar dari kolam bola, Mo Mo langsung mencetak foto gratis. Wei Yi sudah antusias saja menantikan foto yang sedang Mo Mo cetak. Tapi begitu hasilnya, dia langsung kecewa karena yang dia cetak ternyata fotonya Si Tu Ding Dang. Pfft!

Tiba-tiba dia usul, bagaimana kalau mencetak foto mereka berdua. Tapi... apa mereka bahkan pernah foto bareng? Mo Mo yakin tidak pernah deh.

"Periksalah ponselmu."

"Memangnya ada?" Mo Mo mencoba mencarinya tapi tidak ada sama sekali. Tepat saat itu juga, dia baru melihat chat masuk dari Shan Shan yang minta ngobrol berdua. Mo Mo setuju-setuju saja.

Tiba-tiba Wei Yi menyodorkan foto mereka selfie mereka saat di pantai dulu. Ah! Mo Mo baru ingat sama foto ini. Kasih buat dia yah, Wei Yi cetak lagi buat dirinya sendiri.

"Nggak!" Wei Yi mendadak ngambek padahal diam-diam tersenyum juga.

 

Mereka lalu makan malam di sebuah resto dan Wei Yi langsung saja duduk di samping Mo Mo tak peduli biarpun pelayan menyarankannya untuk duduk saling berhadapan biar lebih nyaman dan tidak sempit.

Mo Mo memesan banyak sekali menu sampai Wei Yi bahkan tidak sempat bicara dan akhirnya tidak pesan apa-apa karena pesanannya Mo Mo sudah kebanyakan.


Tapi mereka mendadak canggung lagi karena tak punya topik obrolan. Berusaha memecahkan kecanggungan, Mo Mo usul agar mereka main hompimpa. Yang kalah harus makan cabe.

"Nggak mau." Tolak Wei Yi.

"Apa kau takut kalah?"

Wei Yi sontak terprovokasi tapi malah kalah terus. Geli, Mo Mo langsung menyodorkan cabe di depan mukanya dan menuntutnya untuk memakannya. Wei Yia nggak mau, dia tidak suka pedas, dia tidak mau makan pedas.

Baiklah. Kalau begitu, Mo Mo menuntutnya untuk melakukan aegyo. Makan cabe atau aegyo, pilih salah satu. Galau deh Wei Yi. Tapi karena tidak tahu bagaimana cara melakukan aegyo, akhirnya dia harus membrowsingnya dulu.

 

Dan begitu punya ide, dengan ragu-ragu dia menempelkan kepalanya ke Mo Mo sambil berkata dengan gaya sok imut. "Aku nggak mau makan cabe~~~"

Mo Mo geli mendengarnya. Tapi dia sengaja pura-pura tak puas dan terus menuntut Wei Yi untuk mengulangnya lagi dan lagi, dan Wei Yi terus menurutinya dengan gaya imutnya yang makin lama makin menjadi-jadi.


Mo Mo mengeluh kedinginan saat mereka keluar, maka Wei Yi dengan manisnya menggenggam tangannya untuk menghangatkannya. Dan dia terus menggenggam tangan sepanjang perjalanan pulang tak peduli biarpun Mo Mo mengklaim kalau dia sudah merasa hangat.

"Ayo cepat pulang."

"Mau ngapain sesampainya di rumah?"

"Ambil selimut dan nonton film horor."


Tapi setibanya di rumah, mereka malah mendapati Shan Shan sudah ada di sana, sedang menunggu kedatangan Mo Mo. Suasana mendadak jadi canggung dan membuat Shan Shan jadi tak enak. Apa dia mengganggu mereka?

Mo Mo menyangkal lalu cepat-cepat mengajak Shan Shan bicara di kamarnya saja sambil diam-diam melempar tatapan bersalah pada Wei Yi. Gagal deh rencana mereka.


Parahnya lagi, Shan Shan curhat panjang kali lebar, berputar-putar tiada henti dan tanpa lelah sampai Mo Mo bosan setengah mati dibuatnya.

Wei Yi pun nggak sabaran banget dan terus berusaha nge-chat Mo Mo, tanya kapan Shan Shan kapan akan pulang, bahkan mengusulkan untuk menghubungi Fu Pei biar Fu Pei menjemput Shan Shan. Tapi Mo Mo tidak bisa membalas pesan-pesannya, bahkan menyentuh ponselnya pun tidak bisa.

Tidak tahan lagi, Wei Yi langsung mengetuk kamar Mo Mo dengan alasan menawarkan minum. Tapi bahkan sebelum Mo Mo sempat menjawab, Shan Shan menolak duluan lalu melanjutkan curhatannya.

2 jam berlalu dan Shan Shan masih saja curhat dengan gencarnya. (Wkwkwk! Kok kuat ngomong selama itu?) Wei Yi lagi-lagi mengetuk pintu dan berusaha menawari mereka mandi, dan lagi-lagi, Shan Shan menolaknya bahkan sebelum Mo Mo sempat bereaksi.

Mo Mo benar-benar capek banget, tapi dia tak bisa menolak Shan Shan dan terpaksalah dia harus terus bertahan mendengarkan curhatan tiada akhir Shan Shan. Wei Yi pun akhirnya tak bisa berbuat apapun lagi dan langsung masuk kamar.

Epilog:


Saat tengah mencari ide untuk membawa Mo Mo masuk ke kolam bola, tak sengaja Wei Yi melihat Xiao Jie yang sedang sedih dan neneknya yang merupakan seorang petugas cleaning service dan tampaknya kurang mampu untuk membawa Xiao Jie ke kolam bola.

Melihat itu, Wei Yi langsung saja menawarkan diri untuk membawa Xiao Jie masuk. Tentu saja Nenek tidak memercayainya begitu saja.

Wei Yi memberitahu Nenek bahwa pacarnya ingin masuk ke kolam bola, tapi mereka tidak bisa karena tidak punya anak.

"Di mana pacarmu?"

"Di sana. Gadis yang senyumnya paling cantik itu."

"Kenapa aku harus memercayaimu?"

Maka Wei Yi pun berusaha meyakinkannya dengan memperlihatkan kartu identitasnya. Dia bahkan menawarkan seluruh isi dompetnya sebagai jaminan. Nenek akhirnya percaya dan menyerahkan cucunya ke Wei Yi, ia bahkan menolak dompetnya Wei Yi.

Bersambung ke episode 17

2 komentar: