Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 6 - 1

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 6 - 1

Ibu geli sendiri melihat Mo Mo dan Wei Yi kompak banget gerakannya. Orang mungkin akan mengira kalau mereka adalah pasangan sudah lama tinggal bersama.


"Bu! Berhentilah bicara omong kosong."

"Memangnya ibu bilang apa? Kau berpikir berlebihan."

"Kapan Ibu pergi? Katanya cuma semalam, ini sudah malam kedua!"

"Iya, ibu tahu. Dasar kau ini, Xiao Gu saja tidak pernah memintaku pergi. Bagaimana bisa kau memintaku pergi?"


Keesokan harinya, Mo Mo dan Wei Yi keluar kamar secara berbarengan lalu sarapan bersama Ibu. Tapi Ibu heran, sepertinya mereka berdua tidak terburu-buru hari ini.

Mo Mo mengaku kalau hari ini dia cuma mau ke kampus buat bimbingan skripsi. Wei Yi juga mau ke kampus. Ibu senang, berarti mereka bisa pergi bersama dong? Wei Yi mengiyakannya dengan riang, kelihatan senang banget dia bisa pergi ke kampus bareng Mo Mo. Mo Mo sampai heran melihat reaksinya.

"Kenapa?" Heran Wei Yi.

"Nggak kenapa-kenapa. Kau menjawabnya tanpa ragu."


Mereka ke kampus naik bis. Kali ini, Wei Yi langsung duduk di sebelahnya Mo Mo sampai membuat Mo Mo canggung. Dia penasaran kenapa Wei Yi balik ke kampus sekarang, bagaimana dengan penelitiannya di kampus lama?

Wei Yi mengaku kalau Prof Jiang lagi ada di kampus baru hari ini dan dia mau menemui Prof Jiang karena ada urusan. Apa Mo Mo tidak mendengarkan acara komedi yang waktu itu?

"Aku sangat sibuk belakangan ini dan lupa mengunduh episode terbaru."

Mendengar itu, Wei Yi langsung mengeluarkan ponselnya lalu berbagi headset-nya dengan Mo Mo. Dia sudah mengunduh episode terbaru. Mereka akhirnya mendengar acar itu bersama bak sepasang kekasih.


Sesampainya di asrama lamanya, Mo Mo usil ngasih surprise ke teman-temannya sampai mereka hampir jantungan.

Ternyata mereka sedang mengepak dan menyembunyikan beberapa peralatan elektronik karena hari ini bakalan ada inspeksi, makanya mereka kaget banget mengira ibu kepala asrama yang datang.

Meng Lu bahkan menyembunyikan boiler-nya di dalam tumpukan kaos kaki kotor, soalnya kan kepala asrama tidak pernah mengecek keranjang pakaian kotor (Eww! Jorok!).

"Berapa lama kau tidak mencuci kaos kaki itu?"

"Meng Lu mendapatkannya dari pacarnya. Pacarnya Meng Lu mendapatkannya dari punyanya orang lain."


Belum selesai, Bu Kepala Asrama mendadak muncul dan jelas saja dia langsung mencurigai keranjang pakaian kotor mereka. Dia mau mengambilnya, tapi Meng Lu malah mencoba menariknya.

Jelas saja Kepala Asrama jadi makin curiga dan langsung menggeledah keranjang itu hingga dia menemukan boiler yang tersembunyi di antara tumpukan kaos kaki.

"Kalian kelaparan yah? Kaos kaki juga kalian masak? Kalian boleh mengambilnya setelah lulus." Kepala Asrama langsung pergi membawa boilernya Meng Lu itu.



Fu Pei lagi merenung saat tiba-tiba dia melihat Ibunya Mo Mo lewat. Fu Pei langsung menyapanya, tapi Ibu tidak mengenalnya, malah mengira Fu Pei itu sales alat-alat kesehatan.

"Bukan. Saya temannya Si Tu Mo. Nama saya Fu Pei. Apa anda masih ingat saya."

Begitu mendengar nama itu, Ibu sepertinya ingat. Tapi sepertinya dia tidak menyukai Fu Pei hingga dia mengklaim kalau dia tidak ingat.

Bahkan saat Fu Pei mencoba mengingatkannya kalau dulu dia pernah datang ke rumah Mo Mo dan Ibu memberinya makan kacang kenari, Ibu diam-diam merutuk sinis. Ibu lalu cepat-cepat menghindar dengan alasan mau memasak.

Tapi tiba-tiba mereka mendengar suara Mo Mo. Tapi senyum Mo Mo seketika menghilang begitu melihat Fu Pei. Hmm, Ibu sepertinya mengetahui hubungan mereka dan buru-buru menyeret Mo Mo menjauh dari Fu Pei.


Di rumah, Ibu langsung membahas tentang Fu Pei. Ternyata Ibu memang tahu kalau Mo Mo naksir Fu Pei sejak dulu. Ibu bahkan pernah membaca buku diary-nya Mo Mo yang isinya penuh dengan tulisan 'Fu Pei'.

Tapi pernah suatu hari, Mo Mo mengurung dirinya di dalam kamar dan menangis sepanjang malam. Ibu dan ayah jadi tidak bisa tidur semalaman saking cemasnya. Ibu kira mereka berdua sudah putus.

Sejak kecil, Mo Mo selalu jauh lebih bijak dibanding sudara-saudaranya. Dia jarang menangis dan melakukan segala hal sendiri. Waktu itu, dia benar-benar depresi selama beberapa waktu karena Fu Pei, tapi dia pura-pura seolah segalanya baik-baik saja.

"Kami jadi tidak berani tanya, apa kau tahu betapa sedihnya kami waktu itu? Mo Mo, ayah dan ibu sebenarnya tidak pernah menuntut kalian bertiga untuk mendapatkan prestasi yang besar. Kami hanya ingin kalian bahagia."

Ibu tahu kalau Fu Pei bukan pria jahat, dia hanya plin-plan. Jika Mo Mo benar-benar bersama dengannya, Ibu rasa Mo Mo akan terus menyimpan segalanya di dalam hati dan menyelesaikan segalanya dengan menangis. Jangan tunduk demi kompromi, itu tidak benar.


Ah sudahlah, tidak usah membicarakan orang itu lagi. Ibu punya berita bagus... "Ibu akan pulang besok. Ibu sudah berkemas. Kau selalu saja menginginkan ibu pulang. Ibu merasa seperti sedang memaksamu dan Xiao Gu untuk melakukan sesuatu."

"Bu, aku tidak mengusirmu. Aku hanya..."

"Sudahlah. Ibu sangat mengenalmu. Baiklah, ibu tidak akan tidak akan ikut campur dalam urusanmu lagi. Urus urusanmu sendiri di masa mendatang nantinya."


Tak lama kemudian, Mo Mo sibuk belajar sementara Ibu malah cerewet banget mengomentari orang-orang yang ada di TV sambil menasehati Mo Mo untuk tidak cari cowok yang kayak begitu, dll.

Wei Yi pulang tak lama kemudian, Ibu pun memberitahu Wei Yi kalau ia akan pulang besok, jadi Ibu harap Wei Yi akan menjaga Mo Mo dengan baik.

Mo Mo lama-lama stres menghadapi skripsinya ini. Ah! Wei Yi kan pintar, bagaimana kalau Wei Yi membantu menulis skripsinya.

Tapi bahkan sebelum Wei Yi sempat menjawab, Mo Mo mendadak berubah pikiran. Dia yakin kalau Wei Yi tidak akan bisa memahaminya juga. Wei Yi penasaran jusul skripsinya apa?

"Kau pasti akan ngeri mendengarnya."

"Aku siap mendengarkannya."

"Penelitian menggunakan metode komputasi awan untuk memberikan informasi akuntansi kepada pelaku UKM. Bukankah itu bikin sakit kepala? Eh, judul skripsimu sendiri apa?"

"Penelitian hukum viskositas polifinil. Peningkatan berat rata-rata molekul viskositas..."

"Oke deh, oke. Sori mengganggumu."

"Apa skripsimu tidak berjalan baik?"

"Aku diomeli dosbing. Dia bilang skripsiku tidak menunjukkan sudut pandangku dan poin utamanya nggak jelas. Dia tidak bisa melihat pandanganku terkait masa depan akuntansi. Mana kutahu semua itu, sama seperti aku tidak tahu apakah aku akan jadi akuntan atau tidak nantinya."

"Lalu apa yang kau inginkan?"

"Advertising designer."


Ibu tidak setuju. Jadi akuntan lebih baik, jangan memikirkan yang lain. Ibu langsung meminta pendapat Wei Yi untuk mendukung pendapatnya, tapi Wei Yi justru berpikir lain.

"Menurutku lebih penting mengerjakan pekerjaan yang kita sukai." Ujar Wei Yi. Mo Mo tercengang mendengar ucapannya itu.


Ibu akhirnya pamit keesokan harinya. Tapi sebelum itu... Ibu menuntut Mo Mo untuk menandatangani surat kontrak. Hah? Kontrak apa? Tentu saja kontrak yang menyatakan kalau Mo Mo tidak akan pindah dari rumah ini. Mo Mo jelas protes, katanya Ibu tidak akan memaksanya?

"Ibu sudah memikirkannya. Setelah dipikir-pikir lagi, ibu tidak bisa melepaskanmu."

Ibu bahkan sudah menyiapkan surat kontraknya. Mo Mo nggak mau tanda tangan! Yah udah, kalau begitu, Ibu tidak jadi pulang deh. Baiklah, baiklah. Mo Mo akhirnya menyerah dan menandatangani surat kontrak itu.


Tapi begitu Ibu pergi, Mo Mo sontak mengemasi semua barang-barangnya. Enak aja, dia akan pergi sekarang!

Rasanya agak berat juga meninggalkan rumah itu, tapi Mo Mo memantapkan hati untuk keluar dari sana dan pamit pada Wei Yi lewat chat. Tapi Wei Yi tidak tampak senang sedikitpun membaca chat itu.


Beberapa hari berikutnya dilalui Mo Mo dengan kerja dan bimbingan skripsi yang membuatnya super duper sibuk sampai dia tidak bisa makan dengan benar dan pulang larut malam, teman-temannya jadi prihatin melihatnya.


Malam itu, Wei Yi pulang ke rumahnya yang sekarang gelap dan sepi tanpa keceriaan Mo Mo. Dia benar-benar merindukan Mo Mo, apalagi masih ada beberapa barangnya Mo Mo yang tertinggal di rumah itu seperti stikernya Doraemon dan catatannya Mo Mo yang kangen mie bekicot.

Tidak ada makanan apapun di kulkas selain kacang kenari yang kontan membuatnya teringat kenangan mereka makan bubur kacang kenari dan wijen hitam.

Wei Yi akhirnya mencoba mengulang hal yang sama, memecah kacangnya dengan menjepitkannya ke pintu lalu mencoba memasaknya tapi gagal, dan akhirnya dia hanya bisa makan ramen.

Bersambung ke part 2

3 komentar:

  1. Benar2 suka dgn drama ini... Bolak balik ngecek apa sudah ada lanjutan nya.... Makasih banyak sudah membuat recap drama yg bagus2....walaupun sudah nonton tp aku tetap nunggu recapnya...

    ReplyDelete
  2. Senangx baca sinopsis jadi lebih paham .. nonton dgan translate Indonesia pun tdak semua di jelaskan.. cool

    ReplyDelete