Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 8 - 1

 Sinopsis Put Your Head on My Shoulder Episode 8 - 1

Kedua pria itu tak sengaja mengulurkan tangan secara bersamaan untuk mengambil kerang yang sama, tapi Wei Yi berhasil mengambilnya duluan lalu keduanya pergi ke dua arah yang berbeda tanpa mengucap sepatah kata.


Sementara itu, Mo Mo sedang santai minum-minum sambil menikmati suasana pantai bersama Meng Lu. Tiba-tiba kedua pria itu berjalan ke arah mereka, meletakkan kerang-kerang yang mereka kumpulkan di bawah kaki Mo Mo lalu pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah kata. Wkwkwk!

Mo Mo dan Meng Lu sampai heran. Dulu Meng Lu punya kucing, suatu hari, kucingnya tiba-tiba menyodorkan sepuluh kecoa untuknya lalu pergi begitu saja dengan angkuhnya.

Mo Mo setuju, dia juga pernah dikasih tikus mati sama kucingnya. Tingkah kedua pria itu persis banget kayak kucing-kucing peliharaan mereka.


Malam harinya, mereka menyalakan kembang api lalu nyanyi-nyanyi dengan diiringi petikan gitar Ah Ke, sementara Fu Pei sibuk sendiri memanggang makanan untuk mereka.

Tapi kemudian Wei Yi melihat Fu Pei menatap Mo Mo. Wei Yi langsung duduk di sampingnya dan to the point menanyakan apa sebenarnya hubungan Fu Pei dengan Shan Shan?

"Apa Mo Mo yang menyuruhmu untuk tanya padaku?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kau tanya?"

"Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadap Si Tu Mo?"

"Itu tidak ada hubungannya denganmu."

"Itu sangat penting bagiku."
 

Kenapa? Fu Pei yakin kalau Mo Mo bukan tipe ideal bagi cowok kutu buku kayak Wei Yi. Wei Yi tidak akan memutuskan pertemanan mereka hanya demi Mo Mo kan? tepat saat itu juga, mereka melihat Mo Mo usil mencuri sosisnya Niu Niu.

"Layakkah kau melakukan itu demi seorang gadis yang mencuri sosis?"

"Sangat layak!"

Saking tercengangnya, Fu Pei jadi tak sengaja membakar jarinya. Dia bergegas menjauh untuk mengobati tangannya. Melihat itu, Mo Mo langsung menyemangati Shan Shan untuk menyusul Fu Pei.


Shan Shan membantu mengobati lukanya dengan lembut dan penuh perhatian. Fu Pei dengan tak enak hati ingin membahas kejadian di ruahnya Wei Yi waktu itu. Shan Shan tak mempermasalahkannya, dia mengerti kalau Fu Pei mabuk dan mengira dia orang lain.

"Maafkan aku."

"Traktir aku makan sebagai permintaan maaf."

Fu Pei penasran apakah Shan Shan jatuh cinta padanya, tapi Shan Shan berbohong menyangkalnya. Dia dengar kalau Fu Pei sering mentraktirnya makan makanan mahal, dia juga pengen.

"Ah sudahlah. Kalau kau sungguh-sungguh merasa bersalah padaku, maka kau harus lulus CET4. Aku tidak ingin melihatmu lagi."

"Baiklah. Akan kubelikan kau makanan mahal."


Tapi perhatiannya teralih dengan cepat saat melihat Mo Mo akrab dengan Wei Yi. Fu Pei penasaran apa yang akan Shan Shan lakukan seandainya dia menyukai seseorang sejak lama tapi dia takut mengungkapkan perasaannya karena dia takut kehilangan orang itu, dan sekarang dia benar-benar akan kehilangan orang itu jika dia terus menerus menyembunyikan perasaannya?

"Kalau aku jadi kau, akan kubiarkan dia mengetahui perasaanku."

"Bagaimana kalau setelah itu kau kehilangan dia?"

"Maka segalanya akan berakhir dengan baik dan bisa memulai hubungan baru."

"Tak kusangka ternyata kau sangat berpengalaman."


Atas saran Wei Yi, mereka memindahan tenda mereka agak jauh dari laut. Wei Yi lalu menyuruh Mo Mo untuk membantunya memasang pasak tenda. Tapi Mo Mo bingung, pasaknya musti ditancapkan pakai apa? Apa ada palu?

"Pakai tenaga dalammu," canda Wei Yi dengan wajah seriusnya.

"Nggak lucu." Ah! Mo Mo mendadak punya ide.

Tak lama kemudian, Meng Lu malah mendapati Mo Mo memaku pasaknya pakai heel sepatu miliknya. Wkwkwk! Jelas saja Meng Lu langsung heboh, pelan-pelan mukulnya, itu sepatu mahal!


Saat teman-temannya sudah terlelap, Wei Yi masih terjaga sambil browsing-browsing. Tapi tiba-tiba dia melihat bayangan Mo Mo mengendap-endap ke pantai.

Ternyata Mo Mo mau selfie gara-gara sulit tidur juga. Mendengar itu, Wei Yi langsung saja jongkok di sampingnya lalu pasang pose.


Puas berselfie ria, mereka lalu duduk di tepi laut sambil memandang langit berbintang. Tapi Mo Mo begitu fokus menikmati pemandangan langit tanpa menyadari Wei Yi yang lebih tertarik memandangnya.

Tba-tiba Mo Mo berpaling padanya, Wei Yi sontak mengalihkan pandangannya  secepat kilat biar tidak ketahuan.

"Gu Wei Yi."

"Apa?"

"Apa kau lapar? Aku kelaparan. Apa tidak ada sisa makanan?"


Tidak ada. Tapi Wei Yi punya ide lalu mengajak Mo Mo mencari-cari ikan laut di sekitar pesisir hingga akhirnya mereka mendapat baby kepiting.

Mo Mo antusias banget dengan hasil temuan mereka. Dia ingin mencoba juga. Tapi saking antusiasnya, dia sontak kaget saat dia berpaling menatap Wei Yi dan baru menyadari jarak mereka yang sangaaaat dekat.

Mereka begitu terpana menatap satu sama lain... sampai akhirnya keduanya sadar dan langsung saling menjauh dengan canggung.'


Wei Yi entah kapan berhasil menangkap udang. Tapi begitu Wei Yi menyodorkannya ke Mo Mo, Mo Mo malah ketakutan. Tapi sekarang bagaimana caranya memanggang seafood ini kalau tidak ada api?

"Aku sudah lama ingin mencoba membuat api dengan cara menggesek kayu." Ujar Wei Yi.

"Kau serius?"

Nggak lah, Wei Yi kan bawa pemantik. Tak lama kemudian, Wei Yi memanggangkan kedua seafood itu untuk Mo Mo yang sudah antusias menanti makanannya. Tapi apa Wei yi punya garam? Rasanya pasti tambah enak kalau dikasih garam.

Tapi Wei Yi tiba-tiba saja menyiram seafood itu pakai air laut. Dia udah gila apa? Apa makanan ini bisa dimakan kalau begini?

Wei Yi santai saja nyerocos tentang kandungan garam dalam air laut dan suhu api yang sangat tinggi. Dijamin tidak akan ada bakteri apapun yang bisa hidup setelah dipanggang.

Mo Mo kagum mendengarnya. "Berkat ilmuwan sepertimu, kau mengabulkan apapun yang kuinginkan, kau adalah Doraemon-ku!"


Seafood-nya akhirnya matang. Mo Mo langsung mencicipinya lalu menyodorkan satu kaki kepiting untuk Wei Yi, tapi Wei Yi malah mendadak manja minta disuapi. Tapi ini cuma dua yah? Yah udah deh, nih Mo Mo kasih satu, hiks! Wei Yi menolak, dia alergi ( Pfft! Alergi tapi makan kaki kepiting?).


Mereka pulang keesokan harinya. Mo Mo, Wei Yi, Fu Pei dan Shan Shan satu mobil. Tapi karena jari Fu Pei terluka, Shan Shan melarangnya menyetir, biar Wei Yi saja. Oke, kalau begitu, Wei Yi menunjuk Mo Mo untuk jadi navigatornya.

Fu Pei sontak protes tak setuju. "Cewek kan kurang ngerti arah. Biar aku saja yang membantumu."

Kontan saja ucapannya itu membuat Shan Shan tersinggung, dia ngomong apa barusan? Ulangi! Baiklah, Fu Pei ngalah deh, dialah yang kurang ngerti arah.


Fu Pei benar-benar cemburu melihat interaksi mereka sepanjang jalan. Apalagi mereka saling perhatian pada satu sama lain. Saat Mo Mo ketiduran, Wei Yi melihat tidurnya tampak tak nyaman karena sinar mentari yang terik. Maka Wei Yi dengan manisnya menurunkan sun visor dan mengatur suhu mobil.


Mereka tiba di rumah bersamaan dengan si robot vacuum yang baru saja selesai melaksanakan tugasnya. Wei Yi malah sengaja usil.

"Si Tu Mo, seseorang menunggumu."

Mo Mo sontak bangkit dengan panik. "Ibuku datang?!"

"Dia yang menunggumu (nunjuk si robot)."

Capek deh! Kenapa atidak sekalian saja Wei Yi memberinya nama dan mengajaknya jalan-jalan tiap hari? Hmm, ide yang bagus. Kalau begitu, dia akan menamainya... Lingkaran. Pfft! Nama yang aneh. Mo Mo malas mempedulikannya dan langsung masuk kamar.

Bersambung ke part 2

3 komentar: