Sinopsis Leh Nangfah Episode 27 - 2

Sinopsis Leh Nangfah Episode 27 - 2


Beauty tercengang menyadari dirinya selama ini cuma salah paham. Dia jadi merasa bersalah karenanya dan langsung berlutut meminta maaf pada Korn.

Korn sama sekali tidak mempermasalahnya. Dia malah senang karena kesalahpahaman Beauty justru membuatnya mau di-training. Beauty juga bekerja dengan baik dan Korn sangat bangga padanya.

"Paman, kau tidak marah padaku? Aku jahat pada paman padahal paman selalu baik padaku."

"Aku tidak marah padamu. Bagaimana denganmu? Apa kau masih marah padaku dan Teepob?"

"Beauty sudah tidak marah pada paman lagi. Tapi aku masih marah pada Tee. Aku tidak mau melihat wajahnya lagi."

"Teepob hanya berniat baik padamu dan pada perusahaan juga. Kalau kau ingin menyalahkan seseorang, kau harus menyalahkanku. Karena semua ini adalah ideku."

"Tolong jangan membela Tee."


Korn menyangkalnya. Dia tidak membela Tee, tapi ini benar-benar idenya sendiri. Plan B yang pernah dimaksudnya itu adalah membuat Beauty berpikir bahwa ada seseorang yang ingin mencuri perusahaan dari Beauty.

Awal rencana mereka adalah Tee yang akan jadi penipunya dan Korn akan membantu Beauty melawannya. Tapi ternyata Beauty mencurigai Korn duluan. Jadilah Korn yang harus berakting sebagai penipunya.

"Lalu kenapa paman tidak memberitahuku dengan cara baik-baik? Paman tidak perlu membuat rencana seperti ini."

"Aku sudah memberitahumu, tapi kau tidak mau dengar sama sekali. Beauty, hidup kita ini singkat. Contohlah Ibunya Pat, dia meninggal setelah melihat wajah putrinya sebentar saja. Jangan biarkan kesalahpahaman menghancurkan hidupmu. Maafkanlah Teepob dan hargailah hidupmu bersama seseorang yang kau cintai. Jika tidak, kau akan menyesalinya sepertiku."

Baiklah, Beauty berjanji akan mencoba bicara pada Tee. Tapi dia juga ingin Korn bicara dengan Pat karena Pat selalu berpikir kalau Korn lebih menyayanginya.

"Pat selalu berasumsi. Kapan dia pernah mendengarkanku?"

"Hidup kita sangat singkat. Bukankah begitu?"

"Baiklah. Aku akan mencoba bicara pada Pat."


Jade senyam-senyum memandangi Orn yang lagi kerja. Orn sampai sebal dibuatnya, dia tidak ada kerjaan apa? Jade santai, para pegawai bisa bekerja tanpa dirinya.

"Tapi beda denganmu. Kalau aku tidak ada di sini, kau pasti akan bermasalah."

"Hei, itu kelewatan."

"Tapi benar kok. Kalau aku tidak ada di sini untuk menggodaimu, kau pasti akan menangis dan toko ini akan tenggelam oleh air matamu."

"Dasar gila! Rasain nih!"


Orn gemas menyemprot air ke muka Jade. Tapi Jade tiba-tiba mengeluh perih. Orn langsung cemas mengambil tisu untuk mengelap matanya. Tapi Jade dengan santainya mempermainkan Orn sambil melet. Kesal, Orn langsung balas dendam menyemprotinya lagi sambil tertawa gembira.

Jade senang melihatnya. "Kau sangat menawan saat sedang tertawa. Tertawalah yang banyak, oke? Oke?"

Malu, Orn langsung menyerangnya lagi. Jadilah mereka perang semprot-semprotan dengan gembira.


Menuruti nasehat Beauty, Korn akhirnya duduk dan mencoba bicara pada Pat. Apa Pat tahu apa yang paling dia takutkan? Pat sinis, mana dia tahu, mungkin dia takut Beauty tidak akan menyayanginya lagi?

"Beauty cuma keponakanku. Sebesar apapun rasa sayangku padanya, sama sekali tidak sebanding dengan cintaku padamu."

Pat mendadak canggung mendengar pengakuan Korn itu, tapi dia tetap dingin menanggapinya.


"Yang paling kutakutkan adalah kehilangan seseorang yang kucintai seperti bagaimana aku kehilangan ibumu." Aku Korn sembari menatap foto mendiang ibunya Pat yang sangat mirip dengan Pat.

"Ayah, kau sangat mencintai ibu, kan?"

"Lebih daripada hidup ayah sendiri. Karena itulah aku sangat menyesal karena tidak bisa membantu ibumu."

"Apa ayah marah padaku karena akulah yang menyebabkan kematian ibu? Ibu meninggal karena melahirkanku."

Korn terkejut mendengar pertanyaan Pat. Dia sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu. Ini bukan salah Pat, ibunya meninggal dunia karena ia terkena serangan jantung saat itu.

"Kalau bukan salahku, lalu kenapa ayah tidak mau melihat wajahku?"

"Kata siapa?"


"Pengasuh. Saat aku keras kepala, dia selalu bilang bahwa tak ada seorangpun yang mencintaiku. Bahkan ayahku tidak mau melihat wajahku."

"Itu tidak benar sama sekali. Aku sangat mencintaimu, apa kau tahu itu? Hanya saja kau sangat mirip dengan ibumu. Setiap kali aku melihat wajahmu, aku jadi ingat dengan ibu dan bagaimana aku kehilangannya dulu. Aku tidak pernah merasa marah ataupun benci padamu."

Mereka pun akhirnya berbaikan dan berpelukan.


Seua mengeong-ngeong sebal melihat tuannya melamun sedih. "Jadi, kau depresi setelah mencuri pacarku?"

"Apa kau tahu, Seua. Beauty bilang kalau dia tidak mau melihat wajahku lagi."

"Tuan, kau itu membosankan. Dia lebih cocok untukku."

Tee tidak sadar kalau Beauty sebenarnya ada di sana, bersembunyi agak jauh darinya dan memperhatikannya dengan sedih.

"Kenapa kau menipuku? Kenapa kau tidak katakan langsung saja padaku. Apa kau tahu kalau aku sedih? Kau jahat."


Dewi sampai gregetan melihatnya. Sisa waktunya cuma tinggal beberapa hari. Kalau Beauty masih belum menerima ci-man dari pria yang dicintainya lebih daripada hidupnya, maka dia akan jadi burung selamanya. Lalu apa yang harus mereka lakukan agar Beauty memaafkan Tee? Tanya Lalita. Tapi Dewi tak punya jawaban.


Para pembantunya meminta Beauty untuk menuang air suci untuk persembahan bagi kedua orang tuanya dan orang-orang yang pernah Beauty sakiti.

Beauty tampak tegar di hadapan mereka. Tapi begitu sendirian, dia sebenarnya ketakutan menyadari dirinya mungkin akan menjadi burung selama-lamanya dalam waktu 2 hari lagi.

Pat datang tak lama kemudian. Dia sudah mendengar kalau Beauty marah pada ayahnya dan Tee. Beauty meyakinkan kalau dia tidak marah pada Korn, dia tahu kok kalau Korn berniat baik padanya.

"Tapi Tee... dia menipuku dengan sengaja."

"Menurutku, kau harus berbaikan dengan P'Tee."

"Aku tidak perlu melakukan itu lagi, Pat. Dia sudah tahu kalau aku adalah monster."

"Hah? Bagaimana dia bisa tahu? Kau memberitahunya?"

"Tidak. Dia melihatnya sendiri."

"Begitu? Lalu dia bilang apa?"

"Dia bilang... apapun aku, perasaannya tetap sama. Tapi aku tidak percaya padanya."

"Astaga, Beauty. P'Tee bilang begitu dan kau masih keras kepala? Sikap tidak bertoleran itu sangat berat. Kenapa kau masih menanggungnya?"

"Aku akan berbaikan dengannya setelah proyeknya Khun Grace selesai. Tinggal satu hari lagi."

"Baguslah. Tunggu satu hari saja. Apa ada yang bisa kubantu?"


Beauty lalu membawa Pat ke ruang kerjanya dan menunjukkan beberapa bajunya yang sudah jadi. Pat dan Kratua sibuk memberinya berbagai saran apa-apa yang perlu diperbaiki, sementara para pembantu sibuk menjahit.

Tapi tiba-tiba matahari terbenam dan Beauty mulai kesakitan. Semua orang cemas melihatnya dan Pat cepat-cepat menyuruhnya pergi istirahat saja.

Cuma Kratua satu-satunya yang bingung, Beauty kenapa? Tapi tentu saja tak ada yang menjawab dan semua orang langsung menghindarinya dengan pura-pura sibuk.


Tee melamun sedih di kamarnya. Dia terus menatap keluar jendela, mungkin mengharapkan kedatangan Beauty yang tak kunjung datang. Tapi dia tidak tahu kalau Beauty sebenarnya ada di luar, sedang memperhatikannya dengan sedih.

"Kita akan bicara setelah proyeknya Grace selesai, yah? Aku akan memaafkanmu dan akan kunyatakan cintaku padamu sebelum aku menjadi burung untuk selamanya."


Beauty membawa para anak buahnya untuk menyaksikan acara fashion show yang diadakannya untuk proyeknya Grace. Sayangnya, mereka sama sekali tidak menyadari Piwara yang bersembunyi di sana. (Hah? Kok dia nggak dipenjara?)


Pat berkomentar kalau Beauty sangat berbeda dari dulu yang tak pernah peduli pada apapun. Beauty berkata bahwa ini semua berkat mereka semua yang sudah mengajarinya.

Tee datang tak lama kemudian. Dia yakin kalau semua orang pasti akan terkesan dengan hasil design-nya. Beauty tetap dingin dan memberitahu Tee untuk bicara dengannya hanya setelah acara ini selesai.

"Astaga. Bisa nggak sih pasangan satu ini untuk berhenti cemberut pada satu sama lain?" Goda Pat.

 

Grace datang tak lama kemudian dan berharap apa yang akan dia lihat hari ini, tidak akan mengecewakannya. Beauty meyakinkan kalau dia pasti takkan kecewa.

"Karena kami mendedikasikan segenap jiwa Thanabavorn dalam proyek ini. Dan ini adalah tim saya."

"Walaupun Khun Jade menarik diri, tapi bukan berarti aku akan memilihmu hanya karena kau tidak punya saingan ataupun memilihmu hanya karena kasihan. Mulailah, biar tidak buang-buang waktu."

 

Thana dan Nee yang terakhir datang dan acara pun akhirnya dimulai. Awalnya segalanya berjalan dengan lancar, tapi kemudian Piwara muncul dari panggung dan langsung berjalan ke arah mereka yang sontak membuat semua orang kaget dan cemas.

Tiba-tiba dia mengeluarkan sebuah pistol dan langsung mengarahkannya ke arah Thana dan menuduhnya sebagai pembunuh ayahnya.


Tee berusaha bicara baik-baik dan meyakinkan Piwara bahwa ayahnya tidak ada hubungannya dengan kematian Ayah Piwara.

Thana pun membela diri karena Ayahnya Piwara memang bersalah, jadi dia harus memecatnya. Tapi Piwara terus ngotot meyakini ayahnya adalah orang baik yang dijebak oleh Thana.

"Tenang dulu, Piwara. Kau tidak perlu membunuh seseorang dan masuk penjara. Ini sama sekali tidak berharga."

"Tentu saja ini berharga! Karena kau sudah menghancurkan hidupku, aku tidak punya apapun lagi! Aku selalu bermimpi buruk sejak aku masih kecil dan sekarang kalian mau menuntutku! Aku tidak rugi apapun!"

"Kurasa..."

"Jangan bergerak! Akan kutembak dia sekarang! Akan kubunuh orang yang membunuh ayahku. Sama seperti bagaimana aku menyaksikan kematian ayahku, kau akan menyaksikan kematian orang yang kau cintai!"


Piwara langsung menarik pelatuknya, tapi dia malah mengarahkannya pada Tee. Panik, Beauty langsung melempar dirinya untuk melindungi Tee hingga peluru itu pun menembus tubuuhnya dan darahnya menodai tangan Tee.

Bersambung ke episode 28

2 komentar: