Sinopsis About is Love Episode 9 - 3

 Sinopsis About is Love Episode 9 - 3

Zhou Shi pergi dengan galau. Kasihan makanannya nggak dimakan, maaf yah, dia tidak bisa memakan mereka. Pokoknya apa yang dilakukannya ini sudah benar, dia tidak boleh jatuh ke perangkapnya Wei Qing.

"Oh Tuhan, mengapa Engkau menyiksaku!"


Wei Qing kesal banget sama Zhou Shi, cewek yang satu ini nyusahin banget. Baru kali ini dia diketusin sama seorang cewek. Kalau saja bukan karena t**uhnya kebal terhadap Zhou Shi, tidak bakalan dia menyia-nyiakan waktu untuk Zhou Shi!


Menurut Asisten An, Zhou Shi ini beda dari gadis-gadis yang lain. Jika Wei Qing ingin Zhou Shi menerimanya, sebenarnya tidak sulit kok... dia cuma perlu minta maaf.

"Tidak mau! Aku tidak pernah meminta maaf pada siapapun sebelumnya!"

"Jika anda tidak mau meminta maaf, maka mungkin dia tidak akan pernah memaafkan anda."

Coba pikirkan baik-baik. 10 tahun lamanya Wei Qing mencari-cari, tidak mudah mendapatkan seseorang seperti Zhou Shi. Masa dia gagal cuma karena sebuah permintaan maaf?

"Tapi... aku tidak tahu bagaimana harus minta maaf." (Pfft!)

"Cuma tiga kata saja, tidak sesulit itu kok. Kalau anda bergegas pergi, anda mungkin masih bisa mengejarnya."


Zhou Shi terus berjalan dan berjalan, tapi tetap saja dia tidak menemukan ada satupun bis yang lewat di area itu. Sepertinya dia harus pulang jalan kaki.

Tapi tiba-tiba Wei Qing muncula menyusulnya dan berusaha menyuruhnya masuk mobil. Dia akan mengantarkan Zhou Shi, tidak mudah menemukan bis di daerah ini.

Zhou Shi ketus menolak dan pura-pura mengklaim tidak butuh bis, dia mau jalan kak sambil menikmati pemandangan di sekitar sini kok.


Wei Qing masih gengsi sebenarnya, tapi akhirnya... "Aku minta maaf."

Tiga kata itu kontan membuat Zhou Shi membeku. Dia bilang apa barusan? Katakan sekali lagi. Kalau tidak mau bilang, Zhou Shi mau pergi saja.

"Maaf!"

"Kau minta maaf padaku? Tumben banget. Kau bahkan tahu cara meminta maaf."

"Kau pikir aku mau? Kalau bukan karena..."

"Karena apa?"

"Pokoknya aku sudah minta maaf. Kita impas sekarang."

"Kelihatannya kau tidak ikhlas. Aku tidak merasa maafmu tulus."

Tapi baiklah, biarkan masalah itu jadi masa lalu. Zhou Shi akhirnya naik ke mobilnya Wei Qing.


Wei Qing mengantarkannya sampai ke halte bis. Zhou Shi sekali lagi menyuruh Wei Qing untuk mengirim orang untuk mengambil semua paketan itu kembali. Dia sedang bokek, jadi dia tidak bisa mengirimnya.

Wei Qing heran, apa Zhou Shi sudah melihat apa yang ada di dalam semua paketan itu? Zhou Shi bisa menduga biarpun belum lihat, palingan isinya perhiasan mahal, baju-baju dan tas-tas mewah.

"Lihatlah isinya dulu. Kalau kau tetap tidak suka setelah melihatnya, maka aku akan mengirim orang untuk mengambilnya kembali." Ujar Wei Qing lalu pergi.


Zhou Shi jadi cemas mendengarnya, jangan-jangan ini perangkap lain? Begitu sampai rumah, Zhou Shi akhirnya membuka salah satu paket dan betapa terkejutnya dia mendapati isinya ternyata satu tong minyak goreng. Semua paketan itu ternyata berisi berbagai macam sembako.

Zhou Shi kontan sumringah melihat semua itu. "Apa lagi yang dia mainkan ini? Semua makanan ini cukup untuk persediaan satu bulan."


Dia cepat-cepat menelepon Wei Qing untuk memberitahu kalau dia sudah melihat semua paketan itu. Lalu bagaimana? Zhou Shi suka? Kali ini bukan sampah tidak berguna lagi kan?

"Bagiku, semua ini adalah barang-barang penyelamat hidup, terima kasih."

"Ini pertama kalinya."

"Apa?"

"Ini pertama kalinya kau berterima kasih padaku karena hadiah-hadiah itu."

Bagi Zhou Shi hadiah bukanlah untuk menunjukkan kekayaan diri. Siapa bilang bahwa yang terbaik adalah yang paling mahal? Sekali lagi Zhou Shi berterima kasih padanya. Tapi dia tidak akan menerimanya secara gratis. Dia akan membayar Wei Qing begitu dia mendapat gaji nantinya.

"Kenapa kau bersopan santun? Bukankah kita... teman?"

"Justru karena kita teman, makanya aku tidak boleh mengambil keuntungan darimu. Sudah, yah? Dadah!"

Wei Qing sungguh tak menyangka kalau Zhou Shi ternyata bukan orang yang takut pada ancaman, malah langsung luluh hanya dengan mendengar beberapa kata manis.

"Sepertinya, metode meminta maaf harus sering-sering digunakan."


Malam harinya, Zhou Shi dan Ning Fei lomba makan kayak orang yang belum makan 3 hari. Fei Fei dan Qiu Jing sampai heran melihatnya, katanya Zhou Shi lagi diet?

"Sudah kupikirkan, melakukan diet itu namanya tidak menghormati makanan."

"Diet apaan? Itu cuma alasan. Kau kekurangan uang lagi, kan?" Duga Fei Fei.

Siapa bilang? Justru Zhou Shi bentar lagi akan gajian, tahu! Yah, walaupun beberapa hari belakangan ini memang agak sulit baginya.

"Kalau begitu jangan terlalu memaksakan dirimu. Dan kau juga, Xiao Fei. Pelan-pelan kalau makan, tidak akan ada yang mencuri makananmu."

Zhou Shi rasa tidak masalah, lagian sebentar lagi mereka akan memasuki musim makan daging. Cuaca akan semakin mendingin, makanlah yang banyak agar dia bisa melewati musim salju dengan mudah.

Benar juga sih, beberapa hari ini, cuaca makin lama jadi makin dingin. Duduk di sini saja rasanya dingin banget. Apa Ning Fei tidak kedinginan tidur di ruang tamu?


Mendengar itu, Fei Fei tiba-tiba mengusulkan. "Bagaimana kalau kau tukar kamar denganku? Ada penghangat ruangan di kamarku, kau boleh menggunakannya sesukamu."

Pfft! Kontan saja semua mata langsung menatapnya dengan heran. Apalagi Qiu Jing yang langsung nyinyir. Fei Fei beralasan kalau dia kasihan sama Ning Fei, dia sudah bermasalah sama rumahnya, kan kasihan kalau dia dibiarin tidur di ruang tamu.

"Benar juga. Bagaimana kalau dia tukar kamar denganku saja?" Usul Zhou Shi.

"Tidak. Kamarmu itu bekas gudang, kekecilan dan sempit. Kamarku yang terbesar dan kena sinar matahari. Itu tempat paling cocok untuk tidur."

Ning Fei bahkan tidak mengatakan apapun, dan Fei Fei langsung saja memutuskan kalau itu adalah keputusan akhir lalu masuk ke kamarnya untuk bersiap pindah.


"Xiao Fei, apa kau tidak senang tidur di dalam kamar?" Tanya Zhou Shi.

"Dia mencurigakan."

Zhou Shi tidak nyambung dan dengan lugunya memberitahu Ning Fei kalau Fei Fei itu cuma memanjakan Ning Fei saja. Seharusnya dia berterima kasih sama Fei Fei. Ning Fei nggak mau.


Tak lama kemudian, Fei Fei dengan senang hati memaksa Ning Fei untuk tidur di kamarnya. Dia bahkan mengucap selamat malam dengan sangat manis, tapi Ning Fei tidak membalasnya dan langsung saja menutup kamar.

Itu anak rada-rada bodoh. Tapi nggak masalah sih, yang penting dia kaya. Fei Fei harus menaklukkannya secepat mungkin.


Keesokan harinya, Zhou Shi panik luar biasa gara-gara dia bangun kesiangan padahal hari ini kelasnya dosen killer. Poinnya bisa dikurangi kalau sampai telat.

Tapi di luar, dia malah mendapati Wei Qing sudah menunggunya. Dia maua mengantarkan Zhou Shi ke kampus. Dia tahu jalan pintas. Ayo naik... ke sebuah sepeda. Pfft! Tumben, biasanya bawa mobil.


Mereka pun melaju di jalanan... dengan kecepatan siput. Wkwkwk! Mereka bahkan diejek anak-anak SD yang bersepeda jauh lebih cepat daripada mereka. Zhou Shi lebih kesal lagi. Katanya Wei Qing tahu jalan pintas?

"Iya, cuma perlu 5 menit dari sini ke sana." Santai Wei Qing.

"Itu cuma berlaku kalau kau pakai mobil."

"Oh, begitu?"

"Oh apaan? Seenaknya aja mentang-mentang bukan kau yang telat. Bukankah biasanya kau bawa mobil mewah? Kenapa kau malah mengendarai roda dua hari ini?"

"Ini sesuai dengan standar gaya hidupmu. Biar kau berhenti bilang kalau aku memamerkan kekayaanku."

Tak tahan Zhou Shi langsung menuntut Wei Qing untuk pindah ke belakang, dia saja yang menyetir. Wei Qing nyinyir, mana mungkin Zhou Shi bisa, kakinya kecil begitu.

 

Tapi baiklah, Wei Qing pun pindah ke belakang. Pegangan yang erat yah, Zhou Shi tidak mau tanggung jawab kalau sampai Wei Qing terjatuh, dan Zhou Shi sontak ngebut dengan kekuatan supernya sampai Wei Qing ketakutan. Wkwkwk!


Ming Cheng dan Qiu Jing sama-sama berada di perpus, tapi Qiu Jing sama sekali tidak sadar kalau Ming Cheng ada di meja depan, mungkin karena pandangannya terhalang tumpukan buku.

Hanya Ming Cheng seorang yang melihatnya, tapi dia sengaja tidak langsung mendekati Qiu Jing dan cuma mengiriminya pesan kosong.

Qiu Jing kontan menggerutu heran, apa sebenarnya maksud cowok ini? Biar dia tertarik? Atau nih cowok sudah kehabisan ide, makanya dia cuma mengiriminya pesan kosong dan bukannya mengirim pertanyaan lagi?

Yah, sudah. Kalau begitu, dia saja yang mengambil inisiatif untuk mengirim pertanyaan. Lihat saja bagaiana Ming Chenga memecahkan soal ini nanti.


Tapi tiba-tiba dia mendengar ponsel di meja depan berbunyi dan saat itulah Qiu Jing menyadari kehadirannya. Sejak kapan Ming Cheng ada di situ?

"Sejak kau datang. Jangan khawatir, aku tidak mendengar satupun kata yang kau ucapkan."

"Apa kau menunggu seseorang?"

"Benar, aku menunggumu, Bi Qiu Jing."

"Untuk apa kau mencariku?"


Tapi karena tidak nyaman untuk ngobrol di perpus, mereka akhirnya pindah ke klub baduk. Ming Cheng dengan sengaja mengatur koin-koin baduknya sama persis seperti game baduk online yang diselesaikan Qiu Jing waktu itu.

Oh, Qiu Jing baru ingat, jadi Ming Cheng yang main game itu? Waktu itu Qiu Jing cuma lagi bosan, makanya dia coba-coba memainkannya. Memangnya kenapa?

Ming Cheng penasaran, berapa lama waktu yang Qiu Jing butuhkan untuk menyelesaikan game itu? Qiu Jing lupa, mungkin sekitar 7 atau 8 menitan.

Ming Cheng tak percaya mendengarnya. Apa Qiu Jing tahu kalau permainan yang dia lupakan ini adalah permainan yang paling dibicarakan di kalangan klub baduk? Biasanya untuk memecahkan gerakan ini, dibutuhkan waktu setidaknya dua jam.

Siapa yang mengajari Qiu Jing main baduk? Apa dia pernah ikut ujian? Apa dia pernah ikut kompetisi baduk atau pernah bermain dengan seorang profesional baduk?


Qiu Jing menyangkal semuanya dengan bingung. Kenapa juga dia harus main sama orang lain? Memangnya tidak boleh main sendirian? Kalau tidak ada urusan lagi, Qiu Jing pergi saja.

"Eh, tunggu dulu. Hmm, apa kau mau bergabung dengan klub baduk? Kau sangat hebat. Tidak, kau sangat berbakat. Kalau kau bergabung dengan klub baduk, mungkin kau bisa membantu Guang Gua jadi juara pertama dalam kompetisi baduk antar universitas."

"Tidak tertarik. Aku bermain cuma untuk bersenang-senang."

Ming Cheng tak percaya mendengarnya. "Bersenang-senang?"

"Iya. Semua aktifitas kompetitif hanya sebuah hiburan bagiku. Masalah bertanding akan kuserahkan ke orang lain."

Ming Cheng tidak mengerti kenapa padahal Qiu Jing punya kemampuan untuk melakukan itu. Qiu Jing santai, Ming Cheng sendiri saja yang bertanding kalau dia punya kemampuan.

"Kalau begitu, apa kau mau tanding satu ronde denganku? Kalau kau menang, kau boleh bilang kalau kau tidak tertarik dengan pertandingan. Apa kau seyakin itu?"

Qiu Jing heran, apa Ming Cheng begitu peduli tentang menang atau kalah? Ming Cheng tidak ragu mengakuinya. Baiklah kalau begitu, Qiu Jing menerima tantangannya. Tapi apapuna hasilnya, jangan kasih tahu Zhou Shi.


Mereka akhirnya tiba di kampus. Zhou Shi panik banget melihat jam di ponselnya yang retak dan berniat mau langsung ke kelas tapi Wei Qing malah mencegahnya pergi dan menariknya duduk bersamanya lalu mengulurkan tangannya biar Zhou Shi bisa melihat kalau sekarang masih satu jam lebih awal.

Jam di ponselnya Zhou Shi tuh terlalu cepat satu jam. Ponselnya sudah jadi seperti ini, mending jangan digunakan lagi. Nanti Wei Qing akan kirim orang untuk mengirimkan ponsel baru untuk Zhou Shi.

"Balikin! Kalau kau mengambilnya, bagaimana aku bisa lihat jam?"

Wei Qing langsung saja memakaikan jam tangannya ke tangannya Zhou Shi. Dia akan pinjamkan jam tangan ini sekarang. Zhou Shi kembalikan saja saat mereka bertemu lagi lain kali.

 

Dia lalu mendorong Zhou Shi pergi. Tapi Zhou Shi bingung kenapa tiba-tiba Wei Qing memberinya sesuatu tanpa alasan? Dia mau bicara lagi, tapi malah mendapati Wei Qing sudah tidak ada. Ke mana dia?

Bersambung ke episode 10

4 komentar: