Sinopsis Once Upon a Time... In My Heart Episode 2 - 5

 Sinopsis Once Upon a Time... In My Heart Episode 2 - 5


Ibu memberitahu Fah bahwa tadi ia memergoki Ayah mencuri uang lalu Ayah mengaku kalau dia punya hutang sebesar 280 ribu buat renovasi rumah. Ayah dulu bilangnya menang lotre, tapi ternyata bohong. Pantas saja Ibu sekarang marah besar padanya.


Ibu hampir saja mau melempar pisau ke Ayah, tapi untung saja Fah dengan cepat menghentikannya dan membujuknya untuk mendengarkan penjelasan Ayah dulu.

Ayah mengaku kalau selama ini dia selalu membayar bunganya dan tidak pernah ada masalah kok. Tapi entah kenapa orang yang menghutangi Ayah itu sekarang malah menuntut Ayah untuk mengembalikan semua hutangnya sekarang juga, orang itu bahkan mengancam akan menyakiti Ibu dan Fah kalau Ayah tidak mengembalikan uangnya segera. (Ah, kayaknya ini ulahnya Chen Ming)

"Aku tidak tahu dari mana aku bisa mendapatkan uang. Makanya aku mencuri, maaf. Aku salah." Isak Ayah

Ibu masih marah, tapi Fah dengan manisnya meyakinkan Ayah bahwa dia dan Ibu tidak marah kok sama Ayah. Lain kali kalau Ayah punya masalah, beritahu mereka saja, jangan takut kalau mereka akan khawatir.

"Kalau kami tahu Ayah bersedih seorang diri seperti ini, kami justru akan lebih khawatir."

Masalah hutang itu, Fah punya beberapa ribu di rekeningnya. Dia akan memberikan semuanya untuk membayari hutangnya Ayah.


Ibu tidak setuju. Biar Ibu sendiri saja yang mengurus masalah hutang itu. Katanya perusahaannya Fah mau tutup, jadi dia simpan saja uangnya kalau-kalau dia tidak punya pekerjaan.

Tapi Fah mengaku kalau sebentar lagi dia akan memiliki pekerjaan lain yang gajinya lebih tinggi (Hmm, kayaknya dia mau menerima tawarannya Chen Ming).

Dia meyakinkan mereka bahwa dia akan bisa mengurus mereka berdua, jadi Ayah dan Ibu tidak perlu harus berjualan lagi, mereka bisa bersantai di rumah. Ayah terharu mendengarnya.


Padahal di balik senyum cerianya, Fah sebenarnya sangat sedih apalagi saat dia teringat tuduhan Nudee dan Jane tadi. Tapi kemudian dia teringat kembali permintaan Daniel yang ingin dia tetap kuat apapun yang terjadi biarpun dia disakiti.

Fah seolah memiliki kekuatan baru berkat kenangan itu. "Aku akan kuat sebagaimana nasehatmu padaku, Tuan Raksasa."


Keesokan harinya saat dia hendak ke kantor, Nuch tiba-tiba menelepon. Dia terdengar panik menyuruh Fah untuk segera datang ke kantor sekarang. Ramet bilang kalau mereka akan kedatangan seorang tamu penting. Makanya dia menyuruh Fah untuk segera datang ke kantor dan membantunya menyiapkan segala hal untuk menyambut kedatangana tamu itu.

Setibanya di kantor, Fah keheranan melihat semua orang sudah berkumpul di depan kantornya Ramet yang hari ini tampak dijaga oleh seorang pengawal dan ada sebuah mobil sedan mewah parkir di depan kantor.

Nuch tampak sibuk sendirian membawa beberapa piala. Fah bergegas membantunya sambil bertanya penasaran, semua orang itu lagi ngelihatin apa sih?

"Oh, tamunya P'Ramet. Dia mau berinvestasi di majalah kita. Kalau dia setuju maka P'Ramet akan punya uang untuk melanjutkan majalah ini dan kita tidak akan jadi pengangguran."

"Benarkah? Syukurlah, kuharap P'Ramet beruntung!"

Kalau begitu, Nuch meminta Fah untuk membawa piala-piala ini ke kantornya Ramet sementara dia mau menge-print dokumen dulu.


Fah berjalan perlahan ke kantor itu dan kontan terpana melihat sosok punggung si tamu... errr, Daniel?

Ramet membukakan pintu untuknya lalu memperkenalkannya pada tamu pentingnya... dan dia memang Daniel. (Akhirnya ketemu lagi) Senyum Fah merekah seketika, tapi wajah Daniel dingin tanpa ekspresi.

Ramet heran melihat mereka, apa mereka saling mengenal? Fah mengangguk, tapi Daniel malah menyangkal. Jelas saja Fah kaget dan kecewa mendengarnya.


Ramet memberitahu Daniel bahwa kebanyakan pegawai wanita di sini tidak punya pacar, jadi kalau Daniel sering datang kemari, para pegawai pasti akan lebih rajin bekerja.

"Terus kapan mereka akan mulai bekerja?" Tanya Daniel sambil mengisyaratkan Ramet pada para pegawai wanita yang masih heboh berkumpul di depan kantor demi melihat si ganteng.

Ramet mengklaim kalau sekarang lagi jam istirahat, tapi kemudian dia marah-marah gara-gara Fah cuma bawa piala doang dan tidak membawa foto neneknya.

Kalau begitu, dia memerintahkan Fah untuk membuatkan kopi untuk Daniel, sementara dia sendiri yang pergi mengambil foto neneknya sambil menyuruh para pegawai balik ke meja kerja masing-masing.

 

Begitu mereka berduaan, Daniel memberitahu kalau dia tidak minum kopi. Fah tahu, Daniel sudah pernah memberitahunya waktu mereka tinggal di rumah kakek dan nenek. Jadi dia akan membuatkan Daniel teh.

"Aku datang kemari karenamu." Aku Daniel

"Lalu kenapa kau bersikap seolah kita tidak saling mengenal?"


"Orang sepertiku, semakin banyak orang yang kukenal, itu akan semakin berbahaya. Karena itulah, orang asing yang cuma tinggal beberapa hari, tidak penting untuk dianggap sebagai kenalan."

"Jadi kau menganggapku sebagai apa?"

"Seseorang yang pernah kuhutangi rasa terima kasih."

Daniel tahu kalau Fah akan kehilangan pekerjaannya karena perusahaan ini kekurangan investor. Karena itulah dia akan berinvestasi pada perusahaan ini untuk membantu Fah tetap bekerja di sini. Dengan begitu, hutang budinya pada Fah akan terbayar... dan mereka berdua akan menjadi orang asing.

Fah sungguh kecewa mendengarnya. Daniel benar, mereka memang tidak saling mengenal. Maaf karena sudah salah paham.

"Oh, kalungmu ada padaku. Tolong beritahu aku kapanpun dan di manapun kau ingin aku mengembalikannya padamu... Khun Daniel."

Dia mau pergi, tapi Daniel tiba-tiba mencegahnya... hanya untuk menuntut tehnya. Pfft!

Fah sontak menarik tangannya dan dengan sinisnya memberitahu Daniel kalau dia akan membawakan teh dingin untuknya, Daniel pasti suka.


Fah emosi gara-gara itu sampai-sampai dia membuang naskah novelnya ke tong sampah... tapi sedetik kemudian dia mendadak berubah pikiran. Sayang dibuang, didaur ulang aja.

Fai baru datang saat itu dan langsung heboh membahas tamunya Ramet yang ganteng abis. Semua cewek di kantor ini bahkan mengklaimnya sebagai 'suamiku'. Tapi... ada apa dengan Fah?

"P'Fai... dia si Tuan Raksasa."

Fai sontak menutup mulutnya untuk menahan jerit hebohnya. "Fah! Aku tidak tahu kalau seganteng itu. Pada akhirnya, dia datang mencarimu. Oh Tuhan! Hatiku bergetar untukmu, adikku sayang. Aku bahagia untukmu."

Tap Fah tidak bahagia sedikitpun. "Dia sudah berubah. Dia bukan Tuan Raksasa yang kukenal."


Saat Fai keluar, dia melihat Chen Biao sedang menunggu di depan toilet pria. Chen Biao sudah kebelet sebenarnya, tapi toiletnya lagi dibersihin, jadi dia tidak bisa masuk.

Dia mau pergi ke toilet lain, tapi Fai dengan cepat mencegahnya dan memaksanya bicara padanya dulu. Dia ingin tahu apakah Bosnya Chen Biao cuma pura-pura bersikap dingin pada Fah?

"Kenapa kau pikir bosku pura-pura?"

Karena jika dia tidak peduli pada Fah, terus ngapain dia berinvestasi pada perusahaan majalah kecil mereka ini? Chen Biao menolak menjawab, Fai tanya sendiri saja sama bosnya. Dia berusaha melarikan diri darinya, tapi Fai ngotot mencegahnya tak peduli biarpun Chen Biao sudah kebelet banget.

Chen Biao kan orang yang paling dekat dengan bos geng Golden Dragon, kalau Chen Biao sampai ngompol, duh... malu banget pastinya. Makanya, jawab pertanyaannya!

"Semua yang dilakukan bosku adalah demi Khun Fahsai! Puas?!"

"Sangat puas."


Tak lama kemudian, semua orang keluar untuk mengantarkan kepergian Daniel. Ramet sungguh terharu dan berterima kasih pada Daniel dan berjanji tidak akan mengecewakannya.

"Jika anda ingin berterima kasih, maka berterima kasihlah pada satu wanita. Dialah yang membuatku datang kemari."

Siapa? Fah?... Oh, tidak. Daniel malah berkata bahwa wanita yang dimaksudnya adalah ibunya yang suka membaca majalah Lola sejak ia masih muda. Fah jelas kecewa mendengarnya. Dia bahkan tak mau melihat Daniel saat Daniel menatapnya sebelum pergi.

 

Daniel pun pergi tanpa menyadari Tian Kong yang sedang memata-matainya dari kejauhan. Dia langsung melaporkan hal itu pada Chen Ming. Maka Chen Ming memerintahkannya untuk menyelidiki apa yang dilakukan Daniel, dia sendiri akan mengurus Fah.


Saat tahu kalau Ayah punya hutang, seorang tetangga mereka yakin banget kalau pasti Ayah berbohong. Dia pasti berhutang bukan untuk renovasi rumah, melainkan untuk dikasih ke selingkuhannya. Ayah kan biasanya suka ngobrol dengan cewek-cewek muda.

Ibu tak yakin, tapi si tetangga yakin banget dan terus gencar meyakinkan ibu akan keyakinannya. Cowok itu tidak bisa dipercaya, sebaiknya Ibu berhati-hati.


Fah pulang tak lama kemudian dan menemukan sebuah kado di mejanya yang berisi bunga mawar putih, sebuah amplop bersimbol White Tiger yang di dalamnya berisi cek sebesar 100.000, dan pesan dari Chen Ming yang berkata bahwa hadiah ini adalah untuk 'pegawainya' (Fah).


Fah langsung menelepon Chen Ming dan mengajaknya bertemu untuk mengembalikan cek itu dan menolak bekerja padanya.

Tapi Chen Ming tidak mau menerima penolakannya begitu saja dan ngotot mengajak Fah ke suatu tempat bersamanya. Fah jelas tidak mau, apalagi saat Chen Ming malah pakai acara merangkulnya segala.

"Sebentar saja. Jika setelah ini kau memutuskan untuk tetap tidak mau bekerja padaku, maka aku tidak akan mengganggumu lagi."

Baiklah. Tapi Fah tetap tidak mempercayainya semudah itu. Sebelum pergi, dia sengaja memotret muka Chen Ming, pelat nomor motornya, lalu mengirimkannya ke temannya biar temannya tahu ke mana dia pergi dan sama siapa. Jadi kalau sampai terjadi sesuatu padanya, maka temannya akan tahu siapa yang harus dia cari. Pfft! Pinter!


Chen Ming membawa Fah menemui Xiao Yao dan jelas saja melihat wajah Fah langsung membuat Xiao Yao mengira dia Botan. Dalam kilasan ingatan Xiao Yao, tampak Botan yang menangis entah karena apa.

Xiao Yao sontak histeris memeluk kaki Fah sambil teriak-teriak memanggilnya Botan yang jelas saja membuat Fah jadi ketakutan.

Bersambung ke episode 3

3 komentar: